
*Moh*****on** **kebijakannya dalam membaca bab ini
Aku menatapnya jengkel dan memutuskan untuk membiarkannya saja. Aku kembali membaringkan tubuhku di salah satu sisi tempat tidur, membelakangi Ghiffa.
"Yang..."
Aku tidak menyahut.
"Yang..." ujar Ghiffa sekali lagi.
"Apa sih, Aa?! Kalau mau tidur disini tidur aja jangan berisik! Aku ngantuk!" bentakku.
"Sini dong ngehadepnya. Biasanya juga selalu harus dipeluk kalau mau tidur." bujuk Ghiffa.
Aku kembali terdiam, memejamkan mataku, dan tidak menyahutinya.
Aku merasakan tubuh Ghiffa menempel di punggungku, dan tangannya melingkar di pinggangku.
"Aa, aku mau tidur. Jauh-jauh sana!" Aku menghindarkan tangan Ghiffa yang melingkar di tubuhku.
Ghiffa malah meraih rambutku dan menyingkapnya ke belakang. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang lembut dan basah di daun telingaku. Hembusan nafas Ghiffa terasa di telingaku.
Ghiffa benar-benar curang. Dia menyentuh area paling sensitifku, di saat seperti ini. Tentu saja aku sulit menolaknya.
Rasa jengkel yang aku rasakan sebelumnya kini menguap entah kemana seiring dengan sensasi nikmat yang mulai tak bisa aku cegah.
Kemudian bibirnya mulai menjelajahi leherku, membuat aku kembali tak berkutik. Sebelah tangannya menelusup ke bawah piyama yang aku kenakan dan mulai meremas bukit kembarku yang tak terhalang apapun.
Saat tidur aku memang tak pernah menggunakan pakaian dalam, tidak nyaman saja rasanya dan aku dengar itu juga tidak sehat.
Aku terus menikmatinya dalam diam, bahkan saking gengsinya aku tidak mau berbalik menghadapnya dan masih memposisikan diriku membelakangi Ghiffa, sedangkan tangan dan bibir suamiku itu terus memberikan sentuhan-sentuhan penimbul kenikmatan itu.
"Yang, keluarin des*hannya. Aku tahu kamu udah on." lirih Ghiffa dengan kata-kata s*nsu*l yang semakin membuatku kehilangan kendali.
Sejujurnya, bagian bawah tubuhku sudah ingin disentuhnya. Tapi sepertinya Ghiffa sengaja hanya bermain-main di bagian atas dan aku masih enggan untuk membalikkan tubuhku.
Ia mulai membuka satu persatu kancing piyama yang aku kenakan. Ia menyingkapkan piyamaku dan mulai mencumbui bahuku yang mulai terekspos, kemudian jarinya memilin dan mencubit pelan puncak bukit kembarku.
Aku semakin tak tahan.
Rasanya ingin sekali Ghiffa berlanjut ke tahap berikutnya. Hingga akhirnya aku membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.
Mata kami bertemu, "Udah gak kuat ya?" goda Ghiffa.
Tengil sekali suamiku ini.
Terserahlah!
Tanpa memikirkan gengsiku lagi, akupun mulai menarik tengkuk Ghiffa untuk meraih bibirnya. Aku mulai melahapnya dan mempertemukan lidah kami.
Lagi-lagi, Ghiffa defensif. Ia tidak melakukan apapun saat kami berciuman itu. Tangannya terdiam, memegang bahuku.
"Kenapa tangannya diem?" tanyaku kesal.
Ia malah kembali tersenyum tengil, "Pengen aja diem." ucapnya tanpa merasa berdosa menggodaku yang masih jengkel terhadapnya.
Bagus sekali. Dia membangunkanku, dan dengan tidak bertanggungjawabnya menghentikan pergerakannya di saat aku sudah benar-benar bangun seperti ini.
Akhirnya aku mulai bangkit dari posisi berbaringku, beringsut agak ke atas dan memposisikan wajah Ghiffa pada bukit kembarku.
Aku ingin bibir hangat suamiku itu berada di puncakku.
"Please..." pintaku pada Ghiffa.
Bibir Ghiffa berada sekitar 10 sentimeter saja dari puncakku, namun Ghiffa masih menahannya. "Maafin dulu baru aku sentuh kamu lagi."
Benar 'kan? Curang sekali dia!
"Aa ngeselin..." Rajukku.
"Ya udah kalau gak mau." Ghiffa beranjak menjauh namun segera aku menahan tengkuknya.
"Iya aku maafin. Tapi jangan lupa lagi." Rajukku.
Ghiffa tersenyum menatapku, "Iya, Sayang. Maafin aku. Aku gak akan pernah lupa lagi sama ulang tahun kamu."
"Janji, Yang." ucapnya dengan serius.
Sudahlah, aku juga sebetulnya tidak ingin terlalu memikirkannya. Memang sedih hari penting itu justru dilupakan oleh orang yang sangat kita harapkan menjadi orang yang paling mengingatnya. Tapi ini bukanlah masalah yang besar yang harus dipermasalahkan lebih besar lagi.
"Jadi jangan aku n*nennya?" Wajahnya kembali tengil.
Aku mengangguk, "Iya, A. Aku pengen..."
Kini setelah maafku dikantonginya Ghiffa mulai melahap puncak bukit kembarnya satu persatu dengan rakus. Hisapan-hisapan dan gigitan-gigitan kecil ia berikan tak hanya di puncaknya tapi di sekujur kedua bukit itu.
"Yang, sakit? Kamu kayak meringis gitu?" tanyanya di tengah-tengah perlakuannya.
"Nggak, A... Enak, aku suka..." racauku.
"Kalau aku terlalu kasar, bilang ya." ucap Ghiffa.
Setelah puas menjelajahi bagian atas tubuhku, ia mulai menurunkan celana piyamaku. Bibirnya mulai turun ke arah inti tubuhku dan kembali memberikanku kenikmatan itu.
Tak lama tubuhku menegang hebat, tanpa sadar tanganku menjambak rambut hitam suamiku yang bibirnya tengah asyik mengeksplor bagian bawah sana yang sudah membanjir.
"Udah keluar?" tanya Ghiffa sambil menyeka bibirnya.
Aku mengangguk lemah karena pelepasan pertama sudah ku dapatkan.
Ia tersenyum puas dan kemudian melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya, menampilkan benda berwarna merah kecoklatan yang menegang gagah. Segera saja Ghiffa memposisikan bendanya itu di inti tubuhku, dan seketika ia sudah menembusku.
Ghiffa mulai memajumundurkan pinggulnya membuatku kembali seakan berada di atas awan.
Ghiffa membimbingku untuk berada di beberapa posisi yang berbeda sebelum akhirnya kami mencapai puncak itu bersama-sama.
Selalu aku berakhir dengan kondisi tubuh yang kepayahan. Masih belum mampu aku mengimbangi stamina Ghiffa yang gila itu.
Hingga aku tertidur begitu saja.
Aku terbangun di pagi hari di dalam pelukan tubuh polos Ghiffa. Segera kubangunkan suamiku untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajiban.
Setelah itu kami turun ke meja makan dan ayah mertuaku sudah berada disana.
"Sudah berbaikan kalian?" Tanyanya saat kami masuk ke ruang makan dengan tangan saling menggenggam.
"Udah dong. Gak usah lama-lama kalau berantem. Dalam pernikahan itu bentar aja kalau berantem. Sekedar ngasih bumbu-bumbu, biar gak flat." ujar Ghiffa dengan sok dewasa dan seraya duduk di samping sang ayah.
"Kenapa Papa merasa tersindir ya?" ucap ayah mertuaku.
"Bagus kalau papa ngerasa kesindir. Lagian aku gak ngerti 18 tahun Mama sama Papa ngapain coba bareng-bareng tapi gak dinikmatin. Udah pisah kayak gini baru 'kan nyesel."
Kadang aku ingin menyumpal mulut Ghiffa jika ia sudah berbicara seenak jidatnya seperti itu pada ayahnya sendiri.
"Aa, ngomong sama Papa yang sopan dong, A." tegurku.
Ghiffa menatap ke arahku, "Gak pernah diajarin kayak gitu aku sama Mama sama Papa, Yang."
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
"Papa udah coba segala macam cara tapi kesalahan Papa terlalu besar sepertinya bagi Mama kamu."
"Emang Papa udah ngapain aja?" Tanya Ghiffa ingin tahu.
"Papa bikin beberapa cabang Natasha Florist, beberapa sertifikat tanah dan rumah, diamond set, koleksi terbaru dari tas, gaun, dari berbagai fashion item brand favorit Mama kamu, papa kirim minggu lalu tapi belum ada tanggapan dari mama kamu."
"Papa payah banget." cemooh Ghiffa seraya menyantap sepotong sosis dan mashed potato.
"Papa lagi pesan helikopter dengan nama Mama kamu di bagian sisinya. Semoga dia akan suka."
Seketika mulutku terbuka mendengar semua yang diucapkan oleh ayah mertuaku.
Helikopter? Beliau menyiapkan itu agar Ibu mertuaku bisa menerimanya kembali? Dasar sultan.
"Papa salah strategi." nasehat Ghiffa. "Mama gak akan lagi terkesan dengan semua itu."
"Terus Papa harus bagaimana?"
Ghiffa menatap ke arahku, "Kasih tahu Papa, Yang. "