
Beberapa saat aku dan Ghiffa sibuk memilih cincin. Ghiffa ingin memberikanku cincin dengan berlian yang besar, tapi aku ingin yang sederhana saja tidak perlu ada berliannya. Kami terus berdebat. Namun akhirnya pilihan kami tertuju pada dua buah cincin dengan desain yang simpel, tapi tetap ada berlian kecil menghiasi salah satu cincin itu.
Ghiffa memakaikannya di jari manisku, "Bagus banget, A." mataku berbinar.
Aku sama sekali tidak mempermasalahkan cincin apapun yang Ghiffa berikan. Mau itu emas putih, atau emas biasa, bahkan tanpa berlianpun, aku akan sangat senang menerimanya.
"Bagus yang tadi, Yang. Udah yang tadi aja." Ghiffa bersih kukuh ingin membelikanku cincin dengan berlian yang besar.
Aku segera menyembunyikan tanganku. "Gak mau. Aku udah suka yang ini."
Ghiifa berdecak jengkel, tapi sepertinya ia sudah menyerah berdebat denganku. "Ya udah kalau gitu pilih kalung juga." Ghiffa memperhatikan satu persatu kalung yang ada di etalase di toko tersebut.
"Buat apa, A?" tanyaku.
"Ya buat kamu." Ghiffa menunjuk pada sebuah kalung, "Mbak saya lihat yang itu."
Kalung yang dipilih Ghiffa adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga sederhana, tapi sangat indah dan elegan.
"Bagus gak?" tanya Ghiffa.
"Bagus sih, A. Tapi ngapain beli kalung juga, A?" Aku memelankan suaraku, "Ini Aa beli cincin aja sampai puluhan juta."
"Ini hadiah karena kamu udah selesai ngerjain ujian kamu." ujar Ghiffa. "Udah yang ini aja, Mbak."
Ghiffa pasti tidak terima karena tadi Ghaza mengirimkan bunga untukku. Makanya sekarang ia ingin memberikanku kalung.
"Aa gak usah ngasih apa-apa lagi ih sama aku."
"Gak apa-apa dong, Yang. Udah kamu terima aja bisa 'kan gak usah debat terus." ujarnya jengkel.
Baiklah, aku menyerah. "Iya, Aa. Makasih ya udah beliin aku."
"Nah gitu dong. Sama-sama, istri keras kepala." ujarnya seraya mengusak puncak rambutku. Aku hanya bisa tersenyum melihat wajah jengkelnya.
Setelah itu kami pulang dan kembali ke rumah kami.
Hari-hari berjalan dengan begitu menyenangkan. Tak ada hari yang aku lewatkan tanpa kebahagiaan bersama suami kecilku ini. Apalagi Ghiffa sudah libur akhir semester. Aku juga sudah tidak terlalu sibuk di kampus. Kami semakin sering menghabiskan waktu bersama.
Namun aku tak bisa berbohong bahwa masih ada yang mengganjal di dalam hatiku.
Entah mengapa walaupun kami selalu berbahagia setiap harinya, tapi tanpa adanya restu dari kedua orang tua Ghiffa, rasanya ada yang kurang dari kebahagiaan kami ini. Beberapa kali aku mengingatkan Ghiffa agar kami mengunjungi mereka. Aku katakan aku sudah siap dan akan menerima semua konsekuensi yang mungkin akan kami terima, tapi Ghiffa selalu memintaku bersabar dan mengatakan bahwa ia sedang mencari waktu yang tepat.
Entah waktu yang tepat seperti apa yang dimaksud dengan Ghiffa.
Sedangkan Nyonya Natasha sendiri selalu menghubungi Ghiffa setiap hari, tapi selalu diabaikan olehnya. Saat pembagian rapot Nyonya Natasha datang ke sekolah, untuk mengambil rapot Ghiffa, tapi Ghiffa menghindarinya. Beliau pernah datang juga ke kafe, tapi saat itu kami memang sedang tidak ada di rumah. Kami sedang ke Lembang untuk menemui keluargaku dan menginap selama satu malam. Berapa kalipun aku menasehati Ghiffa, dia selalu mengatakan akan bertemu dengan Nyonya Natasha 'di saat yang tepat' itu.
Berbeda dengan teman-temanku yang sudah mengetahui mengenai pernikahan kami karena pengumuman dari Belva waktu itu, di sekolah Ghiffa semua orang belum mengetahuinya. Sebenarnya bukan sengaja ditutupi, hanya memang Ghiffa tidak berusaha untuk menyebarkan berita pernikahan kami. Tidak ada yang bertanya juga, kenapa harus diumumkan? Seperti itu kata Ghiffa.
Anggota Centaur Squad sendiri tidak mengetahuinya. Karena Ghiffa tidak pernah benar-benar mengklarifikasi hubungan kami di depan mereka. Jadi yang teman-teman Ghiffa ketahui, kami tinggal bersama di lantai atas markas mereka, tanpa ada hubungan pernikahan. Kadang aku gemas pada Ghiffa, karena orang-orang jadi salah paham tentang kami. Dia sering bergelayut manja padaku di depan teman-teman gengnya itu. Atau sering kali Ghiffa mengusir teman-temannya yang sedang berada di markas, saat tiba-tiba ia ingin bersamaku dan tidak ingin ada gangguan saat kami berada di lantai atas.
Walaupun ia sering menyebutku dengan sebutan 'istri' di depan teman-temannya, tapi teman-temannya tidak pernah langsung percaya, mereka menganggap Ghiffa hanya bercanda. Juga, Ghiffa tidak pernah mencoba meyakinkan mereka bahwa ia tidak bohong. Dia selalu tak berkomentar apapun saat mereka menyangkanya kami hanya berpacaran. Saat aku akan mengklarifikasi hubungan kami, Ghiffa selalu menahanku.
Tunggu saat yang tepat, selalu seperti itu yang ia katakan.
Begitu juga dengan Om Lucas. Dia tidak pernah mengumumkan atau mengatakan apapun mengenai aku dan Ghiffa. Karena Om Lucaspun diam saja, maka teman-teman Ghiffa yang lain juga tidak berani bertanya lebih jauh, termasuk Max dan Theo, teman terdekat Ghiffa.
Suatu hari aku dan Belva sedang berada di kampus. Kami sedang mengisi IRS untuk semester depan. Setelah itu di sore hari seperti biasa aku dan Belva sedang di bangku taman depan fakultas, menunggu Ghiffa menjemputku.
Tiba-tiba Ghiffa meneleponku, "Yang, aku kayaknya telat jemputnya. Ini ban mobil aku bocor, ini lagi dibenerin sih. Aku takut kamu nunggu lama, gimana kalau kamu pakai ojek online aja? Aku pesenin?"
"Ya ampun, Aa dimana itu? Jauh? Aku susulin aja ya ke tempat Aa?"
"Jangan, Yang. Ini aku udah agak deket sih sama kampus kamu."
"Aku minta anter Belva ke tempat Aa aja. Kasian Aanya. Aa share loc ya. Aku kesana sekarang."
"Iya A, share loc sekarang ya. Aku langsung kesana sekarang." Akupun menutup teleponku.
"Bel, mobilnya Aa Ghiffa..."
"Iya gue udah denger. Yuk gue anterin." Belva beranjak dari duduknya.
"Gak apa-apa, Bel?" ucapku sungkan.
"Lo kayak ke siapa sih, Na."
Akupun merangkul lengan sahabatku, "Makasih ya, Belva cantik."
Aku dan Belvapun beranjak dari taman setelah Ghiffa mengirimkanku lokasinya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus, sekitar 500 meter saja.
Saat berjalan menuju mobil Belva, sebuah mobil sport abu membunyikan klaksonnya dan mengambil tempat parkir kosong di sebelah mobil Belva.
"Mobil siapa itu, ya?" Tanya Belva.
Aku sendiri tidak yakin, tapi aku begitu familiar dengan mobil itu. Dan benar saja, Ghaza keluar dari kursi kemudi dan menghampiri kami. Aku dan Belva bersih tatap penuh arti.
Mau apa lagi orang ini?
"Selamat Sore, Ayana." Ujarnya ketika berdiri tepat di hadapanku.
"Sore, Tuan." ujarku tidak tertarik.
"Kamu mau pulang?" tanyanya.
"Iya. Tuan Ghaza ada perlu apa kesini?"
"Saya ingin bertemu dengan kamu makanya saya sampai nyamperin kamu kesini." Ujarnya.
Hah? Dia bilang apa?
"Saya terus mencoba menghubungi kamu, tapi kamu memblokir nomor saya. Bunga yang saya berikan waktu itu juga kamu berikan pada orang lain. Saya ingin tahu apa alasannya." Ujarnya.
"Saya udah bilang pada Tuan untuk tidak mengirimkan sesuatu seperti itu. Saya tidak akan menerima kebaikan Tuan."
"Apa sebenci itu kamu pada saya? Ghiffa mengatakan apa tentang saya?"
"Maksud Tuan apa?"
"Saya kira kamu seperti ini pada saya, karena Ghiffa meminta kamu menjauhi saya. Dia pasti mengatakan sesuatu tentang saya."
"Dengar ya, Tuan. Saya melakukan itu bukan karena A Ghiffa melarang saya. Saya tidak ingin dekat dengan Tuan karena saya memang tidak ingin. Saya berkewajiban untuk menjaga jarak saya dengan laki-laki lagin selain A Ghiffa."
"Ghiffa mengatakan kalau kamu hanya boleh dekat dengan dia? Kamu belum mengenal saya, Ayana. Saya minta kamu berikan saya kesempatan untuk menunjukkan siapa saya, sebelum kamu memutuskan. Apakah kamu akan memilih Ghiffa atau saya."
"Saya tidak perlu memberikan Tuan kesempatan apapun. Saya tidak akan mengubah keputusan saya." tegasku.
"Jadi kamu menolak saya bahkan sebelum mencoba untuk mengenal saya?"
"Iya." ku tatap Ghaza dengan penuh keyakinan, "Saya sudah memilih A Ghiffa."
Ghaza tertawa menyeringai. "Kamu jangan bikin saya tertawa, Ayana."
Aku menunjukkan cincinku pada Ghaza, "Saya tahu Tuan adalah orang yang mengetahui barang-barang seperti ini. Ini adalah cincin yang diberikan oleh A Ghiffa. Saya akan mengatakan sesuatu pada Tuan, saya harap Tuan bisa menjaga jarak dengan saya setelah ini."
Pandangan Ghaza tertuju pada cincin yang aku kenakan, "Cincin dengan berlian kecil? Ada apa memangnya dengan itu?" ucapan Ghaza sangat meremehkan.
Aku menatapnya dengan dingin. "Saya sudah menikah dengan A Ghiffa. Ini adalah cincin pernikahan kami."