The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 74: Kampung Halaman



Mobil travel yang sedang kutumpangi baru saja memasuki jalan tol. Sejak aku duduk di salah satu kursi di dalam mobil ini ponselku terus menempel di telingaku. Tanganku pegal, terlebih lagi hatiku, mendengar makian dan bentakan dari Nyonya Natasha di sambungan telepon. Pada intinya beliau memintaku untuk datang ke rumahnya, tapi aku mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju Lembang. Kemudian ia mulai memarahiku tentang pertengkaran kedua putranya.


Aku hanya bisa terdiam dan sesekali mengatakan maaf padanya. Dan akhirnya kata-kata itupun terucap dari Nyonya Natasha, "Mulai detik ini kamu saya pecat! Jangan pernah berhubungan lagi dengan anak saya!"


Aku pasrah. Karena memang tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk mempertahankan pekerjaanku itu. Setelah apa yang terjadi justru ajaib jika aku masih diterima bekerja di keluarga Airlangga.


Kemudian Nyonya Natasha pun menutup teleponnya. Ya sudah mau bagaimana lagi. Sekarang aku hanya akan pulang, beristirahat, pergi sejenak dari segala penat yang aku rasakan. Aku sudah menyerahkan surat izin dari dokter selama satu minggu kepada dosen pembimbing akademikku. Maka aku akan kembali ke Jakarta sekitar seminggu lagi, tepat saat minggu tenang sebelum ujian akhir semester dilaksanakan.


Sebenarnya aku pernah dua kali pulang ke kampung halamanku di akhir pekan selama aku bekerja di apartemen Ghiffa. Tapi hanya sebentar karena Ghiffa tidak pernah membiarkanku meninggalkannya terlalu lama. Jadi biasanya aku pergi di hari jumat malam dan sabtu sore aku sudah berada di Jakarta lagi. Untungnya perjalanan Jakarta-Lembang cukup singkat, hanya sekitar 3-4 jam saja.


Juga, sebenarnya aku memiliki misi khusus untuk kepulanganku hari ini. Jika perkiraanku tidak meleset, Ghiffa akan menyusulku ke tempat orang tuaku.


Beberapa saat lalu ponselku terus berdering. Sepertinya Ghiffa sudah mengetahui bahwa aku sudah tidak lagi berada di markas Centaur Squad. Akupun mematikan ponselku. Jika perkiraanku benar, dia akan mencari keberadaanku. Jika ia begitu ingin menemukanku, maka ia akan menyusulku ke tempat orang tuaku.


Itulah tujuanku.


Selama ini Ghiffa hanya melihatku sebagai Ayana yang merupakan asisten rumah tangganya, yang juga seorang mahasiswa. Dia tidak pernah melihat tempat dimana aku berasal, seperti apa rumahku dan seperti apa kehidupan orang tuaku di desa. Aku ingin ia melihatku secara utuh. Aku ingin ia melihat perbedaan yang begitu jomplang antara duniaku dan juga dunianya.


Dan aku berjanji, jika ia masih bisa menerimaku setelah melihat semua yang akan aku perlihatkan padanya, aku tidak akan lari lagi. Aku akan bertahan disisinya, seburuk apapun rintangan yang akan kami hadapi ke depannya.


Setelah sekitar 4 jam akhirnya aku tiba di kota kelahiranku. Setelah menggunakan mobil, aku memesan ojek karena untuk mencapai rumahku yang masuk ke dalam sebuah gang sempit, memang tidak bisa dicapai jika menggunakan mobil. Dari mulut gang jaraknya cukup jauh, juga jalan yang dilalui naik dan turun. Setelah sekitar 10 menit barulah aku tiba di rumah orang tuaku, rumah sederhana di atas bukit yang dikelilingi perkebunan sayur.


Rumah yang kami tinggali adalah warisan dari nenekku dari pihak ayah. Ayahku anak tunggal dan nenek kakekku sudah lama meninggal. Jadi kami berlima tinggal di rumah peninggalan nenek ini. Ayahku yang dulu sempat merantau ke luar kota, kembali kesini dan mulai mengikuti jejak kakek dan nenekku sebagai petani sayuran. Sedangkan ibuku adalah perantau dari kabupaten sebelah yang juga sudah tidak memiliki ibu dan juga ayah.


Sesampainya di rumah, kedua orangku, juga adik bungsuku Asha, menyambutku. Mereka cukup terkejut karena melihatku datang tanpa mengabari terlebih dahulu.


"Anis mana, Mah?" Tanyaku saat aku tidak mendapati keberadaan adik tengahku.


"Dia lagi ada acara persami, jadi nginep sampai Minggu katanya." Ujar ibuku.


Kemudian aku membersihkan diri, lalu makan malam sambil mengobrol dan menonton TV bersama keluargaku. Aku sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Sudah lama aku tidak bercengkrama dan bersenda gurau dengan kedua orang tuaku dan juga adikku. Aku juga sempat video call dengan Anis, dan dia menangis melihatku berada di rumah. Dia begitu merindukanku. Padahal biasanya kami selalu saja bertengkar, tapi jarak membuat kami justru saling merindukan.


Juga kedua orang tuaku, karena aku yang jarang pulang mereka jadi begitu memanjakanku. Apalagi ayahku. Beliau bahkan menggendongku di punggungnya saat aku ingin ke depan rumah ataupun ke kamar, tidak membiarkan aku menggunakan tongkatku.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah subuh, aku ikut serta bersama ayahku ke kebun.


"Udah Pak, Neng pake tongkat aja." tolakku ketika ayahku ingin menggendongku lagi di punggungnya. Ayahku memang memanggilku dengan sebutan 'neng', berbeda dengan ibuku yang memanggilku 'teteh' setelah aku memiliki adik.


Aku pun menurut dan mulai melingkarkan tanganku di leher ayahku, dan naik ke punggungnya. Ayahku memang masih sangat bugar. Orang-orang di desaku memang masih sangat bugar bahkan di usia paruh baya seperti ayahku ini. Bagaimana tidak, setiap hari mengolah tanah, terkena sinar matahari, berkeringat, dan selalu menghirup udara segar.


Asha mengekor kami sambil membawakan cangkul milik ayahku. Tak berapa lama kami sudah berada di 'saung' yang terletak di tengah kebun sayuran. Sebuah tempat dengan atap dan dinding terbuka, biasanya disinilah ayahku akan beristirahat setelah lelah bekerja, kemudian makan bekal yang sudah disiapkan oleh ibuku.


Ayahku mulai melakukan aktivitasnya, sedangkan aku dan Asha duduk di saung sambil memakan surabi yang dibeli Ibuku tadi dari tetangga kami yang memang menjualnya. Suasana yang sudah lama tidak aku rasakan, makan surabi di tengah kebun sayuran, sambil menatap matahari yang malu-malu muncul perlahan dari ufuk timur.


Suasana yang benar-benar membuatku melupakan sejenak tentang sederet masalahku di ibukota.


"Teteh!" Terdengar suara ibuku berteriak memanggilku dari arah rumah kami. "Ini ada temen Teteh!"


Aku menoleh ke arah ibuku dan betapa terkejutnya aku melihat Ghiffa berjalan menuju kesini, di belakang ibuku.


Ghiffa benar-benar menyusulku kesini.


Melihat jaket kulit yang digunakannya, dan juga sarung tangan yang belum dilepaskannya, Ghiffa menggunakan motornya untuk sampai kesini. Sekarang baru sekitar pukul 6 pagi, itu artinya ia pergi kesini pada waktu malam hari.


"Teteh, ini temennya dari Jakarta." Ibuku sudah berada di depanku. Aku masih menatap Ghiffa dengan tatapan tidak percaya. Walaupun aku sudah memperkirakannya tapi aku benar-benar tidak menyangka Ghiffa benar-benar ada disini sekarang, di kampung halamanku.


"Ai Teteh malah ngelamun." tegur Ibuku.


Aku segera tersadar, dengan masih sedikit linglung aku memperkenalkan Ghiffa pada ibuku. "Mah, ini kenalin Tuan Ghiffa. Majikannya Teteh."


Raut wajah Ghiffa berubah jengkel mendengarku memperkenalkannya sebagai majikanku. Lebih baik seperti itu, daripada kedua orang tuaku syok jika aku mengatakan ia adalah pacarku.


Lihat saja penampilannya sekarang yang begitu mencolok. Bahkan di dekat rumahku kini sudah banyak anak-anak kecil yang mengerumuni motor Ghiffa yang terparkir tidak jauh dari rumahku. Aku jamin mereka juga tidak akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya.


"Aduh, ini ada apa atuh majikannya Teteh sampai datang kesini? Kenalin Tuan Ghiffa, saya Ningsih, mamanya Ayana. Punten ya Tuan ini kalau Ayana selama di Jakarta teh suka ngerepotin. Hapunten pisan." ucap ibuku sungkan.


"Gak apa-apa, Tante. Saya cuma... " Ghiffa sedikit kebingungan akan mengatakan apa.


"Tuan Ghiffa kesini ada tugas projek dari sekolahnya, Mah. Katanya tugasnya itu harus mencari pengalaman menjadi petani sayuran selama satu hari. Iya 'kan Tuan?" Aku segera memotong ucapannya.


Ghiffa terbelalak, sepertinya ia begitu terkejut dengan apa yang aku katakan.