
"Ini konsepnya gimana sih, Tuan?"
Aku benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Ghiffa. Setahuku, merayakan monthisary itu ya harusnya dilakukan bersama pasangan kita, 'kan? Jika disini Ghiffa memintaku untuk merayakan satu bulan hubungan, hubungan siapa yang dimaksud?
Apakah hubungan dia dan pacarnya? Atau aku dengan Zayyan? Tapi ini hanya ada aku dan dia. Konsep merayakan bagi Ghiffa itu bagaimana sih? Aku sama sekali tidak bisa memahaminya.
"Ya anggap aja lo ngerayain bareng cowok lo. Gue bareng cewek gue. Tapi kita bareng-bareng disini." Ghiffa masih melahap makanannya dengan santai, tidak memperdulikan wajahku yang sudah kebingungan dan keningku yang berkerut.
"Tuan, saya gak ngerti maksud Tuan." ujarku jujur.
"Ya udah lo gak usah pikirin. Anggap aja gue traktir lo. Gue udah terlanjur bayar semuanya. Sekarang kita nikmatin aja. Daripada sayang duit gue kebuang sia-sia."
"Tapi Tuan... "
"Bisa gak sih lo gak usah banyak komentar. Lagian mending juga lo disini. Daripada lo di kamar lo nyanyi-nyanyi gak jelas. Atau tiba-tiba ketawa sendiri atau tiba-tiba nangis sendiri. Serem tahu dengernya."
Mulutku menganga dengan lebar. Tidak Menyangka sama sekali Ghiffa mengetahui hal yang sering aku lakukan di kamar sendirian saat aku senggang. Tanpa sadar aku sering melantunkan MV idol favoritku yang sedang aku tonton, atau kadang aku ikut menangis dan tertawa saat menonton drama korea.
"Tuan kok bisa tahu?" cicitku merasa malu sekali.
"Tahulah. Udah sekarang lo makan dulu. Udah gitu kita pergi jalan-jalan."
"Jalan-jalan Tuan?"
Ghiffa mengangguk sambil meneguk segelas air putih dan masuk ke dalam cottage.
Ini kenapa lagi-lagi kami seperti kencan?
Nggak! Aku menggelengkan kepalaku. Ini hanya akan terjadi seperti kami berada di apartemen. Dia pasti ingin aku ada disini agar aku bisa melayaninya. Ghiffa 'kan tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuanku.
Ya sudahlah. Aku yang sudah lapar bahkan sejak sebelum datang kesini begitu tergiur dengan makanan yang tersaji di meja makan ini. Meja ini ditata dengan rapi dihiasi bunga mawar berwarna peach, juga beberapa makanan khas Indonesia yang juga dihias dengan sangat cantik, memanjakan mata dan menggoda lidah.
'Pacar Tuan Ghiffa jahat sekali. Padahal Tuan Ghiffa udah menyiapkan semua ini untuknya. Tapi dia malah gak datang. ' batinku simpati.
Kalau begitu biar aku memakan semuanya agar tidak mubadzir.
Aku mulai menikmati makanan yang ada sambil sesekali aku memandang ke arah pegunungan yang menjadi latar kolam renang. Indah dan menyejukkan mata. Tempat ini benar-benar luar biasa. Jika aku diminta tinggal selama seminggu atau lebih disini, dengan senang hati aku akan menyetujuinya.
"Udah beres belum makannya?" Tiba-tiba saja Ghiffa sudah kembali duduk di seberangku. Saking fokusnya aku menikmati pemandangan, aku sampai tidak menyadari kedatangan Ghiffa.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Mulutku yang dari tadi sibuk menggiling makanan, tiba-tiba berhenti. Tatapanku kini terfokus pada kaos yang Ghiffa kenakan.
"Tuan, kenapa kaosnya bisa samaan sama yang saya pakai? " Aku memerhatikan kaos Ghiffa kemudian kaosku secara bergantian beberapa kali. Menelisik benar sama atau hanya mirip.
"Emang kenapa? Baguslah kita pake kaos samaan. Jadi kalau lo ilang gampang nyarinya."
Memangnya aku anak kecil yang bisa hilang dari pengawasan ibunya karena asyik bermain? Bisa saja dia mencari alasan.
"Tapi kenapa Tuan bisa punya kaos yang sama dengan saya? Tuan membelinya juga di mall waktu itu?"
Kalau benar Ghiffa membeli kaos yang sama, pertanyaannya kenapa? Untuk apa?
Ghiffa menghela nafas. "Udah lo jangan banyak nanya bisa 'kan? Lagian ini cuma kaos. Lo sampe heboh gitu sih?! Udah yuk. Kita jalan-jalan sekitaran sini."
Akupun meneguk segelas air putih dan mengekornya keluar dari cottage itu.
Kini kami berjalan menyusuri jalan setapak di sekitaran resort itu. Jalan setapak itu membelah hutan yang dipenuhi pohon pinus yang tinggi menjulang. Indah sekali. Udara yang sejuk juga membuat pikiran dan tubuhku rileks. Andai saja aku bisa bersama Zayyan kesini, bukan malah dengan tuan muda aneh ini.
Dan aku semakin merasa tidak nyaman dengan kaos yang aku dan Ghiffa gunakan. Orang-orang pasti mengira kami ini pasangan. Sebenarnya cara berpikir Ghiffa itu seperti apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti. Mengapa dia membeli kaos yang sama denganku?
Aku melirik ke arahnya yang berjalan di sebelahku. Seperti biasa dia terlihat sangat tampan. Rambutnya yang hitam legam dengan model rambut two blocks, terlihat tersapu semilir angin. Hidung mancungnya terlihat sempurna dilihat dari samping seperti ini. Matanya yang tajam sedikit menyipit juga menambah kesan manly. Aku benar-benar ART paling beruntung karena setiap hari bisa menikmati pemandangan indah ini.
"Hati-hati ntar lo suka sama gue." Ghiffa menyadari aku sedang memandangnya.
Sontak aku tersadar dan mengalihkan pandanganku. Apa maksud ucapannya itu?
Sontak Ghiffa melihat ke arahku, "Bayi?!"
"Iya, Tuan. Bayi besar. Setiap hari saya mengasuh Tuan. Menyiapkan makanan, menyiapkan baju, bahkan kalau mau tidur harus saya temani." Aku memicingkan mataku padanya, tersenyum tengil.
"Mulut lo makin berani aja." candanya. Entah mengapa dia tidak marah. Padahal aku sudah menyiapkan mental jika ia marah dengan ucapanku barusan.
"Tuan mau saya fotoin gak? Sini Tuan ponselnya." aku menengadahkan satu tanganku padanya.
"Pake Hp lo aja." tolaknya.
"Hp saya kameranya gak terlalu bagus, Tuan. Hp Tuan 'kan iphone terbaru. Kameranya pasti bagus sekali."
Ghiffa merogoh saku celananya dan mengambil Hpnya. Ia membukanya sebentar lalu memberikannya padaku, "Awas jangan buka yang lain-lain. "
"Iya, Tuan. Cuma mau foto aja." ucapku meyakinkan.
Ghiffa memberikan Hpnya padaku. "Ayo Tuan berdiri disana, saya fotoin."
"Awas kalau gak bagus. " Ghiffa memperingatkan.
"Tenang aja, Tuan. Gini-gini saya fotografer handal loh."
Aku mulai mengambil foto Ghiffa dengan berbagai angle. Karena tempat dan Ghiffa yang tampan, juga kamera yang berkualitas tinggi, foto-foto yang aku ambil menjadi sangat bagus. Padahal Ghiffa tidak berpose, dia hanya berdiri dan melihat ke samping kanan dan kiri. Dia juga tidak tersenyum sama sekali. Tapi hasilnya menjadi sangat bagus. Ghiffa memang fotogenik. Jika upload di instagram pasti akan banyak yang like. Aku sampai tidak sadar sudah puluhan foto yang aku ambil.
"Udah ah. " Ghiffa mulai bosan. "Sini gue fotoin lo juga." ia meraih Hpnya yang aku pegang.
"Serius, Tuan? Gak apa-apa?" aku merasa tidak enak karena majikanku bersedia mengambil gambarku.
"Iya, cepetan lo berdiri disana." titahnya.
Akupun berjalan ke antara pepohonan dengan sumringah, kemudian berpose dengan berbagai gaya. Aku tidak peduli jika Ghiffa merasa muak dengan gaya-gayaku. Akanku nikmati perjalanan ini. Anggap saja aku sedang liburan gratis sekarang. Daripada aku terus-terusan memikirkan Zayyan yang tidak bisa merayakan satu bulan kami berpacaran.
Setelah beberapa pose aku menghampiri Ghiffa, "Mana Tuan, saya mau lihat." aku meraih HP Ghiffa begitu saja. Mungkin aku adalah ART paling tidak sopan terhadap majikannya. Tapi biarlah, Ghiffa juga tidak marah.
"Kamera HP tuan memang the best! Foto saya bagus-bagus!" aku puas sekali melihat-lihat hasil jepretan Ghiffa.
"Mana liat? " Ghiffa penasaran.
Ia berdiri di belakangku dan melihat layar Hpnya yang aku pegang. Aku swipe layarnya untuk melihat hasil fotoku dan juga fotonya. Namun tubuh Ghiffa yang terus menempel di punggungku, membuatku jadi tidak fokus.
"Foto-foto gue bagus, soalnya guenya ganteng. " ujarnya penuh percaya diri.
Aku tidak bisa tidak setuju, "Iya. Tuan emang ganteng sih. " gumamku tanpa sadar.
Mulutku ini sial sekali. Bisa-bisanya mengatakan itu dihadapan Ghiffa.
"Foto lo juga bagus karena lonya cantik."
Aku tertegun. Apa baru saja aku mendengar Ghiffa mengatakanku cantik?
Seketika aku menoleh ke arahnya dan ternyata ia sedang menatapku juga.
Beberapa detik tatapan kami bertemu. Ghiffa menatap lekat kedua mataku dan kemudian Ghiffa mendekatkan wajahnya padaku dan mengecup bibirku begitu saja.
Dia mencium bibirku.
Lagi, dan ini sudah yang kedua. Sengatan listrik itu aku rasakan lagi, dan entah mengapa aku membiarkan itu terjadi lagi.
Kemudian Ghiffa menjauhkan bibirnya dari bibirku. "Itu jatah gue hari ini. " ucapnya santai.
Ia meraih Hpnya dan kembali berjalan menyusuri jalan setapak itu. Dia berjalan dengan santainya seakan yang ia lakukan barusan bukanlah apa-apa.
Aku menyentuh bibirku dengan otak yang belum bekerja sepenuhnya, "Dia kenapa nyium aku lagi?" Wajah Zayyan terlintas begitu saja, "Zayyan aja belum pernah cium aku!"