
Ghiffa's point of view
Ghiffa terus menatap ke arah sudut layar ponsel yang digenggamnya. Sesekali matanya melihat ke arah toilet di sudut lobi itu. Sudah sekitar 10 menit Ayana berada di toilet, namun gadis itu belum juga kembali. Akhirnya Ghiffa memutuskan untuk menyusulnya ke toilet.
"Aya sakit perut apa gimana, sih? Lama banget?" Dumelnya tidak sabar seraya melihat ke arah pintu toilet wanita. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok samping toilet.
15 menit berlalu, Ghiffa mulai khawatir, karena Aya tidak juga terlihat keluar dari toilet. Ghiffa sempat bertanya pada seorang wanita paruh baya mengenai keberadaan Aya di dalam toilet. Tapi wanita itu mengatakan tidak ada orang lain selain dirinya di dalam toilet barusan.
Deg!
Seketika perasaan Ghiffa tidak enak. Ia masuk ke dalam toilet dan memeriksa semua bilik yang ada, tidak ada Aya di dalam. Kekhawatiran Ghiffa pun memuncak. Ia keluar dari toilet dan terus menyisir lobi, restoran, dan semua area di lantai 1 itu. Namun Ayana tidak juga terlihat. Sialnya lagi, Ayana memang tidak membawa ponselnya. Ponsel ia taruh di kamar karena memang sedang dicharge.
Ghiffa memutuskan mencarinya ke kamar mereka. Siapa tahu Ayana kembali lebih dulu. Namun nihil. Ayana tetap tidak ada. Perasaan Ghiffa sudah sangat kacau melihat sang istri tidak ada dimanapun. Pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan-kemungkinan negatif.
Ghiffa kembali ke lantai 1 untuk menemui satpam dan resepsionis. Lagi-lagi, Ghiffa tidak mendapatkan titik terang. Kini pihak security hotel membantu Ghiffa untuk mencari keberadaan Ayana, termasuk melihat keberadaan Ayana melalui CCTV.
Sangat kebetulan. CCTV di dekat toilet sedang tidak berfungsi saat itu. Dari situ Ghiffa mulai mengendus sesuatu yang tidak beres. Bagaimana bisa hotel sebesar ini mengabaikan keamanan yang paling dasar seperti ini. Ghiffa sampai memaki para security yang ada, saking kesalnya karena kelalaian mereka itu.
Tiba-tiba Ghiffa terpikirkan pada seseorang yang mungkin ada kaitannya dengan hilangnya sang istri. Ia berlari kembali menuju resepsionis.
"Mbak, ada tamu yang menginap atas nama Alghazali Airlangga?"
"Tidak ada, Mas." jawab resepsionis itu cepat. Seketika Ghiffa mengerutkan kening.
"Mbak belum juga ngecek tapi Mbak udah langsung bilang gak ada?!" hardiknya. Resepsionis itu langsung gelagapan tidak bisa menjawab.
Ghiffa kini sangat yakin. Menghilangnya Ayana pasti ada kaitannya dengan Ghaza. Ghiffa langsung saja pergi ke lantai paling atas. Jika memang Ghaza yang membawa Ayana, maka Ghaza pasti ada di salah satu kamar disana, di lantai paling atas, dimana kamar tipe presidential room atau penthouse room berada, tipe kamar paling mewah dan paling mahal yang selalu dipesan oleh Ghaza jika ia menginap di sebuah hotel.
Ghiffa menyisir lorong-lorong yang ada di lantai itu. Berharap menemukan petunjuk. Tapi Ghiffa tak menemukan apapun. Bahkan setelah satu jam ia mondar mandir, mencari kesana-kemari, bahkan ia mencari di sekitaran suite rooms, Ayana tidak juga terlihat batang hidungnya.
Ghiffa semakin frustasi.
Mungkinkah Ayana sudah meninggalkan hotel?
Ia segera merogoh HPnya. Ia ingin memastikan apakah Ghaza benar ada di hotel itu atau tidak. Ia menghubungi Bi Susi dan ia mengatakan bahwa Ghaza tidak pulang semalam. Pernyataan itu semakin membuat Ghiffa yakin.
Akhirnya ia menghubungi sahabatnya.
"Max, Istri gue ilang. Kumpulin anak-anak suruh cari dimana istri gue sekarang." Kemudian Ghiffa mematikan HPnya. Ia kembali ke kamarnya dan mengambil barang-barangnya dan meninggalkan hotel.
Pikiran Ghiffa semakin kalut. Bagaimana tidak, istri tercintanya tiba-tiba saja menghilang bak ditelan bumi.
Kemudian Ghiffa mengemudikan mobilnya keluar dari area hotel. Beberapa kali ia memukul setir yang sedang dikemudikannya, berharap bisa menghilangkan sedikit emosinya.
Kemudian ponsel Ghiffa berbunyi, Lucas menelpon. Ghiffa segera memasang earpiecenya.
"Ghif, bener Aya ilang? Kok bisa?" tanya Lucas khawatir.
"Gak tahu Om! Gue juga gak ngerti! Dia ngilang pas bilang mau ke toilet seudah kita sarapan di resto. Gue udah cari Aya di setiap lantai hotel. Tapi dia gak ada! CCTV juga mati. Ini pasti ada hubungannya sama Ghaza. Dia pasti ada di hotel itu juga. Masalahnya gue gak tahu sekarang, Ghaza masih di hotel apa udah bawa Aya pergi!?" Terang Ghiffa dengan sangat panik.
"Lo tenang dulu, Ghif. Anak-anak sekarang udah mulai nyari keberadaan Aya. Lo udah coba cari Ghaza di rumah? Atau kantornya?"
"Gue udah telepon Bi Susi, Ghaza gak pulang semalem. Sekarang gue lagi otw ke Melcia Tower. Gue pengen mastiin dia ada di kantor atau enggak. Gue bakal abisin dia kalau Aya beneran dibawa sama dia! Gue gak akan maafin dia kalau bener Ghaza yang bawa Aya pergi! Siap-siap aja Om, Centaur Squad bakal gue kerahin buat ngancurin Ghaza. Liat aja!"
Ghiffa melempar earpiecenya ke bangku disebelahnya.
"SIAL!!" Teriaknya murka. Nafas Ghiffa menderu saking emosinya. Ia mengusak rambutnya kesal, matanya sudah berkaca-kaca.
"Ay, kamu dimana, Sayang?" gumamnya.
Ghiffa mengusap kasar matanya yang berair saat sudah memasuki area gedung Head Office Melcia Tower.
Seumur hidup ia tidak pernah mau menginjakkan kakinya di kantor milik sang Ayah lagi. Itu tekadnya sejak ia meninggalkan rumah setahun yang lalu. Tapi kini ia benar-benar harus datang. Ia harus tahu apakah Ghaza ada di dalam atau tidak.
Ghiffa berjalan masuk dan menghampiri resepsionis.
"Gue mau ketemu sama Alghazali Airlangga."
"Maaf, Mas, apakah sudah buat janji?" tanya resepsionis itu ramah.
"Mas Ghiffa?" Seorang Satpam mengenal Ghiffa. Ia menghampirinya segera. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Gue mau ketemu sama Ghaza. Ghaza ada di atas?"
Satpam itu berpikir sejenak, "Saya tanyakan dulu sebentar." Satpam itu menghubungi seseorang melalui earpiecenya.
"Pak Ghaza ada, tapi sedang meeting, Mas." ujar satpam itu.
"Gue mau ketemu sama dia. Penting." Ghiffa berjalan menuju lift.
"Maaf, Mas!" satpam itu segera menghadang Ghiffa. "Pak Ghaza sedang rapat penting. Tidak bisa diganggu."
"MINGGIR!" teriak Ghiffa.
"Ghiffa!" sebuah suara berat datang dari arah belakang. Ghiffa menoleh dan melihat sang Ayah disana, bersama dengan sekretarisnya. Juga beberapa orang yang Ghiffa tahu sebagai dewan direksi PT Melcia Properti.
Musa berjalan menghampiri sang putra, "Ada apa kamu datang kesini, Nak?" tanyanya. Seperti itulah, di hadapan orang lain hubungan mereka harus terlihat baik dan harmonis. Padahal jika mereka sedang di rumah, nada bicaranya tak pernah seperti itu.
"Aku ada perlu sama Ghaza." jawab Ghiffa singkat tanpa melihat ke arah sang Ayah.
"Ada perlu apa kamu dengan Kakak kamu?" Suara Musa terdengar ramah.
Ghiffa tidak menjawab. Sama sekali tidak ingin bergabung dengan sang ayah dalam sandiwara keluarga harmonis itu.
"Ghaza lagi gak ada. Dia menginap di Hotel J, kemarin ada kolega kita dari Norwegia." Musa melihat ke arah jam tangannya, "Mungkin sebentar lagi dia akan kesini."
Ternyata benar. Ghiffa menatap tajam pada satpam yang telah membohonginya. Satpam itu segera memalingkan wajahnya dengan tegang. Ghiffa membungkuk pada sang Ayah dan kemudian pergi.
Ia membuka HPnya dan menghubungi Max, "Suruh anak-anak jaga di sekitaran Hotel J." titahnya.
Ghiffa kembali mengendarai mobilnya dan kembali ke hotel J. Ia memarkirkan mobilnya di sebuah minimarket tidak jauh di hotel itu. Ghiffa melihat beberapa anggota Centaur Squad berada di luar hotel, mereka mengangguk saat bersih tatap dengan sang Ketua Geng. Sedikitnya Ghiffa bisa merasa tenang, ada orangnya yang siaga jika ia memerlukan bantuan.
Kemudian Ghiffa kembali masuk ke dalam hotel dan menghampiri resepsionis.
"Kasih tahu gue, di kamar berapa Alghazali Airlangga menginap!!" Teriak Ghiffa.
"Sa-saya..."Resepsionis itu begitu terkejut dengan sikap Ghiffa. "Se-security!"
Kemudian beberapa orang security hotel menghampiri Ghiffa dan segera menyergapnya. "Silahkan anda keluar, Mas! Jangan buat keributan disini!" Ujar seorang petugas.
Ghiffa terus meronta-ronta. "Lepasin gue!!" Tenaga Ghiffa yang cukup besar tak mampu diredam orang para petugas itu. Hingga ia dengan mudah bisa melepaskan diri dari sergapan mereka. Ghiffa berjalan menuju lift dan para petugas keamanan kembali mencoba menyergapnya.
Tepat saat itu pintu lift terbuka. Orang yang dicari oleh Ghiffa berdiri disana, di dalam lift bersama dengan dua orang berjas hitam berdiri di kanan dan kirinya.