
"Dia beneran pacar kamu?" tanya Fahri tak percaya.
Aku tersenyum sembari cemas, "Kang Fahri jangan kasih tahu siapa-siapa ya."
"Kenapa sih, Yang? Dia mau ngasih tahu siapapun juga biarin aja. Biar orang-orang tahu kalau kamu udah ada yang punya." ucap Ghiffa sedikit dengan nada tinggi.
"Saya cuma ngobrol sama adik kelas saya, ya. Kamu gak perlu sampai semarah itu. Kamu itu laki-laki masa ngomong dengan nada tinggi sama perempuan?" Fahri berdiri menatap Ghiffa.
"Gak usah lo sok-sok ngasih tahu gue! Mending sekarang lo pergi dan jangan pernah deketin cewek gue lagi!" bentak Ghiffa.
"Udah jangan berantem disini." tegurku, "Kang Fahri, punten, Akang pergi aja ya."
"Ya udah, Ayana. Saya pergi aja. Seneng bisa ketemu kamu lagi." ujar Fahri, wajahnya memperlihatkan sekali bahwa ia kecewa. Kemudian ia melangkah menjauh dari kami.
"Dia siapa?" tanya Ghiffa tatapannya masih tertuju pada Fahri yang sudah berada cukup jauh dari kami.
"Dia kakak kelas aku dulu waktu SMA. Gak sengaja liat aku disini terus dia nyapa. Udah dong. Kamu sampai bentak dia gitu sih." protesku.
"Kamu jangan deket-deket sama dia lagi! Dia itu cowok manipulatif tahu gak? Keliatannya aja baik, padahal dalemnya gak sebaik itu."
"Tahu dari mana? Kamu 'kan baru pertama kali liat dia."
"Tahulah. Aku juga cowok. Aku bisa ngerasain dari cara dia ngomong dan gestur tubuhnya." Wajah Ghiffa masih saja terlihat kesal. "Terus tadi itu kamu panggil dia apa? Akang?!"
"Itu sebutan adik kelas ke kakak kelas di sekolahku dulu. Semuanya juga kayak gitu, Ghiffa." Aku mencoba menjelaskan.
"Tapi kamu gak pernah manggil aku pakai panggilan. Kamu malah selalu bilang aku 'tuan'. Aku ini pacar kamu atau apa sih?!" gerutunya.
"Emangnya Teteh sama A Ghiffa teh pacaran?" Tiba-tiba saja Asha menginterupsi perdebatanku dengan Ghiffa. Sontak aku dan Ghiffa menatap ke arah Asha kemudian kami saling menatap kebingungan.
"Pacaran itu apa gitu? Asha emang tahu?" Tanyaku.
"Gak tahu." ucap Asha polos.
"Iya, Asha. A Ghiffa sama Teteh pacaran." Seloroh Ghiffa, membuat tanganku spontan menggeplak lengannya hingga ia meringis.
"Enggak, Sha. Teteh gak pacaran. Teteh temenan sama A Ghiffa." Gawat, Asha harus segera dialihkan perhatiannya. "Eh sekarang kita main yuk. Asha mau gak main trampolin disana?" Aku mengalihkan perhatian adikku dan menunjuk ke arah lapangan di sisi jalan tersebut. Ada banyak permainan untuk anak-anak disana, mulai dari trampolin, Istana balon, mandi bola, melukis, dan memancing ikan.
"Ayo, Teh!" Asha begitu bersemangat.
"Bentar, Sha. Kaki teteh 'kan gak bisa jalan." ucapku pada Asha. Kemudian aku menatap Ghiffa.
"Apa?" tanyanya masih kesal.
"Gendong." Aku mengulurkan kedua tanganku pada Ghiffa. Kedua sudut bibirnya mengembang ke atas tanpa ia dapat menahannya.
"Manja banget, sih." Ghiffa pura-pura mendumel. Iapun membalikkan tubuhnya dan berjongkok di depanku, seketika aku naik ke punggungnya dan melingkarkan tanganku di sekeliling lehernya.
"Makasih Aa Ghiffa," ucapku.
Ghiffa menoleh ke arahku sejenak dan terlihat moodnya sudah jauh lebih baik. "Sama-sama, Neng Aya." ucap Ghiffa meladeni candaanku.
Kamipun berjalan ke arah lapangan. Saat itu hari sudah lewat dari senja. Jadi cukup gelap di sana. Aku duduk agak belakang di bawah sebuah pohon. Di sana ada sebuah bangku mirip dengan kursi taman, tapi terbuat dari bambu. Ghiffa memintaku menunggu di sana sedangkan ia mengantarkan Asha ke tempat bermain.
Setelah Asha berada di permainan trampolin, Ghiffa menghampiriku dan duduk di sampingku. Dari tempat kami duduk, kami bisa melihat Asha melompat-lompat di trampolin.
"Asha udah main trampolin, pengen main di istana balon katanya. Dia langsung nyuekin aku, begitu liat temennya dan bilang aku buat tunggu disini aja bareng kamu." terang Ghiffa.
"Oh, Iya itu anaknya tetangga aku." Aku melihat Asha bermain dengan seorang anak perempuan yang memang aku kenal.
Ghiffa masih terlihat memerhatikan Asha. Sepertinya ia cukup khawatir jika Asha lepas dari pengawasannya.
"Udah ih, Asha udah gede. Lagian dia sering main kesini. Jadi dia pasti nyamperin kesini kalau udah main." ujarku.
"Emang pasar ini tiap hari ada?" Tanyanya.
"Enggak, cuma weekend aja."
Aku menatap tangan Ghiffa yang berada di pahanya. Perlahan aku menelusupkan jari-jariku ke sela-sela jari Ghiffa dan menggenggamnya. Ghiffa terlihat cukup terkejut melihat apa yang aku lakukan. Namun akhirnya ia tersenyum melihatku.
"Jadi sekarang Neng Aya udah mau go public? Gak takut ketahuan sama orang?" Goda Ghiffa.
"Apaan, cuma pegang tangan aja. Lagian disini agak gelap gak akan terlalu keliatan kalau kita lagi pegangan tangan." ucapku tersipu. Entahlah naluriku mengatakan ingin sekali menggenggam tangannya, dan tanganku bergerak begitu saja. "Makasih ya kamu udah nyusulin kesini. Makasih kamu udah baik banget sama orang tua aku, sama Asha juga. Aku bener-bener masih belum percaya kamu bisa nerima aku kayak gini."
"Sekarang percaya kalau aku beneran tulus sayang sama kamu?"
Aku mengangguk pasti, "Aku bakal pegang tangan kamu kayak gini di depan semua orang mulai sekarang. Aku bakal bilang kalau kamu itu pacar aku."
Ghiffa terdiam sesaat, "Serius?"
"Iya." ucapku tanpa ragu.
Ghiffa menatapku lekat sekali, rasanya aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. "Kalau kita gak lagi di tengah-tengah banyak orang, aku udah bakal nyium kamu, Yang. Kenapa sih kamu ngomongnya disini? Gak nyari dulu gitu tempat sepi."
"Ih dasar ngomongnya nyeremin. Justru sengaja ngomongnya disini biar kamu gak macem-macem."
Ghiffa masih memandangi wajahku. Terlihat sekali ia menahan dirinya.
"I love you, Yang." lirihnya.
Seketika senyum mengembang di bibirku, "Artinya apa?" aku mengulangi candaanku yang pernah aku lontarkan pada Ghiffa.
Namun bukannya menggerutu seperti biasanya, Ghiffa masih saja berwajah serius, "Aku cinta sama kamu. Itu artinya," Kedua matanya tak lepas dariku.
Kemudian sepersekian detik ia mengecup bibirku. Segera aku menutup bibirku dengan punggung tanganku, "Ghiffa! Kalau ada orang liat gimana?!" Aku segera mengedarkan pandanganku ke sekeliling, syukurlah sepertinya tidak ada orang yang melihatnya.
"Salah sendiri kamu yang duluan mancing-mancing." Ia tersenyum tengil.
"Tapi 'kan gak sampai cium juga." gerutuku.
"Udah ih, gak ada yang liat, kok. Jangan cemas gitu." Ghiffa menenangkanku. "Yang, aku bakal kangen banget sama kamu. Besok pagi pulang bareng aku aja yuk? Jangan minggu depan."
"Aku pengen disini dulu. Sebelum menghadapi kerasnya kehidupan ibukota, aku pengen healing dulu disini."
"Lebay banget sih, Yang.. " protes Ghiffa.
"Beneran. Kamu sendiri tahu kalau aku balik ke Jakarta udah ada masalah yang udah nunggu aku. Aku harus nyari tempat kost, nyari kerjaan baru, dan aku juga harus siap-siap buat ngehadepin mama kamu."
Ghiffa segera membuka mulutnya namun aku langsung memotongnya, "Aku gak akan tinggal sama kamu lagi, Ghiffa. Itu gak boleh."
Ia agak berteriak karena kesal, "Keras kepala kamu itu kapan sih ilangnya? Susah-susah aku ngubah lantai 2 di markas buat tempat tinggal kita yang baru, kamunya malah kayak gini. Kamu bisa tinggal sama aku disana. Terus kamu bisa kerja di cafe aku juga kalau mau. Walaupun aku sebenernya gak suka kamu jadi karyawan aku."
"Serius aku boleh kerja di cafe kamu?! Makasih banyak, Ghiffa." ucapku antara sumringah dan juga terharu.
"Kenapa tinggal di atas markasnya gak dibahas?"
"Aku udah bilang itu gak boleh. Lagian kamu kenapa gak akan tinggal di apartemen lagi?"
"Nggak. Apartemen itu punyanya Papa. Aku udah gak akan nerima semua bantuan mama dan Papa lagi. Aku bisa biayain hidup aku pakai uang aku sendiri, kok. "
"Kamu serius? Nyonya pasti khawatir loh sama kamu."
"Harusnya mereka bangga anaknya udah bisa mandiri. Nanti juga mama bakal ngerti. Udah kamu gak usah mikirin mereka."
"Tetep aja aku ngerasa bersalah." cicitku.
"Ini bukan sepenuhnya salah kamu, kok. Aku emang udah rencanain ini dari lama."
"Kamu udah yakin sama keputusan kamu?"
"Yakin 100 persen, Yang."
Tanpa sadar aku menelan salivaku. Entah mengapa merasa sangat tegang dengan keputusan nekat Ghiffa. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan terus menggenggam tangannya. Itu artinya tidak ada lagi jalan untuk mundur.