The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 63: Jaga Hati



Sontak aku memukul pundak Ghiffa, membuatnya pura-pura meringis kesakitan. Aku tahu di berbohong, aku memukulnya tidak sekeras itu tapi ia sampai meringis berlebihan. Sembarangan sekali Ghiffa mengatakan aku kelas 3 SMP. Bahkan aku ini lebih tua dari Olivia.


"Jangan dengerin dia ya. Salam kenal Olivia, aku Ayana. Aku udah kuliah kok, Sekarang semester 3." Aku hanya bisa tersenyum ramah padanya, karena sulit untukku untuk mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan keadaan kakiku.


"Beneran udah kuliah? Maaf ya. Gue gak tahu." Ucapnya penuh sesal.


"Gak apa-apa, kok. Gak usah gitu nyantei aja." Ucapku merasa tidak enak karena Olivia terlihat menyesal sekali. "Bentar gue kayaknya pernah denger nama lo, tapi dimana ya."


Seketika wajah Olivia menegang.


"Kenapa liv?" tanya Ghiffa.


"Gak, gak apa-apa kok. Sorry ya kayaknya stress gue belum sepenuhnya sembuh." Ujarnya lirih.


"Lo kenapa Liv? Ini ada hubungannya sama si Ghaza? Ngomong sama gue biar gue datengin dia." Wajah Ghiffa seketika ikut menegang.


"Gak kok. Udahlah gak usah dipikirin. Tapi, Ayana lo kenal juga sama Ghaza gak?" tanya Olivia tiba-tiba.


Aku dan Ghiffa saling menantap, kemudian aku menjawabnya. "Iya aku kenal sama kakaknya Ghiffa. Kenapa emangnya, Liv?"


Olivia terlihat terkejut. Aku menjadi keheranan melihatnya. Kenapa Olivia bisa bertanya seperti itu?


Olivia menggelengkan kepalanya, "Gak apa-apa." Kemudian ia bangkit dari duduknya, "Gue masuk dulu ya. Seneng bisa ketemu kalian. Langgeng ya."


"Seneng juga bisa ketemu. Makasih Olivia." Ucapku, disahuti oleh Ghiffa. "Thanks, Liv."


Olivia tersenyum, dan mulai melangkah ke meja reservasi. Baru beberapa langkah ia berhenti dan kembali melihat ke arah kami, "Ghif, jagain cewek lo. Jangan sampe Ghaza deket sama dia." Raut wajah Olivia terlihat sedih saat mengatakannya.


Apa maksud ucapannya?


***


Kami duduk di sofa ruang tengah. Ghiffa melarangku masak untuk makan malam akhirnya ia memesan pizza dan baru saja ojek online datang membawakan pesanan kami. Ghiffa membawakan gelas untuk cola sebagai minuman pendamping pizza yang akan kami santap.


"Maaf ya, malah jadi kamu yang nyiapin." Biasanya jika Ghiffa memesan makanan seperti ini aku yang akan sibuk menyiapkannya. Kali ini aku malah hanya duduk saja dan membiarkan Ghiffa membawa gelas untuk kami, membuka kotak pizza, saus, dan juga makanan pendamping lainnya.


"Yang, kamu itu pacar aku sekarang. Kamu gak harus ngurusin aku lagi." ujar Ghiffa sibuk menuangkan cola.


"Ya gak bisa dong. Aku 'kan kerja disini." Aku menerima sepotong pizza yang Ghiffa berikan.


"Ya udah kamu boleh kerja. Tapi pas kamu udah bener-bener sembuh. Terus jangan nganggep diri kamu ART aku lagi, tapi kamu harus nganggep kalau kamu itu beresin rumah kamu sendiri. Pakai semua fasilitas disini semau kamu. Tidur di kamar tamu dan kalau kamu mau nonton atau ngerjain tugas, kamu lakuin di ruang tengah, di kamar kamu, atau di kamar aku, dimanapun kamu mau. Ya?"


"Tapi..."


"Yang, jangan protes terus bisa gak sih? Iya aja gitu kalau aku ngomong." ujar Ghiffa cemberut.


Karena dia sudah sangat baik hari ini padaku, baiklah aku akan menurutinya. "Iya, ya udah. Tapi Ghif, Nyonya Natasha jangan sampai tahu hubungan kita ya."


"Kenapa?"


"Nyonya gak akan ngebiarin aku tinggal disini kalau tahu kita pacaran." Jelasku.


"Kalau Mama sampai ngusir kamu dari sini itu urusan aku, Yang. Pokoknya aku gak akan backstreet lagi dari siapapun. Aku pengen bilang sama semua orang kalau kita pacaran."


"Tapi aku butuh kerjaan ini, Ghif."


"Ya gak bisa gitu dong, Ghiffa. Aku bukan tanggung jawab kamu. Kamu gak punya kewajiban buat nafkahin aku. Terus kalau kamu mau aku tetep tinggal disini, kita gak mungkin bilang kalau kita pacaran. Mama kamu pasti langsung misahin kita."


Ghiffa menghela nafas, "Ribet banget sih." ujarnya.


"Ya terserah kalau kamu mau aku gak tinggal disini lagi. Terus aku harus cari pekerjaan lain. Ya gak apa-apa kamu bilang aja sama semua orang." Ujarku santai.


"Iya deh. Nggak. Aku ngalah. Yang penting kamu tinggal disini terus." Ucapnya dengan manja melingkarkan tangannya di sekeliling tubuhku. "Jadi di sekolah juga aku gak boleh deket-deket?"


"Iya. Lagian aku udah mau selesai nginfal Bu Helen yang lagi cuti. Dua minggu lagi juga katanya udah mulai masuk lagi." Aku menautkan jari-jariku di antara jari-jari Ghiffa. "Gak kerasa udah hampir tiga bulan aku tinggal disini."


"Harusnya kita udah pacaran tiga bulan itu. Ini malah baru jadian sekarang." Dumelnya.


"Mending juga sekarang. Daripada nggak sama sekali?" ucapku.


"Bisa banget ya ngomongnya. Padahal kalau kamu gak keras kepala kita udah pacaran dari lama."


Aku menoleh ke arahnya, "Iya maaf, Sayang."


Ghiffa menoleh ke arahku. Kedua sudut bibirnya terangkat dan mendekat untuk mengecup bibirku sekilas. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di sofa dan kepalanya berada di pahaku.


"Eh, Ghif. Tadi sikap Olivia kenapa kayak gitu ya? Dia belum bisa pulih dari stressnya itu maksudnya gimana?" tiba-tiba saja aku kepikiran pada mantan pacar Ghiffa itu.


"Seudah putus dari Ghaza Oliv sempet down. Dia sampai konsul ke psikolog dan juga konsumsi obat tidur karena dia susah buat tidur. Bayangin aja pertunangan mereka itu udah sampe ngomongin merger perusahaan. Saat Ghaza mutusin Oliv, papanya sempet nyalahin Oliv banget. Tapi akhirnya kerjasama mereka tetep jalan, cuma gak jadi merger aja. Tapi yang jadi korbannya malah Oliv."


"Ya ampun. Kasian banget Olivia sampai kayak gitu."


"Oliv bilang Ghaza adalah cinta pertama dia. Dia udah mimpi bakal nikah sama Ghaza seudah beres kuliah nanti. Taunya baru berapa bulan dia udah diputusin. Emang anj*ng si Ghaza." Ghiffa terlihat kembali tersulut emosi.


"Setuju sih Tuan Ghaza jahat banget." ucapku.


"Kamu juga harus hati-hati, Yang. Kamu denger Oliv bilang apa tadi 'kan? Jangan deket-deket sama Ghaza."


Aku menghela nafas jengah, "Kamu sama Olivia itu mikirnya apa sih. Tuan Ghaza itu gak mungkin deketin aku."


Ghiffa bangkit dari rebahannya dan duduk menghadap ke arahku, "Ghaza itu udah mulai tertarik sama kamu, Yang. Dia nyembunyiin kamu di rumah sakit. Dia juga beliin kamu iphone. Terus liat ini."


Ghiffa meraih ponselnya yang tergeletak di sebelah kotak pizza, dan membukanya.


"Ini dikirim Zayyan tadi waktu kamu lagi potong rambut." Ghiffa memperlihatkan chat yang dikirimkan oleh Zayyan. Aku sedikit tercengang melihatnya, "Itu statusnya Ghaza. Di screenshoot sama Zayyan."


Status Ghaza itu adalah foto sebuah buku yang sepertinya novel. Ia memfoto kalimat terakhir dari buku tersebut. Terdapat nama 'Ayana' di buku tersebut. Sekilas mungkin terlihat tidak ada yang aneh jika tidak ada namaku disana.


"Ini apa? Gak ada yang aneh kok." aku pura-pura tidak tahu.


"Jelas-jelas ada nama kamu disini, Yang." ucapnya sedikit emosi.


"Kebetulan aja Tuan Ghaza lagi baca novel yang ada nama akunya kali, Ghiffa." Aku mencoba membuat Ghiffa tidak overthinking.


Ghiffa malah terus menunjukkan rasa khawatirnya, "Kamu harus hati-hati sama Ghaza. Kamu liat tadi Oliv sampai secemas itu 'kan tadi? Kayaknya dia juga udah liat status Ghaza itu."


Ghiffa merengkuh tubuhku dalam pelukannya, "Aku gak akan diem aja. Aku gak akan rela kalau Ghaza ngerebut kamu dari aku. Aku bakal ngelawan dia. Kamu juga tolong, jaga hati kamu buat aku."