The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 115: Nasehat Lucas



Ghiffa's point of view


Melihat Ghaza mencium sang istri di depan matanya, tentu saja membuat darah Ghiffa mendidih. Ia langsung menarik Ghaza menjauh dari Ayana dan mendorongnya ke lantai kemudian menghantamkan kepalan tangannya pada wajah sang kakak berkali-kali, hingga darah segar mulai keluar dari hidung Ghaza.


Beberapa saat Ayana tak bereaksi. Ia seperti termenung dan kehilangan kendari akan dirinya sendiri. Namun beberapa saat kemudian Ayana tersadar dan melihat tubuh Ghaza yang berada di antara kedua kaki Ghiffa. Ghaza terus meronta-ronta mencoba melawan sang adik, tapi tidak bisa. Kekuatan Ghiffa sedang berada di ambang batas maksimalnya. Bagaimana tidak, rasa cemburu dan tak terima sudah membuatnya gelap mata.


Ayana khawatir jika Ghiffa tidak dihentikan, keadaan akan semakin memburuk. Segera ia menghampiri Ghiffa dengan kembali terisak, "Aa, udah cukup! Bawa aku pergi dari sini, A! Aku mohon!" Ayana menarik jaket kulit yg digunakan Ghiffa.


Nafas Ghiffa menderu, tangannya mengepal di udara, ia hentikan ancang-ancangnya saat mendengar suara Ayana yang kembali terisak di punggungnya.


Ghiffa bangkit dari atas tubuh sang kakak, "Urusan kita belum selesai!" Kemudian ia meraih tas dan tangan Ayana kemudian membawanya pergi menuju lift.


Saat lift tertutup Ghiffa menatap nanar pada sang istri, "KENAPA KAMU GAK BILANG GHAZA UDAH LEC*HIN KAMU, AY?!" Ayana yang masih terisak hanya bisa terdiam dengan tubuh yang masih gemetar. Syok yang menyerangnya menjadi berkali-kali lipat menyiksa saat Ghiffa berteriak padanya.


Ghiffa meremas kedua pundak Ayana, "Kenapa kamu nanggung ini semua sendirian? Kamu inisiatif duluan buat lakuin itu waktu itu, kamu minta aku buat merahin leher kamu waktu itu buat nutupin jejak Ghaza, iya 'kan?! Kamu sengaja gak ngasih tahu aku supaya apa, Ay?! Kamu mau ngelindungin Ghaza?!" Ghiffa begitu emosi sampai-sampai tanpa sadar ia justru menyalahkan Ayana.


Ayana yang sudah tertekan batinnya sejak bertemu tadi siang dengan Ghaza di supermarket, hingga akhirnya harus mengalami kejadian tadi, benar-benar sudah sampai ke titik yang tak bisa ditolelir lagi olehnya. Pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa berputar dan sakit sekali. Seketika tubuhnya melemas dan ia kehilangan kesadaran.


"YANG!" Ghiffa yang sedang mencengkram kedua pundak Ayana, reflek meraih tubuh sang istri yang hampir ambruk ke lantai. "Aya! Sayang!" Ghiffa panik, ia menepuk-nepuk pipi Ayana berulang kali namun Ayana tetap tak sadarkan diri.


Seketika sesal ia rasakan. Air mata mengalir dari kedua matanya. Seharusnya ia tidak memarahi Ayana. Seharusnya ia tidak meluapkan emosinya pada Ayana. Ayana justru korban disini. Tapi saking tak bisa berpikir jernihnya, Ghiffa benar-benar kehilangan kontrol akan emosinya sendiri.


Segera ia membopong tubuh sang istri saat lift terbuka di lobi di lantai 7.


"Ghif!" Lucas menghampiri Ghiffa yang membopong tubuh Ayana yang tak sadarkan diri. Seketika Ghiffa merasa sangat bersyukur karena tiba-tiba saja Lucas ada disana, disaat ia benar-benar merasa sangat kalut.


"Om, Aya pingsan!" isak Ghiffa, "gara-gara gue dia kayak gini. Tolongin gue, Om!"


Lucas sampai terperangah sesaat. Tak pernah ia melihat Ghiffa yang selalu nampak kuat dan sangar itu menangis hingga seperti itu.


"Lo tenang dulu! Ayo bawa Aya ke mobil." Lucas membimbing Ghiffa menuju mobilnya. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di sebuah IGD. Dokter sedang memeriksa keadaan Ayana. Ghiffa senantiasa menunggu di samping sang istri bersama dengan Lucas.


"Kondisi mbaknya tidak apa-apa, secara fisik baik-baik saja. Tapi jika tadi Mas mengatakan bahwa ia baru saja mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan mungkin ada masalah secara psikisnya. Itu bisa kita ketahui setelah mbaknya sadar. Sebaiknya dirawat dulu saja untuk malam ini, agar besok pagi bisa dicek oleh dokter spesialis kejiwaan." Terang dokter IGD tersebut.


Setelah beberapa saat, Ayana dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Ghiffa duduk di sebelah brangkar yang ditiduri Ayana. Sebuah selang infus menempel di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan Ayana, dipegang erat olehnya.


Perasaan Ghiffa sudah sedikit tenang, walaupun belum sepenuhnya. Lucas yang tadi sempat pergi membeli makanan sudah kembali. Ia membuka sekotak nasi goreng yang dibelinya di kantin rumah sakit, dan menyajikannya di meja depan sofa di ruangan itu.


"Ghif, makan dulu." ujar Lucas.


"Gue gak laper." lirih Ghiffa. Ia sama sekali tidak memiliki selera untuk makan di saat seperti ini.


"Makan. Lo butuh tenaga buat jagain Aya. Kalau lo juga sakit gimana? Udah, biarin Aya istirahat. Lo denger sendiri dia gak apa-apa. Tinggal kita tunggu besok aja gimana kata dokter spesialis kejiwaan."


Yang dikatakan oleh Lucas memang benar. Ia tidak boleh sampai sakit. Ia memang belum sempat makan apapun sejak balapan itu. Begitu juga Ayana.


"Tapi Aya juga belum makan. Dia nungguin gue di kantor polisi tadi. Dia pasti lemes, terus harus ngalamin kejadian tadi. Dasar, gue gak becus banget jadi suami." Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.


"Aya udah diinfus. Nutrisi yang dia butuhin masuk lewat infusannya. Sekarang lo juga harus isi perut lo." bujuk Lucas lagi.


Ghiffa meneguk segelas air putih dan mulai menatap ke arah Lucas yang sejak tadi terus memerhatikannya.


"Kenapa lo ada di lobi apartemen Ghaza tadi?" Akhirnya Ghiffa membuka suaranya setelah beberapa saat keheningan yang canggung menyelimuti mereka.


"Gue jaga-jaga aja. Takut ada apa-apa. Ternyata bener 'kan." ucap Lucas. "Sekarang lo ceritain apa yang sebenernya terjadi di apartemen Ghaza?"


Kemudian Ghiffa menceritakan semuanya pada Lucas, kecurigaan mereka selama ini tentang penculikan Ayana ternyata bukan hanya sebuah spekulasi, tapi benar-benar terjadi. Lucas hanya bisa memberikan kata-kata semangatnya pada Ghiffa. Pasti sangat berat bagi Ayana, juga bagi Ghiffa, yang lagi-lagi harus merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari sang kakak.


Ghiffa menundukkan kepalanya, "Sorry, Om. Semua ini salah gue. Coba gue gak pergi dari kafe."


Lucas merangkul pundak Ghiffa, "Udah lupain. Gue juga salah sih."


Ghiffa menatap sang paman, "Gue gak ngerti kenapa lo bisa jadi kaki tangannya bokap."


Lucas mengerutkan dahi, "Gue bukan anak buah dia ya, sorry. Gue lebih kayak partner bisnisnya."


"Ya tapi kenapa lo bantuin dia?" tanya Ghiffa penasaran.


"Agak klise sih. Lo pernah denger gak, sebenci-bencinya orang tua, mereka pasti tetep peduli sama anaknya. Karena gengsinya terlalu gede, makanya bokap lo gak bisa ngungkapin rasa pedulinya itu langsung ke lo. Gue cuma bantuin aja."


Entah mengapa, perasaan Ghiffa sedikit menghangat. Bahkan sejak ayahnya memberikan restunya untuk menikah dengan Ayana, rasa benci terhadap sang ayah sedikit berkurang. Hanya sedikit.


"Dan juga," sambung Lucas, "gue butuh duit. Jadilah gue sama bokap lo bikin hubungan simbiosis mutualisme."


Ghiffa menghela nafasnya, "Parah. Lo bener-bener ngibulin gue. Gue kira gue bener-bener bos lo."


"Lo emang bos gue, Ghif. Kafe itu juga beneran punya lo. Gue cuma manajer, lo pemiliknya."


"Tapi gue cuma ngasih 50 juta sama lo waktu itu."


"Emang kenapa kalau lo cuma ngasih 50 juta? Tapi tetep 'kan selama ini lo ikut nentuin semua keputusan yang berkaitan sama kafe. Gue gak akan jalan kalau gak ada ACC dari lo."


"Bisa banget sih lo, Om. Padahal gak ada gue, lo bisa jadi pemilik kafe itu. Lo juga yang dapetin modal dari bokap. Orang gue gak berharap apa-apa dulu waktu ngasih modal itu."


"Justru itu poin utama kenapa gue ngehormatin lo." Lucas meremas pundak Ghiffa, merasa sangat berterimakasih, "Di saat semua orang mandang gue sebelah mata, cuma lo yang tanpa pamrih ngasih gue bantuan itu. Lo udah berjasa buat hidup gue yang udah hampir ancur, Ghif."


"Lebay lo, Om." Ghiffa tidak terbiasa berada dalam situasi yang penuh haru seperti itu dengan Lucas.


Lucas hanya tertawa mendengarnya, "Sekarang dengerin gue, Ghif." Lucas menatap Ghiffa dengan serius, "Buang jauh-jauh gengsi lo itu. Lo liat Aya sampai kayak gini gara-gara Abang lo yang serakah itu. Sekarang demi Aya, lo harus bikin Ghaza ngerasain gimana sakitnya kehilangan sesuatu yang berharga bagi dia dengan cara direbut paksa itu kayak gimana rasanya."


"Maksud lo?"


"Manfaatin bokap lo. Lo ambil lagi apa yang udah Ghaza ambil dari lo."


"Maksud lo..."


Lucas mengangguk, "rebut balik saham dan aset lo. Kalau perlu seluruh PT Melcia Properti, rebut itu semua dari Ghaza."