The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 82: Bapak



"Kamu.." Ghiffa terlihat gelagapan, kentara sekali.


"Sebenernya Olivia 'kan alasan yang buat kamu dan Ghaza berantem hebat waktu itu." Ucapku.


"Sekarang kita lagi ngomongin 'kita'. Kenapa kamu bawa orang lain?"


Ghiffa benar. Kenapa juga aku bawa-bawa Olivia pada saat seperti ini? Ditambah kami akan berpisah selama seminggu. Entah ada apa denganku, tiba-tiba saja Olivia muncul dalam benakku. Sejak melihat foto mereka di instagram milik Olivia, aku memang menjadi sedikit terganggu karenanya.


"Ya udah lupain aja. Abis kamu juga nyinggung terus tentang Ghaza. Ke depannya kita harus lebih jujur ya. Kalau ada sesuatu jangan sampai ditutup-tutupin." pungkasku.


"Iya, aku setuju." ujarnya.


Aku memutuskan mengalihkan pembicaraanku. "Oh iya, Om Lucas itu beneran wali kamu?"


"Bisa iya, bisa juga nggak."


"Ghiffa! Berarti kamu udah bohong dong tadi?" Tanpa sadar aku menaikkan nada bicaraku.


"Nggak, kok. Kalau bagi rapot juga seringnya Om Lucas yang ngambil. Karena mama suka gak bisa dateng, sibuk ikut Papa kalau lagi dinas ke luar kota. Dia udah bener-bener kayak wali aku, kok."


"Jadi Om Lucas ini sebenernya siapa?"


"Sepupu jauhnya Mama. Mama sering minta tolong ke dia kalau harus ambil rapot aku. Dia itu dulu sekolah di SMA Centauri juga. Anggota Centaur Squad. Dia pernah ditahan gara-gara kasus penganiayaan pas dia baru lulus kuliah. Gara-gara itu pas dia bebas, dia jadi susah dapet kerja. Akhirnya dia bikin cafe kecil-kecilan, malah bisa dibilang warung kopi, bukannya cafe. Tapi ternyata warung kopinya sepi. Terus waktu itu aku baru aja gabung sama Centaur Squad. Aku kasih dia modal dari uang taruhan yang suka aku dapetin. Waktu itu aku cuma ngasih dia sekitar 50 juta. Eh tahunya cafenya malah rame dan dia sampai bisa beli tanah yang dijadiin markas sekarang, dan bangun sedikit-sedikit cafe itu disana. Terus dia buat beberapa cabang lagi dan dia bilang kalau cafe itu punya aku. Tiap bulan dia transfer keuntungannya sama aku. Aku sampai bisa beli motor dan nyicil mobil."


Tapi kenapa aku merasa sedikit aneh ya. Dalam waktu singkat cafe itu bisa berubah menjadi sangat besar.


"Berarti Om Lucas ini hebat banget ya bisa bikin cafe itu maju banget. Kok bisa sih dalam waktu singkat cafenya bisa semaju itu?"


"Ya bisalah, Yang. Om Lucas itu anak managemen bisnis. Dari masih sekolah dia itu udah terkenal sebagai entrepreneur."


"Jadi kamu itu sebenernya gak ngelakuin apa-apa tapi uang masuk gitu aja ke rekening kamu?"


"Bisa dibilang sih gitu." Ucap Ghiffa bangga.


"Kamu yakin Om Lucas gak minta apapun dari kamu setelah dia bikin cafe jadi semaju itu?" tanyaku penuh curiga.


"Keuntungannya emang dibagi dua kok. Aku juga sering ngeliat laporan keuangannya."


Aku masih sedikit merasa janggal.


"Kenapa, Yang? Kamu gak usah khawatir, Om Lucas itu bisa dipercaya kok. Dia bukan orang jahat. Walaupun dia pernah dipenjara tapi itu karena dia belain pacarnya yang sekarang udah jadi istrinya. Nanti aku kenalin dia ke kamu ya. Udah ini kamu bakal sering ketemu sama dia."


"Oh iya, kita tinggal di rumah atas markas itu ya nanti? Kamu bakal tempatin aku dimana nanti pas kerja?"


"Kamu gak akan kerja, Yang. Kamu fokus aja kuliah. Gak usah mikirin apa-apa lagi."


"Tapi 'kan kamu bilangnya waktu itu mau ngasih kerjaan sama aku di cafe kamu."


"Ya 'kan itu sebelum kamu jadi istri aku. Sekarang kamu tinggal diem aja. Nikmatin waktu luang kamu, jangan mikirin uang. Aku bakal transfer sama kamu tiap bulan buat kamu belanja."


"Tapi..."


"Semua kebutuhan kamu udah jadi tanggung jawab aku, Yang. Kamu gak bisa protes kayak sebelumnya sekarang. Nurut sama suami kalau jadi istri itu."


"Nah gitu dong. Istri baik." Ghiffa tersenyum seraya mengelus-elus puncak kepalaku.


Setelah itu Ghiffa pamit pulang, sedangkan aku akan disini selama seminggu sebelum kembali ke Jakarta seperti rencana awal. Keesokan harinya adikku Anis pulang dari kegiatan persaminya. Bi Dini juga datang ke rumah dan mereka begitu syok saat mendapat kabar bahwa aku sudah menikah. Fahri juga sempat menemuiku. Ia meminta maaf padaku atas sikap ayahnya, namun aku mengatakan bahwa aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi aku bisa melihat betapa kecewanya ia saat itu.


Rumahku juga tak pernah sepi setelah itu, selalu ada ibu-ibu tetangga yang datang untuk mengobrol dengan ibuku dan membicarakan aku yang dinikahi seorang anak dari pewaris perusahaan besar. Ibuku selalu membangga-banggakan Ghiffa di depan para tetangga kami. Berulang kali aku katakan pada ibuku bahwa Ghiffa kemungkinan tidak akan mewarisi perusahaan ayahnya. Tapi ibuku selalu mengatakan semuanya bisa terjadi, bisa saja ia berubah pikiran suatu hari nanti.


Tapi berbeda dengan ayahku yang jadi pemurung. Setiap hari aku menemaninya ke kebun dan mencoba menghiburnya, tapi ayahku sepertinya belum bisa menerima semua itu. Sikapnya jadi begitu dingin padaku.


Hingga dua minggupun berlalu. Harusnya aku sudah kembali ke Jakarta minggu lalu seperti rencanaku waktu itu. Ghiffa juga sempat datang kesini untuk menjemputku. Tapi aku tidak tega melihat kondisi ayahku yang masih saja cuek terhadapku. Akhirnya aku meminta izin pada Ghiffa untuk berada di kampungku lebih lama dan kembali kesana saat sehari sebelum UAS dilaksanakan.


"Pak, Neng besok mau kontrol kaki. Kaki Neng kayaknya udah gak sakit sekarang. Bapak temenin Neng ya." Ujarku ketika Ayahku beristirahat di saung setelah mengolah kebunnya.


"Neng bukannya besok mau kembali ke Jakarta?" tanyanya.


"Iya, sebelum kembali ke Jakarta Neng mau kontrol disini dulu."


"Kenapa gak di Jakarta aja? Lebih bagus juga perawatan disana. Terus Neng udah punya suami, minta aja anter sama suami Neng."


"Bapak kenapa sih kayak gitu sama Neng. Bapak udah gak sayang sama Neng?" Aku sudah mulai lelah dengan sikap ayahku yang mengabaikanku.


Ayahku tidak menjawab.


Aku mulai terisak dan semakin lama aku menangis tersedu-sedu. "Bapak jahat!"


Ayahku menatapku dengan tatapan yang merasa bersalah, "Neng..."


"Bapak itu kenapa sih nyuekin Neng terus. Neng udah bakal kembali ke Jakarta besok, selama dua minggu Neng di rumah bukannya ngabisin waktu sama Neng, Bapak malah nyuekin Neng. Neng emang sayang sama Ghiffa, tapi bukan maunya Neng, Neng nikah sama Ghiffa, Pak. Neng minta maaf karena Bapak sama Mama harus ngalamin kejadian kayak gini. Emang Neng punya pilihan saat Pak Ustad sama Pak RT waktu itu ada di rumah?"


"Udah atuh, Neng. Kenapa jadi nangis begini." Ayahku merangkulku sekarang. Ia terlihat merasa bersalah karena tangisanku yang meraung-raung. "Bapak minta maaf udah bikin Neng sedih. Bapak cuma sedih aja Neng harus ngalamin ini semua. Menikah itu gak gampang Neng. Ada aja gogodanya. Makanya Neng, bapak teh khawatir pisan sama Neng. Apalagi keluarga Ghiffa teh dari keluarga berada. Orang tuanya belum tahu kalau dia udah nikah sama Neng. Bapak mah takut mereka gak akan nerima Neng."


"Iya tapi sikap Bapak sama Neng juga bikin Neng khawatir. Bapak jangan sedih terus atuh, Neng jadi ikutan sedih. Katanya bapak pengen Neng bahagia. Gimana mau bahagia kalau Bapaknya kayak gini. Neng tahu akan sulit buat Neng diterima sama keluarganya Ghiffa, karena itu Neng butuh dukungan Bapak. Tapi bukannya doain dan kasih dukungan buat Neng kuat, Bapak malah cuekin Neng."


"Iya Bapak tahu, Bapak salah. Maafin Bapak ya. Bapak gak maksud bikin anak kesayangan Bapak teh sedih kayak gini. Bapak cuma masih syok aja, karena Neng sekarang sudah punya seseorang yang akan lebih Neng perhatiin, lebih Neng sayang, Bapak teh jadi sedih pisan kalau inget itu." Ayahku kini mulai meneteskan air matanya.


Aku tahu kini bahwa ayahku begitu menyayangi aku. Dia bahkan merasa kehilangan karena aku sudah menjadi istri orang lain. Beliau bukan tipe yang mudah untuk menangis. Namun kali ini ia sampai menangis seperti itu. Aku pun menjelaskan padanya bahwa aku akan tetap menjadi anak kesayangannya seperti sedia kala meskipun aku sudah menikah.


Keesokan harinya Ayahku mengantarku ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa kakinya sudah jauh lebih baik. Proses penyembuhannya juga berjalan dengan sangat cepat. Jika tidak ada keluhan lagi, minggu depan aku sudah bisa membuka gipsku.


Sepulang dari dokter, Ghiffa datang menjemputku. Aku pamit pada kedua orang tuaku. Ayahku menangis meraung-raung seakan tidak akan bertemu denganku lagi. Hingga aku berjanji akan sering mengunjunginya jika aku ada waktu luang.


Aku tidak tahu ayahku ternyata sesayang itu padaku, aku terharu sekali.


Ghiffa menggendongku di punggungnya dan berjalan ke arah luar gang, ke tempat dia memarkirkan mobilnya. Sedangkan kedua adikku, ibu dan ayahku membawakan koper dan tongkatku. Mereka mengantarku sampai aku memasuki mobil Ghiffa. Tidak hanya keluargaku tapi gang rumahku saat itu ramai sekali oleh orang-orang yang ingin melihat kepergianku. Sebenarnya mereka lebih tertarik melihat mobil sport Ghiffa yang sangat jarang dilihat oleh warga di kampungku ini.


Aku menoleh ke arah keluargaku saat sudah duduk di bangku penumpang dan melambaikan tanganku. Terasa sangat sedih kali ini karena ayahku masih saja meneteskan air matanya, membuatku juga tak bisa menghentikan air mataku.


"Berangkat sekarang?" tanya Ghiffa.


Aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Tak lama mobil Ghiffapun mulai bergerak, tatapanku terus tertuju pada keluargaku dan tanganku tak henti melambai hingga bayangan mereka di kaca spion sudah tidak terlihat lagi.