
Ghiffa kembali berlutut di depanku, "Harusnya lo marah sama gue, Ay." Wajahnya menyiratkan sekali bahwa ia merasa sangat bersalah.
Aku memang marah padanya, tapi aku tidak mungkin mengungkapkannya. Ku tundukkan kepalaku, menghindari tatapannya. Kedua tanganku tertaut, jari-jariku saling memainkan kuku.
"Sebenernya lo itu nganggep gue apa? Apa perasaan gue cuma lo anggap main-main?"
Sontak aku menatap ke arahnya. Seketika aku tertegun melihat ada air menggenang di pelupuk matanya.
Ghiffa.. menangis?
"Maksud Tuan apa?" Aku sama sekali tidak menganggap perasaannya main-main. Aku sangat paham bagaimana perasaan Hyuga padaku. Tapi untuk menerima Ghiffa sebagai pacarku, sungguh itu satu hal yang tak bisa aku lakukan.
"Gue tahu lo pengen nanyain sesuatu sama gue. Tapi kenapa lo diem aja? Lo ngalamin kecelakaan karena gue 'kan?"
"Tidak, Tuan. Ini bukan salah Tuan. Saya kurang berhati-hati saat di lampu merah." terangku. Walaupun aku kesal karena ia membiarkanku menunggunya, tapi aku sama sekali tidak menyalahkannya.
Ghiffa menghapus air matanya, "Bilang kalau gue salah. Lo liat gue di lapangan basket indoor terus lo lari keluar dan buru-buru bawa motor lo. Seudah itu lo kecelakaan. Iya 'kan?"
Darimana Ghiffa tahu?
"Lo tahu tentang gue sama Olivia?" tanyanya. "Lo liat gue sama dia di lapangan basket saat gue harusnya pergi bareng lo. Iya 'kan?"
Aku bungkam. Tidak ingin mengiyakan ataupun mengelak.
"Jawab, Ay!" Kedua tangan Ghiffa meraup pipiku, membuatku tak bisa menghindari tatapannya lagi.
"Saya hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada Tuan. Makanya saya menyusul Tuan ke sekolah." cicitku.
Ghiffa melepaskan tangannya dari kedua pipiku. "MARAH AY SAMA GUE!!" teriaknya, "Lo berhak marah sama gue!"
Aku menggelengkan kepalaku, "Saya tidak berhak marah pada Tuan."
Ghiffa mengerlingkan matanya dan menghela nafas. Raut wajahnya terlihat kecewa. Ia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. "Lo emang paling bisa bikin gue jadi gila. " gumamnya.
'Maaf, Tuan aku hanyalah asisten rumah tangga. Tak pantas rasanya jika aku meluapkan kemarahan dan kekesalanku pada Tuan.' lirihku dalam hati.
Beberapa saat kami terdiam. Ghiffa masih berada di posisinya, berlutut di depanku. Entah apa yang dipikirkannya.
Aku ingat meletakkan kotak P3K di lemari nakas sebelah tempat tidur Ghiffa. Aku membuka lemari itu dan mengambil kotak P3K.
"Maaf Tuan pinjam tangannya." Perlahan aku meraih tangan kanan Ghiffa dan menaruhnya di pahaku. Aku mulai mengobati lukanya.
"Lo dirawat di rumah sakit mana?" tanyanya tiba-tiba.
"Rumah Sakit A, Tuan." jawabku.
"Ghaza anj*ng." umpatnya pelan. "Gue udah kesana. Tapi petugasnya bilang kalau lo gak ada di sana."
Aku menghentikan tanganku yang memegang cotton bud dan menatapnya sekilas. Aku tidak paham. Apa petugas UGDnya salah memberikan kabar?
"Saya gak bohong, Tuan. Saya benar-benar di Rumah Sakit A." ujarku meyakinkan.
"Ghaza pasti ngelarang pihak RS buat ngasih tahu gue kalau lo ada di situ."
"Untuk apa Tuan Ghaza melakukan itu, Tuan?"
"Ay, dengerin gue." Ghiffa memegang tanganku, "Gue minta lo janji sama gue."
"Janji apa, Tuan?"
"Jangan suka sama Ghaza."
Aku tertegun beberapa saat. "Apa maksud Tuan mengatakan itu?"
Perasaan itu tak bisa kita tentukan akan berlabuh pada siapa. Aku sendiri tak bisa mengendalikannya. Ini bukan berarti aku membuka perasaanku pada Ghaza, ataupun laki-laki lain. Aku hanya mengatakan menentukan aku suka pada siapa dan akan suka pada siapa, itu di luar kendaliku.
Namun rasa bersalahku pada Ghiffa membuatku tak bisa berkata tidak. Setidaknya jika aku tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk bisa berpacaran denganku, aku bisa mengabulkan permintaannya untuk tidak melibatkan Ghaza diantara kami. Lagipula Ghaza juga adalah majikanku, tidak mungkin juga aku menaruh rasa padanya. Dan lebih tidak mungkin lagi seorang Ghaza menyukai seorang aku.
Sangat tidak mungkin.
Aku mengangguk, "Saya janji."
Wajah Ghiffa sedikit cerah mendengar ucapanku. "Gue pegang janji lo."
"Iya, Tuan. Tuan bisa pegang janji saya."
Kedua sudut bibir Ghiffa terangkat. Seketika aku begitu lega melihatnya.
Sepertinya badai telah usai.
"Sini." Ghiffa mengangkat tubuhku sehingga aku terbaring ditempat tidurnya. Lalu ia merangkak ke atasku untuk menyeberang ke sisiku. Ghiffa berbaring di sebelahku dan mengangkat kepalaku dan menaruh lengannya di bawah kepalaku, menjadikannya bantal. Direngkuhnya tubuhku mendekat padanya.
"Tuan belum makan. Makan dulu Tuan. " Aku mengingatkan.
"Perut gue belum laper. Hati gue yang laper banget. Makanya harus meluk lo kayak gini biar kenyang." Ia memelukku dengan begitu hati-hati, seperti khawatir terkena pelipis atau kakiku.
Ghiffa kembali bertingkah manja, itu artinya ia sudah membaik. Syukurlah.
"Tapi tadi Tuan berkeringat banyak sekali. Tuan habis melakukan apa?" Tanyaku.
"Tadi gue nyariin lo. Gue lari-lari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Tapi gak ketemu. Gue frustasi banget, Ay. Sekarang gue tahu kenapa lo gak ada dimanapun. Ternyata ini ulah si Ghaza."
"Kenapa Tuan Ghaza menyembunyikan saya?" Jujur aku tidak paham.
"Karena kayaknya Ghaza udah mulai tertarik sama lo. "
"Hah?" Sontak aku mendongak menatap Ghiffa, "Tertarik gimana Tuan?"
"Dia udah mulai suka sama lo juga." ucap Ghiffa.
"Itu gak mungkin, Tuan." ucapan Ghiffa benar-benar konyol.
"Gak mungkinnya kenapa? Dari awal gue udah bilang sama lo. Jangan deket-deket sama dia. Lo gak tahu sih, selera gue dan Ghaza hampir selalu sama. Sekarang kejadian 'kan. Sial banget." Nada bicara Ghiffa kembali terdengar marah.
Apa benar seperti itu? Sepertinya kekhawatiran Ghiffa hanya sedikit berlebihan saja. Ghaza hanya merasa bertanggung jawab karena terlibat kecelakaan denganku. Makanya ia sebaik itu padaku.
"Satu hal lagi yang harus lo tahu, Ay. "
"Apa Tuan?"
Ghiffa menggeser tubuhnya sedikit menjauh agar bisa melihat wajahku. "Gue udah gak ada hubungan apapun sama Olivia."
Aku tertegun Ghiffa sampai menyampaikan itu. Hatiku meringan seketika mendengarnya.
"Tadi gue di kelas, abis gue chat lo buat ketemuan di minimarket aja, HP gue taro di dalam tas. Seinget gue begitu. Sambil nunggu lo kesini, gue turun dan nongkrong bentar di lapangan basket indoor bareng Max sama Theo yang emang lagi nunggu latihan basketnya mulai. Udah itu gue pengen tahu lo udah di minimarket apa belum, gue buka tas gue dan HP gue gak ada. Gue udah niat buat ke kelas lagi buat nyari HP tapi tiba-tiba Olivia dateng."
Jadi seperti itu. Setelah Olivia datang, Ghiffa melupakan pencarian HPnya? Hatiku kembali berdenyut nyeri.
"Max sama Theo nahan gue dan kita ngobrol berempat. Sebenernya lebih banyak mereka yang ngobrol. Gue bener-bener dilarang pergi sama mereka. Terus anak-anak cheers dateng dan heboh ngeliat gue sama Oliv. Max dan Theo ninggalin gue karena mereka udah mulai latihan. Akhirnya malah anak-anak cheers yang nahan gue buat gak pergi."
Ghiffa berhenti sejenak dan menatapku dengan rasa bersalah.
"Terus Zayyan datengin gue. Dia bener-bener nyelametin gue. Dia bilang ada sesuatu yang penting banget yang harus dia omongin. Untungnya Zalfa dukung Zayyan buat bawa gue pergi di tengah-tengah anak-anak cheers nahan gue. Seudah itu Zayyan ngasih tahu kalau dia liat lo di depan lapangan basket indoor, terus lari ke parkiran dan bawa motor lo pergi. Gue minjem motornya Zayyan buat nyari lo dan gue sempet liat ada pecahan kaca spion di jalanan. Perasaan gue langsung gak enak, Ay. Pas gue tanyain sama orang di sekitaran situ, barusan ada cewek kecelakaan disitu. Gue langsung panik saat motor lo ada disana. Gue nyari lo ke beberapa rumah sakit tapi gak ketemu. Sampai gue liat lo digendong sama Ghaza."
Ghiffa merengkuh tubuhku kembali dan memelukku erat, seraya berkata. "Ay, maafin ketololan gue. Gue emang brengsek. Maafin."