The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 65: Ayana adalah Pacarku



"Ayana." Nyonya Natasha duduk di sofa ruang tengah, kedua tangannya terlipat di depan dadanya, kedua manik hitamnya menatap tajam ke arahku yang berdiri di depannya.


"Iya, Nyonya," sahutku agak sungkan.


"Jadi benar kamu mengalami kecelakaan? Gimana kaki kamu?" Pertanyaannya seharusnya terdengar bersimpati, tapi nada bicaranya justru terdengar dingin. Terlihat ia sedang sangat marah. Seketika aku menyesal karena tidak langsung menghubunginya kembali tadi.


"Sudah jauh lebih baik, Nyonya." ucapku.


"Lebih baik gimana? Kaki kamu yang sebelah kenapa itu merah dan melepuh?" tanyanya masih dengan nada tinggi.


"Saya kurang berhati-hati Nyonya. Kaki saya terkena sup panas." ucapku penuh sesal.


Nyonya Natasha terlihat sangat kesal, "Kok bisa kamu seceroboh itu? Pertama kamu kecelakaan, kamu ngelamun di jalan sampai kamu nabrak. Terus sekarang kaki kamu kena luka bakar? Dengan keadaan seperti ini gimana kamu mau ngurusin anak saya?!"


"Mama kok nyalahin Ayana? Ini bukan salah dia! Emang siapa yang mau kalau kena kecelakaan?!" bentak Ghiffa pada sang ibu.


"Tuan, jangan seperti itu pada Nyonya." lirihku menegur Ghiffa dengan suara pelan sekali.


"Kamu berani menegur anak saya seperti itu?! Kamu hanya pembantu, Ayana! Jangan lupa sama posisi kamu." Nyonya Natasha malah menyalahkanku.


Ini terasa sedikit aneh. Tidak biasanya Nyonya Natasha seemosi itu.


"Mama kenapa sih marah-marah? Pake ngomong kayak gitu segala sama Ayana? Lagian mama ngapain kesini kalau cuma buat marah-marah. Mending pulang urusin tuh atasan Mama. Ntar dia nyariin mama lagi." Ghiffa sudah tersulut emosi.


"Ghiffa!" Teriak Nyonya Natasha. Aku memutuskan untuk tidak mengatakan apapun lagi. Aku akan diam saja.


"Kamu itu selalu bikin mama seperti ini. Mama udah cape sama sikap kamu! Kamu gak pernah menghargai apa yang Mama lakukan untuk kamu! Mama udah lakukan semuanya demi kamu, Mama bertahan di sisi papa kamu, Mama berusaha keras agar kamu dapetin saham itu, tapi apa balasan kamu untuk Mama? Bahkan sedikitpun kamu gak bisa menghormati Mama!" Air mata sudah menggenang di pelupuk mata indah wanita berusia 40 tahun itu.


"Aku gak pernah minta Mama ngelakuin itu. Aku udah bilang sama Mama, berkali-kali! Aku gak butuh saham itu! Aku gak butuh jadi anaknya Musa Airlangga. Harusnya Mama diem dan lahirin aku tanpa sepengetahuan papa! Atau Mama aborsi aja sekalian biar aku gak usah lahir dan hidup Mama juga gak akan kayak gini!"


Ya Tuhan, ada apa dengan Ghiffa. Kenapa dia berbicara seperti itu pada ibunya sendiri?


Nyonya Natasha mengusap kasar wajahnya dan mulai menangis.


Aku menatap Ghiffa dengan tatapan marah, Ghiffa malah mengalihkan pandangannya. Aku meraih tepi kaosnya dan memintanya untuk menghampiri Nyonya Natasha. Awalnya Ghiffa bergeming, namun aku terus memaksanya dengan tatapan galakku padanya. Akhirnya dengan langkah malas ia melangkahkan kakinya mendekat pada sang ibu.


Ghiffa menghela nafas dan duduk di sebelah Nyonya Natasha, "Mama kenapa sih? Biasanya gak pernah sampai nangis kayak gini kalau aku ngomong kayak gitu." Ada nada menyesal dari ucapan Ghiffa tapi sepertinya ia terlalu gengsi untuk meminta maaf pada ibunya sendiri.


Nyonya Natasha menyandarkan kepalanya ke pundak sang putra, dan terus saja menangis tersedu. Ghiffa merangkul pundak sang ibu dan menepuknya pelan. "Pasti berantem lagi sama Papa. Kenapa lagi dia? Udah aku bilang 'kan, cerai aja udah. Mama bandel sih, cowok gak ada hati kayak gitu masih aja dinikahin."


"Maafin Mama, Sayang. Mama udah bikin hidup kamu seperti ini. Mama cuma pengen kamu bahagia, Nak. Mama ngerasa bersalah sekali sama kamu. Makanya Mama selalu ngusahain kamu dapetin saham itu. PT. Melcia Properti itu punya kamu juga. Tapi kenapa kamu selalu kayak gini? Kamu selalu buat yang udah Mama usahain jadi sia-sia." ucapnya sambil terus terisak.


"Mah, aku kayaknya bakal lebih bahagia kalau Mama gak datengin Papa waktu aku masih di perut mama. Aku bakal lebih bahagia hidup apa adanya bareng Mama."


Nyonya Natasha bangkit dari sandarannya, "Nggak, Sayang. Kamu adalah anak dari Ayah kamu. Apa yang dia miliki harus jadi milik kamu. Baru Mama bisa lega dan bisa mati dengan tenang."


"Tuh 'kan, gitu terus 'kan Mama ngomongnya? Aku itu gak butuh harta dan kekuasaan Papa buat bisa bahagia. Malah sekarang aku seneng karena udah gak tinggal di rumah itu lagi. Gak usah ketemu dua orang yang gak bisa nerima kehadiran aku."


"Kamu udah gak mau dianggap adik sama Ghaza? Kamu gak mau tinggal di rumah lagi?"


"Gak segampang itu, Nak. Mama...cinta sama Papa kamu."


Ghiffa menghela nafas, "Udah deh, Mah. Di kamusnya Papa mana ada cinta?"


"Kamu gak akan paham. Nanti kalau kamu udah dewasa kamu akan paham semuanya."


"Ya udah kalau gitu mama tinggal di apartemen Mama. Gak usah di rumah lagi. Biarin aja Papa sendirian. Lama-lama juga Papa bakal ngerasa kesepian kalau gak ada Mama. Dia 'kan kebiasa ada mama, diurusin sama mama. Tapi aku gak jamin juga sih, papa 'kan gak punya hati. Gak tahu bisa kesepian gak tahu nggak."


"Kamu jangan gitu sama Papa kamu. Bukannya nengokin malah selalu aja ngomong jahat. Papa itu sayang sama kamu, kok. Papa sering nanyain kamu gimana nasib kamu selama gak megang kartu dan kendaraan."


"Mama gak liat aku baik-baik aja?"


"Ada mobil di garasi. Emangnya mama gak tahu? Mobil siapa itu? Kamu jangan sampe minjem sama Max atau Theo ya buat beli mobil. Malu Mama sama Papa sama orang tua mereka."


"Mama jangan sok tahu, deh. Udah ah, bosen dengerinnya. Mama kenapa tahu kalau Ayana kecelakaan?"


"Ghaza yang bilang. Katanya Ayana nabrak mobilnya. Mobilnya lecet lumayan parah."


Sontak aku yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan kedua ibu dan anak itu, berteriak tanpa sadar, "Hah?! Tapi Nyonya Tuan Ghaza bilang mobilnya gak apa-apa."


"Tadi pagi aja dia berangkat pake mobil kantor dan pake supir, katanya mobilnya lagi di bengkel. Biasanya dia gak suka pake supir." ujar Nyonya Natasha.


Aku merasa bersalah sekali. Biaya perbaikan mobil Tuan Ghaza pasti mahal sekali. Bagaimana aku akan menggantinya?


"Udah deh kamu gak usah ngerasa bersalah kayak gitu, Yang. Kalau dia liat, dia bisa manfaatin perasaan bersalah kamu itu. Mobil lecet doang bukan apa-apa buat dia. Dan jangan sampe otak kamu mikirin Ghaza. Aku gak suka. " Ghiffa menangkap wajah cemasku dan terlihat sekali ia tidak menyukaiku yang merasa bersalah pada Ghaza.


Apa sih, berlebihan sekali Ghiffa ini.


"Kenapa cara kamu ngomong ke Ayana kayak gitu? Terus apa kamu bilang? Kamu manggil 'yang' ke Ayana?"


Sontak aku menahan nafas saking paniknya. Benar juga, Ghiffa barusan memanggilku 'yang' di depan Nyonya Natasha!


"Nyonya itu... " Seketika otakku blank. Tidak ada alasan yang bisa aku pikirkan untuk kuberikan pada Nyonya Natasha.


"Kenapa emangnya? Ayana ini pacar aku, Mah. "


"Apa?!" Nyonya Natasha syok sekali. Matanya membulat sempurna ke arahku.


Aku hanya bisa menelan salivaku. Matilah aku!


"Aku suka sama Ayana. Jadi aku nembak dia." ujarnya tanpa rasa ragu sedikitpun.


Aku melambai-lambaikan tanganku pada Nyonya Natasha, "Enggak Nyonya. Bukan seperti itu.." Aku gelagapan saking paniknya.


Amarahnya kembali muncul dan menatap Ghiffa dengan tajam."Kamu udah gila? Ayana ini gak sebanding sama kamu! Dia gak selevel sama kamu!"


Ghiffa bangkit dari sofa dan berjalan ke arahku. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat seraya berkata, "Aku gak peduli Mama suka atau nggak, pokoknya Ayana adalah pacar aku."