
Setelah keluar dari lift, Aku dan Belva berjalan menuju ballroom. Di depan pintu Ballroom yang tertutup Jonathan ada disana, mondar-mandir seperti sedang menunggu kehadiran seseorang. Saat melihat kami, wajahnya berubah lega dan ia menghampiri kami.
"Kalian dari..." Jonathan tidak melanjutkan kalimatnya dan tertegun menatap Belva dan aku secara bergantian. Lalu ia bergumam, "Ayana?" tanyanya tidak yakin.
"Iya. Apa kabar Mas Jo?" sapaku ramah.
"Kamu pangling sekali." ujarnya, aku hanya tersenyum mendengarnya memujiku. Lalu tatapannya tertuju pada Belva. "Sayang kamu..."
"Sayang?! Yang gue tahu kita udah putus ya!" ujar Belva galak.
Jonathan terlihat kecewa, "Ah? Oh iya, maaf."
Pintu Ballroom terbuka dan Ghaza dengan tuxedo putihnya keluar dari sana. Wajahnya terlihat kesal sekali tapi saat melihatku, wajah kesalnya menghilang begitu saja. Ia begitu tercengang dan manatapku dari bawah lalu ke atas.
"Ayana?" tanya Ghaza dengan nada sedikit ragu.
Aku hanya menatapnya tidak tertarik. "Maaf agak telat." ucapku dengan nada yang tidak ramah.
"Gak apa-apa." ia tersenyum sambil menjilat bibir bawahnya. Terlihat sekali ia salah tingkah. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya padaku, "Kamu cantik sekali. Apa ini semua dari butik yang saya reservasikan untuk kamu?"
Aku sedikit mengerutkan dahi. Apa maksudnya? Apa dia ingin tersebut namanya karena sudah bisa menjadi sponsorku untuk berpakaian semewah ini?
"Iya, saya bisa berpenampilan semewah ini berkat anda, terimakasih." ucapku dengan sarkas.
"Kamu tidak perlu seformal itu." ucapnya dengan angkuh. Ia meraih tanganku dan melingkarkannya pada lengannya.
"Pak saya akan ke dalam, memberitahukan bahwa anda sudah siap." ujar Jonathan seraya membawa Belva masuk ke dalam lebih dulu, meninggalkan kami berdua.
Belva mengangguk padaku, memberi semangat. Dibalas olehku dengan anggukan yang sama.
"Jadi kamu sudah memikirkan tawaran saya waktu itu?" tanya Ghaza saat Jonathan dan Belva sudah masuk ke dalam ruangan.
"Tawaran apa?" tanyaku ketus.
"Hal yang kita obrolkan di telepon? Dengan penampilan kamu, juga kedatangan kamu kesini, saya harap itu adalah jawaban kamu. Saya simpulkan kamu sudah lebih memilih saya dibanding Ghiffa. Pilihan yang tepat, Ayana. Kamu akan lebih berbahagia bersama saya. Lihat saja sekarang kamu bisa berdandan seelegan dan secantik ini karena saya."
Percaya diri sekali sih dia? Aku benar-benar tidak berminat untuk menjawabnya. Silahkan kamu berkhayal dan berbicara semau kamu! Nikmati saja itu! Sebelum aku akan menghancurkan ulang tahun kamu sekarang!
Sayangnya, hanya kuucapkan dalam hati kata-kata itu.
"Kita masuk sekarang. Kamu akan temani saya selama acara berlangsung. Jadi tersenyumlah saat saya bertemu dengan sahabat dan kolega saya. Kamu bisa 'kan?" Ia menyentuh tanganku yang sudah tertaut di lengannya.
"Iya..iya.. Gak usah pegang ya!" Aku segera menyingkirkan tangan Ghaza.
Ghaza bukannya kesal, malah tersenyum gemas padaku. "Kamu jutek seperti ini malah membuat saya sangat gemas."
Aku menahan rasa jengkelku dan tetap melingkarkan tanganku di lengannya. Tahan Ayana, hanya sebentar saja kamu harus membiarkan Ghaza berbahagia sebelum ia akan sangat murka padaku sebentar lagi.
Pintu Ballroom terbuka sepenuhnya. Aku merasa gugup sekali. Rasanya oksigen menghilang di sekitarku seiring dengan kamera yang menyorot ke arah kami juga tatapan orang-orang yang seraya bertepuk tangan pada kami, benar-benar membuatku merasa sangat sesak. Lampu flash dari kamera milik beberapa wartawan yang secara ekslusif diundang untuk mempublikasikan acara ini, membuat mataku silau dan sedikit kesulitan untuk menatap ke arah para tamu.
"Senyum." Bisik Ghaza.
Aku segera memfokuskan pikiranku, mengumpulkan keberanianku dan juga percaya diriku. Segera Ghaza membawaku masuk. Akupun mulai mengembangkan senyum kepada orang-orang yang menatapku. Beberapa orang menghampiri kami dan memberikan ucapan selamat. Terkadang Ghaza melepaskan tanganku untuk memeluk beberapa sahabatnya yang ingin memberikan selamat padanya. Akupun dengan sabar mendampinginya.
Beberapa saat kemudian kami sudah hampir berada di meja paling depan, di sisi sebelah kiri panggung.
Dengan tanganku yang masih tertaut di lengannya, Ghaza menghampiri Tuan Musa, Nyonya Natasha, dan juga Ghiffa di meja itu. Tatapanku dan Ghiffa bertemu. Wajahnya memerah, terlihat sekali ia sedang sangat marah.
'A, jangan marah ya. Tunggu sebentar lagi.' ucapku dalam hati.
Seketika tanpa sadar aku mengabaikan ekspresi marah Ghiffa. Ketampanannya mengalihkan semuanya. Ia begitu mempesona dengan balutan tuxedo serba hitam itu, membuat jantungku bergemuruh tak karuan. Mengapa Ghiffa selalu mampu membuatku terpesona lagi dan lagi saat aku melihatnya?
Baiklah, sudah cukup aku terpesona pada suamiku. Kini perhatianku tertuju pada dua orang paruh baya juga seorang gadis yang aku kenal, Olivia. Sepertinya kedua orang itu adalah ayah dan ibu dari Olivia. Akupun tersenyum ramah pada mereka. Untung saja aku sempat berlatih bersikap anggun saat di butik bersama Belva tadi. Namun wanita yang sepertinya ibu dari Olivia, terlihat tidak ramah saat melihatku.
Baiklah, kita mulai pertunjukannya.
***
Ghiffa's point of view
Sebelum Ghaza membuka mulutnya untuk memperkenalkan Ayana, gadis itu mendahuluinya, "Mah, Pah, maaf ya aku datengnya agak telat." ucapnya berbicara dengan akrab pada Tuan Musa dan Nyonya Natasha.
Ghiffa tercengang. Ayana, istrinya yang lugu dan polos itu berani berbicara seakrab itu dengan orang tuanya. Terlebih Ayana menyapanya dengan sebutan Mah dan Pah.
"Tidak apa-apa yang penting kamu sudah datang." Ucap sang ayah ramah.
Ghiffa semakin bingung. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa sang ayah menimpali Ayana?
Berbeda dengan Musa yang berupaya bersikap ramah agar citranya terjaga, Natasha justru terlihat sangat syok. Sepertinya ia mulai menyadari bahwa perempuan yang tangannya masih melingkar di tangan Ghaza itu adalah Ayana.
Ayana mengulurkan tangannya pada Musa dan mencium tangannya penuh hormat. Lalu ia berpindah pada Natasha, mencium tangannya lalu menempelkan pipinya pada pipi kanan dan pipi kiri Natasha, mereka terlihat seperti sudah sangat akrab.
Kemudian Ayana menghampiri Ghiffa. Gadis itu tersenyum manis seraya menarik tengkuk Ghiffa, memeluknya, dan mencium pipinya sekilas. Ekspresi syok Ghiffa semakin bertambah syok setelah mendapatkan perlakuan Ayana yang begitu berani, mencium pipinya di depan kedua orang tuanya dan juga Ghaza.
Jangan tanya ekspresi dari Ghaza, wajahnya menyiratkan sekali bahwa dia begitu terkejut juga kebingungan.
Ayana beralih pada Olivia, "Liv, apa kabar?" tanyanya ramah.
"Ayana?" tanya Olivia sedikit tidak yakin. "Baik. Kamu disini juga?"
"Iya, hari ini aku jadi kencannya Mas Ghaza. Kasian dia ulang tahun gak ada temen kencannya." Ucap Ayana penuh canda. Ia melirik Ghaza sekilas dengan senyum jahil, membuat Ghaza tanpa sadar mengerutkan dahinya lalu tersenyum canggung.
Olivia tertawa menanggapi candaan Ayana, "Eh kenalin ini mama sama papaku."
"Selamat malam, Om, Tante." Ucap Ayana ramah.
Ekspresi Diana berubah ramah sekarang tidak seperti sebelumnya, "Malam juga. Kamu cantik sekali."
"Terimakasih, Tante. Tante juga cantik sekali, kayaknya orang-orang gak akan nyangka kalau tante punya anak seusia Oliv." puji Ayana, sikap Ayana kembali membuat Ghiffa tertegun. Langsung saja wanita paruh baya itu tertawa senang mendengar pujian dari Ayana itu.
"Kamu ini bisa aja. Jadi kamu bukan pacarnya Ghaza?" tanya Diana.
Saat Ayana akan menjawab, pembawa acara mulai membuka acara.
"Tante nanti kita bisa mengobrol lagi. Senang ketemu sama Tante." ucap Ayana sumringah.
"Sama-sama, Ayana. Nanti kita ngobrol ya seudah acara." Sepertinya Diana begitu penasaran padanya sekarang.
Semua mulai duduk di kursinya masing-masing, termasuk Ayana. Ia duduk di kursi diantara Ghiffa dan juga Ghaza. Wajah Natasha, Musa, Ghaza, dan Ghiffa masih sedikit syok. Terutama Ghiffa, ia tak pernah melepaskan tatapannya dari Ayana.
Wajahnya seakan bertanya 'ada apa ini? kamu lagi ngapain sih? Cepet kasih tahu aku!', namun sekali lagi, ia menegur dirinya sendiri bahwa Ayana sedang menjalankan misi mereka, membuat Ghiffa telan kembali rasa penasaran yang sudah sangat membuncah itu.
Tatapan syok, Ayana terima juga dari Ghaza. Ia terus menatap Ayana dengan sedikit kesal. Ia tersulut emosi mendengar Ayana mengatakan kasihan padanya karena tidak memiliki teman kencan. Namun Ayana seakan tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Ghaza. Perhatiannya terus tertuju pada pembawa acara di atas panggung.
Kami mendengarkan pembawa acara membuka acara dan kemudian mempersilahkan Musa untuk memberikan sambutan. Musa naik ke atas panggung dan mengucapkan sepatah dua patah kata untuk putra kesayangannya yang hari ini berulang tahun yang ke-28.
Setelah itu acara puncakpun tiba.
Sebuah kue ulang tahun yang didesain sangat mewah sudah disiapkan di atas panggung. Ghaza segera bangkit dari duduknya begitu pembawa acara mempersilahkannya. Ia mengulurkan tangan pada Ayana dan mereka pun berjalan menuju panggung.
Ghiffa mencoba mengendalikan rasa cemburunya melihat Ayana yang kembali tersenyum ramah dan begitu akrab pada sang kakak. Ia terus memperingatkan dirinya bahwa Ayana sedang menjalankan sebuah misi. Walaupun ia tidak tahu sedikitpun mengenai rencana Ayana, ia harus mempercayai sang istri. Sikap manisnya terhadap Ghaza hanyalah bagian dari sandiwaranya saja.