The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 133: Pulih untuk Ghiffa



"Neng..." Aku melihat wajah ayahku begitu aku membuka mataku.


"Bapak..." Lirihku


"Alhamdulillah Neng udah sadar. Bapak teh khawatir sekali, Neng." Ayahku mengusap matanya. Wajahnya terlihat lelah.


"Bapak..." Rasa syukur kembali aku rasakan. Bahkan kini aku begitu bahagia karena melihat ayahku hingga tanpa sadar aku terisak.


Ayahku memelukku erat, "Udah gak apa-apa. Neng udah aman." ditepuk-tepuknya bahuku dengan perlahan.


Pintu ruangan yang sepertinya rumah sakit dengan ruangan seperti hotel itu terdengar diketuk, kemudian sosok pria paruh baya dengan setelan jas yang selalu membalut tubuhnya masuk ke ruangan. "Ayana sudah sadar?"


Ayahku melepas pelukannya, "Sudah, Pak. Terimakasih banyak. Berkat Bapak anak saya bisa selamat." Ucap Ayahku penuh rasa syukur.


"Saya yang harusnya meminta maaf pada anda, Pak Ahmad. Karena anak tertua saya, Ayana menjadi seperti ini." Tuan Musa terlihat begitu menyesal. Aku tak pernah melihatnya seperti itu. Yang aku tahu ia selalu seperti Ghaza, mengangkat dagunya dengan dada membusung dan tak pernah ia biarkan dirinya membungkuk lebih rendah pada orang lain.


Namun kali ini, ia begitu menyesal sampai ia membungkuk sambil menggenggam tangan ayahku dengan kedua tangannya.


"Tidak sama sekali, Pak. Bapak juga pasti merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi." ucap Ayahku simpati.


"Iya. Jujur saya merasa sangat sedih, kedua putra saya berselisih hingga seperti ini. Semua ini karena putri anda yang begitu mempesona. Kedua putra saya sampai jatuh hati." Bisa-bisanya ayah mertuaku itu malah memujiku di saat seperti ini.


Tapi hatiku menghangat mendengarnya. Ayah mertuaku yang begitu menakutkan dan aku kira tak akan bisa menerima orang tuaku sebagai besannya, justru begitu menghargai ayahku. Aku seperti menerima tetesan air hujan setelah kemarau yang begitu panjang dan kering.


Interaksi keduanya membuatku bahagia untuk yang pertama kali setelah beberapa hari yang begitu panjang dan menyiksa bagiku.


Tiba-tiba saja terlintas sosok itu, "Aa... Aa dimana, Pak?"


Ayahku menoleh padaku, "Neng gak usah khawatir. Si Aa teh sekarang udah diketahui dimana."


"Aa dibawa kemana selama ini?" tanyaku lemah.


"Ghiffa ada di Toronto selama 2 minggu ini." Sahut Tuan musa. "Dia akan segera pulang, Natasha sedang menjemputnya. Maka dari itu, kamu harus sehat, Nak. Agar Ghiffa tidak khawatir saat melihat kamu."


"Iya, Neng." Ujar Ayahku, "Neng harus makan ya. Biar nanti si Aa udah disini, Neng teh udah segeran badannya, gak lemes."


Benar. Aku harus terlihat sehat agar Ghiffa tidak khawatir.


Aku mengangguk, "Iya, Pak. Neng mau makan."


Raut lega terlihat dari kedua pria itu.


Ayahku memposisikan meja lipat yang terlipat dibawah brangkar yang aku tiduri sehingga berada di hadapanku. Lalu ia meletakkan sebuah nampan berisi berbagai macam makanan penuh gizi di meja itu.


Seketika air liurku keluar.


Makanan itu begitu menggoda. Setelah berhari-hari aku tidak berselera untuk makan, akhirnya aku merasa lapar yang amat sangat. Dengan telaten Ayahku menyuapiku sedikit demi sedikit bubur yang tersedia di meja itu.


"Habiskan makanan kamu dan cepatlah pulih, Nak. Papa tidak bisa lama-lama. Masih banyak pekerjaan yang harus Papa selesaikan." Ujar ayah mertuaku.


"Makasih banyak, Pah." ucapku lemah.


"Terimakasih atas perhatiannya pada putri saya sekali lagi, Pak." sahut Ayahku.


"Sama-sama. Saya permisi." Ujarnya seraya meninggalkan kamar.


Selang sekitar satu menit pintu kembali terbuka dan aku melihat ibuku memasuki kamar.


"Teteh!" Segera saja ibuku menghambur memelukku dengan terisak. Bahagia lainnya menelusup ke dalam hatiku. "Mama teh gak nyangka teteh harus mengalami hal seperti ini. Diculik dan dikurung..."


"Mah, udah atuh. Jangan diomongin dulu masalah itu. Nanti si Neng teh jadi stress lagi. Si Neng teh baru juga sadar, Mama teh gimana?" tegur ayahku.


"Atuh da mama teh kesel. Mama gak terima! Si Teteh teh kita besarin sampai sebesar ini dengan kasih sayang. Gak pernah sekalipun si Teteh dirawat di rumah sakit seperti ini, tiba-tiba Bapak lihat." Ibuku meraih tanganku yang penuh dengan luka yang sudah hampir sembuh, "Berapa kali coba si Teteh ini ditusukin jarum. Liat badannya yang kemarin-kemarin kita lihat di video call teh udah berisi, sekarang jadi kurus lagi! Mama pokoknya harus ngasih pelajaran sama orang yang namanya Ghaza! Berani-beraninya udah bikin si Teteh jadi begini?! Belum juga si Aa kasep. Sampai dibuang ke luar negeri! Sama kakaknya sendiri itu teh, pak! Manusia apa bukan itu teh?! Sok ya, Bapak emangnya gak kesel anak sama menantu kita dikaya giniin?!"


Rasa tertekan yang aku rasakan benar-benar membuat pikiranku tak bisa berpikir jernih.


"Udah ah, yang penting sekarang si Neng udah selamat. Sekarang si Neng harus makan yang banyak. Biar cepet sehat lagi."


"Ya udah, sini Mama yang nyuapin. Tuh Bapak juga makan dulu. Barusan Mama udah beliin lotek sama nasi di kantin rumah sakit." Ibuku mengambil alih sendok itu dan mulai menyuapiku, sedangkan ayahku menyantap makanan yang dibawakan oleh ibuku.


Aku memakan makananku sampai habis. Energiku rasanya perlahan kembali pulih.


"Sekarang minum vitaminnya ya, biar Teteh cepet pulih." Ibuku menyuapiku sebutir vitamin dan aku memakannya dengan beberapa teguk air putih.


"Mah, Aa kapan nyampenya?" Aku sudah sangat tidak sabar bertemu dengan suamiku lagi.


Aku sangat, sangat merindukannya.


"Kayaknya mah masih lama, Teh. Ya 'kan, Pak?" Tanya Ibuku.


"Iya, Neng Toronto itu jauh sekali, neng sabar dulu aja ya. Sebentar lagi juga Nyonya Natasha ngabarin kita kalau mereka mau pulang kesini." Terang ayahku.


"Sekarang mah mending Teteh istirahat yang banyak, makan yang banyak, biar nanti si Aa udah disini lagi Teteh udah sehat." Ibuku menyelimuti tubuhku hingga ke dadaku.


"Gak bisa video call gitu, Mah? Teteh pengen liat Aa." pintaku.


"Gak bisa katanya, Neng." Ujar Ayahku mendekat. "Tadi kata Pak Musa biar Neng sama Aa sama-sama istirahat aja dulu. Biar nanti pas ketemu sama-sama udah sehat."


"Emang Aa kenapa?!" tanyaku cemas.


"Ya sama kayak Teteh kayak gini. Gak mau makan berhari-hari." sahut ibuku.


Ya ampun, Aa.


Perasaanku begitu sedih dan khawatir, membayangkan Ghiffa ada di kondisi yang sama denganku, benar-benar membuat aku tidak tega bahkan untuk sekedar membayangkannya. Namun di sisi lain aku merasa lega, hari-hari yang buruk itu tidak hanya aku lewati seorang diri. Walaupun berada di belahan dunia yang lain, Ghiffa juga merasakan hal yang sama.


Baiklah, aku harus banyak beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhku. Akupun tertidur setelah itu. Setelah beberapa jam aku terbangun dan menyantap makan siangku. Tepat saat itu Belva meneleponku dan mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Belva memaksaku untuk mengatakan apa yg sedang ingin aku makan. Setelah menolak beberapa kali, aku pun meminta berbagai macam makanan untuk menghibur diriku sendiri pada Belva. Belva dengan senang hati membawakannya untukku.


"Atuh Neng Belva, ini teh meni segala dibawa atuh makanannya. Meni banyak pisan." Ujar Ibuku ketika Belva sampai di kamar inapku.


"Gak apa-apa, Mah. Biar teman aku yang satu itu cepet bohay lagi badannya. Liat dia jadi kayak anak SMP lagi sekarang." Seloroh Belva yang memang sudah akrab juga dengan ibu dan ayahku.


Beberapa hari Belva, Ibu, dan Ayahku selalu menemaniku setiap hari hingga aku tertidur setelah makan malam.


Hingga setelah beberapa hari aku terbangun dengan badan yang jauh lebih bugar. Aku bahkan sudah bisa berjalan ke kamar mandi sendiri tanpa harus dipapah. Aku juga membersihkan tubuhku karena hari ini Ghiffa sudah berada di pesawat. Aku ingin terlihat sehat saat bertemu dengannya nanti.


Dan kabar yang sangat aku tunggu-tunggupun datang. Ghiffa dalam perjalanan menuju rumah sakit. Akupun segera bersiap dengan pakaian terbaikku, aku memakai sedikit make up yang biasa aku kenakan agar pucat yang masih tergambar jelas di wajahku itu tertutupi.


Beberapa saat kemudian pintu kamar inapku terbuka, sebuah brangkar masuk dan aku melihat seseorang terbaring disana.


Seketika aku tercengang menyadari itu adalah Ghiffa. Matanya tertutup, kedua tangannya penuh bekas luka yang sama sepertiku. Tidak, luka-luka di tangan Ghiffa jauh lebih parah, dan wajahnya kurus dan pucat sekali.


Segera saja aku mendekat ke arahnya saat posisi brangkarnya sudah berada di samping brangkarku.


Aku mengusap lembut pipinya, "Aa..." panggilku lembut.


Ghiffa bergeming. Ia terlihat sangat kacau. Wajahnya pucat sekali dan lebih tirus dari sebelumnya.


"Ghiffa belum sadarkan diri sejak saya tiba di Toronto." Sontak aku melihat ke arah ibu mertuaku. Kedua matanya sembab sekali.


"Dari Mama nyampe Toronto?" lirihku, kembali aku menatap Ghiffa dan terpaku tak percaya.


Nyonya Natasha mengangguk sedih, "Ghiffa gak mau bangun, Ayana."