
Natasha's point of view
Siang itu, setelah kembali gagal menemukan dimana Ghiffa, tanpa sadar Natasha terlelap dan bermimpi. Mimpi yang sama yang selalu terjadi akhir-akhir ini setelah sang putra tak bisa ia ketahui dimana keberadaannya.
Dalam mimpi itu...
"Mama, Bang Ghaza ambil bola punya Ghiffa." ujar seorang anak laki-laki yang adalah Ghiffa yang masih berusia 8 tahun.
Natasha menghela nafas, seraya berjongkok di depan sang putra, "Ghiffa anak baik, jangan nangis ya. Nanti Mama beliin lagi."
"Kenapa sih Bang Ghaza ambil, padahal Bang Ghaza udah punya bola. Kemarin juga mobil-mobilan remote control Ghiffa diambil sama Bang Ghaza." Ghiffa masih terisak. Natasha hanya bisa terdiam, menatapnya dengan rasa bersalah.
Seorang pria berjas abu datang bersama dengan seorang remaja laki-laki berseragam SMA. Sebuah bola sepak terlihat dipegang oleh remaja laki-laki itu.
"Papa bangga sekali kamu akan jadi pembicara di acara kelulusan nanti." ujar pria berjas itu yang adalah Musa Airlangga.
Melihat kedua orang itu berjalan memasuki rumah, Natasha bangkit dari posisinya.
Tawa Musa terhenti tatkala melihat Ghiffa kecil menangis. "Kenapa lagi anak itu?" Tanyanya ketus. Wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar Ghiffa menangis.
"Ghaza mengambil bola milik Ghiffa, Pak." terang Natasha hati-hati.
Musa seketika melihat ke arah Ghaza yang dirangkulnya itu, dan melihat bola yang terdapat di tangannya.
"Apaan, ini bola gue! Jangan ngaku-ngaku deh, lo! Pake ngadu segala!" Sanggah Ghaza segera dengan kelabakan.
"Itu punya Ghiffa bolanya! Lihat aja ada sticker Kojiro Hyuganya di bola itu!" Tangis Ghiffa semakin keras, "Bang Ghaza kalau mau main ayo main bareng. Ghiffa tadi udah ngajakin, Bang Ghazanya gak mau." ucapnya sesenggukan.
"Kamu jangan menuduh sembarangan, Ghiffa!" teriak Musa, "Ini gara-gara kamu terlalu memanjakan dia! Lihat dia jadi suka menuduh seperti ini!"
"Maafkan saya, Pak." Segera saja Natasha meminta maaf, tidak ingin memperpanjang masalah.
Musa berdecak seraya memasuki rumah lebih dalam menuju lantai dua bersama dengan Ghaza.
Tas milik Ghaza sedikit terbuka, Ghiffa dan juga Natasha melihat sebuah bola yang berwarna hitam dan putih dengan pola segi lima itu, "Itu bola Bang Ghaza ada di tas!" Teriak Ghiffa.
Seketika kedua orang yang sedang berjalan menuju tangga itu berhenti dan melihat ke arah Ghiffa, "Kenapa? Gue emang punya dua bola." ujar Ghaza tanpa rasa bersalah.
"Bang Ghaza udah punya bola! Kenapa ambil yang aku juga!" teriak Ghiffa tidak terima.
Ghaza semakin murka. Ia menghampiri Ghiffa dan meraih tangan kecilnya, "Gue bisa dapetin apapun yang gue mau! Lo cuma numpang disini! Jadi jaga sikap lo, anak haram!"
"Sakit, Bang! Lepasin!" Ghiffa meringis.
"Tolong, Ghaza. Ghiffa masih kecil." ujar Natasha lembut, berhati-hati khawatir Ghaza akan semakin marah.
Ghaza berdecak, "Dia emang masih kecil, tapi nanti udah gede dia yang justru bakalan ngerebut perusahaan dari gue! Inget ya, Tante ataupun anak Tante ini, gak akan pernah dapetin sedikitpun saham dari perusahaan! Perusahaan itu punya gue!" Ghaza menatap Natasha dengan tanpa hormat sama sekali.
Mimpi itu berlanjut.
Kali ini Natasha sedang berada di teras belakang. Puluhan tangkai bunga ada di sekelilingnya. Tangannya sibuk menata tangkai demi tangkai pada sebuah vas.
"Natasha!" Teriak Musa.
Segera Natasha meninggalkan gunting dan sebuah tangkai yang dipegangnya, kemudian berjalan tergopoh menuju sang suami yang baru saja pulang dari kantor. "Malam ini saya akan makan malam dengan Mr. Watanabe. Ia baru saja tiba dari Jepang. Kamu sudah mempelajari bahasa Jepang kamu dengan baik?"
"Sudah, Pak. Saya sudah mulai mempelajarinya sejak bulan lalu sejak anda meminta saya mempelajarinya."
"Coba katakan sesuatu." titah Musa ingin Natasha membuktikan ucapannya.
Kemudian dengan fasihnya Natasha berbicara dengan bahasa Jepang, yang bahkan Musa sendiri tidak memahaminya karena ia memang tidak menguasainya.
"Apa artinya?"
"Saya mengatakan bahwa Ghiffa mendapatkan juara umum di kelulusannya hari ini. Sebagai hadiah bisakah anda memberikan sebuah mobil sport untuknya? Satu bulan lagi ia akan menjadi seorang siswa SMA. Dia bisa mengendarainya ke sekolah nanti." ujar Natasha penuh harap.
"Mobil sport?"
"Betul, Pak. Seperti yang anda berikan pada Ghaza, dia juga menerima mobil pertamanya pada saat akan masuk SMA, 'kan? Bisakah Ghiffa mendapatkannya juga?"
Musa tertawa meremehkan, "Kamu masih saja menyamakan mereka berdua. Ghaza dan Ghiffa tidak akan pernah saya perlakukan dengan sama. Ghaza adalah pewaris perusahaan. Dia akan mendapatkan hal terbaik dari yang terbaik. Berikan saja Ghiffa sebuah mobil kecil. Itu sudah cukup untuknya."
"Tapi Pak, orang-orang akan melihat perbedaan itu. Orang-orang akan..."
Musa memotong ucapan sang istri, "Sudah saya bilang! Ghiffa akan memiliki imej sebagai anak yang tidak suka kemewah-mewahan. Setiap ulang tahun tidak kita rayakan karena ia tidak menginginkannya. Belikan ia sebuah mobil kecil maka imej sederhana akan semakin kuat dalam dirinya."
"Semakin berani kamu membantah saya?!" Teriak Musa.
Natasha pun bungkam.
"Sudah, sekarang saya akan mandi dan bersiap. Kamu jangan bikin saya malu di depan kolega saya. Dia membawa serta istrinya. Berdandan yang cantik dan jamu mereka dengan baik. Kamu paham?!" ujar Musa tanpa sedikitpun mengapresiasi Natasha yang bisa berbicara bahasa Jepang dengan sefasih itu hanya dalam waktu satu bulan.
"Baik, Pak. Anda tidak perlu khawatir, " Ucap Natasha sopan.
Musa berjalan menuju kamarnya, Natasha mengikutinya dan berjalan satu langkah di belakangnya. Ia berjalan menuju sebuah walk in closet yang ada di kamar Musa, menyiapkan pakaian untuk sang suami.
"Natasha!" terdengar suara Musa yang berasal dari kamar mandinya. Segera Natasha menghampirinya.
Natasha segera menundukkan kepalanya saat melihat Musa sudah tidak menggunakan sehelai pakaianpun dan memasuki bathtub berisi air hangat yang sudah disiapkan oleh Natasha sebelum ia tiba di rumah.
Setelah duduk dengan nyaman, ia menatap ke arah sang istri yang berdiri dengan tangan tertaut dan kepala yang tertunduk.
"Kamu sudah mengkonsumsi obat itu?" tanya Musa.
Natasha mengangguk, "Sudah, Pak. Saya selalu mengkonsumsi obat itu setiap hari."
"Bagus. Jangan sampai kamu mengandung anak saya lagi. Satu saja sudah membuat kamu begitu berambisi, apalagi jika kamu memiliki lebih dari satu. Kamu benar-benar perempuan yang tidak tahu diri. Perempuan miskin yang berlagak menjadi seorang nyonya besar!"
Tangan Natasha terkepal kuat. Kembali ia menahan emosinya. Kata-kata serupa ia harus dengar dari mulut Musa setiap harinya. Tapi ia tidak bisa melawan, ia harus menelan kata-kata bak pil pahit itu.
Karena semuanya demi Ghiffa. Ghiffa harus mendapatkan haknya. Putra tersayangnya, yang selalu diperlakukan tidak adil oleh ayah kandungnya sendiri.
"Buka pakaian kamu. Kamu harus diberi pelajaran." ujar Musa dengan angkuhnya.
Natasha tertegun sesaat.
"Tunggu apa lagi?!" hardiknya.
Kemudian Natasha mulai melucuti seluruh pakaiannya. Hatinya sudah mati rasa. Bertahun-tahun tinggal sebagai istri yang tidak dianggap, istri formalitas yang harus menjadi sosok istri sempurna di depan orang lain, namun saat tidak ada siapapun, Musa akan kembali memperlakukannya seperti budak. Bahkan ia harus melayani segala kebutuhan Musa, termasuk kebutuhan biologisnya tanpa ada rasa cinta sedikitpun yang bisa ia rasakan saat melakukannya.
Hanya perlakuan kasar yang ia terima saat Musa menj*m*hnya.
Natasha tahu ini adalah kewajibannya sebagai istri. Selalu itu yang tertanam dalam dirinya. Ia adalah seorang istri dan melayani suami adalah suatu keharusan. Namun, dalam hati kecilnya ia selalu bertanya, tidakkah ia pantas untuk mendapatkan sedikit saja perasaan dihargai?
Natasha tidak meminta Musa mencintainya. Tidak sama sekali. Hanya sedikit saja rasa dihargai yang ia inginkan. Sebetulnya di hatinya sempat ada getaran-getaran itu di awal ia tinggal di rumah mewah ini, seiring berjalannya waktu getaran itu semakin meredup seraya dengan perlakuan Musa yang tak pernah berubah.
Ia sudah sangat lelah. Tapi sekali lagi ia tetap bertahan demi sang putra.
Natasha terbangun dengan perasaan yang kalut. Mimpi itu begitu mengganggunya. Mimpi-mimpi yang hampir selalu hadir selama beberapa hari terakhir sejak Ghiffa dibawa oleh Ghaza entah kemana. Kilasan-kilasan kejadian tak menyenangkan selama 18 tahun berada di samping seorang Musa yang angkuh terus bermunculan secara bergantian di dalam mimpinya.
Ia sangat merindukan sang putra. Ibu mana yang tidak gundah mengetahui sang putra menghilang bak ditelan bumi. Ia ingin tahu dimana keberadaan sang putra, dan bagaimana keadaannya.
Perlahan ia tersadar bahwa betapa sia-sia hidupnya selama ini.
Ia berjalan ke arah walk in closet miliknya. Ia pandang dengan sendu puluhan tas dari berbagai brand terkenal dunia, puluhan pasang sepatu, pakaian-pakaian mewah yang menggantung di beberapa lemari, perhiasan, dan semua barang mewah yang ada di ruangan itu.
Ia teringat dengan mimpinya ketika masih berada di panti untuk menjadi seorang yang kaya raya. Kini semua kekayaan itu sudah ia dapatkan. Namun sama sekali hidupnya tak bahagia. Malah, karena keegoisan dan ambisinya itu, sang putra ikut hidup dengan begitu menyedihkannya.
Sudah bulat. Natasha sudah memutuskan. Dan keputusannya itu sudah tak bisa diganggu gugat lagi.
"Buat apa Mama punya semua ini, kalau Mama gak tahu kamu ada dimana, Sayang." gumam Natasha. Air matanya kembali mengalir deras.
Natasha duduk di meja riasnya dan menghapus semua make up yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Kemudian ia lepaskan perhiasan yang selalu menghiasi telinga, leher, jari dan tangannya. Ia pandangi pakaian mewah yang dikenakannya yang selama ini selalu membalut tubuh indahnya.
Ia berganti pakaiannya dengan kaos, blazer sederhana, dan celana denim juga sepatu kets. Ia masukan beberapa pakaian ke dalam sebuah tas punggung, mengeluarkan semua kartu dan uang dari dompetnya dan menyisakan surat-surat penting dan satu kartu saja, kartu yang ia miliki dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, bukan pemberian dari Musa. Kemudian ia segera meninggalkan kamar itu.
Natasha menuruni tangga saat sebuah suara menyapanya, "Natasha? Ada apa dengan pakaian kamu?!" Suara Musa terlihat begitu terkejut.
Natasha mendongak, dan mendapati Musa baru saja memasuki rumah. Ia berjalan menuju pintu keluar itu.
"Saya akan mencari Ghiffa. Tanpa bantuan anda, saya akan menemukan dia!" Natasha segera melewati Musa begitu saja.
"Natasha!!" Musa meraih tangan Natasha.
Dengan marah segera saja Natasha melepaskan cengkraman tangan Musa di lengannya, Natasha menatap wajah yang sudah mulai keriput, namun masih tetap terlihat tampan itu. Natasha selami kedua mata yang selalu memberikan sorot mata menusuk itu.
Dengan pasti ia berkata, "Jangan sentuh saya lagi! Mulai detik ini, saya bukan istri anda."