
Rumahku tiba-tiba saja hening. Semua warga sudah meninggalkan rumah dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Aku, Ghiffa, Ibuku, dan juga Ayahku masih berada di ruang tamu. Beberapa saat kami semua terdiam, tak ada yang membuka suara. Keheningan yang canggung begitu terasa.
"Bapak benar-benar gak menyangka, Neng." lirih ayahku. Wajahnya lesu sekali.
"Pak, jangan gitu atuh. Pernikahan itu harusnya membahagiakan. Kita teh harusnya seneng karena sekarang si teteh udah nikah sama Ghiffa. Seorang laki-laki yang baik, bertanggung jawab, dan juga mapan, Pak." Ibuku mencoba menghibur.
"Hush! Mama teh kumaha? Kenapa emangnya kalau Ghiffa ini mapan? Mapan juga dia ini masih sekolah, belum sepenuhnya dewasa. Gimana mau jadi kepala keluarga dan ngebimbing si Neng? Gimana kalau si Neng nanti malah ditelantarkan? Bapak itu udah pengennya Neng nikah pas udah wisuda, udah punya gelar, ada pesta pernikahan, ngundang semua keluarga dan tetangga. Bukan seperti ini atuh, Mah!"
Aku dan Ghiffa hanya bisa terdiam. Memang tidak mudah untuk menerima semua kejadian yang tak terduga ini.
"Tapi setidaknya kita teh jadi tenang kalau si teteh di Jakarta. Ghiffa pasti menjamin semua kebutuhannya Teteh, begitu bukan Jang Ghiffa?" Ucap ibuku.
"Mama sama Bapak gak usah khawatir. Saya pasti jagain Aya dengan baik. Aya gak akan kekurangan sesuatu apapun Mah, Pak. Nanti saat saya sudah lulus, saya akan segera mendaftarkan pernikahan kami ke KUA dan saya pasti akan mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk Aya. " Ghiffapun mencoba meyakinkan.
"Kamu bisa ngomong seperti itu sekarang! Kamu itu masih terlalu muda! Kamu akan tahu nanti bahwa pernikahan ini bukan sesuatu yang mudah untuk dijalankan, Ghiffa! Pokoknya walaupun kalian sudah suami istri, kalian tetap tidak boleh dulu memiliki anak! Kalian jangan pernah melakukan dulu hubungan itu! Mengerti, tidak?! Sekarang sudah malam, kamu bukannya mau pulang 'kan setelah mengantar Aya dan Asha ke pasar tonggeng? Sok atuh sekarang kamu pulang aja. Tapi jangan bawa si Neng. Seperti rencana awal, si Neng akan disini selama seminggu lagi!"
"Tapi Pak, Aya 'kan..." Aku segera mencubit lengan Ghiffa.
"Iya, Pak. Ghiffa mau pulang sekarang." Aku menatap Ghiffa dengan galak dan meminta pengertiannya. Ghiffa sepertinya mengerti karena ia segera membungkam mulutnya.
Kemudian ayahku masuk ke dalam kamar. Sikapnya sedikit berubah, menjadi tidak ramah pada Ghiffa.
"Jang Ghiffa, mohon maklum ya sama sikap Bapak. Bapak masih syok aja karena tiba-tiba anak kesayangannya menikah. Nanti juga baik lagi. Tapi Mama juga setuju, kalau untuk sekarang teteh sama Ujang teh lebih baik sebelum Ghiffa selesai sekolah, jangan dulu punya anak ya. Kalian harus bisa menahan diri kalian dan menjaga perasaan Bapak juga. Tolong ya Ujang Ghiffa bisa memahami si Bapak?" ibuku mencoba memberi pengertian.
Ghiffa terlihat kecewa tapi iapun memahaminya, "Iya Mah, gak apa-apa. Saya ngerti kok gimana perasaan bapak. Saya juga ingin fokus pada sekolah saya dulu. Aya juga fokus pada kuliahnya dulu. Maksud saya menikahi Aya bukan karena ingin melakukan itu kok, tapi karena saya memang cinta pada Aya. Juga kami bisa tinggal bersama di Jakarta tanpa mengkhawatirkan apapun."
"Syukur atuh kalau begitu. Gak salah Mama teh punya menantu yang walaupun masih sangat muda tapi sangat pengertian dan dewasa seperti kamu. Mama titip si teteh ya, Jang. Jaga dia dengan baik dan bahagiakan dia." Ujar ibuku. Beliau terlihat lebih ikhlas menerima pernikahan dadakan yang terkesan konyol ini, dibandingkan ayahku.
"Iya, Mah. Saya pasti jagain Aya dengan baik. Untuk sekarang sesuai dengan keinginan bapak saya akan pulang dulu ke Jakarta, dan saya akan menjemput Aya seminggu lagi ya, Mah. Kalau gitu saya pamit pulang. Motor saya sekarang sudah jadi milik Aya, tapi saya pinjam dulu karena saya tidak ada kendaraan lain untuk pulang."
"Iya mangga, dipakai aja dulu motornya." ucap Ibuku, "Mama mau nemuin Bapak dulu atuh ya. Kamu hati-hati di jalannya."
"Iya, Mah." Ghiffa mencium tangan ibuku dengan hormat sebelum beliau masuk ke kamar.
"Yang, ngobrol bentar yuk di luar." Ujar Ghiffa.
Kami berjalan ke arah tanah lapang depan rumahku yang sudah sepi. Disana ada sebuah bangku yang terbuat dari bambu yang terletak di sisi tanah itu. Aku dan Ghiffa duduk di bangku tersebut, menghadap ke kebun sayur milik ayahku yang sudah gelap.
Suasana begitu syahdu. Langit terlihat bersih tanpa awan sehingga bintang-bintang dan bulan bercahaya dengan indahnya. Suara aliran sungai yang terletak di bawah lereng kebun ayahku juga sayup-sayup terdengar di heningnya malam. Suara binatang-binatang kecil seperti tonggeret juga menemani kami malam ini.
"Yang..." Lirih Ghiffa.
"Kamu kok cantik banget pakai hijab gini?" ujarnya.
Akupun tersipu sembari menyentuh kain putih yang menutup kepalaku, "Masa?" tanyaku.
"Iya. Istriku cantik mau pakai apapun juga."
Istriku? Seketika aku merasa pipiku menghangat, pasti berubah menjadi merah sekarang. "Apaan sih, kamu." ucapku salah tingkah.
"Baru juga gitu udah salting. Gimana kalau kita udah tidur bareng."
"Ih gak boleh! Tadi gak denger Bapak bilang apa? Kita 'kan gak boleh kayak gitu dulu. Gimana kalau nanti aku hamil?" Aku mengingatkan.
"Yang gak boleh itu punya anak, bukan gak boleh ngelakuin hubungannya, Yang. Kita udah halal loh. Mau ngelakuin apapun, boleh sekarang. Banyak cara yang bisa dipakai biar kamu jangan dulu hamil walaupun kita ngelakuin itu."
"Ih kamu ngomongnya!" ucapku galak seraya memukul lengannya. Wajahku semakin semerah tomat tapi Ghiffa hanya tertawa mendengarku.
"Lucu ih kamu, mukanya jadi merah gitu." Ia tertawa tengil.
Aku tidak menanggapinya lagi karena sibuk menetralkan detak jantungku yang menggila. Tiba-tiba Ghiffa meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Aku gak mau pulang, Yang. Baru juga nikah harusnya 'kan malam pertama." Ghiffa semakin berani menggodaku.
"Harus pulang, Ghiffa." ucapku masih dengan nada galak dan berusaha mengabaikan kata-katanya yang menjurus itu. "Kamu harus sekolah. Minggu depan kamu juga udah UAS. Kamu juga harus baikan sama mama kamu. Jangan ngelawan terus. Kasian beliau. Kalau kamu ada yang gak suka, kamu harus bilang baik-baik. Kamu aja bisa sebaik dan sesopan itu sama orang tua aku. Kenapa kamu gak bisa sopan sama Mama kamu sendiri?"
"Susah, Yang. Mama itu suka ngelunjak kalau aku baik sedikit aja. Aku nurut sedikit aja, dia langsung minta yang macem-macem. Apalagi yang terakhir itu, aku bener-bener gak terima mama bawa kamu pulang ke rumah. Ghaza sampai mau nerima aku buat tinggal di rumah lagi, demi bisa bikin kamu tinggal disana. Sekarang kamu tahu 'kan kalau kekhawatiran aku bukannya gak beralasan. Ghaza itu emang suka sama kamu. Dia pengen rebut kamu dari aku." Tatapan bengis itu muncul kembali tatkala ia mengucapkan nama sang kakak.
Ghiffa sudah semarah ini hanya karena dia menyinggung tentang Ghaza. Bagaimana jika aku mengatakan hal yang Ghaza katakan waktu aku menemaninya makan siang waktu itu? Dijamin Ghiffa akan lebih murka dari ini.
"Seandainya waktu itu kamu gak bawa aku pergi dari rumah kamu dan tetep tinggal disana, terserah kamu mau percaya atau nggak, tapi apapun yang Ghaza lakuin ke aku gak akan ada pengaruhnya sama aku, Ghiffa." Aku berusaha meyakinkan, "Apalagi sekarang kita udah nikah. Kita sampai melalui hal menegangkan kayak tadi, disidang sama warga, dan tiba-tiba jadi suami istri. Aku itu gak main-main loh pas bilang mau nikah sama kamu. Jadi aku mohon, kamu harus lebih percaya sama aku."
Ghiffa menghela nafas kasar, "Kamu gak tahu Ghaza itu ambisius. Kalau dia udah pengen sesuatu, maka dia harus dapetin itu."
"Mirip dong sama kamu?" Setahuku Ghiffa juga seperti itu.
"Iya. Aku sama dia emang banyak kesamaannya, aku pernah bilang 'kan. Makanya hal yang aku sukain selalu aja dia ambil."
"Termasuk Olivia?"
Sontak Ghiffa menatap ke arahku seakan ia tertangkap basah, "Kok jadi Olivia? Ini lagi ngomongin tentang kamu loh."
"Gak apa-apa, Ghiffa. Kamu bisa jujur kok sama aku. Dulu kamu beneran ada rasa 'kan sebenernya sama Olivia?"