The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 107: Ungkapan Cinta Ghaza



"Lepasin." Ucapku pelan. Dalam hati aku begitu ketakutan. Aku kembali teringat pelec*han yang dilakukannya padaku. Tapi aku tak bisa histeris karena begitu banyak orang disini.


"Ikut saya sebentar." Ucapnya dengan nada tenang.


Seharusnya aku mendengarkan ucapan Om Lucas, sedang tidak ada orang yang bisa menjagaku sekarang. Seketika aku menyesal pergi ke supermarket ini. Seharusnya aku tidak pergi!


"Saya gak mau!" tegasku. Aku berusaha melepas cengkraman tangannya namun tidak bisa.


"Hey kamu mau nelpon siapa?" Ghaza berbicara pada Hesti dan merampas ponsel yang sedang dipegangnya. Sepertinya Hesti akan menghubungi Om Lucas saat Ghaza mengambilnya.


Ghaza memberikan kunci mobilnya pada Hesti, "Kamu tunggu disini. Saya tidak akan membawanya kemana-mana. Pegang kunci mobil saya."


Segera saja ia menarik tanganku menuju mobilnya. Aku berjalan di belakangnya dengan sedikit tergopoh dengan tanganku yang masih dicengkramnya. Aku menatap Hesti yang begitu cemas namun dia juga tidak bisa melakukan apapun.


Ghaza membuka pintu penumpang dan menyuruhku masuk ke dalam. "Diam disini. Saya hanya ingin berbicara. Jangan kabur, atau saya akan melakukan sesuatu."


Akupun duduk dengan tenang di kursi penumpang setelah mendengar ancamannya itu. Ghaza berjalan mengitari mobilnya dan masuk ke kursi kemudi.


Beberapa saat hening sekali. Ghaza tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap ke depan.


"Saya pergi saja kalau anda gak akan mengatakan apapun." Aku bersiap membuka pintu, segera Ghaza menahan tanganku.


"Tunggu," ucapnya.


Aku menangkis tangannya, "Kalau gitu anda mau ngomong apa?!" nadaku meninggi.


"Gak ada hal yang mau kamu ucapkan pada saya, Ayana?"


Aku menghadapkan tubuhku padanya, mulai tidak sabar. "Sebenarnya anda ingin mengatakan apa? Ucapkan dengan sejelas-jelasnya, jangan seperti ini. Anda sudah membuang waktu saya!" Ucapku masih dengan nada tinggi.


"Banyak hal yang ingin saya tanyakan pada kamu, Ayana." Ghaza menatapku lurus, "Kenapa kamu memilih Ghiffa dibanding saya? Kenapa kamu sampai menikah dengan dia? Kenapa kamu sampai mengatakan itu pada semua orang di acara ulang tahun saya kemarin? Kamu tahu? Kamu benar-benar sudah menjatuhkan harga diri saya." Ghaza terlihat begitu putus asa.


Aku menatapnya tanpa gentar, "Pertama, sudah saya katakan bahwa saya sangat mencintai suami saya. Tidak ada laki-laki lain di hati saya. Hanya Alghiffari Airlangga." Tegasku dengan lantang. "Walaupun orang-orang melihat kami masih terlalu muda, tapi kami tidak main-main dengan perasaan kami. Kami saling memahami, saling menerima kekurangan kami masing-masing, dan saling melengkapi."


Ghaza masih dengan ekspresi putus asanya. Akupun melanjutkan, "Kedua, anda sudah mel*cehkan saya. Anda menganggap saya seorang perempuan murahan yang akan takluk begitu saja hanya dengan uang yang anda miliki. Sudah saya katakan bahwa saya akan membuat perhitungan dengan anda. Saya tidak bisa diam saja melihat apa yang sudah anda lakukan pada saya. Maka dari itu saya melakukan itu kemarin. Saya menjadikan pesta ulang tahun anda sebagai momen yang tepat membuat anda mengerti bahwa penilaian anda terhadap saya itu adalah salah besar. Saya tidak peduli jika di mata orang lain nama anda justru menjadi semakin baik. Tapi saya sangat yakin, bahkan tadi anda sudah mengatakannya sendiri, saya sudah menjatuhkan harga diri anda. Saya hanya butuh anda merasa malu, geram, dan tak bisa melakukan apapun bahkan disaat anda ingin. Dan saya sudah melihat itu kemarin."


"Dengan tersebarnya pernikahan saya itu, saya harap anda bisa lebih menjaga sikap anda. Semua orang tahu sekarang bahwa anda adalah kakak ipar saya. Ini adalah terakhir kalinya anda menemui saya. Jangan pernah usik saya dan juga suami saya lagi."


"Tidak bisa, Ayana." ucap Ghaza menatapku lekat, "Saya tidak bisa jika tidak bertemu dengan kamu."


Aku menghela nafasku, "Mau anda apa sih?! Anda tidak ingat dengan peringatan Tuan Musa tadi malam? Anda harus kembali fokus pada tujuan anda, fokus mengelola perusahaan anda. Itu 'kan yang selama ini anda inginkan? Suami saya sudah melepaskan haknya. Sekarang anda mendapatkan posisi sebagai pewaris tunggal perusahaan ayah anda secara penuh. Lalu apa lagi? Apa masih belum cukup anda membuat hidup suami saya menderita selama ini?"


Ghaza terdiam sejenak, kedua matanya menatapku lekat, "Saya mencintai kamu."


Tubuhku membeku. Sepertinya barusan aku tidak fokus dan telingaku tidak berfungsi dengan baik.


Namun Ghaza kembali mengatakannya, "Saya cinta sama kamu, Ayana. Hal ini baru kali ini saya rasakan. Seumur hidup saya, saya belum pernah merasakan ini sebelumnya."


Gila. Ghaza benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa sekarang dia malah mengatakan hal tak masuk akal itu padaku? Apa dia sudah lupa bagaimana peringatan Tuan Musa tadi malam padanya?


"Sekali lagi saya katakan, saya perempuan yang sudah menikah." Secara tersirat aku sudah menolaknya.


"Saya tidak peduli. Kamu masih bisa bercerai."


"Saya gak cinta sama anda!" tegasku.


"Saya akan membuat kamu jatuh cinta pada saya juga."


Aku menghela nafasku. Mengapa baik Ghiffa ataupun Ghaza, selalu saja membuatku kehilangan kata-kata.


"Tolong dengarkan baik-baik, anda tidak mencintai saya! Yang anda rasakan pada saya itu bukanlah cinta. Anda hanya merasa ingin memiliki apa yang dimiliki adik anda, sama seperti yang selama ini selalu anda lakukan. Jadi saya mohon, anda harus menelaah hati anda lebih teliti lagi. Jangan salah mengartikan perasaan yang anda rasakan!" ucapku dengan sabar.


Ghaza menggeleng pelan, matanya terus menatapku lekat. "Bukan, Ayana. Saya merasakan sesuatu yang berbeda. Jantung saya berdebar. Saya memikirkan kamu sejak kejadian tadi malam hingga sekarang. Bahkan saat saya bangun tidur tadi, saya langsung teringat pada kamu. Di kantor saya tidak bisa fokus bekerja, saya terus memikirkan kamu. Akhirnya saya menyadari saya merindukan kamu."


Aku benar-benar tercengang sekarang.


"Makanya setelah saya selesai meeting, saya datang ke kafe dan saya menunggu beberapa saat, saya berharap melihat kamu sebentar saja. Hingga kamu ternyata keluar dari kafe dan menuju ke supermarket ini. Katakan jika saya telah salah mengartikan perasaan saya. Katakan bahwa yang saya rasakan ini bukan cinta, Ayana."


Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini?