
Pintu kamar terbuka, dan aku mendapati Ghiffa memasuki kamar. Saat melihatku dan Ghaza sedang bertemu tatap wajahnya berubah panik. Seketika aku merasa lega sekali. Segera aku bangkit dari posisiku dan menghampiri suamiku. Aku segera menenggelamkan wajahku di dada Ghiffa, tak ingin melihat wajah Ghaza.
"Saya barusan numpang ke toilet. Kalian bersantai saja dulu, masih ada waktu." Suara Ghaza terkesan dibuat seakrab mungkin. Mungkin karena kini kami sedang berada bersama para MUA. Seperti biasa, citra keluarga harmonis harus selalu ia jaga.
Kemudian Ghaza pergi meninggalkan kami dan seketika aku menghela nafas lega. Begitu juga dengan Ghiffa. Ia meraup wajahku dan menatapku lekat, memastikan aku tidak apa-apa.
Aku tersenyum penuh arti. Antara lega dan masih sedikit panik.
"Kita duduk dulu ya." Ghiffa membawaku ke sofa lagi. "Tolong ambilin minum."
Seorang MUA membawakan sebotol air mineral untukku. Aku segera meminumnya berharap panik yang aku rasakan bisa hilang sepenuhnya.
"Udah gak apa-apa?" tanya Ghiffa lembut.
Aku mengangguk. "Gak apa-apa, A." Beberapa kali aku mencoba menetralkan nafasku yang menderu.
"Sabar ya. Kita bakal langsung pulang seudah acara. Tadi aku udah bilang sama Papa."
"Gak apa-apa emangnya, A? Kata Aa kita harus ikut sampai besok pagi?"
"Iya, gak apa-apa. Pokoknya kita pulang seudah ini, ya?"
Aku mengangguk lega. Syukurlah, aku tidak harus bertemu dengan Ghaza sampai esok hari. Kemudian pintu kamar kembali terbuka, seketika aku kembali panik.
Nyonya Natasha menatap kami dengan heran, "Kenapa wajah kalian?"
Aku segera menggelengkan kepalaku. "Gak apa-apa, Nyo..." Ghiffa menatapku seperti menegurku, "Eh..Mah" segera aku meralatnya.
Nyonya Natasha masih berwajah dingin, ia sepertinya masih belum bisa menerima jika aku memanggilnya Mama. "Sekarang saya akan mengajarkan kamu table manner. Saya yakin kamu belum pernah mempelajarinya. Juga nanti kalian akan berdansa, saya juga yakin kamu belum pernah berdansa. Kamu harus segera menguasainya dan jangan bikin malu!" ucapnya galak.
Memang benar sih aku belum pernah mempelajari table manner dan juga berdansa. Bahkan waktu ulang tahun Ghaza waktu itu aku banyak melihat ke arah Ghiffa untuk meminta petunjuk, sendok mana yang harus aku pakai.
Akhirnya sebelum acara Nyonya Natasha melatihku menggunakan beberapa alat makan. Juga beliau mengajari kami berdansa.
Kemudian acara pun dimulai. Aku dan Ghiffa mulai melangkah masuk ke tempat acara. Tanganku tertaut di lengan Ghiffa. Ada sekitar 50 orang tamu di ruangan itu, yang mereka semua adalah kerabat dekat dan juga rekan bisnis dari Tuan Musa.
Kami terus berjalan menuju ke arah sebuah pelaminan kecil yang dihiasi ratusan bunga mawar putih, yang menjadi pusat di tempat itu. Ruangan itu ditata sangat indah, juga ditambah dengan latar kemilau lampu kota di malam hari yang terlihat begitu indah dari dinding kaca.
Semua orang bertepuk tangan sejak kami mulai memasuki ruangan sampai kami berdiri di pelaminan itu dan menghadap ke arah mereka yang sudah duduk di mejanya masing-masing.
Ayah dan ibu mertuaku, juga Ghaza, duduk di salah satu meja paling dekat dengan tempat kami berdiri, bersama beberapa rekan bisnisnya, termasuk Doni, ayah dari Olivia, dan juga Diana, ibu dari Olivia. Olivia juga terlihat disana mendampingi kedua orang tuanya.
Kemudian pembawa acara membuka acara. Aku dan Ghiffa dipersilahkan untuk duduk di sofa di pelaminan itu. Sementara ia mempersilahkan ayah mertuaku untuk memberikan sambutannya.
Pertama ia mengatakan ucapan terimakasih dan maaf karena jamuan yang bagi seorang Musa Airlangga adalah jamuan yang tergolong sederhana. Kemudian ia mulai menyapa satu persatu rekan-rekan bisnisnya dan mengatakan beberapa hal mengenai bisnisnya.
Lalu Tuan Musa sampai pada akhir sambutannya, "Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat kepada putra kedua saya, Alghiffari Airlangga dan menantu saya, Ayana Pitaloka. Selamat atas pernikahan kalian." ucap Tuan Musa.
Semua orang bertepuk tangan.
"Seperti yang semua orang disini sudah ketahui, putra kedua saya ini memiliki karakter yang sangat berbeda dengan kakaknya, Ghaza. Ghiffa, memiliki jiwa yang bebas, dia tidak suka dikekang, kadang suka membuat onar. Bahkan dia selalu mengatakan tidak mau jadi pewaris dari Melcia. Dia selalu mengatakan tidak mau direpotkan dengan urusan perusahaan. Berikan semuanya pada Ghaza, Pah! Selalu seperti itu yang dikatakannya." ujar Tuan Musa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, yang ditimpali dengan tawa orang para hadirin.
"Tapi ternyata Ghiffa yang selalu saya anggap sebagai anak yang manja dan kadang sulit diatur ini," lanjut Tuan Musa, "dalam keadaan yang tidak terduga, bisa memutuskan untuk melakukan sesuatu yang besar." Kemudian tatapannya tertuju pada Ghiffa, "Papa sangat bangga karena kamu sudah bisa jadi seorang pria yang bertanggung jawab, Nak."
Tepuk tangan yang begitu riuh mengakhiri sambutan itu.
Ghiffa tersenyum penuh rasa terimakasih pada sang ayah yang menghampirinya dan kemudian memeluknya sekilas. Lalu Tuan Musa menatap ke arahku dan memelukku juga. Kemudian kami kembali duduk dan Ghiffa menautkan jari-jarinya di jari-jariku, merasa sangat bahagia karena pernikahan ini bisa diterima dengan tangan terbuka oleh beliau.
Kemudian beberapa sambutan dan ucapan selamat juga diucapkan oleh beberapa rekan bisnis Tuan Musa. Hingga acara makan malampun dimulai. Aku dan Ghiffa bergabung ke meja yang sama dengan Tuan Musa dan yang lainnya.
Kami menikmati jamuan itu dengan mengobrol bersama. Akupun berusaha untuk masuk ke dalam obrolan itu. Untung saja aku sempat berkenalan dengan ibu Olivia waktu itu, sehingga aku bisa masuk ke dalam obrolan mereka.
"Pak Musa, anda pasti senang sekali memiliki seorang menantu yang walaupun berasal dari sebuah desa kecil dan memiliki status sosial yang berbeda, tapi memiliki wawasan yang luas dan begitu luwes dalam berbicara. Dia juga cantik, sopan, dan elegan. Anda beruntung sekali Pak Musa. Jika saya punya anak laki-laki, saya juga akan mencari seorang menantu seperti Ayana." ujar salah satu rekan bisnis Tuan Musa.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar pujian yang rasanya begitu berlebihan itu.
Makanan penutup sudah disajikan dan sudah dilahap habis juga oleh para tamu undangan. Selanjutnya adalah acara hiburan. Acara diawali dengan dansa yang akan dimulai oleh aku dan juga Ghiffa. Kamipun ke berjalan ke depan.
"A, gimana dong? Aku gak bisa dansa! Tadi latihannya cuma sebentar doang." ujarku panik. Sebelum acara Nyonya Natasha memang sempat mengajari kami berdansa, tapi sungguh aku tidak terlalu mengerti dengan instruksinya.
"Gak apa-apa kita ikutin aja." Ghiffa mulai meraih pinggangku, dan tangan lainnya meraih tanganku. Tanganku yang lain berada di pundak Ghiffa. Kemudian aku dan Ghiffa mulai berdansa mengikuti alunan musik.
Sejauh ini semuanya berjalan dengan cukup baik. Ternyata tidak sesulit itu. Aku dan Ghiffa bisa menyelaraskan pergerakan kaki kami.
"Tuh bisa ternyata." Ujar Ghiffa di tengah-tengah dansa yang kami lakukan.
"Iya gak terlalu susah ternyata." Sahutku sumringah.
Hingga kemudian para tamu yang lain ikut bergabung bersama kami. Aku melihat Tuan Musa juga berdansa dengan Nyonya Natasha, dan Ghaza dengan Olivia.
"Kamu keren, Yang." ucap Ghiffa tiba-tiba.
Aku mengerutkan dahiku, "Keren? Kerena kenapa, A?"
"Kamu bisa sampai dipuji sama rekan-rekan bisnisnya Papa."
Aku hanya tersipu mendengar Ghiffa mengatakan itu. Rasanya yang aku lakukan tidak sehebat itu sampai Ghiffa harus memujiku.
Kemudian satu lagupun selesai, dan beralih ke lagu selanjutnya.
"Baik sekarang silahkan kepada Mas Ghiffa berdansa dengan Nyonya Natasha. Mbak Ayana dengan Tuan Musa."
Apa? Aku harus berdansa dengan ayah mertuaku? Seketika aku gugup sekali. Namun saat melihat ke sekeliling, Tuan Musa malah tidak ada.
"Mohon Maaf Tuan Musa sedang menerima telepon penting. Baiklah kalau begitu Mbak Ayana akan berdansa dengan kakak iparnya saja, Mas Ghaza silahkan mendekat pada Mbak Ayana."
Seketika aku dan Ghiffa saling menatap panik.
Tanpa aku sadari Ghaza sudah berada di sampingku, "Ayo, Ayana." satu tangannya terulur padaku.