
Aku sampai di lantai paling atas dan membuka pintu menuju rooftop yang tertutup. Celingukan aku mencari sosok Ghiffa hingga aku melihat kaki-kaki yang selonjor di balik tembok. Aku menghampirinya dan nampaklah Ghiffa duduk bersandar pada tembok dengan sebuah benda kecil berasap yang ia apit diantara telunjuk dan jari tengah.
"Tuan!" teriakku galak. Aku menghampirinya, "Ini di sekolah, kok Tuan ngerokok?!"
Ghiffa menatapku dengan 'lempeng'nya terus menghisap ujung rokok itu dan menghembuskan asapnya. Ia tidak menjawabku dan meraih botol minuman kemasan yang aku pegang, membuka tutupnya, dan meminumnya.
Aku menghela nafasku. Ghiffa betul-betul sudah tidak memiliki rasa rakut melakukan apapun di sekolah ini. Bahkan sepertinya keberadaanku disini untuk mengawasinya tidak berpengaruh apa-apa untuknya.
"Duduk." Ghiffa menarik tanganku hingga membuatku sekarang duduk berselonjor di sebelahnya. "Lo jangan ngedumel terus bisa gak sih. Nih, mendingan lo minum."
"Tuan itu kenapa sih selalu mencari masalah. Udah ini pasti Tuan dipanggil lagi sama Bu Listia." Aku meraih botol itu dan menyimpannya di sampingku.
"Gue gak akan dipanggil kalau lo gak bilang apa-apa." Ghiffa masih menikmati hisapan dan hembusan asap dari rokok yang dipegangnya.
"Saya disini itu buat ngawasin, Tuan. Saya pasti bilang sama beliau tentang ini." tegasku, tidak ada toleransi.
"Ya udah, bilang aja. Paling gue dipanggil BK lagi." ucapnya santai.
Dasar anak badung. "Tuan mau apa meminta saya kesini? "
Ia mematikan ujung rokok yang menyala dengan menggesek-gesekkannya ke lantai. Kemudian ia merebahkan kepalanya begitu saja di pahaku.
"Tuan! Apa lagi ini coba?! Nanti ada yang lihat bagaimana? Udah ini pasti gosip tentang saya dan Tuan nyebar gara-gara kejadian tadi."
"Ay, jangan berisik bisa 'kan. Gue pengen tiduran. Gue butuh bantal jadi minta lo dateng kesini."
Ada apa lagi dengan anak ini? Akhirnya aku hanya bisa membiarkan ia merebahkan kepalanya di pahaku.
Mata Ghiffa tertutup, menikmati semilir angin yang pelan membelai rambut dan wajahnya. "Elus-elus rambut gue, Ay." pintanya.
"Tuan... " Aku memperingatkan.
"Lo pernah bilang kalau gue itu bayi. Bayi 'kan kalau mau tidur mesti dielus-elus. Ayo dong. Katanya lo pengasuh gue?" Ghiffa meraih tanganku dan meletakkan tanganku di kepalanya.
Jangan tanya jantungku bagaimana. Sudah bergemuruh tidak karuan mendengar ucapannya itu.
Akupun mulai mengelus rambut lurus hitam legam milik Tuan Mudaku itu. Tanpa sadar tatapanku tertuju pada wajahnya yang terlihat sangat nyaman, menikmati apa yang aku lakukan terhadapnya.
Sepertinya tidak hanya Ghiffa yang menikmati, akupun menikmatinya juga. Entahlah, nyaman sekali bisa berdua bersama dengan Ghiffa seperti ini.
Seketika aku kembali teringat mengenai hal-hal yang menggangguku tadi. Apa aku tanyakan saja ya pada Ghiffa sekarang?
"Ay, lo denger yang gue bilang ke Mama waktu itu?" tanyanya tiba-tiba.
"Yang waktu Nyonya ke apartemen bawa tuxedo, Tuan?" Aku memastikan.
"Iya. Sekarang lo tahu gimana hidup gue. Gue anak yang gak diinginkan. Bokap terpaksa nerima gue, karena kelahiran gue bukan sesuatu yang dia harapkan."
"Apa Tuan yakin, papa Tuan gak sayang sama Tuan? Gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya loh, Tuan."
"Yakin. Dia selalu lebih mentingin abang gue lebih dulu. Walaupun gue ada, keinginan abang gue adalah yang paling utama. Bahkan saat abang gue pengen gue pergi dari rumah. Bokap nurutin gitu aja, ngebiarin gue tinggal sendiri di apartemen."
Aku hanya bisa tertegun mendengarnya. Wajar jika ia merasa dibuang.
"Awalnya gue ngerasa gak adil. Makanya gue berontak. Lo pasti udah denger awal masalah-masalah gue ini sejak awal semester genap waktu gue kelas 10 'kan?"
"Iya, Tuan. Bu Listia dan juga Nyonya Natasha pernah bilang. Dulu Tuan anak yang baik dan pintar, tapi Tuan tiba-tiba saja berubah. Jadi karena Tuan diminta untuk pergi dari rumah oleh Tuan Ghaza, makanya Tuan memberontak seperti ini?"
Tunggu.
Kenapa cerita ini terdengar familiar? "Tuan suka serial Kapten Tsubasa?"
"Iya. Lemari di kamar gue yang gak boleh lo liat, inget? Isinya adalah koleksi komik dan figur Kapten Tsubasa yang udah gue kumpulin dari lama. Gue paling suka sama rivalnya Tsubasa, Kojiro Hyuga. Kalau abang gue sukanya Tsubasanya."
Deg.
Tanganku seketika berhenti mengelus rambut Ghiffa. Pikiranku tiba-tiba saja tidak fokus. Mendengar cerita Ghiffa dan juga kakaknya ini rasanya pernah aku dengar dari seseorang. Entah mengapa cerita yang sama pernah aku dengar sebelumnya.
Saat aku mengobrak-abrik ingatanku, aku teringat pada... Hyuga.
"Gue sembunyiin ini dari semua orang. Terutama temen2 gue sekarang. Bisa abis diledekin gue kalau ketahuan. " imbuhnya.
Tiba-tiba saja beberapa kejadian antara aku dan Hyuga berputar begitu saja di dalam kepalaku. Dan kemudian ada beberapa benang merah yang entah mengapa membuat semuanya mengarah pada Ghiffa.
Aku merinding sendiri.
Merasakan tanganku tidak lagi mengelus rambutnya, mata Ghiffa yang asalnya terpejam kini mendongak melihat ke arahku yang terpaku menatapnya. Iapun bangkit dari posisinya dan menatapku lekat.
"Kenapa, Ay?"
"Apa maksudnya.. Tuan.. Saya.. " Pikiranku benar-benar kusut, sampai-sampai aku tak mampu merangkai kata untuk mengutarakannya.
Sekarang dalam kepalaku seperti ada puzzle yang sedang aku coba susun. Jantungku terus bergemuruh, harap-harap cemas dengan gambar yang akan muncul saat semua bagian puzzle itu berhasil disatukan.
Kurasakan bulu kudukku meremang. Aku tidak bisa berhenti menatap Ghiffa. Semuanya terasa sangat cocok dan puzzle yang aku coba susun tiba-tiba saja membentuk gambar yang sempurna, yang membuatku shock sendiri.
Saat pertemuanku dan Zayyan yang saat itu berpura-pura menjadi Hyuga, dan kami resmi berpacaran, tiba-tiba saja Ghiffa ada disana dan membawaku ke Mall. Kami melakukan hal-hal yang sering dilakukan para pasangan saat kencan. Menonton di bioskop, makan bersama, hingga membeli couple item.
Kemudian kejadian di resort. Kaos yang Ghiffa kenakan saat itu, sama dengan punyaku. Ghiffa menyiapkan semuanya untuk perayaan satu bulannya bersama pacarnya. Pacarnya tidak datang, dan malah memintaku kesana untuk menemaninya.
Lalu ucapan-ucapan ketika Ghiffa mabuk.
Ciuman di danau, di hutan pinus, dan di resort.
Permintaannya untuk aku menciumnya setiap hari.
Tingkahnya yang terkadang manja padaku yang tidak lazim dilakukan oleh seorang majikan pada ARTnya, yang kerap kali membuatku salah paham.
Ditambah... ucapan Zayyan tadi.
Semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang bahkan untuk memvalidasinya saja sangat membuatku ketakutan jika itu memang benar.
"Tuan itu... " gumamku.
Ghiffa menatapku dengan tatapan yang tidak dapat aku artikan.
Dia sama sekali tak mengatakan apapun, namun tangannya yang meraih pipiku begitu saja.
Jantungku makin bergemuruh gila-gilaan. Badanku terasa panas kemudian dingin, panas dan kemudian dingin kembali. Tatapan Ghiffa juga tangannya di pipiku ini membuatku semakin yakin dengan analisis yang aku coba susun sejak tadi di dalam otakku.
Apa selama ini Ghiffa adalah...?