The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 67: Kembali Tahu Diri



"Ayana, udah beres-beresnya?"


Bi Susi menghampiriku di kamar baruku di rumah kediaman Airlangga. Aku baru saja selesai membereskan pakaianku ke dalam lemari di salah satu kamar ART disana. Kamar ART disini sedikit lebih besar dan juga ada jendela yang menghadap ke sebuah taman kecil. Ada 2 kamar lain di samping kiri dan kananku yang sudah diisi oleh para ART yang lain. Di sisi seberang sana ada 3 kamar lagi yang diisi oleh ART laki-laki yang bertugas sebagai supir dan tukang kebun.


Bi Susi sendiri tidak menginap disini. Karena rumahnya ada di belakang gang komplek rumah, ia pulang-pergi setiap harinya. Bi Susi ini juga sudah menjadi ART kepercayaan bahkan sejak Tuan Musa masih sangat muda.


"Udah selesai, Bi." Ku tutup lemariku.


"Ya udah sekarang kamu ke teras belakang. Nyonya udah nungguin." ucap Bi Susi.


Akupun meraih tongkatku dan mulai berjalan keluar kamar.


"Kata dokter kapan bisa lepas gipsnya?" Tanya bi Susi mendampingiku.


"Sekitar 4-6 minggu lagi, Bi. Masih lama."


"Haduh, masih lama ya. Ya udah sekarang disini kamu bantu-bantu yang ringan dan gak perlu banyak gerak dulu. Kayak bantu Bibi di dapur motongin sayuran, atau nyetrika."


"Iya, Bi. Kalau ada apa-apa bilang aja sama aku ya." ujarku.


Saat di depan kamar aku bertemu dengan dua ART lain yang bekerja disini. Namanya Tuti dan Asti. Tuti lebih tua sekitar 3 tahun dariku, dan Asti lebih muda 1 tahun dariku. Berbeda dengan Bi Susi yang sudah puluhan tahun menjadi ART disini, Tuti dan Asti bekerja disini baru beberapa tahun. Itupun karena disalurkan oleh sebuah yayasan penyalur tenaga kerja seperti bibiku, Bi Dini yang dulu bekerja disini, juga berasal dari yayasan tersebut.


Aku juga bertemu dengan Pak Janu, supir Nyonya Natasha yang tadi menjemputku, Mang Ujang yang bertugas sebagai tukang kebun, juga Pak Gugun supir Tuan Musa.


Aku berkenalan dengan mereka dan berbasa basi sebentar sebelum menemui Nyonya Natasha. Aku bersyukur karena ternyata mereka cukup ramah dan langsung akrab denganku.


Setelah itu aku menemui Nyonya Natasha yang sedang merangkai bunga di gazebo yang terletak di halaman belakang. Itu memang menjadi hobinya. Semua bunga yang menghiasi di hampir setiap ruangan di rumah ini Nyonya Natasha yang merangkainya.


Dari kejauhan matanya menangkap kehadiranku, ia melirik ke arahku ditengah-tengah kesibukannya. Lirikan tajam itu membuat bulu kudukku berdiri seketika. Sepertinya bernafaspun akan sangat sulit bagiku di rumah ini.


"Nyonya." Sapaku saat sudah sampai di Gazebo dan berdiri tidak jauh darinya.


"Udah nyampe, kamu?" Sahutnya dengan nada yang sudah biasa saja, seperti biasanya tidak emosi seperti kemarin. Tangannya masih sibuk memotong beberapa tangkai daun sekuntum bunga mawar dan menatanya di sebuah vas bunga.


"Sudah Nyonya. Saya juga sudah membereskan pakaian saya ke lemari." ujarku.


Beberapa saat dia membiarkanku berdiri terdiam di posisiku, sedangkan ia menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian ia duduk di sofa, menyesap secangkir teh kemudian menatapku dengan tatapan anggunnya.


"Jadi benar kamu berpacaran dengan Ghiffa?" tanyanya to the point.


Pertanyaan itu langsung membuat sekujur tubuhku meremang, gugup sekali. Lidahku kelu tak bisa menjawabnya. Aku hanya tertunduk memandang ujung kakiku yang melepuh, yang sudah hampir sembuh.


"Betul Ghiffa yang menyukai kamu lebih dulu?" tanyanya lagi.


Aku kembali bungkam. Aku tak tahu akan menjawab apa atas pertanyaan itu. Tubuhku terlalu sibuk menetralkan detak jantungku yang bergemuruh.


Dari ucapan itu aku sudah paham betul, Nyonya Natasha sangat tidak menyetujui hubungan kami. Tentu saja. Seorang Nyonya besar dari salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia, melihat anaknya memiliki hubungan dengan seorang pembantu, sudah pasti akan sangat menentangnya.


"Saya berniat memecat kamu, tapi ternyata saya tidak bisa. Jadi saya bawa kamu kesini."


Tidak bisa memecatku? Maksudnya?


"Saya benar-benar kecolongan," Imbuhnya. "Saya kira kamu perempuan polos, tapi ternyata kamu bisa juga menggoda anak saya."


Seketika tubuhku panas dingin, amarah muncul begitu saja di dalam diriku. Aku berusaha meredamnya. Tidak akan terlihat baik jika ia menangkap reaksiku ini.


"Sekarang Ghiffa memang masih menolaknya, tapi suatu hari ia akan sadar bahwa ia adalah salah satu pewaris dari PT. Melcia Properti. Ia akan bersama-sama dengan kakaknya, Ghaza, untuk menjalankan perusahaan itu. Dia akan menjadi seorang pemimpin besar yang mempekerjakan ribuan karyawannya. Jadi, tidak mungkin perempuan seperti kamu akan bisa mendampinginya."


Tanganku terkepal menahan emosi yang terus mengalir di sekujur tubuhku. Air mata berusaha aku tahan agar tidak jatuh ke pipiku.


Aku sudah sering memikirkan dan membayangkan ada di posisi ini, dihakimi oleh orang tua Ghiffa mengenai hubungan kami. Tapi tetap saja aku tidak tahu sakitnya akan sampai seperti ini. Ini baru reaksi Nyonya Natasha, belum Tuan Musa.


"Kamu jangan tersinggung, Ayana. Saya hanya ingin kamu berpikir realistis. Kamu harus lihat saya. Apa kamu kira saya mau hidup seperti ini? Yang orang-orang tahu saya hidup dengan nyaman sebagai istri dari seorang Musa Airlangga. Tapi kamu lihat sendiri kemarin, saya hanya istri di dalam surat nikah. Pada kenyataannya saya hanyalah seorang bawahan dari suami saya sendiri. Dia terlihat baik pada saya, saat kami berada di muka umum. Tapi setelah tidak ada mata yang memandang kami, dia buang saya. Saya memang mendapatkan berbagai fasilitas mewah, saya punya segalanya, baju, tas, aksesoris, perhiasan, perawatan di klinik terbaik, tapi saya tidak pernah mendapatkan hatinya. Dia selalu mengatakan, sebaik dan secantik apapun saya, tetap saja saya adalah seorang perempuan miskin, yatim piatu, yang berhasil menggodanya dalam pertemuan satu malam yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan."


Tatapan Nyonya Natasha terlihat sangat sedih, matanya menatap kosong ke arah kolam renang di sisi gazebo ini, dan itu membuat amarahku seketika pergi entah kemana. Hatiku justru diselimuti empati yang begitu besar padanya.


Ia menatap ke arahku, "Saya bertahan disini karena Ghiffa. Ghiffa masih terlalu muda. Ia belum paham mengenai hidupnya sendiri. Ia akan memahaminya bahwa cinta tidak akan berguna untuknya suatu hari nanti. Ia akan segera mengikuti jejak ayahnya dan juga kakaknya dan mencurahkan segala perhatian dan tanggung jawabnya pada perusahaan mereka. Tidak akan ada tempat dan waktu untuk wanita di hati mereka. Secepatnya kamu harus melupakan anak saya. Jangan buat diri kamu terjebak lebih jauh. Atau kamu akan jauh lebih sakit dari ini. Apalagi perempuan dari kalangan bawah seperti kita, tidak akan memiliki tempat di hati para laki-laki berkuasa seperti mereka."


Aku kembali menundukkan kepalaku, menyelami segala kata-kata itu.


Aku memahami sekali hal itu. Itu juga yang aku pikirkan sebelum menyambut perasaan Ghiffa. Aku selalu menjaga jarak amanku dengannya. Selalu berusaha untuk tahu diri. Namun seketika aku luluh karena perasaan Ghiffa yang begitu tulus padaku. Hingga tanpa sadar kini aku sudah terjebak karena naluriku sendiri.


"Tolong kamu cerna dan pahami betul ucapan saya, Ayana. Juga jangan sampai suami saya mengetahui hal ini. Kamu mengerti?" Akupun mengangguk lemah.


"Hp kamu saya kembalikan." Ia meletakkan ponselku di meja di hadapanku. Sejak Nyonya Natasha meneleponku tadi pagi, aku memang diperintahkan untuk mematikan ponselku. Lalu saat aku dijemput oleh Pak Janu, aku diminta untuk menyerahkan ponselku padanya.


"Hubungi Ghiffa. Katakan kamu ada disini." perintahnya.


Aku meraih ponselku dan menyalakannya. Seketika puluhan panggilan tak terjawab dan chat dari Ghiffa bermunculan. Aku segera meneleponnya.


"Loud speaker." Perintah Nyonya Natasha.


Akupun menyalakan mode pengeras suara, seketika terdengar suara Ghiffa yang antara panik dan lega, "Kamu darimana aja sih? Kenapa mati HPnya? Aku nelpon kamu dari tadi. Kamu gak apa-apa 'kan?"


"Maaf, Tuan. Saya ada di rumah Tuan."


"Kamu..." Ghiffa menjeda ucapannya, "Mama bawa kamu ke rumah?! Sekarang juga kamu pulang ke apartemen!"


"Ayana akan tinggal disini, Nak." potong Nyonya Natasha, "Kalau kamu mau ketemu sama Ayana, kamu juga harus tinggal disini."