The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 76: Sandiwara Tugas Projek



"Kamu pernah izin pulang ke sini karena ada tugas kuliah. Aku ngikutin kamu. Waktu itu aku pakai mobil. Aku kepaksa parkir di depan gang dan ngejar kamu ke dalam gang rumah kamu. Gak lama kamu langsung ke kebun ayah kamu, ngerjain tugas kamu sambil neliti sayuran dan kesuburan tanahnya. Terus aku juga liat kamu main sama adik-adik kamu, bantuin ibu kamu bikin makanan yang dibungkus daun pisang di depan rumah. Aku liat semuanya, Yang. Aku udah tahu itu dari lama. Dan bagi aku itu gak ngubah apapun. Aku malah makin suka sama kamu, karena kamu anak yang berbakti dan kakak yang baik." Ghiffa menceritakannya dengan sorot mata yang hangat.


Kenapa Ghiffa masih bisa menerimaku setelah mengetahui semua itu?


"Ghiffa, ayo mau ikut Bapak nanem wortel?" Ucapan bapakku membuyarkan pikiranku dan jantungku yang bergemuruh.


"Boleh, Pak. Tapi saya gak bawa baju, gimana ya Pak?" ujar Ghiffa beranjak dari posisi berdirinya.


"Ya sudah gak apa-apa, bapak pinjemin baju Bapak aja gimana?"


"Kalau Bapak gak keberatan, boleh." ujar Ghiffa sopan.


Bertepatan dengan itu, ibuku datang dengan membawa segelas bajigur hangat. "Nih, Ghiffa silahkan diminum dulu."


"Makasih, Bu." ucap Ghiffa menerima segelas bajigur hangat.


"Mah, ini Ghiffa pinjemin baju bapak. Dia 'kan mau ikut bapak ke kebun, takut bajunya kotor dan dia gak bawa baju." terang ayahku.


"Ya udah atuh kalau gitu silahkan ikut Ibu, sekalian ganti baju di rumah aja kalau gitu ya."


"Boleh, Bu." Ghiffa pun mengekor ibuku menuju rumah. Meninggalkan aku yang masih tertegun menatap punggungnya yang terus menjauh.


"Neng kenapa ngelamun?" tegur ayahku.


"Gak apa-apa, Pak." ucapku segera, "Bapak mau ajakin Tuan Ghiffa nyangkul tanah?"


"Iya, atuh. Nanti bapak ajarin juga nanem sayuran kayak gimana. Neng nanti bilang ke si Mamah nanti siang ngeliwet, sama lalab dan sambelnya. Jangan lupa ikan asin. Biar pengalaman Tuan Ghiffa lebih banyak buat tugas projeknya. Terus nanti sore suka ada pasar tonggeng, ajakin kesana. Bapak yakin Ghiffa belum pernah ke tempat seperti itu. Jajanin itu makanan yang suka Neng beli kayak seblak, cimol bojot, cirambay, semuanya. Terus ajakin Tuan Ghiffa ke rumah Mang Tamam juga, biar nyobain merah susu sapi. Bapak yakin nanti nilai tugasnya Tuan Ghiffa pasti bagus."


"Bapak semangat banget sih bantuin Tuan Ghiffa ngerjain tugasnya?" ujarku heran.


"Harus atuh. 'kan majikan Neng. Bapak mah berterimakasih pisan sama keluarganya Tuan Ghiffa. Kalau Neng gak kerja di apartemennya Tuan Ghiffa gimana coba Neng bisa dapet uang buat sehari-hari. Belum lagi harus nyari tempat kost. Tahu sendiri bapak gak punya biaya buat Neng hidup di Jakarta. Makanya Neng harus baik dan berterimakasih sama keluarga Airlangga. Harus bisa ngerawat Tuan Ghiffa dengan baik. Omat Neng sama yang udah Bapak omongin barusan." Ayahku mewanti-wanti.


"Iya, Pak. Neng inget." Ucapku patuh.


Tak lama kemudian Ghiffa datang dengan pakaian ayahku. Aku tak bisa berhenti tersenyum melihatnya yang menggunakan kaos dan celana pangsi milik ayahku. Baju itu jadi terlihat kecil di tubuhnya yang tinggi. Celana pangsinya juga menjadi sangat pendek di kakinya yang jenjang dan panjang.


Tidak menyangka sama sekali Ghiffa mau melakukan 'sandiwara tugas projek' ini.


Setelah menghabiskan secangkir bajigur yang dibuatkan ibuku, Ghiffa bergabung dengan ayahku ke tengah kebun. Ia terlihat memerhatikan dengan seksama instruksi ayahku.


Aku melihat ke arah rumahku melihat ibuku sibuk mengobrol dengan para tetanggaku yang heboh melihat kedatangan Ghiffa. Aku sudah bisa memperkirakan apa yang mereka obrolkan. Untung saja kakiku sedang seperti ini. Jadi aku hanya akan berdiam diri disini dan biar ibuku saja yang direcoki oleh emak-emak rempong tetangga-tetanggaku.


Aku kembali memandang Ayahku dan Ghiffa yang berada di tengah kebun. Tatapanku tertuju pada laki-laki tampan itu. Ia tidak sungkan bersama dengan ayahku. Ia seperti mencoba untuk bisa dekat dengannya. Selama ini aku tidak pernah melihatnya bersikap sopan pada siapapun, orang tuanya, guru-gurunya, semua selalu ia acuhkan bahkan cenderung dikasarinya. Tapi dengan sangat mengejutkannya, Ghiffa justru begitu sopan dan ramah pada kedua orang tuaku. Bahkan kini ia terus tersenyum saat bersama ayahku.


Setelah hari menjelang siang, aku pulang ke rumahku dan membantu ibuku memasak untuk makan siang. Sesuai dengan instruksi ayahku, kami memasak nasi liwet, ikan asin, tempe, tahu, oseng kangkung, beserta sambal dan lalabnya. Setelah semuanya matang kami membawanya ke saung. Ghiffa sudah berkeringat, ia benar-benar membantu ayahku mengolah ladang dan menanam berbagai sayuran. Ia juga menikmati makanan yang kami sajikan.


Ghiffa tersenyum dan tertawa lebih sering dari biasanya. Aku seperti melihat orang lain sekarang. Aku seperti melihat sosok Hyuga.


Hyugaku yang sederhana dan nyaman berada di duniaku.


Ayahku mengatakan sudah Ghiffa cukup mendapatkan pengalaman dalam mengolah tanah, kemudian setelah makan siang Ghiffa diantar oleh Asha ke rumah tetanggaku yang memiliki peternakan sapi. Sekitar dua jam Ghiffa pergi dengan Asha. Saat pulang keduanya berjalan dengan mengulum sebatang eskrim. Asha juga menenteng sebuah layang-layang yang cukup besar.


"Teteh! Liat Asha punya layangan! Tadi A Ghiffa yang ngambil di atas pohon!" Asha berlari ke arahku.


"Kamu manjat pohon buat ambilin layangan?" Aku menatap cemas pada Ghiffa. Yang aku tahu ia sangat tidak berpengalaman dalam hal panjat-memanjat.


"Iya. Tadi ada layangan yang kalah, dikejar sama  anak-anak. Asha ikutan ngejar, eh tahunya nyangkut di pohon. Aku naik aja soalnya Asha pengen layangannya. Ya 'kan, Sha?" ucapnya bangga. Mereka terlihat sudah sangat akrab.


"Keren banget A Ghiffa tadi bisa manjat padahal pohonnya tinggi! Makasih ya, A, Asha jadi punya layangan gede! Ayo A kita terbangin layangannya!" Segera Asha menarik tangan Ghiffa dan membawanya ke tanah lapang di dekat kebun ayahku. Mereka begitu asyik bermain disana bersama anak-anak lainnya.


Ya Tuhan, bagaimana aku tidak semakin jatuh hati padanya. Kini Ghiffa bahkan begitu dekat dengan adik bungsuku.


Aku duduk di beranda rumah sambil memandang ke arah Ghiffa dan Asha yang begitu gembira bermain layang-layang. Wajahnya menjadi berkali-kali lipat lebih tampan sekarang, hingga aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.


Ternyata Ghiffa sudah lama mengetahui seperti apa latar belakang keluargaku. Apa ini sudah saatnya aku menerima dengan sepenuh hatiku? Pengorbanannya untukku sudah sampai seperti ini. Ia turun dari tempat tertingginya ke duniaku yang sederhana, kemudian ia mencoba untuk masuk ke dalamnya dan menjadi cocok tidak hanya denganku, tapi juga keluargaku.


"Asha cepet mandi dulu! Mau ikut gak Teteh mau pergi!" teriakku pada kedua orang yang sedang asyik bermain itu.


Ghiffa dan Asha segera menarik layangan yang masih terbang tinggi itu, kemudian menghampiriku.


"Mau kemana, Teh?" tanya Asha.


"Kita naik motornya A Ghiffa ke pasar tonggeng. Mau ikut gak?"


"Asyik Asha mau!" Ujar adikku sumringah.


"Ya udah cepet mandi dulu." Asha pun berlari ke arah rumah dengan riang, "Kamu juga cepet mandi. Kita ke pasar tonggeng."


"Apaan tuh pasar tonggeng?"


"Ada deh. Liat aja nanti." Ujarku.