
Aku mendorong sebuah troli berisi buku-buku yang baru saja dikembalikan oleh para siswa. Aku menyusuri lorong-lorong di perpustakaan itu dan mengembalikan buku-buku itu ke rak sesuai dengan genrenya masing-masing.
"Ayana," sebuah suara menyapaku dari belakang. Akupun menoleh dan melihat Zayyan disana. Hatiku mencelos beberapa detik sebelum aku tersadar dia bukanlah Hyuga. Aku tidak menggubrisnya dan kembali mengerjakan tugasku.
"Ayana, boleh kita ngobrol sebentar gak?" suara Zayyan sedikit berbisik karena saat itu perpustakaan memang sedang sepi-sepinya.
"Aku lagi kerja." Aku masih kesal padanya. Kesal dan malu, lebih tepatnya. Sebulan lebih aku menganggapnya sebagai pacarku. Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja padanya sekarang.
"Sebentar, aja. Please. Aku tahu kamu pasti masih marah, tapi kali ini aku butuh bantuan kamu. Pacar aku sedikit salah paham karena waktu itu aku ngejar kamu."
Sepertinya aku memang harus berbicara dengan Zayyan. Aku merasa bersalah juga pada pacarnya Zayyan, dan aku merasa berhutang maaf padanya. "Ya udah, kamu tunggu di luar. Bentar lagi aku selesai."
Wajah Zayyan berubah cerah, ia mengangguk dan berlari kecil ke arah pintu keluar.
Kemudian aku dan Zayyan sudah berada di pinggir lapangan basket. Kami duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Kami melihat ke arah lapangan basket outdoor yang penuh oleh anggota ekskul cheerleader yang sedang berlatih.
"Kalian gak belajar?" tanyaku melihat anak-anak memang terlihat berkeliaran di luar gedung utama, padahal sekarang belum waktunya pulang ataupun waktu istirahat.
"Hari ini emang kita belajar sampai jam 12, seudah itu kita ekskul, sampai jam pulang sekolah."
Aku baru tahu. Karena memang biasanya aku tidak di luar perpustakaan pada jam segini. Aku pasti sedang mengembalikan buku-buku yang dipinjam seperti tadi.
"Terus kenapa kamu disini? Kamu gak ikut ekskul?" tanyaku heran.
"Aku kan anak beasiswa, jadi fokus di akademis. Jadi kalau lagi jam ekskul gini harusnya aku di ruang belajar sih, ada tambahan pelajaran gitu. Cuma hari ini gurunya lagi ada perlu. Jadi aku bebas." terangnya.
"Terus kenapa kita duduk disini?" tanyaku.
"Itu cewekku. Bentar katanya, udah dia pemanasan, dia baru bisa ngobrol. Gak apa-apa 'kan nunggu dulu bentar?" Zayyan menunjuk ke salah satu anak cheers. Aku melihat seorang gadis dengan rambut diikat ekor kuda yang aku lihat waktu itu berpelukan dengan Zayyan.
Kejadian memalukan itu ku ingat kembali. Tanpa sadar aku berdeham dan menggeser dudukku yang sudah cukup berjarak dengan Zayyan, menjadi sedikit lebih jauh lagi sampai ke ujung bangku itu.
"Ayana, gak bisa emang kita jadi temen aja? Kita udah terlanjur kenal, kenapa gak temenan aja?" ujar Zayyan ramah. Dia seperti menangkap kecanggunganku.
"Kamu kira setelah semua yang udah kejadian, aku bisa jadi temen kamu?" tanyaku merasa tidak nyaman. "Gara-gara Hyuga." gumamku.
"Kamu udah tahu siapa Hyuga?" tanyanya.
Aku sempat meneleponnya tapi teleponnya tidak aktif. Aku benar-benar merasa konyol sekali sekarang. Sepertinya Hyuga hanya main-main denganku selama ini. Sedangkan aku justru sebaliknya, aku menyukai dan sayang padanya sepenuh hatiku. Mungkin dia sering menertawakanku saat aku memberikan chat-chat yang menunjukkan perhatian dan rasa sayangku padanya. Aku tahu itu tuduhan tak berdasar, aku tak punya bukti bahwa ia seperti itu. Tapi aku sudah terlanjur kecewa padanya.
"Sabar, ya, Ayana. Dia pasti punya alasannya sendiri." ucapan Zayyan yang seharusnya terdengar menenangkanku, malah menyulut emosiku.
"Kamu gak usah deh belain dia lagi. Kamu itu sama aja, udah bikin aku kayak orang bego. Kamu juga gak mau 'kan ngasih tahu aku siapa dia? Kalau kamu sesolid itu sama dia, gak usah sok peduli sama aku, Zayyan!" tanpa sadar aku menggerutunya. Untungnya musik yang menjadi latar latihan para anggota cheers begitu bising sehingga kata-kataku yang berteriak tidak terlalu membuat suaraku terdengar menghakimi Zayyan. Zayyan hanya terdiam merasa bersalah.
"Zay." anak cheers itu menghampiri Zayyan. Wajahnya terlihat masam. Jelas sekali ia sedang marah pada Zayyan.
"Hey, Beb." Zayyan berdiri, "Ini aku kenalin Ayana. Ayana kenalin ini cewek aku, Zalfa."
Cewek bernama Zalfa itu melihatku dengan tatapan sinis. Ia melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala. Ditambah sorot matanya sangat jelas mengatakan bahwa ia tidak menyukaiku. Dia yang lebih tinggi dariku membuatnya melihatku dengan dagu terangkat.
"Ayana." aku mengulurkan tanganku padanya. Akupun tidak berusaha bersikap ramah padanya karena untuk apa juga. Aku hanya akan mengklarifikasi semuanya dan tidak berniat untuk memulai pertemanan dengannya ataupun dengan Zayyan.
"Zalfa." ia menyambut tanganku sekilas. "Jadi lo beneran bukan selingkuhannya cowok gue? Atau kalian udah kongkalikong dibelakang gue buat nutupin semuanya?!" tatapan ganasnya tertuju pada Zayyan dan aku bergantian.
"Nggak. Kamu salah. Saya dan Zayyan gak saling kenal. Saya yang salah paham sama Zayyan."
"Ceritain semuanya. Gue pengen tau kenapa cowok gue langsung ngejar lo pas lo mergokin gue sama cowok gue waktu itu?" Zalfa melipat tangannya di depan dadanya. Ia menekankan nada bicaranya saat mengatakan 'cowok gue', seakan ingin menegaskan posisinya sebagai pacar Zayyan.
"Saya gak bisa cerita detailnya. Karena itu privasi saya. Yang jelas sekarang saya mau tegasin sama kamu, saya dan Zayyan gak ada apa-apa." Zalfa malah menyeringai mendengar ucapanku, "Juga tolong kamu lebih sopan. Bagaimanapun juga saya disini karyawan, saya lebih tua dari kamu."
"Lo itu cuma tenaga infal 'kan? Bentar lagi juga lo pergi dari sini. Gak usah sok deh!" ujar Zalfa dengan nada tinggi.
"Beb, udah dong. Berapa kali aku bilang aku sama Ayana itu gak ada apa-apa. Kamu pengen ngomong sama Ayana, sekarang udah aku bawa dia kesini, tapi kamu masih belum percaya juga. Aku harus gimana lagi?" Zayyan mulai tidak sabar sepertinya.
"Ngapain lo sama Ayana disini?"
Tiba-tiba sosok tinggi menjulang dan wajah dingin dengan aura mengintimidasi, menghampiri kami. Sontak kami menoleh ke arahnya. Matanya menatap Zayyan dengan tidak suka. Zalfa yang sejak tadi begitu galak memperlihatkan taringnya, kini ciut dan bersembunyi di belakang sang pacar.
"Nggak ngapa-ngapain kok, Ghif." sahut Zayyan tenang, "Gue cuma ada perlu sebentar sama cewek lo, ad..."
"Jaga omongan lo!" Ghiffa segera memotong ucapan Zayyan. Kedua alis tebalnya beradu. Ekspresinya yang dingin berubah jengkel dengan bola mata yang membulat sempurna