
Hari itu seperti beberapa hari terakhir, aku bangun dari tidurku yang panjang. Sudah beberapa hari ini kerjaanku setiap hari tidur dan tidur. Anehnya saat aku terbangun badanku justru merasa tidak segar, malah rasanya sekujur tubuhku pegal-pegal.
Namun kini selalu, ketika aku bangun Ghiffa sudah berada di sampingku. Ia seperti sedang menungguku bangun.
"Pagi cantik." Sapanya. Beberapa hari ini Ghiffa selalu bangun lebih awal dariku.
Atau aku yang selalu bangun kesiangan?
Sepertinya iya, aku yang selalu bangun siang. Biasanya aku sudah terbangun sejak jam 3 pagi. Tapi akhir-akhir ini aku baru bangun sekitar pukul 6 pagi. Bahkan kemarin aku baru bangun tepat saat Ghiffa akan pergi sekolah.
"Pagi Aa ganteng." Aku menyapa balik suamiku. Aku merentangkan tanganku meminta Ghiffa memelukku. Iapun merengkuh tubuhku, dan membawaku pada pangkuannya. "Aa wangi." Aku mengendus leher suamiku yang segar wangi sabun, sampo, bercampur dengan parfum yang selalu digunakannya.
Ghiffa balik mengendusku, "Kalau kamu bau acem."
Sontak aku menjauhkan tubuhku darinya dan mencebikkan mulutku.
"Tapi aku suka." tambahnya seraya menyunggingkan senyum di wajah tampannya.
"Aa aneh masa suka sama bau acem aku. Udah ah aku mau mandi dulu." Segera aku bangkit dari pangkuannya dan berjalan menuju kamar mandi.
Rasanya akhir-akhir ini Ghiffa terlampau lembut padaku. Ia juga terasa lebih dewasa dan tenang. Ghiffa yang aku kenal biasanya selalu tak mau jauh dariku, dan menjadikan tubuhku 'candu' baginya. Tapi beberapa hari terakhir ia tak pernah menyentuhku lagi. Bahkan mencium bibirku saja tidak.
Apa karena kondisiku ya?
Aku merasa sudah jauh lebih baik. Walaupun kadang aku masih merasa sangat sesak jika tiba-tiba sekilas kejadian itu muncul di kepalaku. Tapi semakin hari aku semakin pandai menghalaunya. Saat tiba-tiba akan terlintas kejadian itu, aku segera mengalihkan pikiranku kepada hal lain. Ditambah dukungan dari Ghiffa, Om Lucas, Belva, dan anak-anak Centaur Squad yang selalu bersamaku dan tidak pernah membuat aku sendirian, membuat aku tak pernah punya waktu untuk memikirkan kejadian kelam itu.
Hingga kini rasanya kecemasan yang aku rasakan perlahan membaik. Bersyukur sekali aku dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangiku.
Terutama pada Ghiffa.
Aku sangat bersyukur memilikinya sebagai suamiku. Dia tak pernah berhenti memberikan perhatiannya padaku dalam kondisi terpurukku. Dia selalu ada di sampingku, menjagaku dengan penuh kasih sayang. Aku tidak menyangka Ghiffa yang biasanya memiliki emosi setipis tisu itu, bisa bersikap sangat sabar selama beberapa hari terakhir. Aku sampai bertanya-tanya, benarkah ia orang yang sama dengan tuan mudaku dulu yang selalu temperamental?
Karena Ghiffa begitu berubah menjadi sangat dewasa. Bahkan akhir-akhir ini selalu saja aku yang bermanja-manja padanya, hingga aku lupa kalau Ghiffa berusia lebih muda dariku.
Mungkin itu adalah sisi positif dari kejadian kelam yang menimpaku. Segala sesuatu di dunia ini selalu memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Selalu ada pelangi setelah hujan turun. Selalu ada hikmah di balik hal menyakitkan yang menimpa kita dan aku selalu ingat apa kata ayah dan ibuku, bahwa Tuhan tidak tidur. Tuhan juga tidak akan memberikan kesulitan diluar batas yang bisa dihadapi oleh hambaNya.
Maka dari itu aku harus bangkit kembali, aku tidak ingin Ghiffa terus menerus mengkhawatirkanku. Aku akan kembali jadi Ayana yang ceria seperti sebelumnya.
Saat sudah sarapan bersama Ghiffa, aku menolak obat yang Ghiffa siapkan, "Loh? Kenapa gak mau diminum obatnya? Makan ya, Sayang. Biar kamu cepet sehat."
Aku menggeleng, "Aku udah gak apa-apa, A. Lagian kalau aku makan obat ini, aku bakal ngantuk terus. Aku pengen beraktivitas kayak biasa lagi, A."
Ghiffa masih mencoba membujukku, "Iya boleh kamu beraktivitas kayak biasa lagi, tapi obatnya diminum ya."
Wajah Ghiffa membeku. Selama beberapa hari ini tidak ada orang yang pernah menyinggung tentang kejadian itu di depanku. Sekedar memberikan kata-kata semangat padaku juga tidak. Sepertinya Ghiffa memperingatkan semua orang agar tidak membuatku mengingatnya.
"Aku beneran udah gak apa-apa." Aku mendekat pada Ghiffa meraih tengkuknya dan menatapnya dalam, "Aa gak pernah cium aku lagi sekarang. Kenapa, A?"
"Aku..." Ghiffa kebingungan akan menjawab apa.
Akhirnya aku berinisiatif melakukannya. Aku begitu merindukan bibir Ghiffa. Ku dekatkan bibirku pada Ghiffa dan menciumnya beberapa saat. Saat Aku menutup mata, aku sedikit tersentak kaget karena wajah laki-laki itu tiba-tiba saja menelusup dalam pikiranku. Tapi saat aku membuka mataku, wajah Ghiffalah yang kulihat. Hingga rasa panik itu menguap begitu saja, dan aku terus mencumbunya, semakin lama semakin dalam, dan kami terus menikmatinya.
Namun sontak Ghiffa menjauhkan bibirnya, membuatku sedikit terperangah. Melihatku yang kecewa karena ia tiba-tiba mengakhiri ciuman itu, Ghiffa memberikan kecupan lembutnya sejenak sebagai penutup, "Nanti lagi ya. Aku harus sekolah, Sayang."
Satu lagi, Ghiffa selalu mengatakan itu sekarang. Sayang. Bukan 'yang'. Atau kadang dia memanggilku dengan sebutan cantik atau istriku, bahkan ia sering meniru ayahku, menyebutku dengan sebutan 'neng'. Entah kenapa dia berubah jadi laki-laki selembut itu padaku. Jika dibandingkan dengan Ghiffa yang di awal pertemuan kami, perubahannya dengan Ghiffa yang sekarang benar-benar 180 derajat berbeda.
Beberapa saat kemudian Ghiffa sudah menghilang di ujung jalan dengan mobilnya menuju sekolah. Akupun masuk ke cafe dan mendapati Om Lucas di salah satu meja, menatap layar laptopnya seperti biasa.
"Om." Aku duduk di depannya.
"Kenapa, Ay?" Tanya Om Lucas masih sibuk dengan laptopnya.
"Om besok Aa ulang tahun. Tapi orang tuanya Aa emang gak pernah bikin acara kayak buat Ghaza?"
Sontak Om Lucas melihatku dengan khawatir karena mendengarku menyinggung Ghaza. Ia membeku seperti Ghiffa tadi.
"Aku udah gak apa-apa, Om." ucapku meyakinkan.
"Beneran?" tanya Om Lucas tidak yakin.
"Sembuh sepenuhnya sih belum. Tapi aku udah bisa ngendaliin rasa sedih dan cemas aku sekarang. Makasih ya, Om. Om dan yang lainnya udah support aku terus selama ini." ucapku tulus.
"Syukur deh, Ay." ucap Om Lucas lega sekali sepertinya. "Tapi untuk ke depannya kamu harus bilang kalau ada apa-apa ya, jangan pendem semua sendiri. Jangan nyembunyiin apapun juga dari Ghiffa kayak waktu itu. Kasihan dia."
Aku mengangguk patuh, "Iya, Om. Aku bakal bilang apapun sekarang semua sama Aa. Aku sangat berterima kasih sama Aa. Makanya aku pengen bikin surprise buat Aa besok. Om belum jawab emang kalau Aa ulang tahun gak pernah ada acara ya?"
"Setahu Om gitu. Tahun lalu waktu Ghiffa ulang tahun ke-17, itu pertama kalinya diadain pesta. Itu juga Natasha yang mati-matian usahain supaya ada pesta sebesar itu buat Ghiffa. Alasan ke orang lain sih Ghiffa selalu nolak buat ngadain acara besar gitu, pas dia ulang tahun Ghiffa lebih milih ngadain acara amal. Sedangkan kenapa buat Ghaza selalu ada pesta, alasannya karena pesta ulang tahun itu tujuannya lebih buat bangun relasi bisnis. Gitulah katanya, tapi alasan sebenernya sih ya karena emang Musa itu ngebedain perlakuannya sama Ghaza dan Ghiffa."
"Kalau gitu, Om. besok gimana kalau kita bikin acara ulang tahun buat Aa?" Ucapku bersemangat.
Aku ingin berterimakasih pada Ghiffa. Terimakasih yang sebesar-besarnya pada suamiku itu. Juga ini adalah ulang tahun pertamanya saat kami sudah bersama. Aku ingin membuat sesuatu yang bermakna dan spesial. Juga aku ingin Ghiffa merasa bersyukur pada ulang tahunnya kali ini karena sudah lahir ke dunia.
Om Lucas tersenyum lega lagi. Ia menatapku beberapa saat, "Boleh. Besok kita adain pesta buat suami kamu ya."