
Ghiffa's point of view
Perlahan Ghiffa membuka matanya. Ia meraih tengkuknya yang terasa sakit.
"Tuan Ghiffa, anda sudah sadar?" sebuah suara dari seorang pria berkacamata terdengar. Ia duduk di hadapan Ghiffa.
"Jo? Ini di..." Ghiffa melihat ke sebuah jendela kecil disampingnya yang menampilkan gumpalan awan. "Gue di pesawat?!"
Ghiffa melihat ke sekeliling dan melihat beberapa kursi penumpang. Iya akhirnya menyadari bahwa ia sedang berada di pesawat jet milik sang ayah yang dulu sering ia gunakan untuk pergi ke berbagai negera.
"Benar, Tuan. Anda sedang menuju ke Toronto." jawab Jonathan.
"Toronto?! Gak bisa! Gue harus balik ke Bali! Aya dibawa sama Ghaza!!" Saat hendak berdiri dari kursi, Ghiffa baru menyadari bahwa tangan dan tubuhnya diikat. "Jo, lo nyari gara-gara?! Lepasin gue!!"
"Maaf, tidak bisa, Tuan. Saya hanya menjalankan tugas." Jonathan terlihat menyesal sekali.
Ghiffa terus saja meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan itu namun sia-sia. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. "AYAAA!!" teriaknya frustasi.
"Anda juga harus melihat ini." Jonathan mengarahkan tab yang sedang dipegangnya pada Ghiffa.
Sebuah berita di akun youtube sebuah akun berita terkenal memberitakan: Alghiffari Airlangga, Putra kedua dari Musa Airlangga menggugat cerai sang istri tepat setelah jamuan pernikahan.
Begitu bunyi headline berita itu. "OMONG KOSONG APA INI, JO?!" Ghiffa tak bisa lagi menahan kemarahannya. Videopun diputar oleh Jonathan.
Berita yang masih hangat mengenai pernikahan dini yang dilakukan oleh Putra kedua pengusaha Musa Airlangga dan Ayana Pitaloka, kini kembali menjadi perbincangan setelah dengan alasan yang belum diketahui, Alghiffari memutuskan untuk bercerai. Alghiffari menceraikan Ayana Pitaloka tepat setelah jamuan pernikahan yang diadakan oleh Keluarga Airlangga kemarin di Hotel J.
Setelah dikonfirmasi ke sekolah dimana dirinya menimba ilmu, Alghiffari mengajukan izin selama seminggu untuk tidak mengikuti kegiatan belajar. Menurut salah satu sumber, Alghiffari pergi meninggalkan Indonesia setelah ia menceraikan Ayana secara sepihak.
Pagi tadi juru bicara dari keluarga Airlangga membenarkan hal tersebut, "Betul. Tuan Ghiffa ke luar negeri, kami tidak bisa mengatakan negara mana yang dituju olehnya. Untuk Mbak Ayana sendiri sekarang berada di villa Keluarga Airlangga di Bali. Dia masih sangat syok karena tiba-tiba saja tanpa alasan yang jelas, dia diceraikan oleh Tuan Ghiffa."
Seorang wartawan menanyakan, "Apakah Alghazali yang membawa Ayana ke Bali?"
"Iya. Pak Ghaza merasa bertanggung jawab atas keputusan adiknya. Bagaimanapun beliau yang memberikan izin kepada Alghiffari untuk menikahi Ayana. Sekarang Ayana sedang menenangkan pikirannya disana."
Wartawan lainnya bertanya, "Kira-kira apa alasan dari Alghiffari menceraikan Ayana. Pak?"
"Maaf kami tidak bisa memberikan informasi terkait itu. Hanya Tuan Ghiffa sendiri yang bisa menjawabnya."
Ghiffa tak bisa berkata-kata. Kemarahannya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa Ghaza melakukan hal sampai sejauh ini?!
Ghiffa semakin tak terkendali. Ikatan yang tadinya begitu kuat mengikat tubuhnya kini perlahan semakin longgar. Hingga Jonathan meminta seorang pria untuk membekap mulutnya dan membiusnya. Seketika Ghiffapun kehilangan kesadarannya.
Beberapa jam kemudian Ghiffa sudah berada di sebuah kamar. Ia terbaring di sebuah tempat tidur. Tubuhnya sudah tidak lagi diikat. Sesaat kemudian ia sadar. Ia kembali histeris, ia mencoba membuka paksa pintu kamar.
Ia pecahkan dan lembarkan semua benda yang ada di ruangan itu. Kepalan tangannya ia hantamkan pada pintu namun tak terjadi apapun pada pintu itu, malah tangannya yang kini terluka dan mulai mengalirkan darah.
"AYAAAA!!" teriaknya berulang kali. Sesak sekali hatinya karena kini Ayana sudah tak lagi ada di sampingnya. Perlahan tubuhnya merosot di balik pintu.
Ia terus menangis, terisak, kesal karena tak ada yang bisa dilakukannya.
"Sampe kapan..." Ghiffa terisak, "Sampe kapan gue harus nerima perlakuan menjijikan dari Ghaza!! Kenapa Aya juga harus dia ambil dari gue!!"
Ghiffa murka, frustasi, bahkan depresi.
Kini ia kembali menyadari, Ghaza bisa melakukan apapun. Ghaza bisa mendapatkan apapun yang dia mau dengan kuasa yang dimilikinya. Kini ia kembali menyesali dirinya yang bukan siapa-siapa dibandingkan Ghaza. Ia tak bisa melakukan apapun lagi.
Tak pernah Ghiffa merasa sangat tidak berdaya seperti ini sebelumnya.
Bahkan restu yang diberikan oleh sang ayah, kini tidak berarti apa-apa lagi sekarang. Jika berita perceraiannya sudah menyebar, itu pasti sudah melalui ACC dari sang Ayah. Selama tidak merugikan dirinya dan Ghaza, selama nama baik keluarga Airlangga baik-baik saja, Ayahnya tidak akan peduli jika Ghiffa hancur seperti ini.
Ayana.
Gadis itu terus terbayang dalam benak Ghiffa. Istri mungil yang sangat dicintainya. Ia hanya bisa menangisinya sekarang. Dalam sekejap mereka terpisah ribuan kilo meter jauhnya. Berulang kali ia meminta maaf pada Ayana karena menjadi laki-laki yang lemah, yang tidak memiliki kuasa untuk menjaganya.
Juga seketika ia begitu menyesal karena telah membawa Ayana ke Bali. Jika mereka tidak pergi, mereka masih akan berada di rumah lantai dua mereka, menghabiskan waktu bersama, dan bukannya terpisah seperti ini.
Kali ini hati Ghiffa terluka sangat dalam. Ini adalah luka terdalam yang pernah Ghaza torehkan padanya. Hatinya semakin terluka tatkala menyadari bahwa kini ia tidak akan bisa melakukan apapun lagi untuk bisa kembali.
Dua minggu berlalu. Keadaan Ghiffa semakin kacau. Ia sudah tidak makan berhari-hari. Makanan yang disediakan untuknya selalu ia lemparkan hingga berserakan di lantai. Tenaganya sudah habis terkuras sehingga beberapa hari yang lalu ia harus menerima nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya melalui selang infus. Kini ia hanya tergolek lemah di atas tempat tidur dengan selang infus di tangannya.
Dalam pikirannya hanya ada Ayana. Sepanjang siang dan malam hanya Ayana yang dipikirkannya.
Tiba-tiba TV yang menempel di salah satu dinding itu menyala. Sebuah video muncul. Terlihat wajah sang kakak yang sangat Ghiffa benci terpampang jelas disana, ia sedang mengadakan konferensi pers.
"Terimakasih kepada semua pihak yang sudah hadir hari ini. Ada satu pengumuman yang harus saya umumkan sendiri. Saya minta maaf atas pemberitaan selama beberapa minggu terakhir mengenai perilaku adik saya yang sangat tidak terpuji. Mungkin ini mengejutkan bagi banyak orang, tapi kami tidak memiliki pilihan lain. Saya merasa sangat bersalah kepada kedua orang tua Ayana. Saya meminta maaf kepada mereka, juga kepada kedua orang tua saya. Seharusnya saya tidak mengizinkan adik saya yang masih remaja itu menikahi seorang perempuan baik hati seperti Ayana. Maka dari itu, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pernikahan itu, saya umumkan kepada semua orang, bahwa Ayana akan tetap menjadi menantu Keluarga Airlangga. Sebagai permintaan maaf saya dan rasa tanggung jawab saya, saya akan menggantikan adik saya menjadi suami dari Ayana. Saya akan menikahi Ayana Pitaloka."