The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 124: Ghiffa yang Tenang



Tubuhku membeku, air mataku menggenang di pelupuk mataku, rupanya aku masih belum bisa berada sedekat ini dengan Ghaza. Kedua matanya yang menatapku terasa begitu mengintimidasiku. Rasa cemas yang selama ini aku kira sudah hilang, tiba-tiba saja hadir kembali.


"Sayang, kamu gak enak badan ya? Kita istirahat aja ya." ujar Ghiffa dengan suara yang sengaja dikeraskan. Ia kemudian merangkulku, "Mah, Aya gak enak badan. Aku bawa Aya ke kamar dulu."


"Iya, Nak. Istirahat aja ya kalau kamu gak enak badan." Nyonya Natasha menatapku khawatir. Entah benar khawatir, atau tidak aku tidak tahu. Kemudian ia segera meminta maaf kepada para tamu untuk kembali menikmati sesi ramah tamah.


Keluar dari resto, kakiku rasanya lemas sekali, hingga hampir saja aku ambruk jika Ghiffa tidak menahanku. "Yang! Kamu gak apa-apa?!" Ghiffa terkejut sekali, melihatku yang akhir-akhir ini sudah membaik, bahkan aku sudah tidak masalah saat kami membahas kejadian itu. Namun tiba-tiba aku seperti ini lagi, tentulah Ghiffa pasti merasa sangat syok.


"Kaki..aku..lemas..." suaraku bahkan bergetar.


Ghiffa segera membopongku menuju kamar yang tadi kami pakai untuk bersiap-siap. Saat kami memasuki presidential room itu, Ghaza ikut serta masuk ke dalam ruangan mewah itu.


"Ayana gak apa-apa?" tanyanya khawatir.


Mendengar suaranya, tanganku segera melingkar di leher Ghiffa. Jantungku berdebar kencang sekali.


"Lo mending pergi dari sini. PTSD Aya kambuh gara-gara deket-deket sama lo." Ghiffa berbicara dengan nada yang berusaha ia buat setenang mungkin.


"Tapi gue cuma pengen liat dia sebentar aja." Ghaza masih bersih keras.


"Please, gue mohon." Ghiffa memohon, "Gue gak bisa liat istri gue kambuh lagi. Bisa gak lo gak egois dulu, buat sekali aja?"


Ghiffa sampai memohon seperti itu. Biasanya ia akan berbicara dengan nada yang tinggi pada sang kakak.


"Gue udah nahan selama berminggu-minggu ini buat menjauh dari Ayana. Gue pengen dia sembuh dari PTSDnya. Lo masih bilang gue egois?! Gue nunggu banget hari ini karena gue akhirnya bisa ketemu dia." Ghaza terdengar begitu putus asa.


"Apa sih maksud lo? Kenapa sikap lo masih aja kayak gini? Gimana biar lo ngerti kalau Aya ini istri gue. Lo gak bisa ngomong seenaknya seakan gue sama lo ada di posisi yang sama, belum terikat sama Aya. Gue tegasin sama lo, disini gue adalah suaminya Aya. Bisa gak lo posisikan diri lo di posisi gue? Istri lo dideketin cowok lain apa yang lo rasain?"


Ghaza tidak menjawab. Ia terdiam seribu bahasa.  Tanpa menunggu lagi Ghiffa segera membawaku ke salah satu kamar dan membaringkanku di tempat tidur.


"Tenang, ya. Dia udah gak ada." Ghiffa menenangkanku. Ia terus menggenggam kedua tanganku yang mendingin.


"Tapi aku.. takut.., A." Rasa cemas itu terus saja bercokol di hatiku, "Aku...mau..pulang."


"Ya udah kita pulang sekarang ya." Segera saja Ghiffa kembali membopongku.


Saat keluar dari kamar, Ghaza masih disana duduk di sofa ruang tamu. Karena terkejut sosoknya masih aku lihat, segera aku menenggelamlan wajahku di leher Ghiffa dan mulai menangis.


Mau orang itu apa sih sebenarnya?! Kenapa dia tidak juga mengerti dengan apa yang Ghiffa katakan tadi?!


"Kalian mau kemana?" Terdengar suara Ghaza mendekat pada kami. Namun Ghiffa terus membawaku menuju pintu. "AYANA!" teriak Ghaza


"Lo jangan bikin kesabaran gue habis ya?!" Ghiffa mulai meninggikan nada bicaranya.


"Suruh Ayana istirahat disini aja. Gue bakal keluar." ucap Ghaza.


"Nggak. Aya mau pulang." ucap Ghiffa seraya melangkahkan kembali kakinya.


Tepat saat itu Tuan Musa masuk ke ruangan, "Kenapa Ayana?"


Ghiffa terdiam sejenak, "Sakit. Aku mau bawa Aya pulang. Udah selesai 'kan acaranya? Sandiwaranya? Aku udah bisa pulang sekarang, 'kan?"


Ghiffa kembali melangkah keluar.


"Gak bisa!" teriak Ghaza. "Ayana harus tetep di sini."


"Ghaza! Kamu harusnya menemani para tamu saat Papa tidak bisa berada di sana!! Acara ini Papa adakan agar kamu sadar! Rekan bisnis kita sekarang mengetahui restu Papa sudah Papa berikan pada Ghiffa dan Ayana! Kamu harus bisa melepaskan perasaan lembek itu! Jadilah Ghaza yang Papa kenal! Wakil Papa yang selalu terlihat kuat dan berwibawa! Bukan laki-laki cengeng seperti ini!!" teriak Tuan Musa.


Tuhan, aku ingin segera pergi dari sini. "Aa, ayo pulang..." isakku.


Ghiffa terus membawaku pergi, tidak menggubris Ghaza yang terus berteriak. Ghaza terlihat mengejar kami ke lift, untungnya lift segera menutup dan kamipun bisa terlepas darinya.


Beberapa saat kemudian kami sudah berada  di rumah, di kamar kami. Ghiffa membaringkanku di tempat tidur. Ia segera membawa segelas air dan sebutir obat. "Sayang, kamu minum dulu obatnya."


Aku menggeleng, "Gak mau, A. Aku gak mau minum obat itu lagi."


"Tapi, Yang. Kamu harus minum obat. Liat badan kamu gak berhenti gemetar dari tadi. Kamu gak usah mikirin badan kamu jadi gemuk atau nggak, aku akan terus sayang sama kamu mau kamu jadi gimana juga. Kamu minum ya? Please?" Ghiffa begitu memohon padaku.


Aku meraih sisi tuxedo yang masih dikenakan oleh Ghiffa. "Aku cuma mau dipeluk aja sama Aa."


"Kamu mulai deh keras kepalanya."


"Please..." lirihku.


Ghiffa menghela nafasnya dengan kasar. Ia membuka tuxedo yang dikenakannya dan mulai berbaring di sampingku. Ia merengkuh tubuhku mendekat padanya. Akupun memeluk Ghiffa mencoba menetralkan nafas dan jantungku.


Tersiksa sekali rasanya tapi aku sudah bertekat tidak akan meminum obat itu lagi.


"Kamu baik-baik aja, Sayang. Ada aku disini. Jangan takut, ya." ucap Ghiffa seraya mengelus punggungku dan sesekali mengecuk puncak kepalaku.


"Iya..." lirihku.


"Kamu mau makan sesuatu? Aku pesenin sama Hesti."


Aku menggeleng. Kami baru saja makan, perutku masih kenyang.


"Atau mau susu? Teh?" tanya Ghiffa.


Aku kembali menggeleng.


Ghiffa terdiam sejenak, kemudian ia berbicara dengan nada yang semangat. "Atau kamu mau gak aku ajakin honeymoon?"


"Honey...moon?" tanyaku.


"Iya. Honeymoon sebentar aja. Kamu 'kan punya waktu libur seminggu lagi. Kita pergi gimana?"


"Tapi...Aa sekolah.." suaraku masih agak bergetar.


"Gampang. Bisa izin, Yang. Kamu mau kemana? Kita pergi dari sini selama seminggu ke tempat seru, ke tempat bagus, dan cuma ada kita berdua aja. Gimana?" Ghiffa menawarkan.


Honeymoon? Bolehkah kami pergi? Artinya Ghiffa harus bolos sekolah. Apa tidak apa-apa? Tapi mengingat semua yang baru saja terjadi, juga yang terjadi beberapa minggu terakhir, sepertinya aku memang membutuhkan suasana baru. Aku butuh menyembuhkan hatiku yang sudah terlalu lama merasa lelah.


Semoga saja PTSDku juga bisa sepenuhnya sembuh.


"Gimana, Sayang? Kita ke Bali, gimana?"


"Bali?" tanyaku.


"Iya. Kita main di pantai, jalan-jalan, makan makanan enak. Kamu pasti suka."


Sepertinya itu ide yang bagus. Kemanapun sebetulnya aku tidak masalah asal bersama dengan Ghiffa.


"Iya, A. Aku mau." ucapku kemudian.


"Syukurlah. Kalau gitu besok kita pergi ya? Kita bakal seneng-seneng disana."