The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 55: Bumerang



Walaupun Ghiffa terlihat sangat menyesal, tapi penjelasan Ghiffa malah mengganjal di hatiku. Seorang Ghiffa yang tidak pernah membiarkan dirinya diatur oleh siapapun, bahkan seorang guru saja berani ia lawan, bisa begitu saja membiarkan dirinya 'ditahan' agar tidak pergi. Rasanya begitu 'fishy' bagiku.


"Ay... Gue cuma sayang sama lo." lirihnya.


Kata-kata itu malah membuatku merasa Ghiffa lebih sedang meyakinkan dirinya sendiri daripada mengatakannya padaku.


Aku benar-benar tidak sedang ingin menanggapi pikiranku yang penuh curiga pada Ghiffa. Aku hanya ingin terlelap sekarang. Sehingga aku bisa mengakhiri hari yang begitu melelahkan ini. Beberapa saat akupun sudah pergi ke alam mimpi.


Keesokan paginya aku terbangun. Tenggorokanku kering sekali. Aku melihat Ghiffa masih terlelap di sampingku. Ku selimuti tubuhnya hingga menutupi dada. Ku biarkan ia tertidur sebentar lagi dan membawa kakiku turun dari kasur dan berdiri lalu berjalan dengan sebelah tanganku menyangga pada tembok. Aku berjalan terpincang menuju pintu menuju balkon untuk mengambil tongkat penyanggaku.


Aku berhasil meraih pintu balkon dan membukanya. Tongkat itu tergeletak di lantai. Aku berusaha meraihnya, berjongkok dan setelah bersusah payah aku berhasil meraihnya. Namun saat akan berdiri tak sengaja aku terpeleset karena lantai balkon yang sedikit basah. Tadi malam memang turun hujan walaupun tidak besar.


Jatuhku ini membuat suara terjerembap yang lumayan keras, karena tongkat yang terlempar. Untung saja aku bisa menahan teriakanku, dan hanya meringis kecil.


"Ay!" Aku mendongak dan mendapati Ghiffa berdiri dengan wajah terkejut dengan rambutnya yang berantakan. Sepertinya Ghiffa langsung terbangun begitu mendengar suara jatuhku.


"Maaf, Tuan. Saya ngebangunin Tuan ya?" Aku tertawa canggung.


"Lo ngapain?" Ia segera membantuku berdiri.


"Saya mau ambil tongkat saya, Tuan."


"Kenapa gak bangunin gue?" dumelnya. "Gue minta lo tidur di kamar gue biar lo bisa bangunin gue kalau butuh sesuatu."


"Tapi Tuan terlihat nyenyak sekali. Saya gak tega bangunin Tuan."


"Apa susahnya lo bangunin gue dan minta buat bawain tongkat lo? Kalau luka lo tambah parah gimana?" Ghiffa menatapku antara jengkel dan gemas.


"Maaf, Tuan." cicitku.


Ghiffa menghela nafas jengah. Aku ingat dia tidak suka mendengarku terus-terusan mengatakan 'maaf'. Tapi aku memang tidak bisa menghentikan kebiasaanku itu.


Ghiffa membopongku keluar dari kamarnya menuju kamarku, "Lo sekarang ganti celana lo, basah semua liat."


Ia mendudukanku di tempat tidurku dan membuka lemariku.


"Tuan mau ngapain?!" sontak aku berteriak.


"Gue mau ambilin baju lo." ucapnya sambil memerhatikan bajuku, " Lo mau pake baju yang mana?"


"Tuan! Saya bisa ambil sendiri!" Ghiffa ini memikirkan apa sih? Bagaimana jika ia melihat pakaian dalamku?


"Oh ya? Gimana coba caranya?" Ia malah melihatku dengan tatapan menantang.


"Pakai tongkat. Harusnya Tuan membiarkan saya menggunakan tongkat. Jadi saya bisa beraktivitas seperti biasa."


"Jadi lo lebih pengen dibantu sama tongkat, dibanding gue? Tongkat lebih penting buat lo daripada gue?!"


Kok jadi begitu? Kenapa Ghiffa malah marah?


"Ya, bukan begitu Tuan." Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal, bingung menjawab ucapan yang Ghiffa lontarkan.


"Katanya gue majikan lo. Tapi berapa kali lo gak nurutin perintah gue? Lo terus aja ngebantah. Lo mau kerja tapi gak gue gaji?"


"Tuan 'kan memang gak menggaji saya. Yang menggaji saya Nyonya Natasha." Tiba-tiba saja aku ingin menimpalinya.


Aku berniat menimpalinya tapi ia pergi begitu saja dari kamarku. Kenapa sih? Apa aku salah lagi?


Ghiffa datang kembali ke kamarku dengan tongkat di tangannya, ia sandarkan di dekatku, menatapku kesal sekilas, kemudian pergi.


Sebenarnya aku harus bagaimana? Di matanya aku selalu saja salah. Aku tidak mungkin 'kan membiarkannya mengambilkan baju untukku? Terlebih pakaian dalamku?


Setelah mengganti pakaian aku sibuk berada di dapur. Pergerakanku jadi tidak bisa seleluasa biasanya hingga saat Ghiffa keluar dari kamarnya untuk sarapan, makanan belum selesai aku buat.


"Tuan, Sebentar lagi sup krimnya matang. Tunggu ya. Lagipula Tuan belum terlambat." Aku melirik ke arah jam dinding.


"Gue sarapan di luar aja." Ia malah berjalan menuju pintu keluar.


"Tapi Tuan 'kan gak megang uang? Ini sudah selesai kok, Tuan." Aku segera menyendokkan sup krim yang aku buat ke dalam mangkok. Harusnya sekitar 1-2 menit lagi aku memasaknya tapi karena Ghiffa akan pergi aku terburu-buru menyajikannya.


PRAKK!!


Karena kurang berhati-hati mangkuk yang aku pegang jatuh dan pecah. Sup panas itu mengenai kakiku yang tidak digips. Rasanya benar-benar membakar kulitku.


Sontak Ghiffa menghampiriku, "Ay lo gak apa-apa?"


"Maaf Tuan. Maaf." Aku benar-benar merasa kacau. Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja. Aku tak bisa meraih kakiku hingga rasa terbakar itu ku biarkan begitu saja karena aku tak mampu melakukan apapun.


Ghiffa segera mendudukkanku di konter dapur dan membersihkan kakiku dengan air, segera ia membuka kabinet dapur dan mengambil salep luka bakar dan mengoleskannya pada lukaku. Seketika lukaku terasa membaik, tidak terlalu sakit dan rasa membakarnya jauh berkurang.


Meskipun begitu air mataku tak bisa berhenti mengalir.


"Udah gak apa-apa, Ay." Melihatku yang terus menangis, Ghiffa menenangkanku. Sontak aku meraih baju seragamnya yang tak ia kancingkan dan menundukkan kepalaku dan terus menangis. Lalu Ghiffa merengkuhku ke dalam pelukannya.


Aku benar-benar merasa sangat konyol.


Aku begitu enggan untuk mengandalkan Ghiffa dalam situasiku yang seperti ini. Bersih kukuh aku mencoba untuk tidak bergantung pada Ghiffa. Aku tak ingin membuat diriku merasa bahwa aku memang layak membuat Ghiffa merasa bersalah atas apa yang menimpaku kemarin. Aku juga tak ingin membuatku merasa layak untuk diperhatikan oleh Ghiffa karena kondisiku.


Semua itu karena ucapannya tadi malam mengenai Olivia. Tanpa sadar jarak yang sudah aku bentangkan selama ini antara aku dengan Ghiffa, kubuat lebih jauh lagi dari sebelumnya. Penjelasannya itu membuat aku semakin sadar diri akan posisiku.


Selalu aku mewanti-wanti diriku sendiri, aku harus sadar akan posisiku. Dalam keadaan apapun, tidak ada alasan bagiku untuk bergantung padanya. Terlebih sekarang aku yakin walaupun tidak 100 persen, Ghiffa masih menyimpan rasa terhadap Olivia.


Namun semuanya malah menjadi bumerang untukku. Bukannya bisa membuktikan pada Ghiffa bahwa aku baik-baik saja dan tidak membutuhkannya, aku malah membuat diriku lebih tidak berdaya lagi. Satu kakiku digips, dan kakiku yang lain melepuh.


Akhirnya aku malah mempermalukan diriku sendiri di depannya. Bahkan kini aku menangis tersedu di dalam pelukannya.


"Masih sakit? Kita ke Dokter aja ya?" Tidak ada amarah seperti tadi dari nada bicaranya.


Aku menggelengkan kepalaku, "Saya sudah jauh lebih baik, Tuan." ucapku dengan terisak.


"Kalau gitu udah, jangan nangis lagi." ucap Ghiffa dengan lembut. "Seragam gue basah ini gara-gara air mata sama ingus lo."


Akupun menjauh darinya. Benar saja, seragam yang Ghiffa kenakan basah di bagian dadanya, "Maaf, Tuan."


Ghiffa mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Ia kembali membopongku dan membawaku ke ruang tengah. Ia membuka ponselnya dan mengetik sesuatu. Kemudian ia menaruhnya kembali. Lalu Ghiffa membuka sepatunya.


"Tuan kenapa buka sepatu?"


Ia tersenyum padaku, "Hari ini gue izin gak sekolah dan nemenin lo di rumah. "