The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 135: Menghargai Diri Sendiri



Seorang pria dengan rambut klimis dan berjas navy muncul di layar TV.


"Disini saya berbicara atas nama Bapak Musa Airlangga, ayah dari Alghazali Airlangga dan juga Alghiffari Airlangga. Pertama kami mengucapkan mohon maaf atas segala pemberitaan mengenai keluarga Airlangga akhir-akhir ini. Saya ingin mengklarifikasi mengenai pemberitaan tersebut. Yang pertama, Alghiffari tidak menceraikan Ayana Pitaloka. Mereka masih berhubungan baik dan tidak ada masalah diantara mereka."


Aku menatap Ghiffa, kami sama-sama terkejut dengan pemberitaan ini, "Mah, itu siapa yang bicara?" Tanyaku perasaran.


"Reno. Asistennya Pak Musa." terang ibu mertuaku.


"Kedua, dikarenakan hubungan Alghiffari dan Ayana yang baik-baik saja, maka dari itu kabar bahwa Alghazali akan menikahi Ayana juga tidak benar."


Seketika konferensi pers itu riuh oleh para wartawan yang aku yakin sama terkejutnya dengan aku sekarang. Mereka terus membombardir pria bernama Reno itu dengan berbagai pertanyaan.


"Lalu Alghazali berbohong, Pak?" Tanya seorang wartawan, juga pertanyaan-pertanyaan serupa terus bermunculan.


"Mohon tenang." ujar Reno dengan tenang. Para wartawanpun langsung terdiam.


"*Terjadi satu kesalahpahaman antara kedua putra dari Bapak Musa Airlangga. Hingga Pak Ghaza berinisiatif untuk mengumumkan bahwa beliau akan menikahi adik iparnya sebagai rasa tanggung jawabnya kepada Nona Ayana. Namun semua sudah diluruskan, sudah clear.*Mereka juga sudah kembali ke Jakarta dan sudah kembali bersama. Maka dari itu saya sampaikan Keluarga Airlangga dalam keadaan baik-baik saja. Terimakasih."


Konferensi pers itupun berakhir. Nama baik Ghiffa seharusnya pulih setelah ada klarifikasi itu. Semoga saja.


Tapi seperti dugaanku, Tuan Musa akan menjaga nama baik keluarganya. Maka dari itu, tidak hanya memulihkan nama baik Ghiffa, tapi ia juga menjaga nama baik Ghaza.


Sebetulnya aku merasa itu memang cara yang terbaik agar gosip mengenai hal ini cepat berakhir, tapi tetap saja aku merasa Ghiffa kembali diperlakukan tidak adil.


Berminggu-minggu nama Ghiffa tercoreng, masyarakat menganggapnya sebagai anak yang hanya bisa membuat gaduh, pembuat onar, tidak mensyukuri hidup nyaman yang diberikan padanya.


Sedangkan Ghaza, biang kerok dari semua ini, nama baiknya kembali terlindungi. Walaupun nama Ghiffa kembali baik, tetap saja aku merasa sakit hati. Apalagi kami sampai mengalami hal buruk seperti kemarin.


"Begitulah. Lagi-lagi Pak Musa menutupi kesalahan Ghaza." ibu Mertuaku mendekat pada Ghiffa. Beliau duduk di kursi sebelah brangkar dan menatap Ghiffa sendu. "Maafin Mama, Nak."


"Kok Mama minta maaf?" ujar Ghiffa dengan suara yang masih serak.


Nyonya Natasha meraih tangan Ghiffa, "Mama baru sadar kalau kamu benar. Seharusnya Mama gak usah datengin Papa kamu waktu itu. Mungkin kamu gak akan ngerasain diperlakukan gak adil terus. Dijahatin sama Ghaza terus. Maafin Mama karena udah serakah." Sebutir air bening itu menetes ke pipinya yang masih terlihat sangat kencang itu.


"Syukur deh kalau Mama udah sadar." ujar Ghiffa. "Pantesan aku ngeliat style Mama gak kayak biasanya." Akupun menyadari itu. Kini Nyonya Natasha tidak berpakaian mahal seperti biasanya. Kini ia hanya menggunakan blouse sederhana dan celana denim longgar. Terlihat begitu santai, tapi tetap anggun.


"Mama udah bilang mau cerai ke Papa kamu." terang ibu mertuaku.


Sontak aku menutup mulutku yang tiba-tiba saja terbuka dengan tanganku.


"Wow." ujar Ghiffa masih dengan suara yang lemah.


Aku mengerutkan dahiku, "Kok 'wow' sih, A? Aa emang gak sedih Mama sama Papanya Aa cerai?"


Ghiffa menggeleng, "Mama sama Papa udah terlalu lama ada dihubungan toxic. Udah waktunya Mama pergi dan hidup bebas, gak usah mikirin apa-apa lagi. Gak usah mikirin aku, sekarang hiduplah seperti yang mama mau."


Aku tertegun mendengar Ghiffa mengatakan itu dengan setenang itu seakan perceraian bukan hal yang besar.


Nyonya Natashapun mengangguk, "Iya. Mama akan hidup dengan cara yang berbeda. Lagian kamu sekarang udah dewasa, udah nikah, kamu juga udah punya penghasilan sendiri. Mama akan lebih menikmati hidup Mama. Lebih memikirkan kepentingan Mama sendiri."


Ghiffa tersenyum lemah, "Selamat buat Mama. Kalau Mama butuh uang, kasih tahu aja. Aku bakal nafkahin Mama juga."


Nyonya Natasha tersenyum gemas mendengar Ghiffa mengatakan hal yang terdengar 'sok dewasa' itu. "Makasih, Nak. Tapi Mama juga punya penghasilan sendiri kok."


"Darimana?"


Natasha Florist adalah salah satu toko bunga yang cukup terkenal di Jakarta. Yang aku tahu pelanggannya juga berasal dari berbagai kalangan. Aku tidak menyangka itu adalah milik Nyonya Natasha.


"Toko bunga itu? Itu punya Mama emangnya?" tanya Ghiffa.


Beliau mengangguk, "Mama sempet iseng aja sekitar 5 tahun lalu buat toko itu. Kamu tahu 'kan Mama suka bunga. Mama ajarin beberapa orang buat ngelola toko kecil itu dan berjalan sampai sekarang dan udah ada beberapa cabang. Mama juga pisahin pendapatan Mama dari toko itu dengan uang yang dikasih sama Papa."


"Mama kok gak pernah bilang? Terus Papa tahu?"


"Tahulah. Apa sih yang Papa kamu gak tahu." Itu benar, sebagai seorang yang memiliki kekuasaan yang begitu besar, hal-hal sederhana seperti itu pasti diketahuinya. "Papa kamu gak komentar apa-apa. Dia nganggepnya ya Mama investasi aja. Tapi sebenernya Mama bikin toko bunga itu buat jaga-jaga juga, kalau-kalau ada kejadian kayak gini."


"Jadi sebenarnya Mama itu udah ada niatan cerai dari Papa itu udah dari lama ya?" Tebak Ghiffa.


"Kamu mungkin lihat Mama sebagai wanita yang ambisius, udah diperlakukan gak baik sama Papa kamu, tapi Mama tetep aja bertahan demi kamu, dan juga demi mempertahankan mimpi Mama yang selama ini pengen jadi orang kaya. Tapi sebenernya Mama cape. Sejak lama Mama pengen pergi dari Papa kamu. Tapi dua alasan itu yang selalu nahan Mama. Mama terus berpikir kalau kamu seharusnya dapatin apa yang Ghaza punya dengan sama rata, karena kalian sama-sama anaknya Papa kamu. Tapi sekarang Mama sadar, harta itu gak menjamin kebahagiaan kita." Nyonya Natasha membelai rambut Ghiffa, "Kayak kamu sekarang, seudah kamu keluar dari rumah, kenal sama Ayana, kamu nikah, untuk pertama kalinya Mama ngelihat kamu senyum dan ketawa bahagia."


Ghiffa menghela nafas, "Akhirnya Mama sadar juga."


"Iya, maafin Mama ya." Ucapnya sedih.


"Tapi Mama yakin? Bisa hidup tanpa segala fasilitas yang Papa kasih? Mama 'kan udah jadi sosialita papan atas." Ucap Ghiffa sedikit dengan nada menyindir.


"Kamu lupa, Mama dulu hidup jauh lebih susah daripada ini." Nyonya Natasha menatap ke arahku, "Dulu Mama sama kayak Ayana, kuliah sambil kerja, banting tulang buat menghidupi diri sendiri di kota besar ini. Tapi setelah ketemu Papa kamu, Mama jadi berambisi. Mama menganggap ini adalah kesempatan langka yang memang udah Mama nanti-nanti sejak lama. Tapi ternyata Mama cuma ngehancurin diri Mama sendiri, dan juga kamu."


"Ya udah Mama gak usah mikirin yang udah-udah. Sekarang Mama harus bahagia. Cari cowok lagi yang bener-bener bikin Mama bahagia, yang bisa lebih menghargai Mama." Ghiffa menasehati.


Nyonya Natasha mencubit gemas pipi Ghiffa, "Kamu udah bisa ya nasehatin Mama."


"Buat masalah cari pasangan hidup, aku lebih jago dari Mama kali. Mama gak lihat istri aku cantik dan baik hati begini. Mama juga harusnya cari yang begini, jangan cuma terpesona sama kharisma dan kekayaannya Papa."


Sungguh tidak habis pikir, dalam keadaan lemah seperti itu Ghiffa masih bisa berkata ceplas-ceplos seperti itu pada sang ibu.


Aku memukul pelan lengan suamiku, "Aa.. Kok ngomong gitu sih?"


"Emang bener, Yang. Lihat, Mama masih 40 tahun, masih cantik. Gampang buat Mama cari cowok. Tinggal cari yang lebih baik, yang sayang sama Mama, yang bisa lebih menghargai Mama. Bukan kayak Papa, bentar lagi juga Papa udah jadi kakek-kakek. Udah gak ganteng lagi. Udah tinggalin aja."


Kini aku yakin Ghiffa sudah semakin sehat, terbukti dengan mulutnya yang sudah bisa mengeluarkan kata-kata lugas seperti itu.


"Ya ampun Aa, tega banget ngomong gitu tentang Papa." Tegurku. Jika saja ia tidak sakit, sudah aku pukul ia sekeras mungkin.


"Aku ngomong apa adanya, Yang."


Sekilas, aku menangkap sosok seseorang dari sudut mataku. Sontak aku menoleh ke arah pintu dan melihat Ayah Mertuaku di depan kamar inap yang pintunya sedikit terbuka. Saat tatapan kami bertemu, ia segera pergi.


Apa beliau mendengar semua percakapan ini?


Natasha hanya tertawa getir mendengar semua itu, "Mama gak akan nyari cowok lagi. Udah cukup Mama hidup selama 18 tahun melayani seorang suami. Sekarang Mama mau hidup buat melayani diri mama sendiri. Pokoknya Mama akan menikmati hidup Mama."


"Maaf, Mah. Kalau aku terkesan ikut campur," ucapku ragu. "Tapi Papa kayaknya udah berubah. Mama gak mau mempertahankan hubungan Mama sama Papa?"


Beliau malah terdiam dengan raut wajah yang sedih. "Jujur, Mama cinta sama Papa. Bahkan setelah diperlakukan seperti itu bertahun-tahun. Tapi untuk bertahan lebih lama, Mama gak bisa. Sekarang udah waktunya Mama lebih menghargai diri Mama sendiri. Lagipula kalian udah bahagia, apa lagi yang Mama cemaskan sekarang?" ucapnya mencoba menghibur diri.


Tapi jujur aku jadi kepikiran. Raut wajah ayah mertuaku saat tadi tertangkap basah olehku, terlihat begitu sedih. Aku yakin beliau mencintai istrinya ini, hanya saja beliau terlalu enggan untuk mengakuinya.