The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 85: Pulang Nanti



Malam harinya kami tertidur. Pulas sekali. Syukurlah karena aku membutuhkan energiku untuk mengerjakan soal UAS keesokan harinya. Untung saja Ghiffa juga sepertinya kelelahan karena dia bolak-balik menyetir mobilnya dari Jakarta ke Lembang. Hingga akupun bisa terbangun dini hari seperti biasa dengan badan yang jauh lebih segar.


Aku menengok ke sebelah kananku Ghiffa masih disana tertidur pulas, aku menyelimutinya hingga ke dadanya. Lalu perlahan aku mencoba untuk berdiri dan menapakkan kakiku yang digips dan mencoba melangkah. Syukurlah sudah tidak terasa sakit. Akupun perlahan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut, mulai membersihkan tubuhku.


Waktu mandiku jadi lebih lama dari biasanya. Karena aku harus menyangga kakiku terlebih dahulu agar tidak terkena air. Repot sekali. Setelah beberapa saat aku sudah selesai mandi dan mencuci rambutku. Aku membungkus tubuhku dengan handuk dan keluar dari kamar mandi. Handuk kecil aku gunakan untuk mengusak rambutku yang basah.


Ku lihat Ghiffa mulai bergerak dan matanya terbuka.


"Aa udah bangun?" Ucapku seraya berjalan ke arah lemari. Kemarin baju-bajuku memang sudah aku bereskan ke dalam lemari.


Ghiffa sontak terduduk, "Yang, kaki kamu gak apa-apa?"


"Udah gak sakit kok. Barusan dicoba jalan udah gak apa-apa."


"Tapi pelan-pelan ah. Kenapa sih kamu gak bangunin aku?" Protesnya.


"Gak apa-apa, A. Kasian Aanya cape. Lagian ini masih jam 4 kok."


Tanganku meraih bagian handuk yang aku selipkan di dadaku. Sedetik kemudian aku mengurungkan niatku. Aku lupa kalau sekarang aku tidak lagi tinggal di sendiri, tapi ada Ghiffa. Akhirnya kubawa pakaianku menuju kamar mandi.


"Loh, kok, masuk kamar mandi lagi?" tanya Ghiffa heran.


Ghiffa berjalan ke arahku dan menggendongku ke tepi tempat tidur.


"Aa mau ngapain?!" Teriakku kaget.


"Kamu mau ganti baju? Kenapa gak disini aja?" Ghiffa duduk di tepi tempat tidur dan meraih satu setel pakaian yang aku peluk di dadaku.


"Malu, A..." cicitku.


"Malu kenapa? 'kan kemarin juga aku udah liat tubuh kamu. Mau aku pakein bajunya?" Ghiffa menarik pinggangku mendekat padanya hingga wajahnya kini sejajar tingginya dengan dadaku.


Aku menggeleng cepat.


"Tapi aku pengen bantu kamu ganti baju." Sorot matanya berubah. Sorot mata seakan ingin melahapku. Seketika tubuhku menegang.


Apa sekarang Ghiffa akan menyentuhku lagi?


Ghiffa melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, "A, masa sekarang?" Seketika tubuh polosku kembali terpampang di hadapannya.


"Emang kenapa?"


Tanpa berlama-lama Ghiffa meraih salah satu puncak bukit kembarku dengan mulutnya. Sedangkan tangannya yang lain bermain di bukit lainnya. Lidahnya kembali bermain disana dan sesekali hisapan kecil aku rasakan di puncakku sehingga sensasi nikmat itu menguasaiku lagi.


Setelah puas melahap kedua puncakku, Ghiffa melepas seluruh pakaiannya dan membimbingku untuk duduk di pangkuannya.


"Sekarang kamu yang gerak."


"Gi-gimana caranya?" Saking sudah tidak bisa fokus, aku berbicara terbata.


Ghiffa membimbingku sampai dirinya bisa menembusku lagi. Sekarang tak ada rasa sakit seperti kemarin, ada sedikit perih namun tidak kentara.


Perlahan Ghiffa membantuku untuk bisa bergerak di atasnya. Hingga nalurikupun membuat tubuhku bergerak dengan sendirinya dan aku bisa menguasai permainan. Kutautkan bibirku pada bibir Ghiffa dengan intens, menyalurkan h*srat yang ke kembali membuncah.


Tubuhku yang asalnya terasa segar dan dingin, kini mulai panas dan peluh mulai bercucuran. Hingga Ghiffa tiba-tiba memelukku erat, bersamaan dengan aku yang juga mencengkram pundaknya. Kami mencapai pelepasan itu bersama-sama.


Nafas kami menderu, ku tatap wajah tampan suamiku yang kini berada lebih rendah dari wajahku dan mengecup lembut bibirnya, sebagai penuh dari penyatuan kami dini hari itu.


"Aku sayang Aa.." lirihku.


"Love you too, Baby." sahut Ghiffa. Kembali aku berikan kecupan pada bibirnya.


Setelah itu aku terpaksa mandi lagi. Kami bahkan mandi bersama, dan melakukan penyatuan lagi. Sungguh tubuhku lemas sekali setelahnya.


Aku sudah berada di ruang tengah sekarang. Sarapan sudah tersedia, diantarkan oleh pelayan cafe. Aku mulai menyantap nasi goreng disana. Kemudian Ghiffa bergabung denganku. Ia sudah menggunakan seragam sekolahnya.


"Sarapan dulu, A." ucapku seraya mendekatkan sepiring nasi goreng untuk Ghiffa.


Bukannya melahap nasi gorengnya, ia malah melingkarkan tangannya di pinggangku dan mengendus leherku, "Aku sarapannya kamu aja."


"Aa, aku ada UAS ini dua jam lagi." Aku mendorong Ghiffa agar menjauh dariku.


"Gak apa-apa, sekali lagi aja ya." Ghiffa meraih kancing blouse yang aku kenakan dan jarinya siap untuk membukanya.


Ghiffa memajukan bibirnya. "Ya udah deh. Nanti udah UAS langsung pulang ya. Aku jemput."


"Aku cuma sampai siang loh. Aa 'kan sekolah sampai sore?" tanyaku.


"Aku udah bebas, Yang. Ke sekolah paling cuma buat melengkapi tugas-tugas yang belum. Sama ada class meeting aja. Siang aku keluar juga gak apa-apa.


Aku sempat lupa Ghiffa ini siapa. Setahuku walaupun sudah bebas, siswa tetap harus pulang sesuai jadwal. Tapi untuk Ghiffa, jika ia ingin pulang, maka dia akan pulang tanpa perlu minta izin pada siapapun.


"Bener gak apa-apa? Tapi Aa harus minta izin yang bener dulu sama gurunya Aa. Yang sopan, jangan sambil marah-marah." tegurku.


"Iya, Yang. Gak percaya banget sama aku. Aku udah lebih baik sekarang. Bu Listia aja muji aku sekarang aku udah banyak berubah. Nilai UAS aku kemarin juga bagus-bagus, loh."


"Serius?" tanyaku tak percaya.


Ghiffa mengeluarkan HPnya dan memperlihatkan padaku nilai-nilai UASnya. Aku tersentak kaget karena nilai yang paling kecilnya adalah 87. Sisanya 90an bahkan ada yang 100.


"Ini Aa bener ngerjain sendiri?" tanyaku.


"Iya dong. Gak bisa nyontek tahu. Orang aplikasi buat ujiannya kalau kita keluar dari aplikasi itu, kita bakal langsung keluar dan gak bisa masuk lagi. Aku bener-bener ngerjain itu dengan kemampuan aku sendiri, Yang."


"Pinter banget suami aku." Tanpa sadar aku mengusak gemas rambut Ghiffa.


Ghiffa tersenyum penuh bangga melihat aku begitu mengapresiasi dirinya. "Makanya nanti kalau udah pulang cepet telepon, aku bakal langsung meluncur jemput kamu terus kita pulang."


Saat mengatakan kata pulang, Ghiffa katakan dengan nada yang penuh arti, membuat wajahku kembali merona.


"Iya, nanti aku telepon Aa kalau udah selesai." Ucapku segera.


Senyum merekah di wajah tampannya. Ia pun mengecup puncak kepalaku, "Ya udah sarapan yang banyak. Hari ini masih banyak ronde yang harus dilalui. Staminanya siapin ya, Yang."


Tanpa sadar aku bergidik. Pagi hari saja sudah dua ronde. Hingga malam nanti akan berapa ronde lagi? Apa tubuhku akan kuat mengimbanginya?


H*srat Ghiffa memang menyeramkan.


Setelah menyelesaikan sarapan, Ghiffa mengantarku ke kampus. Sesaat kemudian ia menghentikan mobilnya di parkiran depan lobi fakultas. Ia keluar dari kursi kemudi dan membawa tongkatku. Walaupun kakiku sudah membaik tapi aku tidak boleh memaksakannya terus berjalan, khawatir malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


"Digendong aja ya?" Ujar Ghiffa, sepertinya ia gemas memapahku menuju lobi.


"Nggak, A. Gak mau!" Tegasku. "Awas loh kalau tiba-tiba gendong. Aku bakal minta Belva nyulik aku pas pulang UAS nanti."


"Bisa banget sekarang ngancemnya." Dumelnya.


"Cieee... dua sejoli udah kembali bersama nih." Suara ceria itu datang dari arah belakang kami.


Belva berjalan mendekat padaku dan memelukku.


"Kangen banget aku sama si cantik!" Aku mendekap erat sahabatku itu.


"Gue juga kangen banget sama sahabat gue yang paling imut ini." Belva memelukku tak kalah erat. "Gimana kaki lo?" tanyanya ketika melepaskan pelukan kami.


"Udah baikan. Seminggu lagi kalau gak ada masalah bisa dibuka gipsnya." Ujarku.


"Sayang, HP kamu ketinggalan." Tiba-tiba saja seorang laki-laki berjas menghampiri Belva. Laki-laki itu adalah Jonathan.


"Eh? Ya ampun, makasih sayang." Belva terlihat terkejut karena HPnya hampir saja tertinggal.


Jonathan menatapku dan tidak sengaja bersih tatap dengan Ghiffa, wajahnya seketika menegang, "Selamat Pagi, Tuan Ghiffa." Sapanya dengan sopan. Lalu ia menyapaku, "Hai, Ayana."


Aku membalasnya dengan senyuman sopan. Namun Ghiffa menatapnya dengan dingin.


"A..." tegurku. Aku tidak enak pada Belva jika Ghiffa bersikap tidak sopan pada pacarnya.


Ghiffa menyadari ketidaknyaman suasana itu, "Pagi juga." ujarnya singkat. Beberapa saat suasana sedikit canggung.


"Ya-ya udah, A. Anter akunya sampai sini aja. Aa cepet ke sekolah nanti telat lagi." Segera aku mengakhiri situasi canggung itu. Aku tahu kini hubungan buruk Ghiffa tidak hanya terjadi dengan kakaknya, tapi juga dengan Jonathan.


Ghiffa mengangguk, "Semangat ya UASnya. Telepon kalau udah nanti aku jemput." Akupun mengangguk padanya, senyum tipis merekah di wajahnya seraya mengelus rambutku sejenak.


Lalu tatapan Ghiffa tertuju pada Belva, "Bel gue titip istri gue, ya. Kalau ada apa-apa hubungin gue."