
Aku dan Belva tiba di butik itu. Segera saja beberapa orang menyambut kami. Mereka begitu sopan padaku dan terus saja memuji-mujiku karena berhasil mencuri perhatian seorang pengusaha muda berbakat seperti Alghazali Airlangga.
Kemudian aku diperlihatkan beberapa gaun terbaik yang sudah disiapkan oleh mereka, beserta tas, sepatu, make up, dan juga perhiasan. Mereka mengatakan bahwa aku boleh memilih apapun disini. Ghaza juga meminta mereka untuk mendandaniku dengan gaya natural dan soft.
"Kalau saya ingin bergaya dewasa dan glamor, apa cocok dengan saya?" Tanyaku pada fashion stylist butik mewah tersebut.
Dia terlihat agak tercengang. Begitu juga Belva. "Lo yakin, Na?"
Aku mengangguk, "Bakal cocok gak, Bel?" tanyaku agak khawatir. Belva pasti lebih paham tentang hal-hal seperti ini. Tubuhku yang mungil sepertinya tidak akan terlalu cocok dengan gaya dewasa seperti itu. Tapi aku sangat ingin memperlihatkan maksudku melalui penampilanku malam ini.
"Bisa kok. Malah nanti Mbaknya bakal terlihat pangling dan cetar banget. Biasanya Mbak 'kan selalu bergaya dengan nuansa soft dan natural 'kan?" ujar fashion stylist itu menduga-duga.
Aku tersenyum sumringah, "Gimana Bel?" Belva masih menatapku apakah akan cocok atau tidak.
Belva mulai memilihkan gaun yang cocok denganku. Hingga ia menemukan sebuah gaun berwarna hitam berkilauan dengan panjang hingga ke mata kaki dengan model leher halter yang terbuka dikedua bahunya. Terdapat belahan yang lumayan tinggi di bagian bawah.
"Ini ada ukuran kecil gak?" tanya Belva.
"Bel kayaknya itu juga udah kecil deh." ucapku.
"Kecil tapi panjang, Na. Kaki lo 'kan pendek." Aku mendengus, jujur sekali sih Belva ini.
Fashion Stylist itu segera mencari gaun yang sama tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Akhirnya setelah mencarinya ia mendapatkannya. Segera aku mencobanya.
"Gimana Bel? Kayaknya ini terlalu terbuka deh. Terus ketat banget." Aku sedikit tidak nyaman. Belahan gaun itu hingga sedikit ke atas lutut. Juga gaun itu membuat kedua bahuku terekspos. Ukurannya kecil sekali hingga lekuk tubuhku benar-benar terlihat.
"Perfect! Gue gak tahu kalau ternyata dada lo gede juga terus **** lo berisi." pekik Belva frontal membuatku menatapnya galak, "Ini cocok banget sama misi kita malam ini. Udah yang ini aja. Ghaza bakal terhipnotis pokoknya."
Entah mengapa mendengar ucapan sarkas itu dari mulut Belva malah membuatku merasa sebal. "Aku bukan mau bikin Ghaza terhipnotis, Bel!"
"Iya, iya. Lo dandan buat ngejalanin misi." Segera Belva meralat ucapannya melihat aku yang mencebik.
Selanjutnya kami memilih sepatu dan tas juga perhiasan yang akan melengkapi penampilanku. Cukup lama ternyata melakukan semua ini. Untung Belva mengajakku dari siang hari hingga kami punya cukup waktu.
Menjelang malam akhirnya MUA selesai memoles make up ke wajahku. Aku menggunakan eyeliner yang cukup tebal juga lipcream berwarna merah menyala agar terlihat kontras dengan warna gaun yang aku pakai. Rambutku ditata dengan model messy bun party hairstyle. Aku sedikit menata poniku agar kesan dewasanya lebih keluar. Juga model rambut itu membuat leherku terlihat jenjang.
Aku juga menggunakan high heels dengan tinggi sekitar 10 cm agar aku tidak terlihat terlalu mungil. Sebuah clutch berwarna gold dan satu set perhiasan bertahta berlian seperti anting, cincin, dan bracelet melengkapi penampilanku.
Belva terkesiap melihatku. Ia sendiri sudah siap dengan gaun navy bermodel crop top dengan belahan dada yang cukup rendah. Sudah tidak aneh jika melihat Belva terlihat menawan seperti ini. Ia sudah sangat terbiasa dengan berbagai model pakaian. Tapi aku, baru kali ini berdandan seheboh ini.
"Gila, Na. Gue gak nyangka lo bisa secantik, seglamor, dan seseksi ini!" Belva menatapku dari atas ke bawah.
"Gak aneh 'kan?" tanyaku masih sedikit ragu.
"Pede dong, Na! Inget suami lo juga bakal liat lo. Dia juga pasti bakal makin jatuh cinta sama lo."
Seketika aku tersenyum. Benar. Ghiffa akan melihatku juga. Aku harus percaya diri, karena aku juga akan bersanding dengan suamiku nanti di acara itu.
Terakhir, aku memeriksa penampilanku di cermin. Aku menghela nafas panjang. 'Semangat, Ay. Kamu harus bisa bikin Ghaza bayar perbuatannya.'
***
Aku dan Belva berada di sebuah mobil mewah yang menjemput kami di butik. Katanya mereka dikirim oleh Ghaza. Tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam mobil itu saat Belva akan mengambil mobilnya. Bara dan Seno aku
perintahkan untuk tetap mengikuti kami di belakang mobil. Aku juga meminta Krisna membawa mobil Belva dari salon ke Hotel J.
Di perjalanan ponselku bergetar, Ghaza meneleponku.
"Kamu dimana, Ayana?" tanya Ghaza segera.
"Di jalan." ucapku singkat.
"Kamu terlambat. Harusnya kamu tiba disini 5 menit
lalu!" ucapnya kesal.
"Saya tidak suka orang yang terlambat."
"Ya udah, saya akan pulang saja kalau gitu." ucapku tanpa ekspresi.
"Kamu mau buat saya malu?!"
'Aku bakal bikin kamu lebih malu dari ini nanti, Ghaza. Sekarang aja kamu udah semarah ini. Apalagi nanti?' jawabku dalam hati.
Aku segera mematikan teleponku.
"Ghaza?" tanya Belva.
"Iya. Dia marah karena aku harusnya udah sampai 5 menit lalu."
"Jo pernah bilang dia emang gak suka sama orang yang terlambat. Dia disiplin banget kalau masalah waktu." Belva menggelengkan kepalanya.
Aku tersenyum sinis, "Baru gini doang dia udah semarah ini. Btw, Bel, kamu yakin mau nemenin aku? Gak apa-apa ketemu Mas Jo?"
"Ya gak apa-apa dong. Justru aku dandan secetar ini biar dia juga nyesel udah putus sama cewek secantik aku."
"Wah.. Sahabat aku emang keren banget, independent woman." Aku mengacungkan jempolku padanya.
"Iya dong, Na." jawabnya penuh percaya diri. "Eh, gue penasaran. Ntar lo mau ngapain sih, Na?"
"Kamu diem aja dan liat ya, Bel. Pokoknya doain aku semoga rencana aku berjalan lancar."
"Gue ikut deg-degan tahu."
"Kamu aja deg-degan, gimana aku."
Tanganku sudah sedingin es. Aku benar-benar tegang. Ini adalah hal ternekat yang aku lakukan sepanjang hidupku. Aku membuka kembali ponselku dan menelepon suamiku. Semoga mendengar suaranya bisa sedikit meredakan gugupku ini.
"Halo, Yang? Kamu dimana?"
"Aku masih di jalan sama Belva, A."
"Bara sama Seno bilang kamu pakai mobilnya Ghaza? Kamu ngapain sih pakai mobil dia?" Suara Ghiffa meninggi. Ghiffa juga tidak tahu kalau semua biaya gaun dan lain-lain ini bukan dari uang yang ditransfernya. Biarlah dia marah padaku sebentar saja.
"Aa jangan marah dulu ya. Aku punya alasannya."
"Dari kemarin kamu kayak gini. Kasih tahu rencana kamu dong. Aku cemas banget tahu, Yang."
"Maaf ya, A. Aku belum bisa bilang. Aa cukup diem aja. Serahin semuanya sama aku, ya. Aa duduk bareng sama Mama sama Papanya Aa ya. Nanti aku gabung."
Ghiffa terdiam sejenak, "Kamu bercanda."
"Serius, Sayang. Aa ikutin instruksi aku aja ya. Bentar lagi aku nyampe. Sampai ketemu ya, A. Aku sayang Aa."
"Yang..." Aku mematikan sambungan teleponku dengan Ghiffa sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
Kemudian aku mencari kontak Zayyan, "Zay gimana?"
"Udah siap, Ayana. Aku udah lakuin sesuai instruksi kamu."
"Makasih ya, Zayyan." Sambungan teleponku terputus dengan Zayyan.
Beberapa saat kemudian mobil mewah ini menepi. Kami sudah sampai di Hotel J. Aku meremas tangan Belva mencari kekuatan. "Semangat, Na." ucap Belva sama tegangnya denganku. Aku menelan salivaku dan mengangguk.
Pintu mobil terbuka, seseorang petugas berjas mengulurkan tangannya padaku.
Baiklah, ini saatnya.