The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 143: Satu Tahun Kemudian



Satu Tahun Kemudian


Semua orang di lapangan itu riuh meneriakkan nama Ghiffa. Terlihat beberapa orang membawa beberapa drum dan memukul-mukulnya. Beberapa orang lainnya terlihat mengibarkan bendera-bendera dengan logo tim futsal, logo Centaur Squad, dan juga logo SMA Centauri. Lapangan itu juga dipenuhi dengan beberapa baligo dan spanduk penyemangat. Salah satunya bertuliskan 'Alghiffari: Centauri's Pride', dan beberapa spanduk lain juga yang bernada sama. Kehadiran Max dan kawan-kawan yang terus meneriakkan yel-yel pembakar semangat untuk Ghiffa dan tim futsalnya, membuat lapangan futsal itu menjadi begitu riuh membahana.


Selain dukungan dari Max dan kawan-kawan, sejak Ghiffa bergabung dengan tim futsal, sebuah fans club juga terbentuk, Ghiffalicious namanya. Mereka adalah para siswi SMA Centauri dari berbagai angkatan yang mengidolakan Ghiffa. Teriakkan mereka juga selalu terdengar memekakkan telinga di setiap pertandingan Ghiffa.


Seriuh dan seheboh itu memang jika Ghiffa sudah terjun ke lapangan.


Empat sama.


Jika salah satu tim bisa memasukkan tendangan ke gawang lawan di sisa waktu yang hanya tinggal satu menit lagi, maka itulah pemenangnya.


Aku melihat para pemain terus saling mengoper bola, mencoba menembus pertahanan lawan. Berbeda dengan para penonton yang justru bersemangat meneriakkan nama Ghiffa, aku yang duduk bersama Belva, Om Lucas, Max dan yang lainnya di tribun malah merasa sangat tegang.


Ini adalah pertandingan futsal terakhir bagi Ghiffa sebagai siswa SMA. Sebetulnya sekitar satu bulan lalu Ghiffa sudah dinyatakan lulus dari SMA Centauri. Seharusnya ia sudah tidak diizinkan untuk bertanding lagi. Mengingat turnamen futsal tahun ini juga sudah berakhir dengan kemenangan gemilang dari SMA Centauri.


Semuanya berkat Ghiffa. Hampir setiap pertandingan selama satu tahun terakhir selalu dimenangkan karena kelihaian Ghiffa dalam menggiring si kulit bundar itu.


Melihat pencapaian ekskul futsal SMA Centauri membuat SMA Satya, musuh bebuyutan SMA Centauri, kebakaran jenggot. Mereka masih belum puas dan masih merasa penasaran ingin melawan kembali tim futsal yang belakangan terus dielu-elukan karena sejak kembalinya Ghiffa ke ekskul tersebut, membuat ekskul futsal kembali memiliki nyawanya lagi.


Sehingga diadakanlah pertandingan persahabatan ini dengan hadiah yang tidak tanggung-tanggung, ratusan juta akan didapatkan oleh tim yang menang dalam pertandingan sengit ini.


Dua sekolah elit dengan gengsi selangit, ditambah dengan pesaingan keduanya yang begitu sengit di berbagai bidang, membuat hadiah itu cukup pantas didapatkan untuk tim terbaik.


Pertandingan ini juga begitu menghibur. Sejak awal, pertandingan sudah berjalan dengan perolehan skor yang nyaris selalu imbang. Terus menerus kedua tim saling membalas gol. Hingga di menit-menit terakhir pertandinganpun keadaan semakin tegang.


Wasit sudah melihat terus ke arah jam di tangannya dan bersiap meniup peluitnya, di lapangan Ghiffa segera berancang-ancang dan kemudian dengan sebuah tendangan yang mulus dan telak bola itu menembus pertahanan lawan.


GOOOOLLL!!


Tepat setelah bola itu masuk ke gawang, wasit meniup peluitnya. Seketika penonton semakin riuh dan di tengah lapangan Ghiffa kembali melakukan selebrasi layaknya seorang pemain sepak bola profesional sudah mencetak gol.


Kali ini selebrasi yang dilakukannya sedikit berbeda. Ia membuka seragam tim futsalnya, menampilkan sebuah kaos putih polos yang digunakannya dibalik seragam tim futsalnya yang bernomor punggung tujuh. Ghiffa melihat ke arahku, kemudian Ghiffa menunjukkan punggungnya dan di bagian belakang kalos itu tertulis sebuah kalimat: Punyanya Pitaloka, Jangan suka sama gue!


Apa-apaan coba Ghiffa ini? Aku segera menutup wajahku karena malu.


Kata-kata nyeleneh di kaos Ghiffa itu membuat para anggota fans club Ghiffa yang duduk di tribun yang sama denganku berteriak heboh tidak terima. Terdengar dari mereka berteriak, "Ghiffa lo punya istri gak apa-apa! Tapi jangan ngelarang-larang kita suka sama lo! Lo gak tahu kita sedih tahu karena lo udah gak akan tanding lagi! Kita culik lo baru tahu rasa lo!!" diiringi tawa tak habis pikir dari para penonton yang lain. Ghiffa sendiri hanya bisa mengusap kasar wajahnya merasa frustasi.


Ghiffa sendiri sebenarnya merasa risih jika para cewek-cewek itu sudah berteriak di sisi lapangan meneriakkan namanya dengan suara melengking. Jumlah mereka hanya sekitar 20-30 orang, tapi teriakan mereka seperti berasal dari ratusan orang dan mengalahkan suara membahana dari Centaur Squad dan penonton lainnya. terlebih jika mereka sudah ingin berfoto dengan Ghiffa setelah pertandingan selesai. Ghiffa harus selalu menuruti mereka karena jika tidak mereka tidak akan membubarkan diri dan terus merecokinya.


Bahkan mereka tidak gentar saat Ghiffa menolak atau mengusir mereka. Saat Ghiffa sudah berteriak, "Berisik woy! Bubar lo semua!!" Para Ghiffalicious bukannya sedih atau sakit hati karena diusir seperti itu, mereka malah semakin berteriak tak terkendali karena terpesona pada teriakan Ghiffa.


Apapun yang dilakukan Ghiffa akan selalu terlihat keren bagi mereka.


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah Ghiffa dan para fans clubnya. Hiburan tersendiri saja bagiku.


Setelah pertandingan selesai, seperti biasa para anggota ekskul futsal akan mengadakan celebration party atas kemenangan mereka. Biasanya mereka akan datang ke kafe. Tapi kali ini salah satu dari mereka menyewa sebuah bar di sebuah club.


Sesuai dengan dugaanku, tempat itu sangat tidak bersahabat denganku. Hingar bingar lampu dan musik yang berdentum-dentum, minuman beralkohol, dan juga orang-orang yang berdesakan menari dan beberapa diantara merokok di beberapa meja. Baru saja masuk aku sudah merasa sesak dan pening. Sudah sering kali aku melihat pergaulan mereka seperti ini di markas, tapi aku masih saja belum bisa terbiasa.


Ghiffa yang melihatku tidak nyaman membawaku ke meja paling sudut. "Bentar aja disininya." Teriak Ghiffa tepat di depan telingaku agar aku bisa mendengar ucapannya.


Aku mengangguk setuju. Aku tidak ingin membuat Ghiffa merasa terbebani dan membuat teman-teman Ghiffa berpikir aku tidak supportif. Jadi menahan rasa tidak nyamanku sebentar saja sepertinya tidak akan apa-apa.


"Aa kalau mau nyapa temen-temen Aa dulu gak apa-apa. Aku tunggu disini." Teriakku.


"Beneran gak apa-apa? Ya udah aku nyamperin si Nino dulu bentar ya." Kemudian Ghiffa pergi meninggalkanku sendiri di meja itu.


Aku memutuskan membuka ponselku dan menyibukkan diriku. Beberapa saat Ghiffa kembali dan membawaku keluar dari tempat bising itu.


"A gak apa-apa kita pulang duluan?" tanyaku ketika Ghiffa sudah melajukan mobilnya.


"Gak apa-apa, Yang. Lagian aku juga 'kan udah gak minum. Ngerokok juga udah jarang banget. Gak betah aku juga sekarang lama-lama disana."


"Udah jadi anak baik sekarang." Pujiku.


"Aku punya istrinya juga perempuan baik-baik kayak gini, masa aku masih begitu. Gak cocok dong nanti." Ujar Ghiffa.


Aku hanya tertawa Ghiffa memujiku seperti itu. "Oh iya, A. Tadi baju Aa buat besok udah dateng."


"Tuxedo aku waktu itu juga masih ada, Yang. Kamu kok beli lagi."


"Bukan aku yang pesen, A. Mama yang pesen, katanya Aa 'kan mau kasih sambutan di acara kelulusan besok, masa pakai tuxedo yang biasa aja. Harus yang bagus. Apalagi Papa besok juga mau dateng."


"Mama kebiasaan, ribet kalau aku ada apa-apa." dumelnya.


"Aa juga kebiasaan, udah selalu diperhatiin sama Mama tapi selalu gak berterimakasih."


"Kamu juga kebiasaan, kalau aku udah ngedumel kamu jadi ikutan ngedumel."


"Abisnya Aa suka gitu terus. Besok itu Aa mau kasih sambutan sebagai lulusan terbaik loh. Jadinya Mama pasti excited banget buat nyiapin baju Aa. Mama sama Papa itu bangga banget sama Aa. Tapi Aanya suka gitu kalau ada orang yang dukung tuh." Aku mencebikkan bibirku.


"Ya udah iya. Yang, kok aku tiba-tiba jadi deg-degan ya."


"Cieee, yang mau kasih sambutan sebagai lulusan terbaik bisa deg-degan juga. Masih besok A acaranya, kok deg-degannya dari sekarang?"


"Bukan deg-degan karena mau ngasih sambutan."


Aku mengerutkan dahiku, "Terus karena apa?"


"Minggu depan kita 'kan resepsi di Lembang. Aku deg-degan banget, Yang!"