
Aku melepaskan tautan bibirku pada bibir Ghiffa dan mundur beberapa langkah. Ku sentuh bibirku dengan kedua tanganku.
Ayana, kamu pasti udah gila!!
Ghiffa merengkuh pinggangku agar mendekat lagi padanya, kedua maniknya menatapku seakan ingin melahapku. "Kenapa lo nyium gue?"
Pundakku naik turun karena nafasku yang masih menderu akibat apa yang sudah aku lakukan. "Maafkan saya, Tuan!" Aku kembali menjauh dari Ghiffa.
Bukannya membiarkanku pergi, Ghiffa malah merengkuh pinggangku kembali jauh lebih erat dan mendekat padanya. "Ini gak ada di dalam kesepakatan loh, Ay."
"Saya tahu, mohon maafkan saya!" Aku mendorong pundak Ghiffa dengan kedua tanganku karena ia terus merengkuh pinggangku sehingga kini pinggangku menempel di perutnya.
"Jangan minta maaf terus, Ay. Tubuh lo udah setuju. Tinggal lo bilang sekarang kalau lo mau jadi cewek gue."
"Tuan, tolong lepaskan!" Tangan Ghiffa masih erat berada di pinggangku padahal rasanya aku sudah mendorongnya dengan sekuat tenagaku.
Ghiffa tidak mengatakan apapun, hanya menatap lekat kedua mataku. Sikap Ghiffa semakin membuatku merasa sedikit tidak nyaman. "Tuan, Tolong lepas!" teriakku.
"Lo harus tanggung jawab. Karena udah ngebangunin singa yang lagi tidur."
Tatapan Ghiffa sungguh menakutkan, "Maksud, Tuan?"
Ghiffa kembali meraih bibirku dengan bibirnya, kali ini ia sungguh melahapnya dengan rakus. Seketika aku mengerti dengan kiasan 'membangunkan singa yang sedang tidur'. Aku terus mendorongnya namun beberapa detik kemudian tenagaku entah pergi kemana. Kepalaku malah terasa sangat ringan dan ribuan kupu-kupu kembali beterbangan di dalam perutku.
Sungguh, kenapa aku tak bisa menolaknya?
Hingga tidak hanya Ghiffa, namun kini akupun membalas permainan bibirnya. Lidah kami terus membelit dan aku tak bisa menghentikannya. Tanpa sadar tanganku meremas rambut belakang majikanku itu, ikut merasakan getaran yang diam-diam menyeruak.
Ponselku bergetar, menginterupsi apa yang sedang kami lakukan. Logikaku bersyukur karena bisa menyudahi permainan berbahaya ini.
Aku mendorong Ghiffa menjauh dan merogoh saku rok yang aku kenakan.
"Ay, kita lagi ciuman ini?" protesnya dengan frontal membuat wajahku yang sudah memerah karena ciuman yang intens itu menjadi semakin merah. Aku sempat memukul pundaknya hingga ia meringis kesakitan sebelum aku berjalan menjauh darinya.
Aku melihat ponselku dan nama Nyonya Natasha muncul di layarnya. Nyonya Natasha berkata terus menghubungi Ghiffa tapi Ghiffa mematikan ponselnya semenjak meninggalkan hotel itu.
"Tuan, kita harus pulang." Aku berjalan dengan terburu ke kursi penumpang. "Ayah dan Ibu Tuan ada di apartemen!"
Ia menghela nafas kasar, "Ganggu aja." Keluhnya.
"Ayo, cepat Tuan!"
"Iya..iya.." Dengan malas Ghiffa beranjak dari kap mobilnya, masuk ke dalam kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju apartemen.
***
Kedua paruh baya itu sudah berada di sofa ruang tengah saat kami datang. Aku segera meninggalkan ketiga orang itu menuju kamarku. Ghiffa akan mendapat akibat dari tindakan nekatnya. Aku hanya berharap semua itu tidak akan terlalu membebani majikanku itu, karena jika iya, maka akupun akan terkena getahnya.
Aku menempelkan telingaku di balik pintu kamarku berusaha menguping pembicaraan mereka, tapi aku tak bisa mendengar apapun. Namun sesekali aku bisa mendengar Tuan Musa berteriak pada sang putra.
"Ayana!" Setelah cukup lama, tiba-tiba saja Nyonya Natasha memanggilku.
Segera aku membuka pintu dan menghampiri majikanku.
"Iya, Nyonya."
Aku melihat kunci mobil dan motor serta kartu dan beberapa lembar uang di atas meja. Nyonya Natasha meraih benda-benda tersebut dan menyimpannya di dalam tas tangannya.
"Kamu jaga dia dengan baik." Tuan Musa mewanti-wantiku, "Dia sedang ada dalam masa hukuman. Selama 1 bulan dia tidak akan bisa menggunakan mobil ataupun motornya. Juga semua kartunya saya sita. Kamu pastikan ia merenungi semua kesalahannya. Jangan biarkan dia berbuat macam-macam lagi. Mengerti?" Tuan Musa memang berkata padaku tapi tatapan bengisnya tak lepas dari sang putra.
"Baik, Tuan." ucapku patuh.
Aku melihat Ghiffa duduk di sofa di hadapan ayah dan ibunya dengan wajah sebelah kiri yang memerah. Ia terlihat tidak terpengaruh dengan hukuman yang diberikannya padanya. Tatapannya seakan tidak merasa bersalah.
Kemudian kedua paruh baya itu pergi.
"Tuan liat apa akibat dari yang Tuan lakukan? " ucapku galak.
"Kenapa Tuan seperti tidak menyesal? Sekarang Tuan kehilangan motor, mobil, kartu, bahkan uang. "
"Cuma sebulan ini. Gak akan kenapa-kenapa kok. Lagian gue harus gimana? Nangis gitu?" ucapnya sembari beranjak dari sofa.
Dia masih saja keras kepala.
"Ya sudah, terserah Tuan aja." percuma juga aku menasehatinya.
"Gue mau mandi dulu. Udah itu lo ke kamar ya. Gue ngantuk." ucapnya seraya meregangkan tangannya. Entah betul mengantuk atau tidak.
"Mulai malam ini, Tuan tidur sendiri. Kesepakatan kita sudah selesai. Saya tidak akan menemani Tuan tidur lagi."
Ghiffa membalikkan badannya, "Kenapa?! Jangan-jangan lo bikin kesepatakan itu cuma buat bikin gue dateng ke acara itu doang?"
Aku tidak menjawab dan berjalan menuju kamarku.
"Aya!"
Aku tak menggubrisnya dan segera menutup pintu di belakangku.
***
Pagi hari aku sedang berada di dapur, seperti biasa, menyiapkan makanan untuk majikanku. Saat meja makan sudah tertata rapi aku segera mengetuk pintu kamar Ghiffa, "Tuan. Makanannya sudah siap. Ayo sarapan dulu."
Aku kembali ke kamarku untuk membawa tas. Hari ini aku ada jadwal kuliah sehingga aku tidak akan ke SMA Centauri. Kemudian aku kembali ke meja makan dan melihat Ghiffa sudah berada disana.
"Tuan, kenapa gak pakai dasi? Terus kenapa bajunya gak dikancingin?" Ghiffa mengenakan kaos hitam dibalik seragamnya yang tidak ia kancingkan, pakaian yang beberapa hari terakhir sudah tak pernah aku lihat lagi.
"Lo bilang kesepakatan kita udah batal 'kan? Ya udah gak usah ngomentarin baju gue lagi." ucapnya ketus.
Sepertinya ia marah. Semalam saja ia tidak merecokiku untuk ditemani tidur. Karena kelelahan juga, aku langsung tidur begitu selesai mandi di kamar lamaku.
"Jadi Tuan udah gak akan jadi anak baik dan pintar lagi?" tanyaku.
"Buat apa?" ia menatap kesal padaku.
"Ya udah kalau gitu. Saya duluan ya, Tuan." ucapku dengan mengulum senyumku melihat wajah ketusnya. Wajahnya terlihat kesal sekali padaku.
Gemas sekali melihatnya seperti itu!
Aku tidak khawatir dengan sikapnya karena sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Ia akan sangat membutuhkanku bahkan setelah kesepakatan itu dibatalkan.
"Bentar." Ghiffa menghentikan langkahku saat aku baru saja selesai memakai sepatuku.
"Kenapa, Tuan?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Mobil sama motor gue 'kan lagi disita. Gue juga gak ada uang. Terus gue ke sekolah pake apa?" Sepertinya ia baru menyadari hukumannya itu kini sedang berlangsung dan akan sangat merepotkannya.
"Saya gak tahu, Tuan." godaku.
"Kok gak tahu?" Ia mengerutkan kedua alisnya dalam-dalam.
"Tuan bilang kemarin gak akan kenapa-kenapa cuma 1 bulan. Ini baru juga 1 hari Tuan sudah kebingungan." ucapku dengan senyuman yang tipis.
"Kok lo kayak yang seneng gitu sih liat gue bingung gini?!" tanyanya galak.
"Apa sih, Tuan ini." Aku memang setengah mati menahan senyum gemasku. "Ya udah saya anterin Tuan ke sekolah ya."
"Pake motor lo?"
"Iya, Tuan."
"Motor lo kecil gitu. Entar gue kayak bocah lagi main motor-motoran."
Sontak aku terbahak melihat wajah polosnya. Ya Tuhan imut sekali Ghiffaku ini.