
Ghiffa's point of view
"Ghiffa!" Teriakkan Ayana di dalam mobil Max, tak digubris oleh Ghiffa yang terus saja melangkah kembali memasuki gerbang rumah kediaman Airlangga.
Ia memasuki rumah dan segera menuju ke bagian belakang rumah itu, tempat dimana ia yakin barang-barang Ayana berada.
"Tuan Ghiffa?" Bi Susi yang baru saja dari dapur berpapasan dengannya. Ghiffa terus saja berjalan menuju kamar belakang.
"Kamar Ayana yang mana?" Tanya Ghiffa saat tidak sengaja berpapasan dengan ART yang lain, yaitu Asti.
"Yang tengah, Tuan." jawab Asti dengan sedikit bingung.
Tanpa menunggu Ghiffa membuka dengan kasar pintu itu. Ia melihat koper Ayana di samping tempat tidur dan membukanya, terdapat buku-buku dan juga laptop milik Ayana disana, namun tidak ada pakaian di dalamnya. Ghiffa pun membuka lemari dan di dalam sana rupanya pakaian Ayana berada. Ia segera memasukkan baju-baju yang sudah tertata rapi itu ke dalam koper.
"Ghiffa! Kamu lagi apa?! Itu baju-baju Ayana kenapa dimasukin ke koper?!" seloroh Natasha, begitu ia dikabari Bi Susi bahwa sang putra ada di rumah ia segera menghampirinya.
"Aku mau bawa pulang Aya." Ucap Ghiffa singkat, tangannya terus sibuk memasukkan pakaian Ayana ke dalam koper.
Natasha membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Ayana, namun Ayana tidak mengangkat teleponnya. "Ayana mana?" Tanya Natasha pada Bi Susi dan Asti yang masih berada disana.
"Tadi di depan, Nyonya, sedang bantu Mang Ujang siram tanaman." Jawab Asti.
"Aya udah aku bawa pergi." Ghiffa menutup resleting koper Ayana, dan mulai berjalan ke arah pintu kamar.
"Tunggu!" Natasha menghadang sang putra, "Kamu kenapa sampai seperti ini sih, Nak? Kamu tinggal disini kalau kamu mau tetap tinggal dengan Ayana!"
"SEMUA INI SALAH MAMA!!" murka Ghiffa pada sang ibu.
Semua yang melihat sikap Ghiffa begitu terkejut mendengar teriakan Ghiffa. Sorot mata penuh amarah itu terus ia tujukan pada Natasha sebelum ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Pak Janu! Pak Gugun!" teriak Ghiffa, mencari kedua pria yang bertugas sebagai supir dan satpam secara bergantian di rumah itu.
"Iya, Tuan." Pak Gugun yang sedang bertugas sebagai satpam menghampiri Ghiffa.
"Dimana kunci motor sama mobil gue?" tanya Ghiffa.
"Nggak, Nak! Kamu masih dihukum!" Natasha mengikuti Ghiffa yang sudah berada di ruang tamu.
"Balikin, Mah! Mobil dan motor itu aku beli pake uang aku sendiri! Aku nyicil setiap bulannya dengan uang aku sendiri! Jadi itu milik aku! Mama dan Papa gak berhak ngambil motor sama mobil aku!"
"Kamu juga dapetin uang itu dari mama dan papa 'kan?! Jadi kami berhak nahan mobil sama motor kamu!" tegas Natasha.
"Mama cek gak kartu-kartu aku?! Uang yang Mama dan Papa kasih masih utuh! Aku gak pernah pake uang pemberian dari Mama sama Papa!"
"Kenapa? Aku punya uang, kok. Mama gak perlu tahu aku punya uang darimana. Yang jelas kali ini Mama harus sadar sepenuhnya kalau omongan aku selama ini bukan omong kosong. Aku gak butuh sepeserpun harta Mama dan Papa! Aku gak butuh sepeserpun uang dari Keluarga Airlangga dan PT Melcia Properti yang selalu Mama bangga-banggakan itu! Aku gak akan nerima apapun lagi dari Mama dan Papa! Apartemen yang aku tempatin selama ini juga, silahkan Mama ambil! Aku udah gak butuh! Tapi satu hal Mah, jangan ngusik Aya! Kalau nggak aku bakal lebih nekat lagi!" Ghiffa menoleh kepada Pak Gugun, "Bawain kunci mobil gue sekarang!"
"Ghiffa, sayang!" Natasha berusaha sekuat tenaga tangan Ghiffa. "Kamu kenapa sampai sejauh ini sih, Nak?"
"Mama yang bikin semuanya kayak gini! Kenapa Mama bawa Aya kesini? Biar aku tinggal disini lagi? Kalau itu alasannya, Mama udah bikin kesalahan yang besar! Aku gak akan pernah nganggep rumah ini rumah aku lagi! Silahkan Mama tetep tinggal disini kalau emang Mama masih bisa tahan jadi istri formalitasnya Musa Airlangga yang terhormat."
Plakk!!
Tanpa sadar Natasha mengayunkan tangannya pada pipi sang putra. Rautnya terlihat menyesal, tapi kemudian ia mulai membentak sang putra. "Kamu udah keterlaluan Ghiffa! Mama bertahan dan mengusahakan semua ini buat kamu!!"
Sorot mata Ghiffa tajam pada sang ibu, tanpa mengatakan apapun semua orang mengetahui bahwa keputusan Ghiffa sudah bulat. Ghiffa segera menyambar tangan Pak Gugun yang memegang kunci mobilnya dan melangkah ke pintu keluar.
Tepat saat itu, Ghaza baru saja sampai. Ia baru saja pulang dari kantor. Tatapannya tertuju pada koper yang dibawa oleh Ghiffa. "Mau lo bawa kemana koper itu?" Tanyanya dengan nada tenang.
"Gak cukup lo ambil semua yang gue punya selama ini? Lo pengen saham udah gue kasih. Lo pengen bokap berpihak sepenuhnya sama lo, udah lo dapetin. Lo masih belum puas? Lo masih mau ngambil yang lain dari gue?!" Tatapan Ghiffa nanar pada sang Kakak.
"Lo duluan yang udah bikin kehidupan gue gak sama lagi kayak dulu. Semenjak lo dan nyokap lo dateng ke rumah ini hidup gue yang sempurna, ancur gara-gara kalian." nada bicara Ghaza selalu seperti itu, tenang tapi begitu menusuk, "Gue gak akan berhenti sampai gue rampas semua yang bikin lo bahagia."
Tangan Ghiffa terkepal kuat dan bergetar hebat, menahan emosi yang terus naik ke ubun-ubunnya. Ia berhasil menahannya dan berniat pergi, mengabaikan laki-laki yang dulu begitu ia sanjung.
Saat Ghiffa berjalan tepat di samping Ghaza, Ghaza berkata, "Termasuk Ayana. Gue pasti bakal rebut dia dari lo."
Mendengar nama Ayana disebut oleh Ghaza, insting Ghiffa bergerak lebih cepat dari pikirannya.
BUG!!
Langsung saja tangan yang sejak tadi sudah terkepal dan menahan untuk tidak mencari mangsa, akhirnya mendarat di pipi sang kakak, membuatnya tersungkur ke lantai. Semua orang berteriak melihat dua saudara itu mulai terlibat baku hantam.
Ghaza terperangah, ia sama sekali tidak menyangka Ghiffa akan seberani itu padanya. Iapun tersulut emosi, bangkit dari lantai dan langsung memberikan pukulan balasan pada sang adik.
Tubuh mereka saling berguling, tangan mereka tak henti-hentinya saling memukul. Beberapa pajangan di ruangan itu menjadi korban dari sengitnya duel dari kedua laki-laki yang tak pernah akur itu.
"BERHENTI!" teriak Natasha, namun keduanya menganggapnya angin lalu. Mereka terlalu fokus menghabisi satu sama lain.
Darah segar mulai mengalir dari hidung dan sudut bibir keduanya. Kedua pipi Ghaza terlihat lebam dan jas yang digunakannya sampai kehilangan kancingnya.
Akhirnya setelah keduanya sudah hampir kehabisan tenaga, para asisten rumah tangga bisa menghentikan dan memisahkan keduanya.
"Lo inget baik-baik, gue bakal ngancurin hidup lo! Sama kayak selama ini lo udah ngancurin hidup gue dan Nyokap gue! Inget itu!!" tekad Ghiffa.
Kemudian ia melepaskan tangan-tangan Mang Ujang yang menahannya dan berjalan menuju garasi, lalu melajukan mobilnya menuju cafe miliknya, tempat dimana Ayana berada.