The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 86: Kiriman Makanan



Wajahku merona merah mendengar Ghiffa mengucapkan itu. Ia menatapku sekilas kemudian pergi menuju mobilnya.


"Gila itu bocah sampai ngomong kalau lo istrinya. Dasar bucin tingkat akut." komentar Belva tak habis pikir.


Aku hanya tersenyum penuh arti.


"Sayang, aku berangkat ya." Jonathan pun pamit pada Belva kemudian ia pergi.


Aku dan Belva pun mulai masuk ke gedung fakultas.


"Gue kesel deh, kita 'kan udah sama-sama sold out. Tapi kayaknya gak mungkin buat double date. Ya gak sih, Na?" dumel Belva. Dulu kami memang sering beranda-andai jika kami punya pacar suatu hari nanti, minimal satu kali kami harus melakukan double date.


"Iya sih, tadi aja suasananya langsung gak enak banget. Kirain A Ghiffa cuma gak akur sama Kakaknya aja, taunya sama sekretarisnya juga." ucapku setuju.


"Aa Ghiffa? Lucu banget sih lo manggil dia kayak gitu. Si Ghiffa emang mau dipanggil Aa? Tapi kesannya jadi kayak lo ngehormatin dia banget gak sih? Aa 'kan sebutan buat cowok yang lebih tua 'kan?"


"Orang A Ghiffa yang pengen dipanggil kayak gitu, Bel. Aku emang harus hormatin dia sekarang."


"Lo udah jadian sama dia aja masih harus hormat kayak gitu?"


Aku menggeleng, "Aku gak jadian sama dia, Bel."


Belva menatapku bingung, "Terus?"


Aku hanya menatapnya dengan senyuman penuh arti.


"Jangan bilang lo... Gak mungkin..."


"Iya, aku sama A Ghiffa udah nikah."


Belva yang mendengarnya hanya terdiam, masih belum bisa mempercayai yang aku katakan. "Lo bohong ah. Dia 'kan masih sekolah? Terus orang tuanya gimana?"


Aku mulai duduk di salah satu kursi di ruangan dimana UAS akan diadakan dan belva di sebelahku.


"Na?" Belva mulai tidak sabar karena aku tidak menjawabnya.


"Kamu gak percaya juga gak apa-apa, kok." ucapku santai.


"Na, lo serius? Lo beneran udah nikah sama majikan lo itu? Lo nikah sama Alghiffari Airlangga? Hyuga lo itu?" Seloroh Belva.


Aku menggangguk pelan.


Sontak Belva menjerit di ruangan itu. Membuat semua mata tertuju pada kami. Untung saja belum ada dosen disana. Belva segera mengedarkan pandangannya, "Sorry gue cuma syok berat. Temen kita ini baru aja nikah sama anaknya konglomerat, guys!"


Kini tidak hanya Belva, teman-teman satu angkatanku juga berteriak dan bertepuk tangan heboh. Mereka mengerumuni mejaku dan memberiku selamat. Ada juga yang mengatakan kenapa aku tidak mengundang mereka ke acara pernikahanku. Aku hanya menjawab seadanya. Benar-benar tidak biasa menjadi pusat perhatian.


Dasar, semuanya gara-gara Belva!


Tak lama dosen masuk ke ruangan itu dan ujianpun dimulai. Ada dua mata kuliah hari itu. Maka siangnya setelah ujian mata kuliah kedua hari itu selesai seperti janjiku, aku segera menelepon Ghiffa untuk mengabarinya dan minta ia menjemputku. Aku dan Belva kini ada di bangku taman di depan fakultas, menunggu Ghiffa menjemputku.


Ghiffa menelepon, "Yang aku agak telat jemputnya gak apa-apa, ya? Kelas aku lagi tanding futsal. Ini udah selesai babak pertama, udah beres babak kedua aku langsung jemput kamu."


"Iya, gak apa-apa, A. Semangat ya Aa mainnya. Semoga menang." Ucapku. Rasanya ingin melihat Ghiffa bermain futsal.


"Aku pasti menang, Yang. Sambil nunggu, aku udah pesenin makanan buat kamu. Ojek onlinenya bentar lagi nyampe. Kamu makan dulu aja sambil nunggu ya." Kemudian telepon mati.


"Kenapa Ay?" Tanya Belva.


"Bel, kamu buru-buru gak? A Ghiffa agak telat jemput akunya kayaknya. Dia ada tanding futsal dulu." ucapku tidak enak.


"Gak apa-apa kali, nyantei aja. Gue ada jadwal pemotretan sih tapi masih dua jam lagi."


"Bener gak apa-apa? Kamu 'kan biasanya persiapan dulu, ke salon atau apa gitu kalau mau pemotretan?" tanyaku.


Akupun menceritakan semuanya pada Belva. Tanpa ada yang terlewat.


"Wah gue officially tim Ghiffa kalau gitu. Itu baru cowok gentleman, berani sampai nikahin lo di keadaan darurat kayak gitu. Salut banget sama suami kecil lo itu, Na."


"Suami kecil? Apaan sih, Bel." Aku merasa lucu dengan sebutan Belva kepada Ghiffa.


"Iyalah dia masih bocah tapi udah kepikiran buat nikahin lo. Emang sih keadaan yang bikin dia harus ngelakuin itu. Tapi kalau dipikir-pikir dia masih bisa loh nolak. Apalagi bokap lo juga nentang gitu."


"Pada dasarnya A Ghiffa itu emang nekat 'kan orangnya, Bel. Aku seneng, aku bahagia banget, tapi aku juga cemas banget. Karena sampai sekarang orang tuanya dia belum tahu masalah ini."


"Si Ghiffa 'kan udah bilang. Lo fokus dulu aja sama UAS lo, setelah itu baru dia bakal bawa lo ketemu sama bokap-nyokapnya dia. Itu tandanya dia perhatian sama lo. Pengen lo persiapkan hati lo dulu, dan selesain satu per satu masalah lo dulu. Pokoknya pesen gue lo harus tetep semangat, lo harus bahagia, walaupun gue yakin nikahin seorang Alghiffari Airlangga gak akan semudah dan selancar itu. Setelah bokap-nyokapnya tahu kalian pasti bakal dapet banyak masalah. "


Aku sungguh terharu hingga tanpa sadar aku merentangkan tanganku pada Belva, "Makasih ya, Bel. Omongan kamu bikin aku pengen peluk kamu."


Belvapun menyambutku sehingga kami berpelukan dengan posisi duduk berhadapan, "Kalau ada apa-apa lo harus hubungin gue. Gue bakal bantu lo. Okay?"


Aku mengangguk penuh rasa syukur karena memiliki sahabat yang tidak hanya cantik fisiknya, tapi juga hatinya.


Tiba-tiba HPku berdering, sebuah nomor tak dikenal muncul di layarku, aku segera mengangkatnya.


"Halo dengan Mbak Ayana? Saya Ojek online mau mengantarkan makanan. Saya di depan Fakultas Pertanian ini, Mbak." terdengar suara dari sana.


"Oh iya, Pak. Saya di depan, Pak, di bangku taman." Aku segera mengedarkan pandanganku dan menangkap sosok bapak ojek online yang khas dengan jaket berwarna hijaunya. Aku melambaikan tangan padanya. Bapak itu mematikan teleponnya dan berjalan ke arahku dan mengantarkan sekeresek makanan kemudian pergi.


"Wangi banget, Na. Si Ghiffa yang ngirim?" Akupun setuju, makanannya wangi sekali. Segera aku membuka kereseknya dan terdapat dua porsi mie ayam dan dua cup es kuwut Bali di dalamnya.


Aku mengangguk sambil tersipu, "Ini kenapa wangi banget kayak gini, Bel. A Ghiffa pesennya dimana ya ini?" Aku mendekatkan seporsi mie ayam ke arah Belva, "Ayo dimakan, Bel."


"Perhatian banget sih pake beli dua porsi segala. 'kan gue jadi gak bisa nolak." Ujar Belva mulai menuangkan saos dan sambal ke dalam mie ayamnya.


"Iya dong. Suami aku emang perhatian banget." ucapku sumringah.


Belva malah berpura-pura lelah, "Iya..iya.. Yang udah punya suami diem aja deh. Gak usah pamer." Ucapan Belva membuatku terbahak.


Kamipun mulai melahap mie ayam itu.


"Tapi si Ghiffa udah apal banget sama selera lo ya? Lo 'kan suka banget sama makanan Indonesia-an kayak gini."


"Iya dong..." Tiba-tiba teleponku berdering lagi. Ada nomor tak dikenal lagi yang masuk, segera aku mengusap layarku dan menaruhnya di telingaku. "Halo?"


"Dengan Mbak Ayana? Saya mau mengantar makanan mbak." ucap suara di seberang sana.


Aku mengedarkan pandanganku lagi dan melihat seorang pria dengan jaket hijau lainnya disana. Aku melambai dan pria tersebut menghampiriku.


"Gila, si Ghiffa pesenin lo berapa makanan? Banyak banget." ucap Belva saat driver itu berjalan ke arah kami.


Aku hanya bisa menggeleng. Porsi mie ayam ini saja sudah sangat banyak.


"Silahkan, Mbak. Maaf saya foto dulu ya." Ujar driver itu dan menyerahkan sekantong goodie bag bertuliskan restoran sushi terkenal.


"Sushi dong, Na. Eh tapi lo 'kan gak suka sushi?" tanya Belva heran.


"Ini bukan dari A Ghiffa kayaknya," Aku menatap goodie bag itu dengan bingung. Ghiffa tahu bahwa aku tidak suka sushi. Ia bahkan mengatakan tidak akan memesan sushi lagi baik untukku ataupun dirinya, setelah kejadian di apartemen waktu itu.


"Pak ini dari siapa ya?" tanyaku pada driver yang baru saja akan pergi.


Driver itu melihat ke arah layar HPnya dan berkata, "Yang memesan atas nama Alghazali Airlangga, Mbak."


Sontak aku dan Belva saling bertukar pandang.


"Ghaza?" ucapku dan Belva berbarengan.