
Tubuh Ghaza menggigil hebat. Olivia menghampirinya dan menyentuh pipi Ghaza. "Kak Ghaza panas banget."
Segera Olivia membawa semangkuk air hangat dan mengompresnya. Ia juga memberikan Ghaza obat pereda demam. "Nih, Kak minum dulu obatnya."
Ghaza meminumnya dan kembali terbaring.
"Kak, harusnya Kak Ghaza hubungin aku kalau sakit kayak gini. Kenapa sih malah sakit sendirian." ujar Olivia sedih.
Ghaza tidak menjawab. Perlahan obat sudah bekerja hingga iapun merasa mengantuk dan kemudian tertidur.
Dengan sabar dan telaten, Olivia membersamai Ghaza, mengganti kompresnya hingga badan Ghaza sudah tidak sepanas tadi.
Olivia menghela nafas lega kemudian tanpa sadar ia tertidur di samping Ghaza.
Ia terbangun pada pagi harinya dan melihat Ghaza sudah tidak ada di sampingnya. Saat akan memanggil, Olivia melihat Ghaza keluar dari walk in closetnya, sedang memakai dasi.
"Kak Ghaza mau berangkat ke kantor?" tanyanya sambil merapikan rambut coklatnya yang berantakan.
"Iya. Kamu pulang saja. Saya sudah gak apa-apa."
Olivia mendengus, setidaknya Ghaza 'kan bisa mengatakan terima kasih. Dengan kesal, ia beringsut dari kasur dan berjalan menuju pintu. Saat di ruang tengah tak sengaja Olivia kembali menatap foto itu dan seketika ia tersadar, ia tak bisa bermental lembek seperti ini saat Ghaza memperlakukannya dengan dingin.
Ia harus semakin memperkokoh dan menggencarkan lagi usahanya untuk membuat Ghaza berpaling padanya.
Seketika ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke apartemennya dan berbelok ke dapur. Ia memeriksa kulkas dan melihat sisa bubur yang dibuat oleh Ghaza. Ia memanaskannya dan saat meletakkannya dia meja makan Ghaza keluar.
"Kak, sarapan dulu. Aku udah ngangetin bubur yang kakak bikin kemarin."
Ghaza menatap Olivia dengan dinginnya. "Saya akan sarapan di kantor." ujarnya singkat sambil melangkah menuju pintu.
"Tapi..." Sebelum Olivia menyelesaikan ucapannya, Ghaza sudah keluar dari pintu.
Olivia jelas sangat kecewa. Tapi ia tidak akan menyerah.
Hari demi hari Olivia lewati dengan terus mencoba membuat Ghaza berpaling padanya. Setiap pulang dari kampus ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan berbagai hal agar Ghaza meliriknya.
Tapi sepertinya hatinya memang sudah tertaut begitu kuatnya pada Ayana. Tak ada perubahan dari diri Ghaza. Setiap hari Olivia selalu melihat Ghaza menatap foto itu saat ia sedang senggang. Sedangkan Olivia yang jelas-jelas selalu ada di sampingnya tak pernah sekalipun dilirik olehnya.
Bahkan Olivia belajar memasak, berpakaian seperti Ayana yang selalu memakai pakaian sederhana. Ia tanggalkan semua pakaian bermerek dan fashionable yang selalu membalut tubuh tinggi semampai nan sempurnanya dan hanya menggunakan celana denim, kardigan, kaos, dan sepatu kets atau flat shoes, seperti yang selalu dikenakan Ayana.
Tapi Ghaza tak pernah sama sekali tertarik untuk melihatnya.
Hingga setahun pun berlalu.
Ghaza masih bersikap dingin, tapi kali ini ia sudah sedikit bisa menerima kehadiran Olivia. Mereka bahkan selalu makan malam bersama.
"Kak, nonton yuk." Ujar Olivia saat mereka makan malam di apartemen Ghaza seperti biasa.
"Males ah." Ujar Ghaza singkat.
"Ayo dong, Kak. Please! Setahun ini aku udah gak pernah nonton lagi."
"Emang nonton ke bioskop itu harus? Nonton di apartemen kamu aja."
"Mana ada. Filmnya kan baru rilis di bioskop. Terus sensasinya juga beda kalau nonton langsung disana. Yah? Mau ya, Kak?" bujuk Olivia.
Ghaza menggeleng, "Saya sibuk."
"Sibuk apa? Ini 'kan jumat. Kak Ghaza 'kan kosong hari jumat malam."
"Saya sibuk. Mau tidur. Kamu sendiri tahu pekerjaan saya sangat banyak. Setiap hari saya hanya tidur 3-4 jam sehari. Weekend seperti ini akan saya manfaatkan untuk beristirahat dan tidur." Ghaza tetap menolak.
Gagal lagi rencana Olivia mengajak Ghaza untuk kencan. Setelah makan seperti biasa, Ghaza akan membuka kembali laptopnya di sofa ruang tengah yang menghadap ke arah foto itu. Beberapa saat ia akan menatap foto itu sebelum ia mulai sibuk dengan laptopnya. Sehari dua hari, Olivia bisa menerima.
Tapi ini sudah setahun.
Olivia mulai merasa jengah, "Bisa gak sih, Kak Ghaza singkirin foto itu!" teriaknya tanpa sadar.
Seketika Ghaza menoleh tajam pada Olivia. "Kamu bilang apa?"
"Mau sampai kapan Kak Ghaza inget sama perempuan yang udah jadi istri orang lain?!" Olivia bangkit dari duduknya di kursi meja makan dan menghampiri Ghaza. "Sampai kapan Kak Ghaza mau kayak gini? Nyuekin aku kayak gini?!"
Olivia menyambar ponsel Ghaza dan melihat kembali wallpaper ponsel itu, masih foto yang sama sejak setahun yang lalu.
Ghaza mengambil ponselnya yang digenggam oleh Olivia. "Saya gak pernah minta kamu ada disini." Ia menatap Olivia dan berbicara itu tanpa perasaan. "Kamu bisa pergi sekarang juga."
"Kak Ghaza! Ayana dan Ghiffa bahkan kemarin ngadain resepsi pernikahan mereka!" Olivia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Ghiffa dan Ayana menggunakan pakaian pengantin adat sunda.
Ghaza menatap foto itu dan kemudian berpaling dengan sedih.
"Sadar Kak! Semua orang hidup menuju masa depan. Ghiffa dan Ayana hidup menuju masa depan mereka. Karena Ghiffa sekarang sudah lulus, mungkin mereka akan merencanakan punya anak. Aku juga kuliah setiap hari untuk masa depan aku, juga mengejar seseorang yang aku harap bisa ada di masa sekarang dan masa depan aku. Tapi Kak Ghaza? Cuma Kak Ghaza yang hidup terus di masa lalu! Mau sampai kapan, Kak?!" Olivia betul-betul emosi sekarang.
"Aku cape, Kak. Rasanya semua yang aku lakukan selama ini sia-sia. Kayaknya bener kalau udah gak ada lagi tempat untuk aku di hati Kak Ghaza. Ayana, Ayana, dan Ayana yang selalu Kak Ghaza pikirkan setiap hari!"
Ghaza masih bungkam. Sekarang ia malah pura-pura tak mendengar ucapan Olivia.
"Cukup, Kak. Aku bakal pulang ke Indonesia. Buat apa aku ada disini? Aku cinta sama seseorang yang gak pernah cinta sama aku. Hidup aku terlalu berharga buat melakukan semua hal yang sia-sia kayak gini. Cowok bukan cuma Kak Ghaza kok. Aku bisa dapetin cowok lain. Yang sayang sama aku, yang bisa mencintai aku setulus hatinya. Bukan cowok yang gak pernah bisa nerima perasaan aku."
Olivia pergi dari apartemen Ghaza dan tidak lagi menengok ke belakang. Ghaza sendiri hanya terduduk di sofa itu. Ada sedikit rasa tidak rela saat Olivia pergi. Tapi ia mencoba mengabaikannya.
Keesokan harinya Ghaza menjalani harinya seperti biasa. Tapi entah mengapa ada hal yang kurang yang tiba-tiba ia rasakan.
Hatinya terasa hampa.
Lalu ia menyadari, Olivia tidak ada lagi di kesehariannya. Biasanya tiba-tiba gadis itu akan masuk dengan seenaknya ke apartemen miliknya. Mengajaknya mengobrol bahkan tanpa Ghaza memperhatikannya. Atau tiba-tiba ia akan memesan pizza atau sushi dan meminta Ghaza untuk menghabiskan makanan itu bersama-sama dengannya.
Beberapa bulan terakhir mereka juga sering makan di salah satu restoran sushi terkenal di dekat apartemen mereka. Di akhir pekan seperti ini biasanya Olivia akan merecokinya dan memaksanya untuk makan di restoran tersebut.
Tapi kali ini Olivia tidak ada.
Tanpa Ghaza sadari, ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Olivia selama ini. Seketika hatinya tergerak. Iapun menghampiri unit apartemen sebelah dan menekan bel.
Tidak ada sahutan ataupun jawaban.
"Ghaza? Sedang apa? Olivia baru saja pergi, dia membawa kopernya. Ia mengatakan akan ke Indonesia." ucap seorang pria muda dengan rambut pirang yang adalah tetangganya dan Olivia di lantai yang sama.
Olivia benar-benar pulang ke Indonesia? Ia serius dengan ucapannya?
Ghaza tidak mengerti tapi hatinya berkata ia sangat ingin bertemu dengan Olivia. Iapun ke apartemen untuk mengambil kunci mobilnya dan segera menuju ke bandara.
Langsung saja ia datang keberangkatan luar negeri. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh bandara. Tapi ia tidak menemukan Olivia dimanapun. Ia mencoba menghubungi Olivia tapi tidak aktif.
Ghaza panik. Benar-benar panik.
Ia sendiri tak mengerti mengapa ia sepanik ini. Seakan ia tak akan bertemu lagi dengan Olivia.
"Kak Ghaza, ngapain disini?" Sontak Ghaza membalikkan tubuhnya.
Betapa leganya ia melihat Olivia ada disana. Berdiri tidak jauh darinya.
"Oliv..." gumamnya.
Ghaza menghambur ke arah Olivia dan memeluknya erat.
"Kak..." Olivia sendiri masih tak percaya melihat Ghaza ada di bandara, terlebih kini ia sedang dipeluk oleh Ghaza.
Ghaza melepas pelukannya, "Jangan pergi, Oliv. Saya tidak mau kamu pergi."
"Kenapa..."
"Saya membutuhkan kamu di samping saya. Saya baru sadar, saya merasa nyaman dengan adanya kamu di samping saya selama ini." Ghaza kembali memeluk Olivia.
"Lalu, Ayana?" Olivia ingin memastikan itu.
Ghaza melepaskan pelukannya dan menatap Olivia lekat, "Kamu benar. Saya harus hidup menuju masa depan. Tidak mungkin saya hidup di masa lalu terus menerus. Saya akan mencoba untuk melupakan Ayana. Saya akan mencoba menghadirkan kamu di masa depan saya. Saya hanya meminta pada kamu untuk bersabar sebentar lagi saja. Sampai hati saya benar-benar bisa melepaskan Ayana."
Olivia tertegun.
"Saya tidak akan memaksa kamu. Saya tidak akan memberikan harapan pada kamu. Saya tidak ingin membohongi kamu dengan mengatakan bahwa saya sudah melupakan Ayana. Jika kamu bersedia menunggu, saya akan sangat berterimakasih."
Olivia tersenyum, "Setahun aja aku tungguin kok. Kak Ghaza butuh waktu berapa lama lagi? Aku pasti tungguin sampai kak Ghaza bener-bener bisa lupain Ayana. Karena aku udah bertekad, cuma Kak Ghaza yang bakal jadi pacar, tunangan, dan suami aku. Gak akan ada yang lain." ucapnya dengan sangat yakin.
"Tapi kenapa kamu pulang ke Indonesia kalau gitu?" Tanya Ghaza.
"Pulang sebentar aja gak apa-apa 'kan. Nanti balik lagi. Lagipula kuliah aku gimana? Masih lama juga aku lulusnya 'kan."
Ghaza terlihat gelagapan, "Oh... saya kira kamu akan pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali kesini."
Olivia terbahak mendengar penuturan Ghaza. "Jadi kak Ghaza lari-lari ke airport gara-gara takut aku pulang gitu aja?"
"Saya sendiri gak yakin..."
"Kak Ghaza gemesin banget sih." Olivia mencubit pipi Ghaza, kemudian masuk ke dalam pelukan Ghaza, "Makasih ya, Kak. Aku kira selama ini kesabaran aku sia-sia. Ternyata bener kata orang, usaha itu tidak akan mengkhianati hasil."
Olivia menjauh dari rengkuhan Ghaza dan melingkarkan tangannya di leher Ghaza. "Aku yakin, gak akan sampai satu bulan lagi. Hanya akan ada aku di hatinya kak Ghaza. Aku jamin itu."
Olivia mendekatkan bibirnya pada bibir Ghaza, dan seakan itu menjadi awal dari segalanya. Awal bagi Ghaza untuk benar-benar melepaskan rasanya terhadap Ayana. Awal bagi Ghaza untuk bisa menyambut Olivia, perempuan yang selama ini dengan gigih dan sabarnya berada di sampingnya, mengikis kesepian yang selalu ia rasakan sejak ia berada di negeri yang jauh ini.
Semua orang bisa berbuat salah, tapi setiap orang berhak akan kesempatan kedua. Ghaza mungkin saja melakukan banyak hal yang merugikan orang lain di masa lalunya. Tapi selama ia menyadari kesalahannya dan menyesalinya, iapun berhak untuk bahagia.
Mengejar Cinta Ghaza, selesai.