The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 51: Rendah Diri



Seorang gadis dengan rambut coklat dan ikal di bagian bawahnya berada di kasir sedang membayar minuman yang dibelinya secara take away. Gadis itu tinggi semampai dan langsing. Kulitnya seputih susu dan berpakaian sangat fashionable. Mengalihkan pandangan orang-orang yang melihatnya.


"Olivia, mantannya Ghiffa, Bel?" Aku memastikan.


"Iya, Na. Seudah Zalfa cerita waktu itu kalau Olivia itu pernah jadi model juga waktu SMA, gue sempet nyari tahu. Ternyata Om Richie tahu dia, dia ngeliatin instagramnya. Gue yakin itu dia."


Aku kembali melihat ke arah gadis itu, yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Jadi itu gadis yang pernah menjadi pacarnya Ghiffa. Hatiku menjadi panas seketika. Nyaliku tiba-tiba menciut. Percaya diriku hilang. Bagaimana ada perempuan secantik itu. Terlebih lagi dia pernah menjadi pacarnya Ghiffa. Tanpa sadar aku jadi membandingkan diriku sendiri dengannya.


"Na, lo kenapa?" Belva menyadarkanku yang tengah sibuk dengan pikiranku.


"Gak apa-apa, kok." Ucapku lesu.


"Na, dia itu udah jadi mantannya Ghiffa. Sekarang yang disukai sama Ghiffa itu lo." Belva ini memang peka sekali. Ia langsung bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku.


"Apaan sih, Bel. Aku gak mikirin apa-apa kok."


"Gue udah apal banget kalau lo udah kayak gini." ucap Belva sambil memberikan buku menu kepada seorang pelayan.


"Bel, kamu kok bisa sih bertahan temenan sama aku. Kamu itu cantik, model, kamu tajir, tapi kamu temenan sama aku yang kayak gini."


Belva meraih kedua pipiku dengan gemas, bibirku sudah seperti ikan karena diapit kedua tangan Belva. "Udah berapa kali lo ngomong kayak gitu selama temenan sama gue. Lo itu cantik, baik, dan nyambung ngobrol sama gue. Lo emang tulalit, tapi itu hiburan tersendiri buat gue. Ghiffa aja yang seganteng itu bisa suka sama lo. Lo itu harus PEDE, Na. Lo itu spesial. Ini terakhir lo nanya kayak gitu sama gue. Sekali lagi lo nanya kayak gitu, gue bakal kasih video keramat lo ke Ghiffa. Mau lo?"


Sontak aku melepas kedua tangan Belva dari pipiku, "Jangan dong, Bel! Kamu mah ngancemnya gitu ah."


"Makanya. Ini terakhir ya. Awas loh kalau lo ngomong gitu lagi."


Aku menghela nafas lega dan tersenyum haru pada sahabatku itu. Jika setiap orang memiliki malaikat tak bersayap, maka bagiku itu adalah Belva. Ia adalah perempuan sempurna baik hati ataupun fisiknya. Sejak bertemu dengannya, kami langsung begitu 'klik'.


Aku selalu merasa insecure jika bersama Belva yang nyaris sempurna, tapi dia tak pernah membanggakan dirinya yang seorang model terkenal dan juga seorang selebgram dengan jutaan followers. Kami terlanjur memiliki persahabatan layaknya Sveb dan Kristoff di salah satu film animasi terkenal.


"Bel, aku jadi kepikiran." ucapku sambil melahap makanan yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan.


"Kepikiran apa?"


"Tanggapan Ghiffa gimana ya tentang pertunangan Olivia sama Ghaza yang batal."


"Lo tanyain dong sama dia." Belva menyarankan.


"Aku gak mungkin nanyain itu sama dia. Aku ini cuma ARTnya dia. Rasanya kurang sopan aja kalau aku nanyain itu ke dia."


"Ya udah lo jadian aja sama dia. Gue yakin dia udah nembak lo lagi 'kan sebagai Ghiffa?"


"Gak mungkinnya kenapa? Jangan bilang karena dia majikan lo, dan lo cuma ART." ucapnya sambil terus mengunyah makanannya.


Belva ini benar-benar bisa membaca pikiranku sepertinya.


"Na, kalau lo suka sama Ghiffa, gak ada salahnya kalau lo pacaran sama dia. Lo gak perlu liat siapa dia dan siapa lo. Yang harus lo pertimbangkan adalah perasaan kalian berdua. Itu aja. Gak usah peduliin yang lain."


"Tapi, Bel. Gak segampang itu." ucapku pesimis.


"Gue cuma pengen ngasih tahu sama lo, Olivia itu pindah ke Singapura seudah lulus SMA. Tapi seudah pertunangannya sama Ghaza batal, dia pindah lagi ke Indonesia. Yang gue tahu dia fokus kursus bahasa dulu selama setahun ini sebelum lanjut kuliah. Pertanyaannya kenapa coba dia harus pindah ke Indonesia? Padahal akademi bahasa lebih bagus di Singapura kali daripada disini. Ini sok tahunya gue aja ya, gue takutnya Olivia datengin Ghiffa lagi. Sebelum itu terjadi, lo harus jadiin Ghiffa sebagai pacar lo. Biar lo itu lebih berhak atas Ghiffa dibanding dia."


Aku tertegun mendengar ucapan Belva. Apa aku seberani itu untuk menganggap Ghiffa sebagai milikku? Membayangkannya saja aku tidak berani.


Setelah makan siang itu, aku dan Belva kembali ke kampus dan mengikuti kelas terakhir hari ini. Sekitar dua jam kemudian kelas selesai dan aku pun segera ke parkiran, membawa motorku, untuk menjemput Ghiffa di sekolahnya.


Tak lama aku sudah berada di depan minimarket tak jauh dari SMA Centauri. Ghiffa mengatakan tidak ingin aku menjemputnya di sekolah, dan memintaku kesini. Namun sudah sekitar 20 menit aku menunggu, Ghiffa belum juga membaca chatku.


Aku memutuskan untuk menghampirinya di sekolah. Aku memarkirkan motorku di tempat biasa. Sekolah sudah agak sepi karena bel pulang memang sudah berbunyi sejak tadi. Beberapa siswa yang masih di sekolah adalah anak-anak yang sedang mengikuti ekskul. Kemudian aku mulai menyisir setiap tempat yang mungkin Ghiffa datangi hingga aku melihat ke arah pintu lapangan basket indoor yang terbuka. Disana ada anak-anak ekskul cheers. Mereka tidak sedang berlatih, tapi sedang mengobrol.


Hatiku mencelos tatkala melihat para anggota cheers berkumpul di sudut lapangan. Seorang gadis yang tidak menggunakan seragam latihan terlihat diantara mereka dan menjadi pusat perhatian para anggota ekskul. Di sebelahnya berdiri seorang cowok berseragam SMA Centauri yang tidak dikancing dan dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos hitam yang digunakannya.


Iya, gadis itu adalah Olivia dan cowok di sebelah Olivia adalah Ghiffa.


Hatiku berdesir aneh, hingga tubuhku merasa merinding tak nyaman. Akupun mundur perlahan beberapa langkah dan segera berlari menuju parkiran. Ku kemudikan kembali motorku keluar dari SMA Centauri.


Motorku segera bergabung dengan kendaraan lain di jalanan yang cukup ramai sore itu. Aku terus menghela nafas panjang beberapa kali, namun hatiku masih saja belum merasa nyaman kembali. Terbersit begitu saja bayangan Ghiffa yang berdiri sebelah Olivia. Betapa sempurna dan serasinya mereka. Samar-samar aku bisa mendengar para anggota cheers seperti menggoda keduanya tadi.


Zalfa sempat bercerita padaku dan juga Belva saat kami bertemu di salon waktu itu. Saat Ghiffa kelas 10, Olivia baru saja naik ke kelas 12. Ghiffa langsung menyita perhatian karena ia tampan, pintar, dan jago main futsal. Ghiffa langsung menjadi idola baru bagi cewek-cewek SMA Centauri.


Sedangkan Olivia, gadis paling populer dan seorang kapten Cheers, yang juga memiliki banyak fans dikalangan para cowok. Ghiffa dan Olivia dekat beberapa minggu dan kemudian berpacaran. Hari mereka berpacaran disebut hari patah hati se-SMA Centauri. Bagaimana tidak, dua cewek dan cowok yang sama-sama diidolakan oleh banyak siswa tiba-tiba saja menjalin hubungan dan membuat para fans mereka patah hati secara serentak.


Namun saat sekitar sebulan sebelum pembagian rapor semester ganjil, mereka putus. Kemudian tiba-tiba saja berhembus kabar bahwa Olivia bertunangan dengan Ghaza, kakak dari sang pacar. Sejak itulah Ghiffa berubah menjadi seorang siswa badung. Dari seorang good boy, menjadi bad boy. Banyak kabar yang mengatakan bahwa perubahan sikap Ghiffa itu dikarenakan ia tidak terima melihat Olivia bertunangan dengan kakaknya sendiri.


Sepertinya benar apa kata Belva, Olivia pindah lagi ke Indonesia untuk mengejar Ghiffa lagi.


Pemandangan yang baru ku lihat benar-benar membuatku tidak fokus. Sehingga tanpa sadar aku melamun di lampu merah. Bukannya berhenti, aku malah terus melajukan motorku hingga tanpa bisa kuhindari, sebuah mobil dari arah kiri menyerempetku. Motorku oleng dan aku terjerembap ke aspal. Helm yang aku gunakan terlepas karena tadi aku memakainya dengan terburu-buru dan tidak menguncinya. Hingga sepersekian detik kemudian kepalaku terantuk aspal dan tubuhku terguling beberapa kali. Seketika...


KREK!


Aku bisa mendengar suara itu dengan sangat jelas, lalu sakit yang luar biasa aku rasakan di bagian kaki kiriku. Pandanganku tiba-tiba saja buram dan kemudian gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku setelah itu.