
Akhirnya tiba waktunya kami kembali ke rumah kafe. Walaupun berat meninggalkan ayah mertuaku, tapi kami harus kembali ke kehidupan kami. Kami berjanji bahwa setiap akhir pekan kami akan mengunjunginya atau kita rencanakan pergi ke suatu tempat bersama-sama.
Saat sampai di kafe, semua orang menyambut kami. Bahkan mereka menyiapkan pesta penyambutan. Sebuah banner dengan ucapan 'Welcome Home' terpampang di salah satu dinding kafe di area outdoor itu. Kami begitu bahagia bisa bertemu dengan mereka lagi, mendengar segala lelucon dan tingkah konyol mereka lagi.
Aku benar-benar merindukan mereka.
Siang itu Ghiffa berkumpul dengan teman-temannya di markas, sedangkan aku mengobrol dengan Om Lucas, Belva, juga para karyawan kafe di area indoor kafe. Semua begitu khawatir pada kami. Dan mereka terus mengucap syukur karena kami sekarang sudah berada dalam keadaan yang jauh lebih baik.
Keesokan harinya, aku kembali ke kampus dan melanjutkan sisa semester yang tersisa. Begitu juga dengan Ghiffa, ia kembali ke sekolah. Banyak tugas dan nilai yang harus kami kejar karena setengah semester telah berlalu, sehingga banyak materi harus kami kejar.
Selama itu memang kami meninggalkan kewajiban kami sebagai siswa dan mahasiswa. Sehingga aku dan Ghiffa disibukkan untuk mengejar nilai dan dan memenuhi tugas.
Lelah sekali rasanya setiap hari kami harus mengerjakan tugas yang seakan tidak ada habisnya. Tapi kami harus melakukannya jika tidak nilai kami akan dalam bahaya.
Terutama aku. Walaupun bisa saja Ghiffa membayar semua biaya kuliahku jika beasiswaku dihentikan karena nilai yang buruk, tapi aku tidak mau membuat perjuanganku sebelumnya menjadi sia-sia.
Ini bukan tentang uang.
Setelah beberapa minggu yang cukup membuat otakku bekerja keras, akhirnya semua tugas rampung. Lega sekali rasanya. Akhir pekan itu waktunya kami berkunjung ke rumah ayah mertuaku. Ghiffa tidak menjemputku seperti biasa, karena ia ada latihan futsal hari ini.
Iya, Ghiffa kembali masuk futsal sekarang, setelah sebelumnya ia keluar masuk ke ekskul itu dengan seenaknya, kini ia benar-benar serius berada di ekskul tersebut. Kali ini ia benar-benar rutin latihan. Namun Ghiffa harus berlatih lebih keras untuk bisa mengimbangi fisik anak-anak futsal lain yang memang sudah lebih terlatih. Juga sampai akhir semester ini ada beberapa turnamen yang harus diikutinya.
Hingga siang menjelang sore itu aku menuju ke rumah ayah mertuaku seorang diri. Saat aku sampai, beliau sedang bermain golf di halaman belakang. Halaman belakang rumah ini memang sangat luas, luasnya mungkin hampir seluas lapangan sepak bola.
Jadi bisa dibayangkan 'kan seberapa besar rumah ini, dan hanya ada ayah mertuaku dan juga para ART yang menempatinya.
"Pah..." sapaku.
Ayah mertuaku menoleh, senyum terkembang begitu saja di wajahnya tatkala melihatku. "Kamu sudah datang?"
Aku mencium punggung tangannya, "Udah, Pah. Aku dari kampus langsung kesini. Papa sendirian main golfnya? Gak ada caddy yang biasanya nemenin?"
"Iya. Iseng aja sambil nunggu kalian. Ghiffa mana?"
"Aa masih latihan futsal. Sebentar lagi juga kesini." terangku.
"Gimana kuliah kamu?" Tanya ayah mertuaku setelah memukul sebuah bola dengan stick golfnya.
"Udah selesai semua sih, Pah, tugas-tugasnya. Punya Aa juga udah selesai. Lega banget tugas segunung itu akhirnya bisa beres, Pah." Aku duduk sambil menyandarkan punggungku di sofa di beranda teras belakang rumah itu.
"Kalau begitu baguslah. Kita bisa menyelenggarakan pesta dengan tenang. Deadline-deadline Papa juga sudah selesai untuk waktu dekat."
Aku mengerutkan dahiku, "Pesta? Pesta apa ya, Pah?"
Ayah mertuaku segera melihat ke arahku, "Ulang tahun kamu. Itu dua minggu lagi 'kan?"
Saking tercengangnya aku mengerjapkan mataku beberapa kali, "Papa... tahu ulang tahun aku?"
"Tahu dong. Menantu pertama Papa, masa Papa tidak tahu?" Ucapnya. "Kita akan adakan dimanapun kamu mau. Ballroom hotel, villa, rooftop, dimanapun. Pilih saja, Papa akan menyiapkan semuanya."
Ya Tuhan, pesta ulang tahun? Untukku?
"Tapi, Pah. Apa harus mengadakan pesta untuk aku? Aku gak begitu yakin itu ide yang bagus. Bukannya kalau Aa ulang tahun juga gak pernah ada acara ya?" ucapku hati-hati.
Seketika ayah mertuaku yang bersiap berancang-ancang untuk memukul bola, menurunkan kembali sticknya.
"Ah... maksud aku." Aku benar-benar tidak enak. Seharusnya aku tidak membahas itu.
"Pah, itu justru lebih bermanfaat dan berkah. Makanya kenapa sekarang Aa jadi anak yang hatinya lembut dan murah hati mungkin karena Papa sering berbagi di hari ulang tahun Aa."
Ayah mertuaku tersenyum penuh arti, "Ghiffa benar. Kamu memiliki pandangan yang selalu positif, Nak. Kamu selalu melihat segala sesuatu dari sisi baiknya. Papa sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Papa lebih sering berpikir bagaimana membuat Ghaza tidak kesal pada Ghiffa. Maka Papa selalu menuruti keinginannya." ucapnya sendu.
"Udah, Pah. Semuanya udah selesai. Sekarang baik Papa, Aa, Ghaza, sedang membuka lembaran baru. Sekarang yang penting Papa harus mengisi lembaran baru Papa dengan hal-hal yang membuat Papa bahagia dan tidak mengulangi kesalahan yang sama." Hiburku.
"Kamu benar. Jadi bagaimana, dimana kamu akan mengadakan pesta itu?"
"Gak usah, Pah. Aku gak mau pesta." ucapku jujur. Rasanya berlebihan sekali jika ayah mertuaku mengaadakan pesta untukku.
"Ayolah, Ayana. Pesta ini akan menjadi cara yang baik untuk membuktikan bahwa keluarga Airlangga baik-baik saja. Ini juga akan semakin memulihkan nama Ghiffa. Papa sendiri sangat lelah. Kejadian itu sudah berlalu tapi masih saja gosip itu belum mereda sepenuhnya."
Jadi seperti itu. Ghiffa juga sempat mencurahkan perasaaannya. Instagram miliknya dibombardir dengan ribuan followers dan juga komentar di story yang dibuatnya. Di sekolah juga orang-orang masih belum berhenti sepenuhnya dalam membicarakan kejadian itu.
Baiklah jika itu alasan yang sebenarnya.
"Kalau memang tujuan Papa adalah untuk memulihkan nama baik Aa, aku setuju. Makasih ya, Pah. Tapi aku gak mau yang terlalu mewah ya, Pah."
"Kamu tidak perlu khawatir. Mama kamu yang akan mengurusnya, dia seorang party planner yang hebat."
"Ini juga jadi kesempatan buat Papa bisa deket lagi sama Mama, ya 'kan Pah?" tebakku.
Ayahku tertawa canggung. "Apa Papa kentara sekali?"
"Kelihatan banget, Pah. Tapi aku dukung kok. Semoga dengan adanya acara ini, Papa sama Mama bisa punya kesempatan untuk berbaikan."
"Iya. Semoga saja, ya. Sejauh ini Papa masih bisa menahan permohonan cerainya agar tidak diproses. Tapi ia pasti akan segera mengetahuinya."
"Mama sempet cerita waktu minggu kemarin, Pah. Katanya permohonan cerainya Mama memang belum juga bisa diproses. Ternyata ada campur tangannya Papa." Aku paham akhirnya.
"Tentu saja, apa yang Papa tidak bisa lakukan?" ucapnya bangga.
Tiba-tiba Ghiffa sudah berada di pintu keluar beranda dengan rambutnya yang basah. Ia pasti langsung membersihkan dirinya setelah latihan futsal di sekolah, "Lagi ngapain sih istriku?" Ghiffa menghampiriku dan mencium puncak kepalaku. Lalu ia berjalan ke arah ayah mertuaku dan mencium punggung tangannya.
"Kita lagi merencanakan pesta 2 minggu lagi." ujar ayah mertuaku.
"Pesta apa? Emang 2 minggu lagi ada apa?" tanya Ghiffa dengan polosnya.
Serius dia tidak tahu? Apa pura-pura sih?
"Kamu gak tahu 2 minggu lagi tanggal berapa?" tanya Ayah mertuaku.
Ghiffa terlihat kebingungan, ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek tanggal.
"Tanggal 13? Ada pesta apa emangnya? Papa baru beresin projek lagi?"
Wajahnya benar-benar terlihat kebingungan dan terlihat begitu jujur. Seketika aku kesal sekali.
"Pah, Ayo kita main disana. Biar aku yang jadi caddy Papa." ucapku dengan kesal. Segera aku menyambar tas golf milik Ayah mertuaku dan berjalan dengan derap kaki yang marah.
"Yang!" teriak Ghiffa, tapi aku terus melenggang. Lalu terdengar sayup-sayup, "Pah, seriusan, ada apa sih?"
"Kamu yang serius. Beneran kamu tidak ingat?" tanya Ayah mertuaku, jarakku sudah agak jauh dari beranda tapi aku masih bisa mendengar percakapan mereka. "Nyari penyakit. Kamu udah melakukan sesuatu yang fatal, Nak."