The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 21: Perayaan Satu Bulan



[Hyuga] : Maaf banget ya, Yang.


Tanpa sadar aku memajukan sedikit bibirku. Kulempar ponselku begitu saja ke tempat tidur di belakangku. Kemarin di sekolah aku tidak bisa bertemu dengannya. Zayyan mengatakan bahwa sebaiknya di sekolah kami tidak terlalu sering bertemu, ia khawatir akan menimbulkan masalah. Walaupun aku bukan guru, tetap saja jika ketahuan, aku yang seorang karyawan di sekolah itu, menjalin hubungan dengan seorang siswa di sana, kami berdua tetap bisa mendapat masalah.


Akupun memahami keputusan Zayyan itu. Dia harus menjaga sikapnya demi beasiswanya. Jika ia terkena masalah beasiswanya bisa saja dihentikan. Aku tidak mau itu terjadi.


Namun hari ini tanggal 17. Hari Sabtu pula. Kenapa Zayyan masih juga tidak bisa bertemu? Aku sempat bertanya padanya, bagaimana jika bertemu hari minggu. Dia tetap tidak bisa karena ibunya sedang sakit.


Kenapa tanggal 17 pertama dalam hubunganku dengan Zayyan tidak bisa dirayakan dengan sesuatu yang spesial?


Okay, jika tidak bisa kencan, minimal bertemu sebentar saja. Namun Zayyan tetap mengatakan tidak bisa, ia sibuk bekerja dan harus menunggui ibunya yang sakit di rumah. Aku berniat menengok ibu Zayyan awalnya, tapi aku takut Zayyan merasa keberatan, mengingat hubungan kami yang baru berjalan satu bulan.


Ya sudah aku menyerah.


Hari ini aku akan kembali menghibur diriku dengan streaming MV dan juga menonton drama korea secara maraton.


For your information, hari Sabtu aku memang sedikit senggang. Ghiffa memberiku sedikit waktu untuk bisa berlibur dari pekerjaanku. Aku tetap memasak, hanya saja aku tidak perlu bersih-bersih.


Lumayan pengertian juga majikanku yang aneh itu.


Omong-omong dia sudah pergi sejak pagi tadi. Aku senang sekali tidak harus melihat wajah menyebalkannya hari ini. Ditambah ia mengatakan bahwa hari ini ia akan pulang hingga larut malam, mungkin juga tidak akan pulang sampai besok. Katanya ia akan pergi bersama pacarnya. Entahlah apakah lumrah anak yang masih SMA bersama pacar sampai tidak pulang. Tapi aku memilih untuk tidak ikut campur kehidupan pribadi majikanku itu.


Tumben juga dia tidak merengek karena jatah kecupan dariku hari ini belum aku berikan.


Baguslah. Aku akan memanfaatkan waktu istirahatku yang sangat berharga ini dengan sebaik-baiknya.


Menjelang siang, aku berniat pergi ke minimarket di lantai paling bawah dan berbelanja beberapa cemilan untuk menemaniku maraton nonton drama korea.


Baru saja aku keluar unit apartemen Ghiffa, ponselku berdering. Perasaanku tidak enak saat nama majikanku muncul di layar ponselku.


"Kenapa dia nelpon? Bukannya dia lagi ngedate?" tanyaku masih membiarkan telepon itu berdering.


Dering pun berhenti. Namun kembali berdering. Aku segera mengangkatnya. Tidak ada gunanya aku mengabaikannya. Dia akan terus meneleponku jika aku belum mengangkatnya.


"Iya, Tuan." sapaku.


"Lama banget jawabnya. Kebiasaan banget. Kalau gue nelpon tuh angkat cepet!"


Mengomel lagi 'kan?


"Iya, Tuan. Saya minta maaf. Ada apa Tuan menelepon saya?" aku memilih tidak berdebat.


"Gue kirimin share location. Lo sekarang juga datang ke alamat itu."


"Kemana, Tuan? Tuan bukannya lagi ngedate sama pacar Tuan?" tanyaku bingung.


"Bawel banget sih lo? Gak usah banyak tanya. Dateng aja sekarang. Pake kaos yang gue beliin waktu itu."


"Saya beli sendiri kali, Tuan. Kan anda sudah memotong gaji saya." ucapku kesal jika mengingat gajiku dipotong beberapa ratus ribu karena sepotong kaos yang sangat tidak aku butuhkan.


"Terserah. Cepetan dateng. Pake ojol jangan pake motor lo."


Akupun kembali ke apartemen, gagal sudah rencanaku untuk bermalas-malasan seharian. Dalam hati aku terus menyumpahi Tuan Muda anehku itu.


Setelah berganti pakaian aku memesan ojol dan berangkat menuju alamat yang Ghiffa kirimkan.


Setelah kurang lebih satu jam aku sampai di sebuah resort. Aku terus meyakinkan diriku bahwa ini adalah tempat yang tepat atau bukan. Masih bertanya-tanya kenapa aku harus mendatangi Ghiffa disini.


Resort itu bernuansa Bali. Di depannya saja sudah terdapat dekorasi dengan gapura yang dibalut kain kotak-kotak hitam dan putih, khas Bali, juga terlihat sangat mewah dan autentik di waktu yang bersamaan.


Aku menelepon Ghiffa, mengabarkan bahwa aku sudah sampai. Ghiffa langsung memintaku untuk langsung masuk saja. Akupun berjalan menghampiri resepsionis dan segera aku diantar menemui Ghiffa di kamarnya.


Seorang pelayan mengantarku ke sebuah kamar tipe paviliun. Kamar paling mewah yang berbentuk cottage kecil yang terpisah sendiri dari kamar lain. Memiliki kamar berendam sendiri juga kolam renang pribadi yang menghadap ke pemandangan hijaunya pegunungan.


Pelayan yang mengantarku pergi setelah aku sampai di depan cottage itu. Aku menyalakan bel dan tidak lama Ghiffa membukakan pintu.


Aku terkesiap dan sontak menutup wajahku dengan tanganku, saat melihat Ghiffa tidak menggunakan pakaiannya dan hanya menggunakan boxernya. Sepertinya dia baru mandi, atau berenang?


"Masuk." perintahnya.


Aku yang masih terdiam ditarik masuk ke dalam cottage itu. Jantungku berdebar kencang sekali. Aku mencoba mengalihkan pandanganku dari Ghiffa yang terlihat sungguh menawan, memperlihatkan perut rata dengan sedikit roti sobek di bagian perutnya. Walaupun di apartemen ia sering kali berlalu lalang tanpa menggunakan kaos, aku masih belum bisa terbiasa dengan pemandangan indah itu. Jantungku selalu saja berdebar melihatnya.


"Ikut Gue." perintahnya.


Aku pun mengekornya. Sambil berjalan aku melihat ke sekeliling cottage itu. Ada ruang tamu dan 2 kamar disana. Interiornya didesain khas Bali dengan pernak-pernik dan dekorasi kayu jati, sangat berkesan natural.


Kini kami sampai di teras belakang. Ada sebuah kolam renang yang menghadap ke pegunungan. Ghiffa duduk di kursi meja makan yang penuh dengan makanan yang terletak di sisi kolam.


"Duduk." perintahnya lagi.


Aku menurut di kursi seberang Ghiffa. Ia mulai melahap makanan yang tersedia di meja itu.


Ghiffa menatap ke arahku, "Makan." titahnya.


"Tuan, sebenarnya kenapa saya diminta datang kesini?" Aku bingung, kenapa aku malah diminta datang kesini dan menemaninya makan. Aku celingukan, "Pacar Tuan tidak ada?"


"Dia gak dateng." ujarnya singkat.


Ya ampun. Tuanku ini sudah menyiapkan semua ini untuk perayaan satu bulan mereka berpacaran, dan pacarnya tidak datang?


"Padahal Tuan mau merayakan satu bulan Tuan berpacaran ya dengan pacar Tuan? Sabar ya, Tuan." ujarku bernada simpati.


Ghiffa melirik ke arahku ditengah-tengah kesibukannya melahap makanan di depannya, "Lo gak usah ngasihanin gue,"


Menyesal aku sudah bersimpati padanya. Aku menghela nafas, "Zayyan juga gak bisa ketemu. Padahal saya ingin merayakan satu bulan kami." tanpa sadar aku mencurahkan hatiku.


"Makanya gue minta lo dateng kesini. Gue udah terlanjur nyiapin semuanya. Sayang kalau gak kepake."


Aku mengerutkan dahi tak mengerti, "Maksud Tuan?"


"Kita rayain satu bulanannya bareng-bareng."