
"Aa.." Aku sudah berada di tempat tidur, dengan posisi berbaring dan sudah menggunakan selimut.
"Kenapa, Sayang?" Ghiffa baru saja keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil kaos.
"Besok kita langsung ke tempat acara aja?" tanyaku.
Ghiffa mulai bergabung denganku, berbaring di tempat tidur. "Iya. Tadi mama ngabarin katanya kita tinggal dateng dan kamu make-up disana aja, udah disiapin semuanya. Kita dateng dari siang terus nanti udah acara kita juga udah disiapin kamar buat nginep semalem. Besok paginya kita ikut sarapan bareng sama rekan-rekan kerjanya Papa."
"Kenapa gak langsung pulang aja, A?"
Ghiffa menatapku cemas, "Kamu masih takut ketemu sama Ghaza?"
"Sedikit sih. Aku khawatir dan gak nyaman aja. Kalau kita nginep sampai sarapan di pagi harinya, berarti bakal lama kita bareng-bareng dianya."
Ghiffa membelai pipiku, "Kamu jangan takut ya. Aku bakal jagain kamu terus nanti. Aku gak akan lengah kayak waktu itu lagi. Pokoknya nanti kita akan terus bareng-bareng. Kita harus ikutin maunya Papa sampai selesai, kalau kita tiba-tiba pergi gak enak juga sama rekan-rekannya Papa. Gak apa-apa ya?"
Aku mengangguk patuh. Baiklah aku akan mencoba untuk positif thinking. Tidak akan terjadi apapun padaku.
"Juga, Yang. Aku minta maaf ya atas nama Papa." Ghiffa terlihat serius sekali, "Papa sama sekali gak nyinggung tentang Bapak. Harusnya sih kalau dia mau ngenalin kita ke temen-temennya, besannya Papa harusnya diundang juga."
Aku sempat memikirkan itu juga, tapi rasanya akupun tidak ingin membayangkan ayahku berada di acara itu. Suasana akan sangat tidak nyaman, mengingat sikap ayah mertuaku yang begitu arogan. Aku tidak ingin melihat ayahku merasa tidak nyaman seperti yang dialaminya saat bertemu dengan Nyonya Natasha.
"Gak apa-apa, A. Mungkin nanti orang tua aku dan orang tua Aa bisa ketemu tapi mungkin gak di acara besok. Bapak juga gak akan nyaman kalau hadir besok, A. Makasih ya, Aa udah perhatian banget sama Bapak."
"Aku itu lebih ngehormatin bapak, Yang. Daripada Papa. Pokoknya nanti kita bikin resepsi yang meriah setelah aku lulus ya. Kita adain di Lembang."
Aku tertegun, "Aa serius?"
"Iya dong. Kita bakal undang semua tetangga kamu satu gang itu. Juga semua temen-temen kamu disana. Aku bakal nabung dari sekarang buat resepsi kita itu."
Dasar Ghiffa. Selalu saja penuh kejutan. Baiklah aku hanya bisa meng-amin-kan. Semoga apa yang direncanakannya itu bisa terlaksana.
Keesokan harinya, sekitar pukul 2 siang, aku dan Ghiffa sampai di hotel J. Ayah mertuaku sudah menyewa sebuah restoran mewah di lantai paling atas di hotel tersebut. Disanalah acara privat itu akan diadakan. Saat kami datang, ada beberapa wartawan yang sudah menunggu di depan hotel. Mereka mulai mengambil gambar kami.
Bersamaan dengan itu, petugas keamanan yang berjaga di depan hotel tersebut, menghadang para wartawan yang akan mendekat ke mobil kami. Mereka tidak diizinkan masuk dan meliput seperti waktu ulang tahun Ghaza. Karena sekali lagi, acara ini akan diadakan secara privat dan terbatas.
Ghiffa memarkirkan mobil kami di basement kemudian kami segera menuju kamar yang disewa untuk tempatku mengganti pakaian dan bermake-up. Letak kamar itu tidak jauh dari restoran yang disewa oleh Ayah mertuaku. Semua kamar yang disewa merupakan tipe presidential room. Tentu saja, yang akan menginap adalah para presiden direktur perusahaan sekelas PT Melcia Properti, kamar terbaiklah yang akan dipesannya.
Kami tiba di kamar itu. Kamar paling dekat dengan restoran. Saat kami masuk, Nyonya Natasha sudah berada disana. Beliau langsung meminta para MUA mendandaniku. Salah satu dari mereka adalah MUA yang waktu itu mendandaniku saat ulang tahun Ghaza.
"Ya ampun, Mbak. Mbak sekarang jadi lebih berisi ya. Jadi makin cantik loh, Mbak! Bagus banget mbak badannya jadi membentuk dan gak terlalu kurus!" puji MUA itu, rupanya ia juga masih ingat denganku.
"Kamu yang dandanin dia waktu itu?" Tanya Nyonya Natasha dengan galak pada MUA itu. Sepertinya Moodnya sedang jelek sekali.
"Iya, Bu Natasha. Waktu itu Pak Ghaza yang mereservasi untuk Mbak Ayana." terang MUA itu.
Nyonya Natasha menatapku tajam, "Make-up-in dia dengan warna-warna nude. Natural. Jangan kayak waktu itu. Gak cocok." ucapnya dengan nada dingin. Kemudian ia pergi dari kamar ini.
"Padahal Mbak Ayana cocok banget loh pakai dandanan apapun juga." ucap MUA itu.
Aku hanya tersenyum lirih. Akan sangat sulit untukku menaklukan beliau sepertinya.
Beberapa saat kemudian Ghiffa keluar dari salah satu kamar di ruangan presidential itu dengan tuxedo berwarna hitam yang membalut kemeja putihnya. Dasi berbentuk kupu-kupu dengan warna hitam juga terpasang rapi di kerahnya. Rambutnya ditata dengan rapi hingga dahi sempurna Ghiffa yang biasanya tertutup, kembali terpampang sempurna.
"Gimana, Sayang? Kamu suka gak?" Tanya Ghiffa membuyarkan lamunanku.
"Aa ganteng banget!" Ucapku heboh.
Ghiffa tersenyum bangga. "Iya dong. Suaminya siapa?"
"Suami aku." Jawabku dengan suara yang kubuat seimut mungkin.
Tanpa sadar para MUA disana tertawa gemas dan menggoda kami. Akupun segera menguasai diriku. Bisa-bisanya aku berbicara dengan cara seperti itu saat disekeliling kami ada banyak orang seperti ini.
"Gemes banget sih liat Mbak Ayana sama Mas Ghiffa." ucap salah satu MUA.
"Mbak, kirain Mbak ini pacarnya Pak Ghaza. Ternyata istrinya adiknya Pak Ghaza. Saya sempet loh liat foto Mbak di panggung di acaranya Pak Ghaza. Duh, gimana rasanya sih Mbak diapit dua cowok paling most wanted gitu." ujar MUA itu.
Aku hanya menimpalinya seadanya. Tidak tahu saja dia bahwa sifat sang kakak malah sangat bertolak belakang dengan penampilan luarnya.
"Sayang, bentar ya. Papa manggil bentar. Kamu gak apa-apa 'kan ditinggal?" pamit Ghiffa.
Aku seketika panik, "Tapi A..."
"Ya ampun, Mbak kayak mau ditinggal kemana aja." komentar serupa terus bermunculan dari para MUA itu.
Aku tahu mereka pasti memandang berlebihan sekali sikapku ini karena tidak ingin ditinggal Ghiffa barang sebentar saja. Tapi mereka tak tahu yang pernah aku alami karena berpisah dengan Ghiffa padahal waktu itu kami hanya berpisah dalam waktu kurang dari lima menit.
"Mbak, jagain istri saya. Jangan tinggalin dia sendiri sampai saya dateng. Kalau nggak, saya bakal bikin perhitungan sama mbak." ucap Ghiffa dengan serius. Membuat para MUA yang sejak tadi tertawa menggoda kami menjadi diam seribu bahasa.
"I-iya Mas." ucapnya akhirnya setelah Ghiffa mengeluarkan mata elangnya yang tak pernah gagal membuat orang lain merinding.
Suasana menjadi agak serius setelah Ghiffa meninggalkan kamar. Aku juga menjadi was-was karena Ghiffa meninggalkanku. Walaupun aku tidak sendirian tapi tetap saja aku merasa sangat cemas karena pada dasarnya aku tidak mengenal para MUA ini.
Kemudian aku dengan seorang MUA masuk ke kamar untuk mengganti bajuku setelah make up selesai. Mereka sudah menyiapkan baju yang katanya disiapkan oleh ibu mertuaku. Sebuah gaun putih tanpa lengan dengan panjang di bawah lutut. Gaun itu mengembang dari pinggang ke bawah.
Aku merasa penampilanku sangat mewah untuk sebuah acara privat seperti ini. Gaun itu memang sederhana namun sangat indah dan mewah dengan bubuhan manik-manik kecil berkilauan di seluruh permukaan gaun itu. Make upku juga sangat simpel tapi begitu terkesan elegan. Juga rambutku yang hanya diikat setengah dan sisanya ditata dibiarkan tergerai dengan gelombang-gelombang sehingga rambutku terlihat lebih bervolume, membuatku semakin terlihat anggun.
Saat aku melihat wajahku di kaca, kembali aku terkagum-kagum karena aku seperti orang lain saja. Aku benar-benar terkesan dengan kemampuan MUA yang mendandaniku ini.
Kemudian aku keluar dari kamar dan mendapati Ghiffa belum juga kembali. Akupun duduk di sofa sedangkan para MUA itu sedang membereskan alat-alat make up.
Kemudian aku melihat sebuah ponsel tergeletak di atas meja. Ponsel siapa itu? Yang jelas itu bukan milik Ghiffa. Mungkin itu milik salah satu MUA, pikirku.
Akupun mulai sibuk dengan ponselku, mengetik pesan untuk Ghiffa. Aku ingin tahu dimana suamiku sekarang.
Tiba-tiba aku mendengar ponsel itu bergetar. Spontan aku melirik ke arah ponsel yang kini layarnya menyala. Seketika aku melihat sebuah foto. Foto itu adalah sepasang wanita dan pria saling menatap bahagia.
Seketika tubuhku meremang saat menyadari itu adalah aku dan juga Ghaza. Foto itu adalah foto waktu acara ulang tahun Ghaza. Dalam foto itu aku menautkan tanganku di lengan Ghaza dan aku tertawa bahagia menatap ke arahnya. Begitu juga dengan Ghaza menatapku dengan bahagia.
Tiba-tiba seseorang meraih ponsel itu. Sontak aku menoleh ke arah orang yang meraih ponsel dan tubuhku membeku seketika.
'Ghaza...?'