The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 142: Papa dan Mama



"PAK!!" Ibu mertuaku segera saja mengambil alih tubuh ayah mertuaku yang ditopang oleh Pak Reno. Beliau terlihat panik sekali. "Siapkan ambulans!"


"Baik, Bu." Reno segera menghubungi seseorang melalui earpiece yang dipakainya.


"Mah, Papa kenapa?" Tanya Ghiffa khawatir.


"Jantung Papa kamu kayaknya kambuh." Ibu mertuaku mulai terisak, Ia menatap wajah suaminya. "Pak, bangun Pak!"


Tak lama sebuah mobil ambulans khusus yang memang dimiliki oleh ayah mertuaku tiba di halaman belakang. Petugas kesehatan segera membawa tandu dan membawa ayah mertuaku ke dalam ambulans.


Beberapa saat kemudian kami sudah berada di rumah sakit. Ayah mertuaku sedang diperiksa oleh dokter. Aku, Ghiffa, ibu mertuaku, dan Pak Reno menunggu di luar ruangan dengan cemas.


Ibu mertuaku tak berhenti menangis, hingga Ghiffa terus merangkulnya. "Udah dong, Mah. Papa gak akan kenapa-kenapa. Mama tenang aja." Ghiffa mencoba menenangkan.


"Terakhir Papa kamu udah gak pernah kambuh lagi. Selama ini Papa kamu minum obatnya gak sih?!" Tanya Ibu mertuaku sedikit meninggikan nada bicaranya dan terus terisak.


"Suka kok, Mah. Waktu Mama berpesan sama aku dan Aa buat ngingetin Papa minum obat, aku selalu ngingetin Papa buat minum obatnya. Aku juga selalu ngecek ke Bi Susi, Mah." terangku merasa bersalah.


Aku dan juga Ghiffa memang diamanahkan oleh ibu mertuaku untuk mengingatkan beliau selalu mengkonsumsi obatnya setiap kali beliau selesai makan. Namun tentu saat aku tidak bersamanya aku hanya bisa memantaunya melalui Bi Susi, apa ayah mertuaku itu sudah minum obat atau belum. Bi Susi selalu mengatakan ayah mertuaku selalu minum obatnya secara rutin.


"Terus kenapa Bapak kambuh lagi?!" Tanyanya panik, kedua maniknya menatapku tajam.


Jujur aku jadi merasa bersalah juga. Seharusnya aku memastikan langsung. Aku sempat khawatir juga jika beliau mengatakan akan meminum obatnya tapi ternyata tidak.


"Maafin aku, Mah." lirihku.


Ghiffa memegang tanganku dengan sebelah tangannya, "Sayang, ini bukan salah kamu. Kita udah selalu ngingetin Papa, tapi gak tahu Papa beneran minum obatnya atau nggak. Dulu Papa kebiasaan ada Mama. Sekarang Mama gak ada Papa mungkin jadi gak terlalu teratur minum obatnya. Papa 'kan kalau sibuk udah bakal lupa sama segalanya."


"Ini salah Mama." Ibu mertuaku menyapukan rambut hitam panjangnya dengan kedua tangannya dan duduk tertunduk.


"Ini bukan salah Mama juga." Ghiffa menenangkan, terlihat Ghiffa juga begitu khawatir pada sang ibu.


Dokter keluar dari ruangan dan segera kami menghampirinya. "Gimana keadaan suami saya, Dok?" tanya ibu mertuaku segera.


"Pak Musa Baik-baik saja. Keadaannya tidak fatal, untung saja beliau segera dibawa kesini. Beliau juga sudah siuman dan mengatakan ia memang sering kali lupa tidak mengkonsumsi obatnya karena terlalu sibuk bekerja. Juga akhir-akhir ini beliau sering stress. Stress itu harus dihindari bagi seorang yang memiliki penyakit seperti Pak Musa, Bu. Saya sudah pernah mengatakannya bukan?" Jelas Dokter itu.


"Boleh kita masuk, Dok?" tanya Ghiffa.


"Tentu boleh. Kehadiran keluarganya pasti akan sangat membantu kondisinya menjadi lebih baik." ujar Dokter yang terlihat sudah senior itu.


Aku menahan tangan Ghiffa yang akan melangkah masuk, "Mah, aku sama Aa tunggu disini dulu ya. Mama masuk dulu aja ke dalem."


Ibu mertuaku mengangguk cepat dan kemudian masuk ke dalam ruangan.


"Yang, kenapa kita gak masuk juga?" Tanya Ghiffa.


"Aa mah gak peka. Gak lihat Mama dari tadi nangis terus? Papa juga pasti pengennya ketemu dulu sama Mama. Biar mereka ngobrol dulu aja, A. Semoga karena kejadian ini Mama beneran bisa balik lagi sama Papa." terangku.


"Oh, iya bener. Kamu pinter." Ghiffa mencubit hidungku.


Beberapa saat kami menunggu di depan ruangan, membiarkan ayah dan ibu mertuaku sama-sama mengutarakan perasaan mereka yang sesungguhnya. Semoga saja mereka bisa berdamai dengan masa lalu dan kembali bersama dan memulai semuanya dari awal.


"Silahkan Mas Ghiffa, Mbak Ayana, anda berdua ditunggu Bapak di dalam," Ujar Pak Reno yang baru saja keluar dari ruangan.


Aku dan Ghiffa segera bangkit dan masuk ke ruangan. Aku melihat ayah mertuaku terbaring di brangkar dan tangannya menggenggam tangan ibu mertuaku yang duduk di sampingnya.


Lega dan bahagia rasanya melihat pemandangan itu.


"Jadi Mama udah baikan sama Papa sekarang?" goda Ghiffa pada kedua orang tuanya.


"Yah, sepertinya Papa memang harus hampir kehilangan nyawa dulu baru Mama kamu mau memaafkan Papa." canda ayah mertuaku dengan wajah yang masih pucat.


"Bapak jangan berbicara seperti itu." tegur ibu mertuaku galak.


"Dih, ngomongnya masih 'Bapak'. Yang lain dong panggil Papanya, Mah." protes Ghiffa.


Ibu mertuaku terlihat salah tingkah, "Udah kebiasaan, Nak. Aneh rasanya kalau manggil yang lain."


"Kamu harus membiasakan diri, Natasha. Kamu sendiri sudah mengatakannya barusan, kita akan memulai semuanya dari awal." ucap ayah mertuaku dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Ya udah, selama ini kita hanya terlihat akrab di depan umum aja. Saya panggil Papa aja ya?" ucap ibu mertuaku, kentara sekali beliau sedikit tersipu.


Ayah mertuaku mengangguk, "Saya akan panggil kamu, Mama."


"Ya udah. Kayak gitu lebih enak... Pah." ucap Ibu mertuaku mencoba untuk membiasakan diri.


"Papa setuju... Mah." ditimpali oleh ayah mertuaku.


"Aduh, jadi pengen pelukan, Yang." Ghiffa merangkulku dan memelukku gemas, "Mimpi apa aku semalem akhirnya punya orang tua yang normal."


Kami hanya bisa tertawa mendengar ucapan Ghiffa.


"Maafin Papa, Nak. Setelah kamu sudah sebesar ini, Papa dan Mama baru bisa memberikan kamu keluarga yang normal." ucap Ayah mertuaku dengan sedih.


"Lebih baik terlambat, Pah. Daripada nggak sama sekali." ucapku, "Selamat ya Mama dan Papa. Mulai sekarang harus bisa bahagia dan lebih jujur sama perasaan masing-masing."


"Iya, Papa dan Mama pasti akan bahagia mulai sekarang." ucap Ayah mertuaku seraya mengecup tangan ibu mertuaku.


"Udah, gak usah pamer." Ujar Ghiffa, "Aku masih aneh ngelihat Mama sama Papa kayak gini."


"Kamu ini serba salah sekali. Bukannya gembira melihat Papa dan Mama seperti ini. Oh iya, Papa peringatkan kamu jangan meminta Mama untuk mencari pria lain lagi ya. Tidak ada pria lain sehebat Papa yang pantas untuk mendampingi Mama kamu." Ujarnya dengan serius.


Ghiffa terbahak, "Jadi Papa denger omongan aku waktu itu? Maaf Tuan Musa yang terhormat. Janji sekarang gak akan ngomong gitu lagi." ujar Ghiffa sambil membungkuk dalam, berpura-pura benar-benar menyesali apa yang sudah pernah dikatakannya. "Makanya jagain mama dengan baik. Jangan disakitin lagi, jangan dimarah-marahin lagi. Mama aku ini masih cantik banget loh, Pah. Sama Aya aja masih cocok kalau dipanggil kakak adik. Papa harus hati-hati di luar sana banyak yang rela ngantri buat dapetin Mama."


"Yang ngantri buat dapetin Mama kamu memang banyak, tapi gak akan ada yang sehebat dan setampan Papa." ujarnya tak mau kalah.


"Papa bentar juga jadi kakek-kakek, Pah! Inget umur! Udah hampir kepala enam juga." dengus Ghiffa.


Perdebatan itu terus berlanjut, aku dan ibu mertuaku hanya menimpali sesekali perdebatan menggemaskan itu. Bahagia sekali rasanya akhirnya semua bisa berjalan seperti yang kami harapkan.


Rasanya semua begitu lengkap. Aku dan Ghiffa sudah pulih sepenuhnya, kedua mertuaku juga sudah kembali bersama.


Hingga hari-hari setelah itu selalu berjalan dengan baik. Tak ada lagi badai besar yang menghampiri kami.


Namun terkadang aku masih sedikit sulit membayangkan jika suatu hari bertemu lagi dengan Ghaza. Dalam lima tahun Ghaza akan kembali lagi ke Indonesia. Aku berharap sekali bisa bersikap layaknya keluarga padanya seperti pada ayah dan ibu mertuaku sekarang.


Semoga kepergian Olivia ke Amerika bisa menyentuh hati Ghaza. Semoga ia bisa membalas perasaan Olivia yang begitu besar terhadapnya. Juga berpisahnya ia dengan keluarganya juga bisa membuat ia merenungkan semuanya dan berubah jadi lebih baik. Semoga suatu hari Ghaza akan benar-benar menyayangiku dan Ghiffa seperti seorang Ghaza yang aku ceritakan di hari ulang tahunnya tempo hari.


Semoga saja.