
"Tenang aja Mbak, si Bos pasti menang." ucap Bara yakin.
Bukan itu yang aku khawatirkan. Sudah menjadi rahasia umum kalau geng anak-anak badung SMA Satya memang tidak pernah akur dengan Centaur Squad. Sebagai dua sekolah elit yang sudah sangat terkenal di Jakarta, kedua sekolah ini memang sering bersaing. Tidak hanya dari segi akademis, fasilitas, prestasi guru-gurunya, sampai ke siswa-siswinya juga termasuk geng anak-anak badungnya juga selalu lekat dengan kata 'persaingan'. Kalau aku tidak salah dengar bahkan ketua yayasan dari kedua sekolah elit ini juga tidak terlalu baik hubungannya.
Tiba-tiba dari arah gerbang masuk segerombol motor besar lainnya.
"Nah akhirnya dateng juga." Bara menoleh ke arah mereka.
Aku semakin cemas. Anggota mereka banyak sekali. Bagaimana jika balapan ini berakhir ricuh? Bagaimana dengan Ghiffa?
Seorang laki-laki turun dari motornya dan membuka helmnya. Ia menghampiri Ghiffa. Sepertinya itu ketua geng mereka. Beberapa saat mereka terlihat seperti mengobrol. Namun tiba-tiba saja pundak Ghiffa didorong begitu saja oleh orang itu, membuat tensi di sekitar mereka memanas.
"Wah belum apa-apa udah cari gara-gara aja tuh si Fero." Celetuk Bara.
"Fero itu yang lagi ngomong sama Aa?" Tanyaku.
"Iya, Mbak. Dia orangnya terkenal temperamental banget."
"Kenapa Aa harus ngelawan orang kayak gitu sih, Bar?" Aku semakin resah.
"Gak tahu juga kenapa si Bos pengen tiba-tiba lawan dia, Mbak. Sebenernya dulu pas si Bos baru gabung ke Centaur Squad, dia balapan sama si Fero dan menang padahal waktu si Bos pertama kali ikut balapan. Dari situ Si Fero sering nantang si Bos, dia gak terima dikalahin sama Si Bos yang bisa dibilang masih anak bawang. Padahal kalau dari jam terbang, Si Fero udah jauh lebih pengalaman, tapi Si Bos gak pernah gubris. Eh, tahu-tahu tadi tiba-tiba aja si Bos bilang mau nantang dia. Pas diumumin mereka bakal one on oneĀ orang-orang langsung pada heboh. Yang pasang taruhan juga gila banget, Mbak!"
'Ya ampun, Aa!' Teriakku dalam hati.
Demi mendapatkan uang Ghiffa sampai menantang orang seperti itu. Ingin rasanya aku menghampiri Ghiffa dan menariknya keluar dari sini. Melihat sikapnya tadi, sepertinya orang yang bernama Fero itu sangat berbahaya.
Beberapa saat kemudian hanya ada dua motor yang bersiap di lintasan, motor hijau muda yang ditunggangi oleh Ghiffa, juga motor biru hitam yang ditunggangi oleh Fero. Semua orang bersorak memberi dukungan untuk mereka. Orang-orang terlihat begitu bersemangat dan terus meneriakan nama Ghiffa dan juga Fero.
Sepertinya hanya aku yang merasa was-was disini dan benar-benar tidak tenang.
Hingga balapan pun dimulai. Kedua motor itu langsung melesat begitu seorang memberikan aba-aba. Di ujung jalan yang berbelok kedua motor itu tidak terlihat lagi, namun suara bising dari kedua motor itu terus terdengar hingga kedua motor itu terlihat lagi di sisi sebelah barat. Mereka terus saling menyalip dalam kecepatan yang benar-benar mengerikan.
Beberapa lap sudah berjalan, hingga tiba saatnya lap terakhir. Orang-orang bersorak semakin riuh saat motor hijau muda Ghiffa berada sekitar satu meter di depan motor biru hitam milik Fero.
Ghiffa menang.
Aku lega sekali. Sampai tanpa sadar aku berdiri dan melompat kegirangan ikut bersama Bara dan yang lainnya bersorak dan bertepuk tangan untuk Ghiffa. Lalu para anggota Centaur Squad langsung meneriakkan yel-yel saat motor Ghiffa memelan dan berhenti di sisi lintasan. Arena balapan begitu riuh dengan yel-yel yang sepertinya memang sudah menjadi 'lagu nasional'nya Centaur Squad saat ada di dalam euforia seperti ini.
Aku sampai merinding mendengarnya.
Ghiffa melepas helmnya dan langsung saja ia menatap ke arahku dan tersenyum. Ia bahkan membentuk tanda hati dengan kedua tangannya di atas kepalanya padaku.
"Jyah, ketua geng bucin!" Teriak salah satu anggota anggota Centaur Squad dan ditimpali setuju oleh yang lainnya.
Wajahku sudah sangat memerah melihat apa yang Ghiffa lakukan di tengah-tengah ia menjadi pusat perhatian.
Dasar suami menggemaskan!
Tiba-tiba di tengah suka cita itu, Fero menghampiri Ghiffa dan langsung saja meraih kerah Ghiffa dan menonjoknya hingga Ghiffa yang masih duduk di motornya. Ghiffa tersungkur ke rerumputan di sisi lintasan itu, dan motornya juga ikut terguling.
Sontak kejadian itu membuat orang-orang terkejut dan suasana suka cita itu berubah mencekam saat Max yang sejak tadi berada di sisi lintasan, balas memukul Fero. Ghiffa bangkit dari posisi jatuhnya dan memberdirikan motornya lagi lalu melerai Max dan Fero.
Ghiffa membawa Max untuk mundur dan jangan terbawa emosi, tapi Fero malah kembali memukul Ghiffa. Sontak Ghiffa yang asalnya masih bisa menahan emosinya kini berubah marah. Ghiffa mulai melayangkan pukulan pada Fero. Keadaan semakin 'chaos' saat anggota yang lain juga malah jadi saling memukul.
Perkelahian pun tak terelakan.
"Mbak Perpus, ayo pergi dari sini!" ucap Bara. Bara memang diwanti-wanti oleh Ghiffa, jika keadaan tiba-tiba berubah 'chaos' seperti ini, dia harus segera membawaku pergi.
"Nggak, Bar! Itu Aa gimana?!" teriakku panik melihat puluhan orang di dekat lintasan itu kini terlibat baku hantam.
Lalu terdengar sirine dan seketika beberapa dari mereka berlari tunggang langgang dan segera pergi.
"Itu apa? Ada polisi?" tanyaku pada Bara. Aku semakin panik. Tapi aku sedikit keheranan juga karena yang melarikan diri kebanyakan dari geng SMA Satya, sedangkan anggota Centaur Squad hanya beberapa yang meninggalkan arena. Termasuk Ghiffa, Max, Theo, dan anggota inti lainnya hanya diam di posisinya.
"Iya. Anak buahnya ayahnya Max emang suka berjaga-jaga, Mbak. Ayo, Mbak kita pergi sekarang!" ucap Bara semakin panik karena Ghiffa terus menatap ke arah kami dan meminta Bara segera membawaku pergi.
Aku menolak. Aku tidak mungkin meninggalkan Ghiffa. "Kenapa kita harus pergi? Bukannya polisi itu jagain Max? Berarti keadaan udah aman, 'kan?"
"Nggak, Mbak! Kita semua pasti dibawa ke kantor polisi!"
Apa?!
Beberapa anggota kepolisian berhasil menangkap beberapa orang dari kedua geng. Sedangkan sang biang kerok, Fero, sejak tadi memang sudah dijaga oleh Max dan juga Seno untuk tidak pergi meninggalkan arena. Jika ada orang yang harus dibawa ke kantor polisi, maka Ferolah orangnya.
Ghiffa sudah menatapku dengan memohon agar aku pergi bersama Bara, tapi aku menggelengkan kepalaku.
"Nggak, Bar. Kita tetep disini." Tegasku. Melihatku yang bersih kukuh, Bara juga tidak bisa apa-apa.
Beberapa saat kemudian puluhan orang yang masih berada di arena sirkuit berhasil dibawa ke Kantor polisi.
Termasuk aku.
Mereka diinterogasi satu per satu dan kemudian dihukum dengan melakukan push up. Yah, polisi tidak sampai memenjarakan atau bagaimana. Hanya ingin memberikan efek jera saja. Setelah melakukan hukuman itu, mereka semua bisa pulang setelah orang tua mereka menjemput.
Satu per satu dari mereka dijemput oleh orang tua mereka. Aku bisa melihat jelas raut wajah kecewa, marah, dari para orang tua mereka. Tapi bersyukur orang tua mereka masih peduli dan menjemput anak-anaknya.
Tapi tidak dengan Ghiffa.
Sampai akhir hanya tersisa aku, Ghiffa, dan juga Max disana. Max sudah akan diantar pulang oleh anak buah dari ayahnya tapi dia menolak karena ingin menunggui Ghiffa dan aku. Ghiffa sendiri menolak memberikan nomor kedua orang tuanya. Hingga akhirnya kami masih berada disini. Para petugas sempat memaksa tapi setelah mengetahui siapa ayah Ghiffa, mereka menyerah.
Max sempat meminta kepada para anak buah ayahnya untuk melepaskan Ghiffa saja, namun Max malah dimarahi karena ia sendiri tidak dalam keadaan yang aman. Ayah Max pasti akan memarahinya ketika ia sampai di rumahnya nanti. Aku sempat mengatakan untuk menghubungi Om lucas, tapi kembali Ghiffa menolaknya. Dia sudah tidak ingin melibatkan Om Lucas yang dianggapnya sebagai pengkhianat.
Lalu seorang petugas menghampiri kami, "Wali kamu akan segera datang."
Sontak aku dan Ghiffa kebingungan, "Wali saya? Siapa?" Tanya Ghiffa.
"Saya menghubungi saudara saya yang bekerja di PT Melcia Properti dan dia memberikan nomor Pak Ghaza. Saya menelepon beliau, dan dia sedang menuju kesini sekarang." terang petugas berseragam coklat itu.