
Aku dan ibuku berada di ruang makan yang menyatu dengan ruang tamu. Tatapan kami tertuju pada empat pria yang duduk di ruang tamu tersebut, ayahku, Pak RT, Pak Ustad, dan juga Ghiffa.
Tanganku dingin dan berkeringat, gemuruh jantungku tak mau berhenti, nafasku menderu. Di sisiku, Ibuku berdiri memeras pundakku, sama tegangnya denganku.
"Jang Ghiffa.." Ucap Pak Ustad, "Ujang yakin dengan keputusan Ujang untuk menikahi Ayana?"
"Saya yakin, Pak." Sahut Ghiffa tanpa ada keraguan sembari menatap Pak Ustad yang duduk di sebelah kanannya. "Pak Ustad dan yang lain sudah mendengar juga, wali saya, Om Lucas, sudah mengetahui pernikahan ini dan beliau sudah menyerahkan semuanya pada saya. Beliau adalah orang yang bertanggungjawab atas saya sekarang. Karena saya sudah lama tidak tinggal dengan kedua orang tua saya."
Sebelum keempat orang itu duduk saling berhadapan di ruang tamu itu, Ghiffa memang sempat menghubungi Om Lucas. Ia adalah pengelola cafe yang Ghiffa miliki. Entah Ghiffa mengarang atau tidak bahwa Om Lucas adalah walinya, tapi yang jelas aku baru kali ini mendengar tentang Om Lucas. Ghiffa mengatakan kepada semua orang bahwa ia sudah tidak tinggal dengan orang tuanya lagi hingga ia tidak perlu memberitahukan kedua orang tuanya mengenai ini, karena walinya sudah mengetahui hal ini.
Aku tidak tahu apakah boleh seperti ini? Ghiffa memang sudah dianggap dewasa, dia juga sudah memiliki KTP, tapi tetap saja Nyonya Natasha akan sangat murka. Aku benar-benar tidak berani membayangkannya jika beliau mengetahui ini!
Aku juga sudah amat sangat mengetahui Ghiffa adalah orang yang nekat. Tapi aku benar-benar tidak menyangka level kenekatan Ghiffa bisa pada tahap ini.
"Sebentar Ghiffa, Bapak tahu kamu masih berhubungan dengan kedua orang tua kamu. Walaupun kamu sudah tidak tinggal dengan mereka, tapi tetap kamu harus memberitahukan mereka mengenai ini!" Ayahku sepertinya tidak semudah itu menerima pernikahan ini.
Ghiffa menggeleng, "Saya sudah dewasa, Pak. Saya sudah di usia yang legal untuk menikah. Saya tidak membutuhkan persetujuan siapapun untuk apa yang saya lakukan sekarang."
"Tapi tetap saja kamu masih sekolah! Bagaimana bisa saya mengizinkan anak sulung saya menikah sama kamu?!" Ayahku masih begitu menentangnya. Tentu saja. Hanya orang yang berpikiran aneh seperti Ghiffa yang akan menyetujui pernikahan dadakan ini. Kami semua benar-benar seperti sedang berada dalam permainan yang Ghiffa ciptakan.
"Bapak sudah mendengar dari wali saya, saya memiliki penghasilan. Saya pemilik cafe yang sudah memiliki beberapa cabang. Saya berjanji tidak akan membuat Ayana kekurangan sesuatu halpun, Pak. Juga pernikahan ini bukan hanya atas kemauan saya saja, Pak. Tapi warga kampung ini yang ingin kami mempertanggungjawabkan perbuatan kami agar menjadi pelajaran bagi semua untuk ke depannya. Sekarang saya sudah sangat siap, Pak. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab." Ghiffa masih berbicara dengan begitu yakinnya.
"Tapi tetap saja..."
"Pak Ahmad," Pak Ustad mulai memasuki percakapan alot itu, "Ujang Ghiffa teh udah sangat yakin untuk menikah. Usia itu hanya angka. Walinya juga sudah setuju. Ujang Ghiffa ini sudah lebih dari mampu untuk menikah. Apalagi pernikahan ini dilakukan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari. Pak Ahmad sendiri tahu, Neng Ayana sedang menempuh kuliah di Jakarta, daripada Neng Ayana teh di sana tinggal dengan Ujang Ghiffa yang bukan muhrimnya, lebih baik tinggal dengan Jang Ghiffa yang sudah halal untuk Neng Ayana. Itu akan jauh lebih baik. Juga pernikahan ini kita langsungkan secara agama dulu saja. Setelah mereka sudah cukup dewasa baru bisa didaftarkan ke KUA."
Beberapa saat mereka terus berdebat. Ayahku terus bersih kukuh bahwa Ghiffa masih terlalu muda. Disisi lain Ghiffa yang didukung oleh Pak Ustad juga bersih kukuh untuk menikahiku. Ghiffa bahkan mengatakan bahwa selama ini kami tinggal berdua di sebuah apartemen. Walaupun status kami adalah majikan dan ARTnya, tapi menurut Pak Ustad itu tidak dibenarkan. Alangkah jauh lebih baik Ghiffa dan aku ada dalam ikatan pernikahan jika akan tinggal di tempat yang sama lagi, agar tidak mengundang fitnah. Dan yang mengejutkan Ghiffa benar-benar mengatakan bahwa dia menaruh rasa padaku. Dia benar-benar mengatakan bahwa ia mencintaiku di depan semua orang di ruangan ini.
"Ya sudah sekarang saya ingin bertanya pada putri saya dulu. Bagaimanapun ini adalah kehidupan si Neng. Saya sebagai orang tua hanya ingin anak saya teh hidup bahagia dengan pernikahannya. Saya gak mau si Neng nikah dengan terpaksa." ujar Ayahku.
Kemudian orang-orang itu mulai menatap ke arahku, membuatku lebih tegang lagi.
"Neng, Neng gimana mau gak nikah sama Jang Ghiffa? Neng cinta gak sama Jang Ghiffa?" tanya Ayahku.
Sekarang semua keputusan ada di tanganku.
Aku menatap wajah ayahku yang masih begitu tegang. Kemudian tatapanku tertuju pada Ghiffa. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku benar-benar ingin menikahi Ghiffa?
Sorot mata Ghiffa hangat. Semua kejadian yang terjadi selama ini berputar di dalam benakku bak sebuah flashback dalam sebuah film. Mulai dari kami mulai berkenalan melalui chat di instagram, pertemuan pertama di apartemennya, detik demi detik waktu yang kami lalui bersama, hingga beberapa saat lalu aku melihat kesungguhan Ghiffa yang menerimaku apa adanya juga menyayangi seluruh keluargaku.
Dengan penuh kesadaran akupun sudah berjanji untuk menggenggam tangan Ghiffa dan mengatakan tidak akan lagi melepas tangan itu dan tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kami.
"Neng?" Ayahku mulai tidak sabar.
Iya, aku sudah seyakin itu.
Sebuah senyuman kuberikan pada Ghiffa, seraya berkata. "Iya, Pak. Neng mau nikah sama Ghiffa. "
"Alhamdulillah." Seru semua orang di ruangan itu. Para warga juga masih berkerumun berada di luar rumah kami penasaran dengan apa yang terjadi.
"Baiklah kalau begitu, walaupun ini pernikahan dadakan, sebaiknya kedua pengantin tetap menggunakan baju serba putih. Karena pernikahan adalah peristiwa penting dan juga sakral." Usul Pak Ustad.
Kemudian aku dan juga Ghiffa diminta untuk berganti pakaian. Ghiffa menggunakan baju koko berwarna putih milik ayahku. Kemudian aku menggunakan gamis berwarna putih yang aku beli untuk hari raya tahun ini. Aku juga menggunakan hijab putih untuk melengkapi penampilanku.
Aku dan Ghiffa duduk bersama di sofa ruang tamu rumahku. Terlihat Ghiffa begitu tegang sekarang, tidak seperti sebelumnya yang tenang dan sangat yakin dengan yang sedang dilakukannya.
Karena tidak membawa apapun Ghiffa menjadikan motornya sebagai mahar. Sebetulnya ia bisa menggunakan beberapa lembar uang yang ada di dompetnya, namun ia tidak mau. Ia ingin menikahiku dengan sesuatu yang sangat berharga. Maka ia menjadikan motor senilai puluhan juta itu untuk menjadi mahar. Motor yang ia beli tanpa bantuan dari orang tuanya.
Aku dan Ghiffa semakin tegang tatkala tangan Ghiffa berjabatan dengan tangan ayahku. Dalam satu helaan nafas, ia mengucapkan ijab kabul dengan lancar, diikuti dengan ucapan hamdalah oleh semua orang yang menyaksikan pernikahan ini. Ibuku menangis terharu, begitu juga ayahku. Kami sekeluarga tidak menyangka kepulanganku kali ini membawaku masuk ke fase hidup yang tak pernah kami sangka-sangka. Menikah dengan sangat mendadak dan apa adanya tanpa ada kemeriahan.
Sah.
Pak Ustad meminta kami untuk berhadapan. Kami saling menatap beberapa saat. Kemudian aku mencium tangan laki-laki di hadapanku ini, tanda hormatku kepadanya.
Sekarang Alghiffari Airlangga sudah menjadi suamiku.