The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 117: Trauma



Ghiffa's point of view


Ghiffa segera meninggalkan ruang kerja Musa setelah menyampaikan ancamannya. Ia tidak main-main. Ia akan membuat Ghaza memilih, jika ia ingin mempertahankan PT Melcia Properti, maka ia harus melupakan obsesinya terhadap Ayana. Tidak akan pernah Ghiffa biarkan Ghaza memiliki keduanya.


Reaksi Ghaza cukup mengganggu bagi Ghiffa. Ghaza terlihat sangat bimbang saat Ghiffa memaksanya untuk memilih antara Ayana atau perusahaannya, sepertinya Ghaza benar-benar serius dengan perasaannya terhadap Ayana.


Hal ini membuat Ghiffa akan semakin memproteksi sang istri. Ia tidak akan membiarkan Ghaza mengambil Ayana. Ia tidak mau sang istri menjadi korban nekat sang kakak lagi.


"Tunggu!" Ghaza menghentikan langkah Ghiffa yang akan memasuki mobil.


"Gue bakal ngelakuin visum dan laporin lo ke polisi." ucap Ghaza.


Ghiffa menutup kembali pintu mobil miliknya, "Lo ngancem gue? Lo gak takut perusahaan lo tercinta itu kena skandal?"


"Ini gak akan berpengaruh ke Melcia. Cuma lo doang yang bakal ngerasain akibatnya. Tunggu aja." Ucapnya yakin.


.


"Kalau gitu gue juga bakal laporin lo dengan tuduhan pel*c*h*n. Gue bakal minta surat keterangan ke dokter spesialis kejiwaan yg kemarin meriksa Aya. Itu bakal jadi bukti kuat buat polisi nahan lo."


Ekspresi dingin Ghaza berubah panik, "Apa lo bilang? Ayana diperiksa sama dokter spesialis kejiwaan?"


"Gara-gara lo Aya syok sampe pingsan kemarin. Cek aja CCTV lift apartemen." Ghiffa bersiap masuk ke mobil, "Silahkan lo laporin gue. Gue juga bakal nuntut lo balik karena udah bikin Aya PTSD."


Ghaza tak menjawab lagi ucapan sang adik, ia segera berlari menuju mobilnya.


"Mau kemana lo? Jangan pernah lo nampakin diri lo depan Aya seujung jaripun kalau lo gak mau dia tambah stress!" teriak Ghiffa. Seketika Ghaza menghentikan langkahnya.


"Maksud lo apa?!"


"Lo bego apa gimana? Istri gue kayak gini itu gara-gara siapa?! Gara-gara lo!" teriak Ghiffa masih mencoba menahan dirinya agar tidak menyerang Ghaza lagi, "Kalau Aya sampai kenapa-kenapa lagi, gue bakal pastiin lo kehilangan Melcia! Inget itu!"


Ghiffa segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah kediaman Airlangga. Ia menoleh ke arah spion dan melihat sang kakak masih berdiri mematung di posisinya.


Beberapa saat kemudian ia sampai di kafe. Belva berada di salah satu meja, mengobrol dengan Lucas.


Ghiffa menghampiri mereka, "Aya mana?"


"Ayana tidur, tadi abis ngelipetin tisu dia bilang ngantuk banget dan pas gue cek ke kamarnya dia beneran tidur." Terang Belva.


"Kayaknya itu pengaruh obat. Dia jadi terus ngantuk." tambah Lucas.


Ghiffa duduk di sebelah lucas, "Tapi kalian gak nyinggung tentang Ghaza 'kan?"


"Nggak. Lo tenang aja, tadi sengaja gue lebih banyak cerita tentang pemotretan gue di Bangkok kemarin. Gue cerita ketemu model lain yang cantik abis. Tapi pas cewek itu ngomong suaranya ngebass. Terus Aya langsung ketawa keras banget." ucap Belva diiringi tawanya yang renyah.


Ghiffa sendiri jadi tersenyum mendengar cerita Belva. Mendengar Ayana bisa tertawa setelah kejadian kemarin benar-benar membuat Ghiffa merasa sangat bersyukur. "Thanks ya, Bel."


"Lo tenang aja tadi dia happy kok kayak gak ada masalah apa-apa." sahut Belva.


"Gue juga sengaja ngajak dia ngelipetin tisu disini biar dia ada kegiatan dan gak tiba-tiba kepikiran sama kejadian kemarin. Sebisa mungkin dia harus diajak ngobrol dan jangan dulu sendirian. Itu kata dokter kemarin 'kan." Lucas menambahkan.


Ghiffa mengangguk setuju.


"Juga lo jangan lupa, tahan dulu kalau lo lagi pengen. Takutnya Aya trauma lagi." Lucas mengingatkan.


"Lo..." Ghiffa merasa begitu canggung, "Jangan bahas itu sekaranglah, ada Belva juga."


"Gue cuma ngingetin apa kata dokter, Nj*ng." sahut Lucas.


"Aya pernah ngomongin itu sama lo?!" Ghiffa tercengang sekali.


"Lo lupa, istri lo itu kelewat polos. Gak ada yang gak gue tahu tentang lo berdua. Waktu awal-awal dia sampai nanyain ke gue cara muasin suami itu kayak gimana. Ya gue jawab aja, gak tahu. Orang yang udah pernah itu dia. Kok dia nanyain ke gue. Pokoknya lo bakal ngakak kalau lihat dia lagi bahas itu dengan wajah polosnya." seloroh Belva.


Ghiffa benar-benar membayangkan Ayana membahas itu di depan Belva, sontak ia tertawa malu-malu.


"Beneran lo gak pernah?" Tanya Lucas tak percaya.


"Lo kira gue cewek apaan, Om!" Belva mencubit tangan Lucas dengan gemas tak terima dengan ucapannya, "Mungkin lo mikirnya gue sama kayak cewek-cewek lain jaman sekarang? Nggak ya! Dalam hal ini gue sevisi sama Ayana. Pantang kayak gitu kalau bukan sama suami sendiri."


"Mantap." Lucas mengacungkan jempolnya pada Belva.


"Terus Aya pernah ngomong apa lagi?" Rasanya menyenangkan bagi Ghiffa mengetahui sisi lain dari sang istri dari sudut pandang orang lain. Sehingga Ghiffa ingin mendengar cerita lainnya tentang Ayana.


"Banyak. Semua tentang dia gue tahu. Bucinnya dia sama si Hyuga, cowok gak jelas yang dia temuin di instagram yang tahunya itu lo. Tiap dia kesel sama lo, tiap dia seneng atau sedih gara-gara lo. Terus...." ekspresi wajah Belva berubah, dari yang asalnya ceria menjadi nampak sedih. "tentang kejadian itu gue juga tahu, Aya cerita semuanya sama gue. "


Tanpa pikir panjang Ghiffa langsung mengorek informasi dari Belva, "Lo tahu? Ceritain sama gue semuanya!"


"Lo inget waktu itu lo ke arena balapan dan Ayana dateng ke rumah gue? Pas gue pulang dia lagi nangis parah banget di kamar gue. Ayana cerita, waktu mau masuk ke lift dia dapet video dari Ghaza. Dia langsung ke toilet buat liat video apa itu. Dan video itu adalah video yang diambil sama Ghaza sendiri sambil dia ngelucutin bajunya Ayana yang lagi gak sadarkan diri. Ghaza nyium bibirnya, dan merahin lehernya. Gue juga gak liat videonya karena katanya dia langsung hapus. Terus Ghaza nelpon Ayana dan bilang kalau Ayana harus nyobain itu sama dia. Pokoknya Ghaza nyangkanya kalian di hotel itu bukan sebagai suami istri. Makanya Gara-gara itu Ayana bertekad buat buktiin kalau penilaian Ghaza tentang dia itu salah. Dan kejadian deh, aksi ternekat yang pernah gue lihat dari seorang Ayana waktu ulang tahun Ghaza." Belva menceritakan itu dengan hati-hati. Ia tahu ini akan sangat menyakitkan juga untuk Ghiffa.


Dunia Ghiffa serasa runtuh. Darahnya kembali mendidih. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya Ayana saat melihat itu. Ghiffa yakin sama hancurnya seperti yang dirasakannya sekarang.


Namun satu hal yang akhirnya Ghiffa sadari, sampai ulang tahun Ghaza itu Ayana masih baik-baik saja. Tapi karena ia kembali mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Ghaza, gejala PSTD itu muncul. Dan itu membuat Ghiffa terus merasa bersalah. Harusnya ia menolak saat Ghaza menawari mereka tinggal di apartemennya. Mungkin hal mengerikan itu tidak akan terjadi.


Setelah mengobrol dengan Belva itu, Ghiffa kembali ke rumah. Ia perlahan masuk ke dalam kamar dan mendapati Ayana masih tertidur di sisi sebelah kiri tempat tidur. Ghiffa membaringkan dirinya di sebelah kanan sang istri. Ia memberi jarak tak ingin terlalu dekat dengan Ayana dan membuatnya terkejut. Kini Ghiffa merasa harus lebih berhati-hati, tak bisa lagi ia seperti biasanya. Reaksi Ayana waktu ia menciumnya saat tidur di apartemen Ghaza cukup membuat Ghiffa sendiri merasa trauma.


Ayana mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan matanya terbuka. Ia menoleh ke arah kanan dan mendapati Ghiffa berada di sampingnya, tersenyum padanya. "Hey, udah bangun?"


Ayana menggeliatkan tubuhnya, kemudian menghadapkan tubuhnya pada Ghiffa. "Udah. Aku jadi ngantuk terus. Aa kapan pulang?"


"Barusan." Lirih Ghiffa.


"Gimana sekolahnya?" Tanya Ayana.


"Ya gitu aja." ucap Ghiffa masih menatap sang istri dengan sedih.


"Aa laper? Aku masak dulu ya. Aa mandi dulu aja." bujuk Ayana.


Ghiffa menggeleng pelan, "Nanti aja, Yang. Aku pengen liatin kamu kayak gini."


Ayana tersenyum salah tingkah, "Apa ih Aa. Ngapain liatin aku?"


"Kamu cantik." Lirih Ghiffa.


"Iya gitu? Masa sih? Tapi waktu aku dandan cantik waktu itu Aa gak komentar apa-apa." Ayana memajukan sedikit bibirnya.


"Kapan?" Tanya Ghiffa.


"Waktu acara itu. Aku dandan itu 'kan buat Aa. Bukan buat Gha..."


Ekspresi Ayana berubah. Seketika raut wajahnya berubah panik, nafasnya kembali menderu. Ghiffa yang terkejut segera menggeser tubuhnya menuju sang istri yang kini mulai menangis histeris.


"Yang..." Ghiffa panik. Ia hanya bisa merengkuh tubuh sang istri dan menenangkannya.


"Aa...Aku udah khianatin Aa... Aku jahat.. Aku gak bisa jaga diri.." ucap Ayana di tengah isaknya yang memilukan.