
"Tuan, saya masuk ya?"
Aku membuka pintu kamar Ghiffa setelah mematikan semua lampu. Karena tadi kami sudah makan pecel lele, tidak ada piring yang harus aku cuci sebelum tidur. Aku melangkah masuk ke kamar majikanku dan melihat dia sedang berada di balkon, seperti biasa, sedang menghisap benda berasap itu. Akupun menghampirinya, bersiap menegurnya.
"Kali-kali doang, Ay. Gue udah mulai ngurangin." ucapnya seraya mematikan rokoknya.
"Saya gak ngomong apa-apa, kok." ucapku, baguslah sekarang ia sudah mulai merasa bersalah saat kedapatan olehku sedang menghisap rokok.
Aku berdiri tidak jauh dari tempat Ghiffa berdiri. Menikmati semilir angin malam dan juga pemandangan kemilaunya lampu malam ibukota.
Tiba-tiba saja Ghiffa melingkarkan tangannya di pinggangku. Sontak aku mencoba menghindarinya namun ia malah melingkarkan satu tangannya di depan dadaku, jemari kanannya meremas lengan kiriku.
"Bentar doang, Ay."
Akupun membiarkannya. Tidak ada gunanya aku berusaha untuk melepaskannya. Tenaga Ghiffa terlalu kuat untuk aku lawan dengan tubuhku yang kurus kerontang ini.
"Tuan, jangan lupa besok Tuan harus datang ke acara itu, ya. Saya sudah mengatakan kepada Nyonya Natasha, Tuan pasti datang." Aku mengingatkan.
"Harus banget ya, Ay?"
"Harus. 'kan udah sepakat. Saya gak pernah melanggar kesepatan kita selama seminggu ini, Tuan juga gak boleh melanggarnya."
"Gue juga udah jalanin syarat lo yang lainnya. Gue belajar bener-bener, gue gabung ke futsal lagi, gue juga ramah dan sopan sama semua orang. Itu belum cukup emang?"
"Tuan, apa sesulit itu untuk Tuan datang ke acara itu? Anggap aja itu acara keluarga. Tuan ketemu dengan saudara-saudara Tuan, ngobrol, makan, terus pulang. Apa yang membuat Tuan sebegitu gak maunya untuk datang?"
"Lo tahu 'kan, gue ini bukan anak yang diharapkan sama bokap gue. Ngapain juga gue harus dateng ke acara itu? Walaupun bagi lo acara itu kesannya sesederhana kumpul keluarga, bagi gue itu sama aja kayak ngajak perang abang gue."
"Perang?"
"Udah ah, lo jangan kepo. Lo pacar gue aja bukan."
Mendengar ucapannya akupun memberontak. "Kalau gitu Tuan juga harus melepaskan saya. Karena seharusnya ART dan majikan juga tidak semestinya seperti ini. Ini juga gak ada di dalam kesepakatan, Tuan!"
Ghiffa malah meraih belakang lututku dengan lengannya dan membopongnya memasuki kamar. "Tuan mau apa?!"
Ia membawaku ke tempat tidurnya dan membaringkannya disana, "Diem dan jangan bergerak." nadanya otoriter. Ia berjalan menuju saklar lampu dan mematikannya. Secara otomatis, lampu tidur di nakas yang terletak di kedua sisi tempat tidurnya menyala temaram.
Aku beringsut perlahan ke tepi tempat tidur, namun Ghiffa segera menahanku. Ia menyingkap selimut dan menyelimuti tubuhku dan tubuhnya, kemudian menidurkanku di atas lengannya.
"Tuan ini sedang apa?" aku kembali mencoba beranjak.
"Gue pengen peluk lo sambil tidur." tangannya semakin merengkuh tubuhku.
Kepalaku pusing seketika. Berada sedekat ini, dengan posisi seperti ini, dan dengan suasana lampu yang temaram, membuatku tak bisa bernafas dengan benar.
"Tapi Tuan..."
"Lo pengen gue dateng 'kan besok ke acara itu?"
Jadi ini adalah syarat tambahan darinya agar ia mau datang ke acara itu besok?
"Tenang aja, Ay. Gue cuma pengen meluk lo. Janji. Gak percaya banget lo sama gue."
Kedua tanganku berada di depan dadanya menahan tubuhku agar tidak terlalu menempel dengan tubuhnya.
"Tapi Tuan janji ya, besok dateng?" ucapku penuh harap.
"Lo diancem sama nyokap gue apa gimana sih? Takut amat."
"Gak diancem sih, tapi Nyonya Natasha sangat berharap Tuan datang. Demi Nyonya Tuan harus datang ya. Lagipula saya juga diminta datang besok jadi..."
Sontak Ghiffa mendorong sedikit tubuhku untuk menatap ke arah wajahku. "Serius?"
Kenapa dia sekaget itu? "Iya, Tuan. Saya besok juga akan datang."
Ujung bibir Ghiffa terangkat begitu saja dan kembali ia menenggelamkanku di dalam pelukannya. "Kenapa lo gak bilang? Ya udah kalau gitu fix gue dateng. Tapi disana lo harus hati-hati, jangan deket-deket sama Abang gue."
"Kenapa?"
"Jadi lo maunyadeket-deket sama dia?"
"Saya ngapain juga deket sama kakaknya Tuan. Saya ini cuma ART, Tuan. Di acara itu saya paling cuma bisa melihat Tuan dan keluarga Tuan dari jauh aja."
Ghiffa perlahan mengelus rambutku. "Lo jangan terus-terusan ngomong gitu, Ay. Lo itu istimewa. Jangan selalu lo bilang cuma ART kalau apa-apa tuh, karena nyatanya lo spesial banget buat gue."
Ucapan Ghiffa selalu bisa membangunkan desiran aneh di dalam tubuhku, hingga aku terhanyut sendiri saat mendengarnya.
Ternyata orang ini benar-benar Hyugaku yang selalu membuatku merasa jadi gadis yang paling berharga di dunia ini.
Tanpa sadar tanganku meraih punggung Ghiffa dan menenggelamkan wajahku di dadanya. Lalu kantuk mulai hinggap di mataku dan seketika akupun terlelap di dalam pelukan majikanku.
***
Keesokan paginya berjalan seperti biasa. Aku bangun dan mulai membersihkan apartemen, mencuci pakaian, dan membuat sarapan. Sedangkan Ghiffa pergi ke gym di lantai 10 yang memang menjadi fasilitas di apartemen ini.
Perbedaannya aku terbangun dalam keadaan terkejut bukan main. Aku baru ingat beberapa detik setelah membuka mata bahwa aku tidak tidur di kamarku, tapi di tempat tidur Ghiffa dan kami tidur bersama. Yang lebih membuatku terkejut adalah seingatku semalam aku tertidur dengan tanganku berada di pinggang Ghiffa dan wajahku di dadanya. Namun saat aku terbangun tadi, yang terjadi justru sebaliknya.
Kepala Ghiffa berada di lenganku, dengan kedua tanganku memeluk kepalanya. Wajah Ghiffa menempel di dadaku dengan tangan yang melingkar di pinggangku.
Sungguh posisi yang amat sangat berbahaya!
Segera aku menarik tanganku dan meninggalkan Ghiffa yang terpaksa membuka matanya ketika lenganku yang menjadi bantalnya tiba-tiba saja menghilang.
Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi lagi. Jika bukan demi membujuknya untuk datang ke acara itu, aku tidak akan membiarkan diriku terperosok pada akal-akalannya lagi.
Matahari semakin meninggi. Ghiffa berada di meja makan setelah ia mandi dan kini menyantap sarapannya. Kemudian ia mengatakan akan pergi untuk men-service mobilnya dan bertemu dengan teman-temannya sebelum pergi ke acara itu.
"Jangan lupa ya. Lo harus dateng ke salon yang udah gue share loc. Gue gak akan nganter lo karena gue yakin lo pasti gak mau gue anter."
Aku menatap layar ponselku dengan bingung, "Tapi Tuan, ini kenapa saya harus ke salon?"
"Udah nurut aja. Take your time, pilih baju yang lo suka, dandan yang cantik, dan kita ketemu di tempat acara." Ia meneguk sisa susu yang ada di gelasnya dan beranjak, "Gue pergi sekarang ya, service mobil dulu."
"Tapi..."
Sebelum aku berbicara ia sudah pergi dan menghilang setelah menutup pintu. Aku termenung melihat alamat sebuah salon yang Ghiffa kirimkan. "Dia mikir apa sih? Kenapa aku harus dateng ke salon?"