The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 100: Tekad Perempuan yang tersakiti



Tubuhku menegang hebat. Kurasakan inti tubuhku berkedut, bersamaan dengan itu Ghiffa yang berada di bawahku mengcengkram pinggangku dengan kedua tangannya. Kepalanya menengadah menikmati sensasi kenikmatan yang telah mencapai puncaknya.


Nafasku masih menderu, tubuhku lemas luar biasa. Kugulingkan tubuhku ke samping dan mencoba bernafas dengan benar. Kemudian kuraih kaos Ghiffa yang tadi kutanggalkan dan memakainya lagi. Aku segera berlari kecil menuju kamar mandi.


Aku memeriksa leherku di cermin wastafel. Berhasil. Aku pun bernafas lega sekali. Jejak merah dari Ghaza kini tertutup dengan jejak Ghiffa.


Aku memeriksa juga wajahku, sembabku sudah hilang. Hanya sedikit lagi tapi tidak terlalu kentara. Sepertinya Ghiffa tidak akan menyadarinya. Syukurlah. Untung Belva segera mengajakku ke salon tadi. Aku melakukan relaksasi hingga ke wajahku. Dan hasilnya kini wajahku terlihat lebih segar.


Setelah bersih-bersih aku kembali ke kamar. Aku melihat Ghiffa sedang mematikan lilin-lilin itu dan lampu sudah kembali menyala. Ia belum memakai kaosnya lagi. Hanya boxer yang menutupi bawah tubuhnya.


"A kenapa dimatiin?" Aku duduk di tepi tempat tidur dan memerhatikan suamiku yang berjongkok di sudut ruangan, meniup lilin terakhir.


"Terus mau dinyalain sampai kapan? Bahaya kalau dibiarin nyala terus dan kita ketiduran, Yang." Ghiffa bangkit dan berjalan ke arahku. Aku melihat lebam di bagian dada bawah Ghiffa masih kentara. Ku ambil salep yang diresepkan oleh Dokter, yang tergeletak di atas nakas tempat tidur.


"Ya udah Aa tidur lagi, hari ini belum dikasih salep lagi 'kan?"


Ghiffa pun patuh. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur kami. "Udah kok tadi siang."


Aku mengeluarkan salep itu dan mengoleskannya ke bagian dada bawah suamiku. "Masih sakit?"


"Dikit. Gak terlalu sih sekarang." Ghiffa seperti menesilik wajahku. Wajahnya seperti kebingungan


"Kenapa A?" Tanyaku penasaran.


"Gak apa-apa." ujarnya cepat segera mengubah ekspresi wajahnya. "Yang, kamu gak apa-apa 'kan?"


Aku mengerutkan dahiku, "Gak apa-apa kok, A. Kenapa emangnya? Kenapa nanyanya gitu?"


"Aku heran aja baru kali ini kamu kayak gini. Sampai nyiapin lilin, terus inisiatif duluan." Ghiffa tersenyum tersipu.


Kuletakkan kembali salep itu di atas nakas dan menatap wajah Ghiffa. Sakit menelusup kembali dan memenuhi hatiku. Walaupun itu bukan keinginanku, tapi tetap saja aku merasa sudah mengkhianatinya. Bagaimanapun aku sudah membiarkan diriku disentuh oleh pria lain.


"Kali-kali nyenengin Aa boleh 'kan? Itu 'kan juga kewajiban aku sebagai seorang istri."


Ghiffa tersenyum hangat dan menarikku untuk berbaring di sampingnya. Akupun menurut. Kurebahkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya. Dalam hati aku terus mengucap 'maafin aku, A,' bahkan sejak kami memulai penyatuan tadi.


Rasa sesak terus memenuhiku saat bibirku tertaut pada bibirnya, kini Ghiffa bukan lagi satu-satunya laki-laki yang pernah menciumku.


Saat Ghiffa menyentuh kedua bukit kembarku, lagi-lagi ingatan itu menamparku lagi. Ghiffa bukan lagi satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuhku.


Tapi aku sedikit merasa bersyukur saat Ghiffa menembusku, karena dia masih menjadi satu-satunya yang melakukan itu.


Itu sedikit melegakan. Hanya sedikit.


"Ya boleh sih, tapi aku kaget aja. Aku aja belum pernah bikin hal-hal romantis kayak gini buat kamu. Aku jadi kesel sendiri. Nanti aku bakal bikin yang lebih romantis pokoknya." Ucapnya tak mau kalah.


Aku hanya terkikik. "Dasar gak mau kalah banget."


"Aku baru sadar, Yang. Kita belum honeymoon. Coba pas awal aku liburan kita pergi ya. Kok aku gak kepikiran."


"Honeymoon? Setiap hari juga aku ngerasanya kayak lagi honeymoon kok sama Aa disini," ujarku.


"Gombal apanya, Aa. Emang bener kok. Terus kemarin sempet nginep di hotel juga jadi berasa kok honeymoonnya..." tanpa sadar aku mengakhiri kalimatnya dengan nada yang menggantung, saat tiba-tiba adegan-adegan yang Ghaza lakukan padaku tiba-tiba saja berputar di kepalaku.


"Iya. Tapi endingnya kamu diculik." ujar Ghiffa dengan nada yang tak kalah sedih.


Aku bangkit dari posisi berbaringku, kemudian menopangkan kedua sikutku dan ku tatap wajah Ghiffa dengan penuh keyakinan, "Aa, please jangan lakuin apa-apa buat balas perbuatan Ghaza, ya. Tolong biarin aku yang balas dia."


"Maksud kamu, Yang?" Ghiffa terlihat terkejut sekali.


"Aku tahu kok dari kemarin Aa udah sering ngelamun dan mikirin kejadian itu. Tapi A, izinin aku buat balas perbuatan dia pakai cara aku. Aku gak mau Aa sampai terluka lagi."


"Gak bisa, Yang! Aku tetep harus bales Ghaza! Dia udah..."


"A..." Segera aku memotong ucapan Ghiffa yang kembali emosi. Aku menatapnya penuh harap. "Gimanapun aku ini korbannya. Aku juga pengen balas dia. Serahin semuanya sama aku."


Ghiffa terlihat berpikir sambil menatapku lekat, "Tapi Ghaza itu berbahaya dan nekat, Yang."


"Aku yakin dia gak akan bisa ngapa-ngapain. Besok, di ulang tahunnya Ghaza, Aa udah punya rencana buat ngabarin ke semua orang tentang pernikahan kita 'kan? Besok biar aku yang lakuin semuanya."


Ghiffa membeku. Dia terlihat syok sekali, "Kamu... Serius?"


Mungkin Ghiffa keheranan sendiri. Aku yang biasanya selalu takut dan khawatir, juga cenderung pasrah pada keadaan. Diam tak bersuara saat Nyonya Natasha membentakku, kini justru menawarkan untuk melakukan sesuatu seekstrim itu. Aku sangat paham bagaimana perasaannya.


Aku mengangguk pasti. Iya, aku tidak akan mundur lagi. Amarahku begitu besar pada Ghaza, sehingga menghancurkan acara ulang tahunnya besok sudah begitu aku tunggu-tunggu.


"Aku pengen liat buku nikah kita, A."


Ghiffa masih terlihat ragu. "Tapi yang..."


"Aa boleh berjaga-jaga nanti pas acara. Aa sendiri bilang sebagian besar anggota Centaur Squad bakal dateng 'kan ke acara ulang tahunnya Ghaza karena orang tua mereka koleganya Papanya Aa dan juga Ghaza?"


Setelah beberapa saat Ghiffa akhirnya setuju, "Di laci sana buku nikahnya."


Aku bangkit dari posisiku dan berjalan menuju laci nakas tempat tidur. Aku menarik tonjolan di laci itu dan melihat dua buah buku nikah dengan warna khasnya, hijau army dan merah marun. Ku buka dan melihat fotoku dan Ghiffa disana. Seketika tekadku semakin membulat untuk membuat Ghaza menyesal.


Keesokan harinya, di siang hari, aku pamit pada Ghiffa untuk pergi bersama Belva ke butik langganannya, butik yang sama dengan yang dipilihkan oleh Ghaza. Aku meminta pada Ghiffa untuk bertemu disana, di acara ulang tahun Ghaza yang akan diadakan di ballroom Hotel J.


Ghiffa menyetujuinya namun aku masih harus mendapatkan pengawalan. Akhirnya kali ini Seno dan juga Bara yang ikut denganku. Mereka mengekor mobil Belva dimana ada aku dan Belva di dalamnya.


"Lo yakin mau nerima tawaran Ghaza buat dandanin lo?" Tanya Belva. Sepertinya ia juga masih syok dengan keputusan nekatku ini.


"Iya, dong. Aku bakal pakai semua yang udah Ghaza siapin buat aku. Aku bakal bikin kakak iparku itu makin terpesona sama aku." ujarku dengan nada sarkas.


"Lo siapa sih? Gue kok tiba-tiba gak kenal sama lo. Lo ketularan si Ghiffa, jadi manusia nekat."


Aku hanya terkekeh. Aku sendiri juga bingung, rasa malu, sakit hati, dan juga amarah yang aku rasakan ini telah sedikit merubah pandanganku. Bagaimana tidak, siapapun perempuan yang menjadi aku, yang harga dirinya telah terluka, yang dilec*hkan tanpa sadar, pasti akan memikirkan hal yang sama. Balas dendam pada sang pelaku.


Aku sendiri tak pernah bermimpi untuk seberani ini berada di garda terdepan saat akan berhadapan dengan keluarga Airlangga, salah satu keluarga terpandang, terkaya, dan terhormat di kota besar ini. Maka dari itu aku harus mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya agar bisa membuat kedua mertua dan kakak iparku terkesan pada menantu mereka ini.