
Ghiffa's point of view
"ANJ*NG!" Amarah Ghiffa sampai di ubun-ubunnya. Tangannya mengepal kuat, siap melayangkan pukulannya pada sang kakak.
Kedua pria berjas hitam dengan tubuh tinggi besar segera menghadang Ghiffa. Kali ini Ghiffa tertahan, tak bisa mendekati Ghaza barang sedikit saja. "Dimana Aya?! DIMANA ISTRI GUE?!!"
Ghaza hanya menyeringai.
"JAWAB G*BL*K!! KEMBALIIN ISTRI GUE, ANJ*NG!!" Ghaza tidak menggubris Ghiffa yang sudah dikuasai amarah sepenuhnya. Ghiffa terus berusaha melepaskan tubuhnya dari sergapan kedua pengawal Ghaza, tapi tubuh kedua orang yang sudah terlatih itu sangat sulit ditembus.
Ghaza terus berjalan menuju pintu keluar, tepat saat itu sebuah mobil sedan hitam berhenti dan ia masuk ke dalamnya.
Melihat mobil Ghaza sudah pergi, kedua pria itupun membawa Ghiffa keluar dari lobi hotel. Salah satu dari mereka memberikan satu tendangan telak dengan lutut tepat pada ulu hati Ghiffa.
Seketika Ghiffa ambruk, ia memegang perutnya yang kesakitan. Kedua pria bertubuh besar itu meninggalkan Ghiffa di lantai. Sedangkan mereka masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam lainnya dan pergi begitu saja.
Susah payah Ghiffa menahan sakit yang ia rasakan tepat di ulu hatinya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mengirimkan voice note di grup Centaur Squad.
"Ikutin...Ghaza..Dia baru aja keluar Hotel." Beberapa anggota Centaur Squad merespon dan Ghiffa berusaha untuk bangkit dari sana, namun ia kesulitan. Perutnya luar biasa sakit.
Orang-orang sudah berkerumun di sekelilingnya, bertanya apakah Ghiffa tidak apa-apa. Ia mengabaikan bantuan orang-orang untuknya, ia terlalu sibuk menahan rasa sakit yang dirasakannya. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa berkutik. Ia marah karena seujung rambutpun ia tidak bisa menyentuh Ghaza.
"Ghif!" Theo datang menghampiri Ghiffa. Kebetulan ia memang ada di sekitar Hotel. Mendengar suara Ghiffa di voice note yang kesakitan ia khawatir sehingga memutuskan untuk memasuki area hotel.
Theo segera memapah Ghiffa ke arah motornya yang terparkir tak jauh dari pintu utama hotel.
"Lo bukannya ngejar si Ghaza, The!" teriak Ghiffa marah.
"Udah ada Seno sama Victor. Lo tenang aja. Mereka lagi ikutin mobil Ghaza. Lo gak apa-apa?" Tanya Theo khawatir.
"Dada bawah gue sakit banget, Anj*ng. Gue ditendang pake lutut sama pengawalnya Ghaza." Ghiffa merasakan darah muncul dari tenggorokannya dan mulai merasakan asin dan bau besi dari mulutnya. Ia meludahkannya, darah sudah bercampur dengan ludahnya. Kemudian tiba-tiba Ghiffa muntah darah. Cairan merah yang masih segar itu keluar dengan deras dari mulutnya.
"Lo harus ke RS, Ghif." saran Theo.
"Gue gak apa-apa. Gini doang juga. Gue harus nemuin Aya. Gue takut dia kenapa-kenapa." Ghiffa masih meludahkan sisa-sisa darah di mulutnya. Wajahnya pucat sekali.
"Lo ada pendarahan kayaknya di dalem." Theo semakin khawatir saat darah masih saja keluar dari mulut Ghiffa.
"GUE GAK APA-APA, BANGS*T! Gak usah cerewet lo kayak cewek!" Ghiffa tahu Theo mengkhawatirkannya. Ia juga tahu kondisinya tidak baik-baik saja. Tapi sekarang menemukan keberadaan Ayana jauh lebih penting dari apapun juga. Hingga ia mencoba untuk menghalau rasa sakit dan panik yang ia ataupun Theo rasakan.
"Ya udah. Lo ikut gue aja. Jangan nyetir, bahaya." ujar Theo.
Theo membantu Ghiffa menaiki motor sport hitamnya. Untung saja ia membawa helm cadangan tadi. Tak lama Theo melajukan motornya. Mereka menuju ke arah Melcia Tower.
Beberapa saat kemudian ponsel Ghiffa berbunyi, telepon dari Victor, salah satu anggota Centaur Squad yang tadi mengikuti Ghaza. Ia segera mengangkatnya.
"Ghif, Ghaza masuk ke Melcia Tower. Gue sama Seno gak bisa masuk, bahkan ke area parkiran."
Ghiffa sudah memperkirakan ini. Ghaza pasti memperketat penjagaan di gerbang masuk ke area Melcia Tower karena tadi ia sempat pergi kesana.
Ghaza benar-benar membuat dirinya tidak tersentuh oleh Ghiffa setelah kejadian mereka terlibat baku hantam waktu itu. Bahkan ia sampai menyewa pengawal.
Ghaza benar-benar sudah mengibarkan bendera perangnya pada Ghiffa.
"Berhenti, The." Ghiffa masih memegangi perutnya yang sakit luar biasa. Namun sudah tidak ada lagi darah yang keluar dari mulutnya.
Ia segera memutar otak, kepada siapa ia bisa meminta bantuan untuk mengetahui dimana keberadaan Ayana?
Belva.
Sahabat Ayana yang juga kekasih Jonathan, terbersit begitu saja di benak Ghiffa. Ia menelepon Belva dan gadis itu mengatakan bahwa ia ada di rumahnya.
Ghiffa segera meminta Theo untuk membawanya menemui Belva di rumahnya yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Belva berjalan terburu dari pintu rumah menuju pagar rumahnya setelah melihat sosok Ghiffa yang pucat dengan darah kering di sekitar mulutnya.
"Ghif lo kenapa?" Tanya Belva cemas.
"Bel, Aya ngilang. Dia dibawa sama bosnya cowok lo. Gue butuh bantuan lo buat hubungin Jo. Tolong lo tanyain dimana Ghaza nyembunyiin Aya!" ucap Ghiffa tak bisa menunggu.
"Aya dibawa sama Ghaza?! Lo yakin?" Belva tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
"Iya, cepetan lo telepon cowok lo! Gue udah nyoba nelpon dia tapi gak diangkat." Ghiffa semakin tidak sabar.
"I-iya bentar." Belva merogoh sakunya dan menelepon Jonathan.
"Loud speaker." Perintah Ghiffa. Belvapun menurut, ia memegang ponselnya mendekat pada Ghiffa
"Sayang, kamu lagi dimana?" tanya Belva.
"Lagi di kantor aja, biasa. Lagi mau meeting bentar lagi. Kenapa?"
Ghiffa memberikan kode pada Belva untuk segera menanyakan keberadaan Ayana.
"Sayang, kamu tahu gak Aya dibawa sama Ghaza?"
Tak ada jawaban.
"Sayang?" ucap Belva, "Kamu masih disana 'kan?"
"Iya, Sayang. Ayana emang kemana? Dibawa sama Pak Ghaza gimana maksudnya?"
Ghiffa tak bisa bersabar lagi, ia menyambar ponsel Belva.
"Kasih tahu dimana bos lo itu nyembunyiin Ayana!! Atau cewek lo yang bakal nerima akibatnya." Ghiffa menatap Belva tajam.
Seketika Belva syok mendengar ancaman Ghiffa.
"Lo bercanda 'kan Ghif?" ucap Belva sedikit mundur.
"The, bawa dia." perintah Ghiffa pada Theo.
"Lo jangan macem-macem Ghiffa!" teriak Jonathan.
Theo mencengkram kuat lengan Belva.
"Lo udah gila, Ghif! Lepasin gue! Sakit!" teriak Belva.
"Jangan sentuh cewek gue! Okay..okay.. gue bilang. Ayana emang dibawa sama Pak Ghaza."
"Kemana?" tanya Ghiffa segera.
"Dia ada di Apartemen V. Di unit 2008. Tapi denger baik-baik, jangan pernah bawa-bawa nama gue! Ghaza gak boleh tahu kalau gue yang bocorin ini."
"Lepasin dia, The." Kemudian Ghiffa mematikan teleponnya.
"Thanks, Bel. Sorry yang barusan. Gue gak beneran bakal macem-macemin lo, kok." Ghiffa menyerahkan ponsel Belva kembali. Belva seketika bernafas lega.
Theo segera menunggangi kembali motor sport hitamnya. Ghiffa naik ke jok belakang kemudian.
Belva masih tertegun sembari memegang lengannya yang terasa sakit dicengkram kuat oleh Theo. Theo dan Ghiffa sudah berada di atas motor mereka lagi. "Bentar! Jadi Aya gimana?"
"Gue bakal jemput istri gue sekarang. Lo bisa ke cafe gue. Tunggu kita disana." Kemudian Ghiffa dan Theo segera menuju ke apartemen V, yang letaknya memang bersebelahan dengan Hotel J.
Ghiffa membuat voice note, "kumpul di apartemen V sekarang."
Ghiffa segera turun setelah Theo menghentikan motornya di depan apartemen V. Anggota Centaur Squad sudah mulai berkumpul di depan apartemen.
"Dengerin gue!" Teriak Ghiffa dengan wajah sepucat mayat, bersiap memberikan instruksi pada anggotanya, "Istri gue di dalem. Di unit 2008. Lo semua kawal gue masuk. Abisin semua yang ngehalangin jalan gue. NGERTI?!"
Sekitar belasan orang anggota Centaur Squad merespon patuh instruksi dari ketua mereka.
Kemudian mereka segera berjalan menuju lobi apartemen. Beberapa petugas keamanan segera menghadang mereka. Sesuai arahan Ghiffa, empat anggota Centaur Squad segera melawan. Sedangkan Ghiffa dan yang lainnya masuk ke lift, dan menekan tombol 20.
Dengan langkah terseok dan tangan yang terus memegangi perutnya, Ghiffa dan yang lainnya segera mencari unit 2008. Setelah beberapa saat akhirnya mereka menemukannya.
Unit itu dijaga oleh dua orang berbadan besar yang menyerang Ghiffa tadi.
"Abisin mereka! Mereka mukul si Ghiffa tadi sampai muntah darah!" Teriak Theo memprovokasi.
"Wah bangs*t berani banget kalian sama Ketua Centaur Squad! Beneran bosen idup!" Teriak Max Murka. Ia dan yang lainnya langsung menyerang dua orang berbadan besar itu.
Dari arah yang berlawanan datang dua orang lain dengan tubuh yang tidak kalah besar. Kini pertempuran empat lawan banyak itu tak terhindarkan. Sedangkan Ghiffa terduduk lemah di dekat lift, keringat terus bercucuran di pelipisnya.
Untung saja Max dan juga Seno adalah pentolan Centaur Squad, ibaratnya, mereka adalah panglima perang geng itu. Kemampuan berkelahi mereka tidak perlu diragukan. Begitu juga dengan anggota lainnya yang masing-masing sudah memiliki jam terbang dalam dunia perkelahian seperti ini. Hingga keempat orang itu akhirnya bisa ditumbangkan.
Kemudian Max membuka paksa pintu unit 2008 itu, dibantu oleh Seno. Seketika pintu terbuka. Ghiffa yang sudah semakin lemah dipapah oleh Theo masuk ke unit yang sudah terbuka.
"Aya!" teriak Ghiffa dengan tenaga yang tersisa. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.
Anggota lainnya ikut menyisir setiap ruangan unit itu. Hingga Max berteriak di depan sebuah kamar, "Ghif, Mbak Perpus disini!"