The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 136: Melandai



Setelah beberapa hari dirawat, Ghiffa akhirnya diizinkan untuk pulang. Sebetulnya ia bersih keras untuk pulang ke rumah kafe kami, tapi Tuan Musa ingin kami pulang ke rumah kediaman Airlangga.


Aku yang merasa berhutang budi, juga merasa simpati pada ayah mertuaku, akhirnya menyetujui untuk pulang ke rumahnya. Aku menyetujuinya setelah aku memastikan tidak akan ada Ghaza di rumah itu. Akhirnya Ghiffa yang tidak bisa menolakku pun setuju untuk pulang ke kediaman Airlangga untuk beberapa hari.


Ayah dan Ibuku yang sudah terlalu lama meninggalkan kebun dan juga kedua adikku, akhirnya juga pamit pulang, tidak ikut undangan Tuan Musa.


Nyonya Natasha, karena masih ingin mendampingi Ghiffa, ia jadi ikut kembali ke rumah yang sudah ia tinggalkan. Tapi ia mengatakan akan segera pulang ke apartemennya setelah mengantar kami ke rumah kediaman Airlangga.


Disinilah kami berempat sekarang, di meja makan, menyantap makan malam kami bersama-sama.


"Sayang sekali kedua orang tua kamu tidak ikut, Ayana." ucap Tuan Musa sedih, setelah cukup lama keheningan yang canggung itu menyelimuti kami. Hanya denting sendok, garpu, dan piring yang terdengar di ruangan luas nan megah itu.


"Iya, Pah. Mohon maaf, Bapak sama Mama harus segera pulang karena sudah terlalu lama Bapak meninggalkan kebun. Tetangga kami yang dititipkan kebun juga masih ada keperluan lain. Juga Anis dan Asha udah terlalu lama ditinggal, jadi Bapak sama Mama harus segera pulang." Terangku penuh sesal.


"Tidak apa-apa, lain kali kita akan buat makan malam seperti ini lagi. Masih banyak kesempatan." ucapnya menghibur.


"Iya, Pah. Makasih banyak karena Papa udah bisa menerima kedua orang tua aku." Akhirnya aku bisa mengutarakan rasa terimakasihku itu.


Aku tahu sangat sulit baginya menerima orang tuaku sebagai besannya. Bahkan sejak awal rasanya mustahil beliau bisa menerima orang tuaku yang hanya seorang petani. Namun ternyata dari kejadian memilukan kemarin, ada juga hal positif yang terjadi.


"Mereka orang-orang yang sangat baik. Saya sangat senang bisa berbesanan dengan mereka." ucap ayah mertuaku dengan tulus.


Aku hanya bisa tersenyum dengan penuh rasa syukur padanya.


Keadaan kembali hening. Baik Nyonya Natasha ataupun Ghiffa tidak ada yang membuka suara, mereka sibuk dengan makanannya masing-masing. Nyonya Natasha yang biasanya selalu bisa menjaga suasana agar tetap kondusif, kali ini terlihat lebih acuh.


"Sebenarnya ada yang ingin Papa sampaikan pada kalian semua." ujar Tuan Musa kemudian.


Ghiffa menoleh ke arah sang Ayah tidak tertarik. Nyonya Natasha juga hanya diam saja. Akhirnya aku yang menyahut, "Apa yang mau disampaikan, Pah?"


"Sebelumnya Papa ingin meminta maaf kepada kalian semua atas perlakuan Ghaza. Papa tidak meminta maaf atas nama Ghaza, tapi Papa meminta maaf karena Papa sadar apa yang sudah dilakukannya, merupakan buah dari cara Papa memperlakukannya selama ini. Gara-gara Papa, Ghaza tumbuh menjadi pribadi yang egois. Rasa bencinya pada Ghiffa tak pernah surut sejak kalian masih kecil. Dan Papa telah salah karena membiarkannya terus seperti itu." Ayah mertuaku menatap ke arah Ghiffa yang duduk di samping kanannya, "Maafkan Papa, Nak. Papa sudah membuat kamu hidup menderita selama ini."


Ghiffa menoleh ke arah sang ayah dan kemudian terlihat tidak nyaman, "Apaan sih, Pah. Ini Kayak bukan Papa. Udah biasa aja ke aku jangan kayak gini. Aku udah bisa nerima kok sikap Papa yang cuek dan gak pernah nganggep aku. Aku malah jadi ngerasa terganggu dengan sikap Papa yang jadi kayak gini. Pake ngundang makan malam segala lagi."


Kata-kata Ghiffa terdengar begitu cuek, tapi aku tahu di dalam hati Ghiffa, ia merasa tersentuh. Walaupun mungkin tidak semudah itu Ghiffa bisa langsung memaafkan sang ayah. Karena hubungan mereka yang tak pernah baik sebelumnya, membuatnya begitu canggung untuk menerima permintaan maaf yang tulus itu.


"Iya, Papa tahu. Gak akan mudah buat kamu maafin Papa. Papa sadar itu. Papa juga gak minta kamu memaafkan Papa sekarang, Papa tahu itu sulit buat kamu setelah apa yang Papa lakukan selama ini. Papa berjanji akan memperlakukan kamu lebih baik mulai sekarang."


Ghiffa tidak membalas lagi, ia terus sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya.


Ayah mertuaku menoleh ke arah samping kirinya, "Natasha, Saya juga meminta maaf pada kamu."


Ibu mertuaku meminum air putihnya dan mennyeka mulutnya dengan napkin yang ada di pangkuannya, "Saya juga meminta maaf atas segala kekurangan saya selama ini dalam melayani segala kebutuhan anda. Saya sudah selesai makan malam. Saya akan pulang sekarang."


"Natasha..."


Lalu beliau menghadap ke arah Ayah mertuaku, "Terimakasih atas makan malamnya. Saya pamit." ucap ibu mertuanya dengan formal seraya membungkuk hormat, persis seperti bawahan kepada atasannya.


"Natasha, saya mohon..." Ayah mertuaku meraih tangan ibu mertuaku.


Segera beliau menghindar, "Sampai bertemu di persidangan, Pak." Kemudian ia melenggang pergi.


Ayah mertuaku menatap sendu kepergian sang istri seraya menghela nafasnya.


"Udah lepasin aja Mama. Salah Papa sendiri kenapa selama ini sia-siain Mama." komentar Ghiffa.


"Iya, kamu benar. Papa memang salah." Ujar Ayah mertuaku lesu.


"Aneh banget liat Papa kayak gini." dengus Ghiffa sambil menggelengkan kepalanya.


"Semangat, Pah." ucapku, membuat Ghiffa dan ayah mertuaku menoleh ke arahku, "Setiap orang itu berhak atas kesempatan kedua. Kalau Papa memang ingin berubah dan Papa masih sayang pada Mama, Papa harus berusaha mempertahankan Mama."


"Yang! Susah-susah Mama punya keberanian itu, kamu jangan ngomporin Papa buat dapetin Mama lagi. Nanti yang ada Mama malah disiksa lagi sama Papa, " ujar Ghiffa dengan lugasnya.


"Tidak, Ghiffa. Papa sungguh-sungguh sudah menyadari kesalahan Papa. Papa mencintai Mama kamu. Hanya ego Papa menutupi semua itu." Ayah mertuaku menatap ke arahku, "Terimakasih untuk semangatnya, Nak. Itu sangat bermakna untuk Papa." ucapnya dengan senyum tulus di wajah tampannya yang sudah dihiasi keriput halus.


"Sama-sama, Pah." sahutku.


"Aku mau nanya sekarang." Ghiffa sudah menyelesaikan makanannya, "Dimana Ghaza?"


Begitu nama Ghaza disebut, seketika suasana menjadi sangat tegang.


"Kenapa? Kamu mau membalas perbuatannya?" Tanya ayah mertuaku tenang.


"Iya. Kali ini aku gak akan diem. Aku bakal hancurin dia. Dan aku minta, Papa gak usah lindungin dia lagi." tegas Ghiffa.


"Cukup, Ghiffa. Papa tidak ingin masalah ini semakin besar. Bahkan setelah klarifikasi yang Reno berikan waktu itu, orang-orang tidak sepenuhnya percaya. Kita jangan menambah situasi menjadi kembali sulit untuk kita semua. Biar Papa yang menyelesaikan semuanya."


"Terus aku harus percaya sama Papa? Gimana coba cara Papa menyelesaikan semuanya?" tantang Ghiffa. Ia terlihat sudah jengah dengan semua sikap sang Ayah hingga tidak semudah ia percaya bahwa Ghaza benar-benar akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya.


Ayah mertuaku mendeham. Ia meminum seteguk air putih, kemudian ia menatap kembali pada Ghiffa, "Ghaza berada di Amerika sekarang. Ia tidak akan kembali dalam waktu dekat."


"Maksud Papa?"


"Papa akan menghapus posisi wakil presiden direktur. Tidak akan ada lagi posisi itu sekarang. Dia akan Papa tugaskan untuk menjadi kepala cabang pada cabang Melcia di Amerika. Papa tidak akan mengizinkannya kembali sebelum pembangunan dan beberapa projek yang sudah disepakati selesai dikerjakan."


"Berapa lama?" Tanya Ghiffa.


"5 Tahun paling cepat. Papa tidak akan mengizinkannya menginjakkan kaki di Indonesia selama 5 tahun."