
Setelah Asha puas bermain kami kembali ke rumah. Asha segera membuka satu persatu makanan yang dibelinya bersama Ghiffa di beranda rumah begitu kami sampai.
"Banyak banget ini makanannya?" Aku tercengang, melihat berbagai macam makanan yang sedang di-unboxing oleh Asha kini memenuhi lantai beranda rumah kami.
"A Ghiffa bilang beli semua yang Asha mau. Iya 'kan A?" Ucap Asha seraya mulai melahap corndog yang kejunya sudah tidak meral karena sudah dingin.
"Kamu yang tadi bilang beli apapun yang bikin aku penasaran. Jadi kita beli aja semua." Ujar Ghiffa mulai bergabung dengan kami setelah ia memarkirkan motornya.
"Udah pada pulang?" Ibuku datang dari dalam rumah, "Ya ampun ini banyak banget makanannya?!" Mata ibuku sampai membulat karena kini beranda kami penuh dengan berbagai jajanan yang dibeli Ghiffa dan Asha.
"Ditraktir semua sama A Ghiffa, Mah." ujar Asha masih seraya melahap corndognya.
"Euleuh, Mama mau nyobain atuh ini cimolnya. Gak apa-apa?" ucap ibuku.
"Silahkan, Mah. Semua makanan disini boleh dimakan sama Mama." ucap Ghiffa sumringah.
Seketika aku dan ibuku saling memandang, "Apaan sih kok Tuan bilang 'Mama' ke mama saya?" tanyaku heran.
Ghiffa bersiap menjawab namun tiba-tiba saja terdengar suara derap kaki orang-orang yang datang berbondong-bondong ke rumahku. "Assalamualaikum!" Seru orang-orang itu di depan rumahku.
Aku, Ghiffa, ibuku, dan Asha yang sedang duduk di lantai segera berdiri seraya menjawab salam mereka. Kami begitu bingung dengan kedatangan mereka. Ayahku yang berada di dalam rumahpun keluar.
"Punten, ada apa ini Pak RT, Pak Ustad, Pak Hansip, dan bapak-ibu semua datang ke rumah saya?" tanya Ayahku yang juga tidak kalah bingung.
"Pak Ahmad, gak liat grup RT kita, Pak?" tanya salah satu ibu-ibu dengan hijab yang panjang.
Aku dan Ghiffa saling memandang tidak paham.
"Kebetulan saya lagi gak pegang HP tadi." Ujar Ayahku. "Mah, mana HPnya cepet dibawa!" Perintah Ayahku pada ibuku. Ibuku segera tergopoh ke dalam rumah dan mengambil HP.
Tak lama ibuku datang dengan matanya membulat memandang layar HP, "Ya Allah. Bapak lihat ini." Ayahku melihat ke arah layar HP yang dipegang oleh ibuku. Kemudian mereka melihat ke arahku dan juga Ghiffa.
"Neng..." lirih ayahku, wajahnya syok sekali. Ia memperlihatkan layar HPnya padaku.
"Kenapa Pak?" Tanyaku tak mengerti.
Sontak aku mematung melihat foto itu. Foto itu adalah fotoku dan Ghiffa di lapangan tadi pada saat menunggu Asha bermain. Dalam foto itu kami terlihat sedang berciuman dengan panas!
Siapa yang mengambil foto itu? Terlebih kenapa dalam foto itu kami jadi seperti berciuman dengan intens, padahal Ghiffa hanya mengecup bibirku saja. Parahnya itu tersebar di grup RT!
"Neng ini apa?! Kenapa ada foto seperti ini?" tanya ayahku, kini dengan nada tinggi. "Ghiffa! Ada apa kenapa kalian melakukan ini?"
Ayahku menatap nanar bergantian padaku dan pada Ghiffa.
Mulutku terbuka bersiap memberikan pembelaan namun tak ada kata yang bisa keluar karena aku sendiri terlalu syok melihat ada foto seperti itu. Apalagi dengan wajah kedua orang tuaku. Mereka pasti malu sekali karena aku sudah mencoreng nama baik keluarga kami.
Seorang pria yang adalah ketua RT di kampungku berbicara lebih dulu, "Itu yang ingin kami tanyakan juga, Pak Ahmad. Ini kenapa bisa ada foto seperti ini?!
"Kalau dilihat dari pakaian mereka ini, sepertinya sama dengan pakaian yang ada di foto. Kalian baru saja pulang ya?! Berarti kejadiannya baru terjadi barusan sepertinya?" ujar seorang bapak bertubuh tambun, yang aku tahu dia adalah Pak Yudi, ayah dari Fahri.
Aku cukup terkejut karena Pak Yudi biasanya begitu sopan dan baik pada kami. Namun kali ini ia berdiri di sebelah Pak RT, seakan ia yang paling vokal dalam 'penggerebegan' ini.
"Neng Ayana teh sekolah tinggi sampai jauh ke Jakarta, tapi pulang kesini bukannya membawa perubahan. Tapi malah membawa contoh yang gak bagus! Budaya seperti ini jangan sampai dibawa kesini atuh Neng! Malu-maluin aja sampai melakukan dosa besar!"
Melakukan... Apa mereka sampai berpikir kami melakukan lebih dari berciuman?!
"Melakukan apa maksudnya?!" Teriakku emosi.
"Kami gak melakukan apapun bapak-bapak!" Aku membela diriku. Tak terima bahwa orang-orang sudah berpikir aku dan Ghiffa melakukan yang tidak-tidak.
"Bohong! Terus ini foto apa? Editan?! Kalian ini sudah melanggar norma! Sudah melakukan zina!" Mata Pak Yudi membulat bahkan aku sampai khawatir bola matanya akan keluar.
Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Kenapa ada saja masalah yang datang?
Setahuku Pak Yudi sangat baik dan ramah pada kami. Ia bahkan selalu mengatakan kepada orang tuaku jika aku sudah menyelesaikan kuliahku, Fahri akan datang untuk melamarku. Namun orang tuaku tidak pernah menanggapi, karena aku memang selalu menolaknya. Tapi mengapa kini ia terlihat begitu murka dan kata-katanya penuh dengan nada hasutan.
"Sudah... sudah... Bapak-ibu kita harus mendengarkan dulu penjelasan dari Neng Aya dan Ujang ini. Kita tidak boleh memfitnah sembarangan." Akhirnya ada juga yang bisa bersikap netral, tentu saja itu adalah Pak Ustad. "Neng Aya, betul di foto ini adalah Neng Aya dan juga Ujang..."
"Ghiffa Pak..." ujar Ghiffa tenang. Ia terlihat tidak cemas sama sekali.
"Ujang Ghiffa, baik. Jadi betul ini adalah kalian?" Tanya Pak Ustad.
"Buk.." aku bersiap menyanggah. Namun kalah cepat dengan Ghiffa.
Ia mengatakan, "Iya betul itu saya dan juga Aya."
Sontak semua mata tertuju pada Ghiffa. Aku, kedua orang tuaku, dan semua warga itu tercengang dengan apa yang baru saja Ghiffa katakan. Para warga kampungku semakin gaduh dan semakin menyalahkan kami.
"Tenang bapak-ibu!" Seru Pak Ustad kembali. Seketika semua kembali diam. "Apakah kalian melakukan lebih dari yang di foto itu?" Pak Ustad kembali bertanya pada kami.
"Ti..."
"Saya tadinya mau melakukannya lebih dari itu, Pak." Ghiffa kembali memotong ucapanku. Kata-kata Ghiffa itu membuat warga semakin tak terkendali. Tentu saja, kata-kata Ghiffa terdengar sangat mempr*v*kasi.
"Tapi saya tidak melakukannya. Saya masih tahu mengenai norma." ucapnya menekan kata itu, tatapannya tajam kepada Pak Yudi. "Dan saya yakin pemuda-pemudi disini juga pernah melakukan yang saya lakukan ini. Bapak-ibu punya anak remaja? Silahkan tanyakan pada mereka? Minimal pasti 50% lebih dari mereka pernah berciuman, hanya saja tidak sampai ada orang yang iseng memfoto dan menyebarkannya."
Ucapan Ghiffa membuat para warga saling melirik dan berbisik. Karena yang dikatakan oleh Ghiffa memang ada benarnya. Bahkan waktu aku sekolah dulu sering kali aku mendengar teman-temanku pernah berciuman dengan pacar mereka. Itu sudah menjadi rahasia umum.
"Kamu itu udah salah masih berani berbicara seperti itu ya?! Sangat mengherankan!" ujar Pak Yudi.
"Bapak maunya saya kayak gimana?" Ujar Ghiffa dengan nada menantang. Kemudian Ghiffa menghela nafas menahan emosinya yang aku yakin sudah sangat meledak-ledak. Ghiffa tidak pernah bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini biasanya. Namun kali ini ia memutuskan untuk mengalah pada egonya sendiri. "Baik saya akui kalau saya memang salah. Saya mohon maaf pada semua warga disini. Terutama pada Mama dan juga Bapak. Kehadiran saya sudah membuat gaduh disini." Ghiffa sampai membungkukkan badannya dan menqngkupkan kedua tangannya, juga raut wajahnya terlihat tulus meminta maaf.
Emosi para warga sudah mulai mereda setelah mendengar pemintaan maaf dari Ghiffa.
"Minta maaf? Memang semuanya selesai hanya dengan minta maaf?!" Satu orang yang kelihatannya masih belum puas melabrak kami kembali bersuara dan menaikan kembali tensi semua orang, siapa lagi kalau bukan Pak Yudi.
"Saya harus apa agar bapak memaafkan perbuatan saya dan Aya? Juga tidak membawa masalah ini menjadi semakin besar dan mengusik ketenangan keluarga Pak Ahmad? Apa yang harus saya lakukan?" Ghiffa kembali menantang Pak Yudi.
"Kalau kamu memang sudah tidak bisa menahan hawa n*fsu kamu, seharusnya kamu menikahi Ayana! Perbuatan kamu bisa saja merusak anak orang, tahu tidak?! Atau kamu memang tidak pernah diajari pengetahuan agama oleh kedua orang tua kamu sepertinya?!" ucap Pak Yudi dengan nada menghina. "Bagaimana, saya benar 'kan Pak Ustad?"
"Iya yang dikatakan oleh Pak Yudi memang ada benarnya. Menikah adalah cara terbaik terhindar melakukan dosa yang lebih besar. Tapi harus diperhatikan juga, mereka ini masih sangat muda. Neng Ayana masih kuliah. Ujang Ghiffa juga sepertinya masih kuliah ya?"
"Saya masih sekolah, Pak." ucap Ghiffa masih dengan nada tenang.
"Tuh, apalagi masih sekolah. Sebaiknya kejadian ini dijadikan pelajaran saja bagi semua pihak. Termasuk kepada kita para orang tua yang punya anak remaja. Harus lebih memperhatikan lagi mereka agar selalu bisa menjadi diri dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang." Pak Ustad memberikan wejangannya diikuti dengan anggukan paham dan patuh dari para warga.
"Saya tidak setuju! Justru Pak Ustad, kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak agar tidak terjadi lagi. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka!" Pak Yudi masih saja mengintervensi aku dan Ghiffa.
Maunya Pak Yudi ini apa sih sebenarnya?!
"Bapak mau kami mempertanggungjawabkan perbuatan kami?" Ghiffa menimpali Pak Yudi dengan nada tenang, tak gentar sedikitpun. "Baik kalau begitu, saya akan menikahi Ayana sekarang juga di depan bapak-ibu semua."