The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 61: Hasil Keringat Sendiri



"Nanti aku bakal kasih tahu kamu. Sekarang kita pergi ke suatu tempat dulu ya." Ghiffa kembali menjalankan mobilnya.


"Kemana?" tanyaku penasaran.


"Tempat yang bisa manjain kamu."


Wajahku memerah, spontan aku menyilangkan kedua lenganku di kedua pundakku, "Kamu mau bawa aku kemana lagi? Jangan macem-macem loh, Ghif! Udah mending kita pulang aja deh. Kamu gak liat wajahnya Dokter tadi? Dia sempet ngeliatin leher aku tahu! Nanti orang-orang juga pasti bakal kayak gitu!"


"Leher?" tanya Ghiffa. Sesaat ia terlihat berpikir, kemudian ia tertawa malu-malu. "Kirain Om Andi gak akan nyadar."


"Semua orang yang liat pasti nyadar orang merah-merahnya banyak banget. Ya Tuhan kamu mikir apa sih pas ngasih tanda sebanyak ini? Kenapa juga aku baru nyadar tadi pas di ruang dokter?" Aku sibuk memandang pantulan bayanganku di spion sebelah kiri.


"Aku gak mikir apa-apa, Yang. Cuma ngerasa marah aja makanya aku kayak gitu." Jawabnya santai.


"Aku gak mau kamu kayak gitu lagi." Aku menatapnya tajam. "Janji sama aku kamu gak akan kayak gitu lagi!"


Ghiffa menoleh sekilas, "Iya janji nanti lagi gak akan sekasar tadi."


"Maksudnya nanti lagi itu apa?" tanyaku.


"Ya nanti aku bakal lakuin itu dengan lembut, sampai kamu bisa menikma..." Segera aku membekap mulut Ghiffa yang tanpa sensor itu.


Ghiffa meraih tanganku yang menutup mulutnya, "Kenapa sih, Yang?"


"Kamu itu masih anak SMA tapi udah kayak gitu ngomongnya. Kamu itu baru juga punya KTP!"


"Gak ada hubungannya sama aku masih SMA atau bukan dong, Yang. Aku kan cowok normal. Wajar kalau aku pengen sentuh cewek yang aku suka."


Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya Ghiffa akan semakin menempel padaku setelah kami berpacaran.


Setelah beberapa saat mobil Ghiffa masuk ke area sebuah salon and spa yang sering didatangi oleh Belva. Aku pernah kesini waktu itu. Dari luar sudah terlihat salon ini terlihat sangat berkelas. Mobil-mobil yang terparkir di area parkirannya pun bukan mobil biasa. Pengunjungnya orang-orang dari kalangan model bahkan artis. Jangan tanya harganya, aku sendiri bingung mengapa ada orang yang rela mengeluarkan uangnya demi hal-hal seperti ini.


"Ngapain kita kesini?" tanyaku. "Manjain aku itu maksudnya kesini?"


"Iyalah. Emang kamu mikir apa?" Ghiffa mematikan mesin mobilnya, "Kamu pasti mikirnya aku ngajakin kamu ke tempat kayak hotel gitu 'kan?"


"Mulutnya ya Tuan, tolong gak usah terlalu frontal." ujarku galak, berusaha menutupi malu dan gugupku karena memang itu yang aku pikirkan dari tadi.


"Ngapain ke Hotel, kalau kita bisa di apartemen." Ucapnya santai sambil tersenyum tengil.


Aku tak bisa menyembunyikan kepanikanku. Bagaimana ini, Ghiffa benar-benar berubah menjadi agresif setelah aku menerimanya sebagai pacarku. Rasa sesal tiba-tiba saja menyeruak di dalam dadaku.


Apartemen menjadi tempat paling berbahaya untukku mulai sekarang!


"Kamu mikir apa sih, Yang? Aku bercanda kali. Aku juga masih hormatin kamu. Kalau gak, dari awal aku tahu kamu  itu ART baru aku, aku udah gak akan nunggu apa-apa lagi. Tapi buktinya sampai sekarang nggak terjadi apa-apa 'kan?"


"Gak terjadi apa-apa apanya? Terus yang tadi itu apa?"


"Ya itu beda cerita. Kalau aku lagi marah emang gak bisa nahan." Ghiffa turun dari mobilnya dan mengitari kap menuju ke pintu penumpang.


Aku segera membuka kardigan yang memang aku gunakan dan menutupi leherku selayaknya menggunakan syal. "Aku pengen pake tongkat" Aku memohon.


"Jadi kamu lebih suka pakai tongkat dibanding digendong sama aku?" tanyanya galak.


Aku menatap matanya tanpa ragu, "Iya." ucapku tegas.


Aku meraih tongkat yang Ghiffa bawakan, dan tersenyum padanya. "Makasih banyak pacar." Seraya berdiri dan mulai menggunakan tongkat itu.


Ghiffa mengemut pipi dalamnya, menahan senyum mendengar ucapanku. "Ini apaan coba kardigan diginiin? Kamu emang gak kepanasan?"


"Ih jangan dilepas. Nanti orang-orang liatin leher aku." Protesku seraya mencengkram kardigan yang melilit di leherku.


Aku mulai meringis sakit saat sudah beberapa langkah berjalan. Kaki kananku yang terkena sup panas itu sedikit terasa perih. Walaupun sudah diperban sebelum aku menggunakan sepatu tadi karena pergerakan yang menimbulkan pergesekan, bagian kelingkingku yang melepuh menjadi terasa sakit dan tidak nyaman.


"Tuh 'kan. Bandel sih. Susah 'kan jalannya? Sini aku gendong aja."


"Nggak kok aku bisa." Aku segera menyingkirkan tangan Ghiffa yang bersiap membopongku.


"Mulai deh keras kepalanya." dumelnya.


Ghiffa berjalan perlahan di sampingku, menjagaku kalau-kalau aku terjatuh. Seperti itu saja aku sudah merasa sangat senang dan bersyukur karena ia bisa mendengarkan keinginanku. Hal yang selalu aku impi-impikan, berpacaran normal dengan Hyugaku akhirnya terjadi juga.


Kamipun sampai di lounge salon tersebut, aku segera mengambil tempat di salah satu sofa disana. Seorang pelayan datang menemui kami dan memberikan buku list dari berbagai treatment yang tersedia disana. Ghiffa mulai melihat-lihat dan tak lama, "Pacar saya baru kecelakaan, Saya pengen perawatan yang terbaik buat dia biar dia rileks. Saya mau yang.... ini." Ia menunjuk ke salah satu paket perawatan paling mahal dan paling lengkap.


"Nggak, mbak! Saya gak mau yang itu!" Sontak aku segera meraih buku list itu, lalu aku menatap Ghiffa. "Itu perawatan paling mahal disini, Ghif. Aku gak ada uang sebanyak itu." Ucapku berbisik.


"Kan aku yang bayarin. Udah yang ini aja, Mbak." ujar Ghiffa seraya memberikan buku list itu kepada pelayan.


"Saya mau potong rambut aja, Mbak. Gak pake perawatan-perawatan apa-apa." ucapku cepat. Pelayan itu bingung beberapa saat, lalu segera menyetujui reservasiku dan memintaku untuk menunggu sebentar.


"Yang, kamu gak usah mikirin uang. Aku ada kok!" protes Ghiffa.


"Nggak. Kamu itu lagi dihukum. Lagian kamu punya uang dari mana? Pertama tiba-tiba kamu punya mobil, terus kamu ngasih aku iphone, sekarang kamu mau kasih paket perawatan paling mahal. Jujur sama aku kamu minjem ke Max atau ke Theo, iya 'kan?"


"Bukan ih dibilangin." Ghiffa mengelak, "Ya udah aku kasih tahu. Mobil itu sebenernya punya temen aku, tapi itu juga bisa dibilang punya aku karena dia beli mobil itu dari uang aku."


"Iya terus kamu dapet uang darimana?"


"Aku sering ikut balapan. Dan aku sering menang. Kalau menang aku dapet uang taruhan."


"Balapan motor?"


"Iya. Mobil juga. Sekarang aku punya sekitar 1 M."


Mulutku menganga lebar, mataku membuat sempurna tanpa dapat aku kontrol. "Hah?! Kok bisa sebanyak itu?" Aku benar-benar tercengang.


"Ya bisalah. Soalnya uangnya gak pernah aku pake, tapi aku investasiin. Kebetulan waktu itu temen aku ada yang ngelola cafe. Waktu itu cafenya sepi dan dia udah hampir bangkrut. Aku beli cafe dia dan dia renovasi cafenya dan dia kembangin dengan bikin beberapa cabang pake uang dari aku. Taunya cafenya rame dan tiap bulan temen aku itu transfer keuntungannya ke rekening aku."


Aku sungguh tidak bisa mempercayainya. "Tapi kan semua kartu kamu udah diambil Nyonya Natasha?"


"Yang mama ambil itu kartu yang emang dikasih sama mama dan papa. Aku bikin lagi satu tanpa sepengetahuan mereka."


Aku begitu tercengang sampai tidak bisa berkata-kata. Aku saja harus bekerja keras setiap hari demi bisa mendapatkan uang yang hanya beberapa juta. Begitu juga dengan kedua orang tuaku, bekerja dengan penuh peluh setiap hari.


Tapi Ghiffa dengan melakukan balapan dan berinvestasi bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Bisa dikatakan ia tidak melakukan apapun tapi uang mengalir begitu saja ke dalam rekeningnya.


"Kamu sampai bengong gitu? Gak nyangka ya anak SMA kayak aku udah bisa punya penghasilan dari keringat aku sendiri?" Ghiffa menggerakkan kedua alisnya ke atas beberapa kali, terlihat begitu bangga.


Aku menghela nafas, sungguh dunia ini tidak adil.