The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 144: Resepsi



Minggu lalu Ghiffa sudah resmi dinyatakan lulus dari SMA Centauri. Ia bahkan menjadi perwakilan dari siswa kelas 12 untuk melakukan sambutan karena meraih prestasi terbaik. Ayah dan Ibu mertuaku hadir untuk menyaksikan momen membanggakan itu.


Ibu mertuaku menangis penuh haru. "Mama seneng banget karena akhirnya Papa kamu bisa ngeliat dan mengakui kemampuan kamu, Nak. Saat SD dan SMP kamu selalu menjadi yang terbaik, tapi Papa kamu gak pernah hadir di momen-momen seperti ini."


Aku bisa merasakan betapa terharunya ibu mertuaku. Bahkan ayah mertuaku memeluk Ghiffa dan terus merangkulnya dengan bangga. Ibu mertuaku pasti sangat menantikan waktu-waktu seperti ini.


Setelah upacara kelulusan itu, aku segera pulang ke Lembang untuk mempersiapkan pernikahan kami. Sedangkan Ghiffa tetap di Jakarta untuk mempersiapkan semua yang diperlukan untuk keberangkatannya ke rumahku nanti.


Hingga mau tidak mau aku harus berpisah dengan Ghiffa selama seminggu ini.


Hari ini para tetangga dan kerabat dekat berkumpul di rumahku. Resepsi pernikahan yang sudah aku dan Ghiffa rencanakan sejak awal kami menikah, akhirnya bisa kami adakan esok hari.


Sebetulnya rumah orang tuaku kini tidak seperti dulu lagi. Rumah mereka kini menjadi cukup luas untuk menjadi tempat puluhan orang mempersiapkan berbagai makanan.


Setahun yang lalu, Ghiffa memberikan sejumlah uang kepada orang tuaku untuk merenovasi rumah. Sebenarnya aku dan juga Ghiffa inginnya membelikan sebuah rumah baru di tempat yang lebih nyaman. Maksudnya di sebuah perumahan yang luas dan bisa masuk mobil, tapi Ayahku menolaknya. Ayahku tidak ingin melepaskan rumah dan kebun sayuran peninggalan dari kakek dan nenekku ini.


Walaupun kini beliau adalah besan dari seorang pengusaha kaya raya, ayahku mengatakan bahwa itu tidak akan mengubahnya menjadi orang lain. Beliau akan tetap menjadi dirinya yang bersahaja dan sederhana.


Ia juga menekankan padaku dan Ghiffa walaupun kami bisa memberikan ayah dan ibuku apapun, itu bukanlah kewajiban kami. Kami boleh memberikan sesuatu pada ayah dan ibuku, tapi sewajarnya saja.


Seperti itulah ayahku. Ghiffa selalu protes saat ayahku menolak dibelikan ini dan itu. Ia selalu berkata, "Sekarang aku tahu darimana sifat keras kepala kamu itu. Fix nurun dari Bapak." dumelnya.


Yah, memang tidak semua orang akan bahagia dengan memiliki harta. Termasuk ayahku. Ayahku lebih suka hidup dengan apa adanya seperti ini, mensyukuri apa yang dimilikinya dan beliau selalu merasa cukup. Harta justru membuat ayahku merasa terbebani.


Maka akhirnya kamipun tidak memaksa lagi jika beliau tidak mau dibelikan rumah yang lebih layak, lebih besar dan lebih nyaman.


Akhirnya setelah perdebatan panjang, kami menemukan jalan tengah. Ayahku setuju untuk membiarkan kami merenovasi rumah. Rumah sederhana milik ayahku yang asalnya hanya satu lantai dan terdapat dua buah kamar, kini memiliki dua lantai. Dibuat dua kamar lagi di lantai atas. Kini Anis dan Asha memiliki kamarnya masing-masing. Satu kamar dibuat untuk kamar tamu. Kamar itu bisa digunakan jika Ghiffa dan aku atau ada kerabat dekat kami yang menginap.


Lantai rumah yang asalnya berupa keramik putih biasa berukuran 30x30 cm kini menggunakan granit berukuran 60x60 cm. Kamar mandi juga direnovasi agar lebih nyaman, tak lupa kami juga memasang water heater bertenaga surya. Benda itu cukup penting mengingat udara Lembang yang dingin. Sehingga ibuku tidak perlu memasak air lagi jika diantara kami sekeluarga ada yang ingin mandi di saat cuaca sedang tidak bersahabat.


Tidak lupa kami juga membelikan beberapa furnitur dan alat-alat elektronik untuk melengkapi rumah tersebut agar lebih nyaman.


Ayahku sempat memprotes pada Ghiffa karena rumah ini malah tidak seperti direnovasi, tapi benar-benar dibuat dari awal lagi. Tapi akhirnya beliau tidak bisa apa-apa lagi saat ibu dan adik-adikku begitu gembira saat melihat rumah kami yang kini menjadi sangat nyaman meskipun untuk mengaksesnya harus melewati gang yang cukup sempit. Jika berada di tengah-tengah kota Bandung mungkin rumah ini bisa mencapai harga satu milyar lebih.


Masih tergolong sederhana bagi seorang Ghiffa sebenarnya. Tapi aku mewanti-wanti Ghiffa untuk tidak terlalu memaksakan kehendak, khawatir itu akan melukai harga diri ayahku.


Selain rumah, kami juga membelikan sebuah mobil pick up agar ayahku memiliki mobil sendiri untuk mendistribusikan sayurannya. Ghiffa juga membantu pendistribusian itu ke beberapa kafe miliknya. Jadi cukup sering ayahku ke Jakarta sejak setahun terakhir untuk mengirimkan langsung berkwintal-kwintal sayuran ke beberapa pasar induk dan juga kafe-kafe milik Ghiffa yang kini sudah bertambah beberapa lagi dalam waktu satu tahun.


Ayahku juga kini memperkerjakan lebih banyak tetangga kami untuk menggarap kebunnya. Ayahku sesekali saja terjun ke kebun. Sisanya dikerjakan oleh para 'karyawan'nya.


Kembali lagi ke persiapan pernikahanku.


Ayahku tidak ingin pesta yang akan diadakan itu menggunakan wedding organizer beserta jajarannya seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang di jaman sekarang. Menurut ayahku, sebaiknya semua persiapan dikerjakan bersama-sama dengan bantuan dari para kerabat dekat dan juga tetangga.


Aku dan Ghiffa sendiri tidak mempermasalahkannya. Kami menurut saja keinginan ayah dan ibuku. Maka hari ini ibu-ibu dan remaja putri berkumpul di rumahku membuat berbagai macam makanan untuk parasman dan juga untuk stand.


Menu makanannya juga mengikuti selera orang-orang di kampungku, seperti sayur sop, sate kambing dan ayam, gurame bumbu kuning, sambal goreng ati, sambal goreng kentang, rujak, dan tak lupa juga sambal beserta lalabnya. Untuk standnya sendiri ada berbagai macam makanan seperti mie kocok, baso tahu, berbagai jenis bubur tradisional, es cendol, es doger, dan makanan tradisional lainnya.


Para bapak dan remaja putra membantu untuk mempersiapkan tempat itu. Mereka bergotong-royong untuk mempersiapkan tempat tersebut hingga akhirnya di sore hari semua persiapan sudah sepenuhnya rampung.


Memang lelah sekali mempersiapkan ini semua sendiri tanpa bantuan WO, tapi ada kepuasan tersendiri dalam menyelenggarakannya. Terutama di gang rumahku banyak tetangga-tetanggaku yang kurang mampu. Saat mempersiapkan segala hal mengenai pernikahanku mereka begitu bersemangat untuk membantu. Ini menjadi kesempatan keluargaku untuk membantu mereka juga. Sehingga beberapa hari mereka tidak perlu memikirkan mengenai makanan, karena selalu ada konsumsi bagi mereka yang membantu mempersiapkan acara.


Hari resepsipun tiba.


Pagi-pagi sekali MUA yang dipesankan oleh Ibu mertuaku datang, bersama juga dengan Belva. Ini juga hasil negosiasi sebenarnya, Ibu mertuaku tidak akan mendebat bagaimana dan seperti apa pestanya berlangsung, tapi pakaian dan make up, ia hanya percaya pada MUA langganannya. Ibuku setuju-setuju saja, karena selera ibu mertuaku yang selalu terlihat fashionable itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Kami semua dijamin terlihat cantik dan tampan di acara nanti.


Begitu datang, mereka langsung mendandaniku dengan kebaya putih bertabur manik-manik yang berkilau dan juga dipadukan dengan rok span batik. Tak lupa siger sunda dan rangkaian bunga melati menghiasi kepalaku. Aku melihat diriku di kaca dan lagi-lagi merasa pangling sendiri. Apalagi dengan siger dan rangkaian bunga melati yang menjuntai indah di dada sebelah kiriku.


Akhirnya aku mengenakan pakaian yang hanya akan aku pakai sekali dalam seumur hidupku.


Walaupun tidak ada akad, acara penyambutan rombongan Ghiffa akan dilaksanakan secara formal. Prosesi adat sunda juga akan diadakan, sesuai dengan keinginan ayahku. Maka dari itu aku tetap harus berdandan dengan tradisional seperti ini.


Tak lama rombongan Ghiffa datang diiringi suara yang begitu riuh dari puluhan motor sport. Ghiffa sempat mengabariku bahwa anggota Centaur Squad akan datang pada acara kami dan mereka memutuskan untuk datang dengan menggunakan motor, mereka melakukan touring dari Jakarta ke Lembang dengan pengawalan dari anak buah Ayah Max.


Sedangkan Ghiffa sendiri beserta ayah dan ibu mertuaku datang dengan dua mobil mewahnya yang juga dikawal khusus oleh pengawal yang biasa menjaga keamanan dari ayah mertuaku setiap beliau pergi ke berbagai acara.


Acara diawali dengan Ghiffa yang menggunakan pakaian senada denganku, datang memasuki tempat resepsi. Saat memasuki ruangan itu, Ghiffa dikalungi rangkaian bunga melati oleh ibuku. Lalu kata-kata sambutan, dan acara formal lainnya dimulai. Setelah itu, Aku dipersilahkan masuk untuk menemui Ghiffa.


Aku dipapah oleh Belva dan juga Anis untuk datang menghampiri Ghiffa. Seperti biasa Ghiffa selalu terlihat tampan, dengan pakaian adat sunda berwarna putih dan batik yang sama denganku serta kopiah putih di kepalanya.


Kami bersih tatap, Ghiffa tersenyum tipis melihatku dan entah mengapa aku menjadi deg-degan sendiri. Padahal kami sudah menikah cukup lama, tapi acara ini benar-benar membuatku kembali gugup, seperti awal pernikahan kami dulu.


Kemudian acara dilanjut dengan beberapa prosesi adat sunda yang biasa ada dalam pernikahan. Sebetulnya jika di kota-kota prosesi ini sudah agak ditinggalkan, tapi aku senang karena ayahku meminta prosesi itu tetap diadakan karena aku bisa melestarikan budaya nenek buyutku juga.


Kemudian sebelum dimulainya jamuan makan siang, aku berganti pakaian dengan pakaian pengantin modern berwarna broken white dengan sebuah buket di tanganku, sedangkan Ghiffa menggunakan tuxedo berwarna hitam, senada dengan pakaian ibu dan ayah kami.


Memasuki tempat acara lagi, aku dan Ghiffa diantar dengan upacara adat sunda menuju ke pelaminan. Setelah itu barulah acara jamuan dimulai. Orang-orang mulai mengantri untuk bersalaman dengan kami dan kemudian menyantap hidangan yang sudah dipersiapkan.


Sampai menjelang sore hari tamu seakan tidak berhenti datang. Acara pernikahan di desa memang berbeda dengan di kota, tamu bebas datang kapanpun mereka mau. Barulah pukul 4 sore acara benar-benar berakhir. Ayah dan Ibu mertuaku pamit pulang. Mereka terlihat kelelahan tapi tak ada raut sedih atau kesal di wajah mereka.


Mereka bahagia untuk kami.


Sedangkan para anggota Centaur Squad sudah pulang sejak siang hari setelah mereka lelah menari dengan para biduan dangdut yang memang menjadi hiburan pada acara kami ini.


Adanya dangdutan di acara pernikahanku ini adalah request dari para tetangga kami. Tidak afdol rasanya jika pernikahan tanpa adanya dangdutan, begitu kata mereka. Awalnya aku agak ragu, tapi sepertinya menyenangkan juga memperlihatkan ini kepada ayah dan ibu mertuaku juga teman-teman Ghiffa. Mereka pasti tidak pernah datang ke pernikahan dengan acara dangdut sebagai hiburannya.


Alhasil acara memang menjadi lebih hidup. Terutama saat Max, Theo, Bara, dan yang lainnya ikut berjoget bersama dan memberikan 'sawer' pada para biduan dangdut itu. Lucu sekali rasanya melihat mereka berjoget seluwes itu, padahal biasanya mereka lebih banyak mendengar musik-musik death metal.


Begitu juga dengan ayah dan ibu mertuaku yang lebih sering menjadikan musik klasik sebagai hiburan diacara pesta yang mereka adakan. Kali ini mereka bahkan terus tertawa gembira melihat tingkah konyol teman-teman Ghiffa di atas panggung berjoget bersama para biduan dangdut.


Sungguh, resepsiku ini terasa sangat berkesan.