
Berulang kali aku menghela nafasku, mencoba menenangkan sakit yang masih saja berdenyut di hatiku. Aku membasuh wajahku dengan air di wastafel toilet itu agar terasa lebih segar. Aku tidak bisa membiarkan Ghiffa melihatku seperti ini.
Tiba-tiba ponselku kembali berbunyi. Ghiffa meneleponku.
"Yang? Udah selesai bimbingannya?"
"Iya udah, A. Ini aku lagi di toilet dulu sebentar. Kenapa? Aa mau nitip sesuatu?" Semoga Ghiffa tidak menyadari suaraku yang sedikit bindeng.
"Sebenernya aku pengen ke arena, Yang. Gak apa-apa ya?" Dengan nada sedikit ragu.
"Aa mau balapan? Kan masih sakit?" ucapku khawatir.
"Enggak akan ikutan, kok. Cuma liat aja, aku bosen di rumah terus. Kamu juga sekarang kesana aja gimana, kita ketemu disana?"
Syukurlah Ghiffa tidak akan berada di rumah. Jadi ini kesempatanku agar ia tidak melihatku kacau seperti ini.
"A, sebenernya Belva tadi telepon aku juga." dustaku, "Dia pengen aku ke rumahnya. Gak tahu ada apa. Aku udah nolak sih, karena Aa 'kan lagi sakit. Tapi kalau Aa udah gak apa-apa, mau lihat balapan, aku boleh gak ke rumah Belva aja? Nanti aku pulangnya barengan sama Aa pas pulang dari arena."
"Ya udah gak apa-apa kalau gitu. Kamu ke rumah Belva aja. Nanti aku jemput ya."
"Aa jangan dulu nyetir ah. Nanti aku pakai ojek aja."
"Gak boleh. Dijemput aja ntar sama Max atau, Victor, atau siapa. Aku juga pakai mobilnya Om Lucas, kok. Pokoknya kamu gak boleh sendirian. Bahaya."
"Ya udah iya. Nanti Aa kabarin kalau mau pulang ya."
"Iya, ya udah. Have fun ya, Sayang. Salam buat Belva." Kemudian ia mematikan ponselnya.
Aku mengecek wajahku di cermin. Kacau sekali. Kedua mataku bengkak, hidungku dan bibirku memerah. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikannya. Ya sudah apa boleh buat. Aku pun keluar dari toilet dan menghampiri Victor dan Seno yang duduk di kursi tunggu dekat toilet itu.
"Mbak Perpus, lama banget di dalem. Terus mukanya kenapa sembab gitu?" Tanya Victor.
"Tolong ya, kalian jangan kasih tahu A Ghiffa. Please banget?" ucapku penuh harap.
Mereka terlihat saling menatap, bingung harus menurut atau tidak.
"Lagian sekarang A Ghiffa lagi ke arena. Aku gak jadi pulang. Kalian anterin aku ke tempat Belva ya. Nanti sore juga mata aku udah gak sembab lagi. Jadi kalian pura-pura aja gak tahu dan gak lihat."
"Ya udah deh, kita gak akan bilang. Tapi beneran aman 'kan Mbak semuanya?" Tanya Seno memastikan.
Aku mengangguk, "Beneran aku gak apa-apa."
"Terus beli kado buat si Ghiffa gak jadi juga?"
Oh iya, aku sampai lupa. Tadi di perjalanan menuju kampus aku memang mengatakan pada Victor dan Seno bahwa aku akan membeli kado untuk Ghiffa. Seminggu setelah Ghaza berulang tahun, Ghiffa juga berulang tahun. Aku masih bingung akan memberikannya apa. Jadi tadinya aku akan mulai mencarinya dari sekarang.
"Kayaknya nanti aja aku minta anter Belva." ujarku.
"Kasih tahu aja nanti ya, kita bakal ngawal Mbak Perpus nyari kadonya." ujar Seno.
Aku mengangguk. Kamipun mulai berjalan menuju tangga karena lift fakultas sedang penuh. Tak berapa lama aku sudah berada di depan rumah Belva. Setelah ART Belva membukakan pintu gerbang, Victor dan Seno segera meninggalkanku.
"Loh, Mbak Ayana, Mbak Belva lagi gak ada di rumah." ucap ART Belva.
"Iya saya tahu kok, Bi. Saya mau nunggu Belva dateng boleh gak, Bi?" tanyaku.
Aku tahu Belva sedang pemotretan, tapi aku butuh tempat untuk menyembunyikan wajahku. Aku tidak tahu harus kemana dan hanya rumah Belva yang terpikirkan.
"Ya boleh, dong. Mbak. Silahkan masuk, saya bikinin minum dulu ya."
Aku masuk ke rumah Belva. Orang tua Belva memang jarang di rumah. Jadi di rumah besarnya ini hanya ada Belva dan dua ARTnya. Aku dipersilahkan menunggu di kamar Belva.
Air mataku tumpah lagi.
Tiba-tiba saja pintu kamar Belva terbuka, aku melihat sosok sahabatku.
"Na?" Belva menghampiriku, wajah Belva terkejut sekali.
Aku bangkit dari posisi berbaringku dan sontak memeluknya. "Bel..." isakku pecah tak tertahankan.
Belva yang kebingungan hanya bisa mengusap punggungku, "Ya udah lo nangis dulu aja, baru nanti cerita sama gue ada apa."
Mendengar Belva mempersilahkanku untuk menangis, semakin keras aku mengeluarkan isakku. Ku keluarkan semua kekalutanku. Aku benar-benar tak bisa menahannya lagi.
Hingga beberapa menit kemudian, tangisku mereda. Belva masih memegang tanganku. Ia sepertinya syok juga melihatku seperti ini. Ini kali pertama dia melihatku begini.
"Sekarang lo cerita sama gue ada apa? Gue gak pernah ngeliat lo sekacau ini, Na."
Akhirnya aku menceritakan semuanya. Namun tidak aku perlihatkan video itu. Aku terlalu malu bahkan untuk dilihat oleh sahabatku sendiri. Juga aku tidak ingin melihatnya lagi. Maka aku segera menghapusnya tadi saat masih berada di toilet.
"Ghaza beneran Set*n! Brengs*k banget itu cowok! Gue gak rela lo diginiin, Na!" Belva memelukku lagi dan kini iapun terisak, ikut merasa terluka sama sepertiku. Selain ia adalah sahabatku, Belva pasti merasakan kesakitanku karena ia juga seorang perempuan.
"Kenapa lo harus ngalamin semua ini sih, Na." Belva terus terisak, membuat aku yang sudah berhenti menangis, menjadi kembali sesenggukan.
Setelah beberapa saat Belva melepas pelukannya, ia menatap wajahku dan mengusap air mataku, "Sebenernya gue juga ada yang pengen gue ceritain, Na."
"Apa?" tanyaku di tengah isakku.
"Gue putus sama Jo." Belva kembali terisak.
"Ya ampun, Bel. Gara-gara aku ya. Maaf ya, Bel." tangisku semakin pecah. Aku sangat tahu Belva sangat mencintai Jonathan. Aku tak pernah melihatnya sebahagia itu sebelumnya.
Belva menggeleng, "Ini bukan salah lo. Malah seudah lo cerita barusan, gue lega banget karena gue udah mutusin dia. Gue gak mau jadian sama orang yang berpihak sama orang jahat. Gue jadi tahu kalau dia gak bener-bener sayang sama gue."
"Tapi, Bel. Mas Jo pasti bingung. Bisa aja dia beneran sayang sama kamu, tapi dia juga gak bisa kehilangan pekerjaan dia. Dia 'kan sahabat sekaligus sekretarisnya Ghaza. Dia pasti mau gak mau harus ada di pihaknya Ghaza."
"Gue gak peduli, Na. Yang jelas pas gue putusin dia, dia diem aja. Itu tandanya daripada dia kehilangan pekerjaan dia, dia lebih milih buat putus sama gue. Tapi gak apa-apalah orang kita juga belum lama pacarannya. Bentar lagi juga gue move on, kok."
"Maafin aku ya, Bel." Sungguh aku merasa sangat bersalah pada Belva.
"Nggak, Na. Ini bukan salah lo. Udah lo gak usah ngerasa bersalah gitu. Gue bukan cewek lemah yang bakal terus-terusan sedih gara-gara putus sama cowok."
Aku tidak menjawabnya. Rasa bersalah masih saja memenuhi hatiku. Kalut sekali rasanya. Semuanya jadi sekacau ini, bahkan masalah jadi melebar kemana-mana.
"Sekarang, gimana rencana lo? Lo bakal kasih tahu Ghiffa tentang ini?"
"Nggak, Bel. Aa gak boleh tahu tentang ini. Aku gak mau masalahnya jadi tambah gede. Aa aja sekarang masih sakit. Centaur Squad sampai dikerahin kemarin. Gimana kalau Aa tahu masalah ini. Gimanapun juga Ghaza itu lebih nekat dari Aa. Kalaupun aku harus ngebales perbuatannya Ghaza, aku gak akan bales pake caranya Aa. Aku akan bikin perhitungan sendiri. Aku gak akan ngelibatin Aa ataupun Centaur Squad lagi."
"Iya juga sih. Max dan yang lain cerita kalau pengawal yang jagain lo itu orang-orang terlatih semua. Untungnya cuma ada empat, jadi mereka bisa ditumbangin. Udah kejadian kemarin Ghaza bisa aja nambah pengawalnya."
"Makanya, Bel. Aku bakal cari cara buat balas semua perbuatan Ghaza. Aku juga bakal buktiin kalau dia salah nilai aku. Aku bukan cewek gampangan seperti yang dia tuduhkan ke aku."
Tring!
Notifikasi masuk ke dalam ponselku. Aku meraihnya dan melihat pesan dari Ghaza. Darahku kembali mendidih melihat ia masih saja merecokiku.
Ia mengirimkan sebuah tautan. Aku membukanya dan itu adalah katalog sebuah butik terkenal. Kemudian sebuah pesan lagi dikirimkan oleh Ghaza.
[Ghaza] : Pilih apapun yang kamu suka dan datang kesana sebelum acara. Dandan secantik mungkin. Kamu akan mendampingi saya di acara ulang tahun saya besok.
Seketika otakku mendapatkan ide. Rasanya aku tahu bagaimana membalas perbuatan Ghaza padaku.