
Sebuah pelangi muncul ketika aku mengarahkan air dari selang yang aku pegang ke arah cahaya matahari sore itu. Aku sedang membantu Mang Ujang, sang tukang kebun, menyiram tanaman di taman depan rumah kediaman Airlangga. Mataku begitu terhibur melihat semburat warna-warni itu. Lumayan mengalihkan pikiranku yang sejak siang tadi tak berhenti memikirkan apa maksud dari ucapan Ghaza.
Kata-kata Ghaza terus berputar di dalam otakku. Kata-kata manis dan penuh pujian yang terlontar dari mulutnya. Sungguh aku tidak mengerti laki-laki yang berada jauh lebih tinggi di atas strata sosial dari mayoritas orang di tanah air ini, bisa berkata seperti itu padaku yang seperti ini.
Kata-kata itu membuatku tertegun tapi tidak sedikitpun membuat hatiku bergetar. Aku malah merasa Ghaza seperti memaksakan kata-kata itu.
Bagiku Ghaza itu aneh.
Ghiffa saja sudah sangat aneh. Wajah tampannya, tubuh tingginya, dan latar belakangnya sebagai anak dari orang terpandang dan kaya raya, harusnya bisa membuatnya mencari seseorang yang sepadan dengannya. Tapi dia malah menjebakku yang hidup tenang di duniaku yang sederhana dan begitu nyaman, ke 'dunianya' yang sangat tidak cocok denganku. Terlebih sekarang ia berhasil membuat hatiku tertaut padanya dan tak bisa aku lepas.
Tiba-tiba saja aku merindukan kedua orang tuaku, adik-adikku, kebun sayuran milik ayahku, dan semua kenangan masa kecilku. Aku baru sadar aku sudah sangat jarang pulang. Mengingat keadaan kakiku yang seperti ini akan sulit untuk pulang ke kampungku.
Aku kembali menghela nafas panjang, lalu sebuah tangan merampas selang yang aku pegang dan menjatuhkannya begitu saja ke tanah. Tidak hanya itu tangan lainnya meraih tongkat penyanggaku dan melemparkannya kepada seseorang.
"Ghiffa?! Tongkat aku!" Sontak aku berteriak saat melihat tongkatku melayang di udara dan kemudian Theo, teman Ghiffa, ada di sana menangkap tongkatku.
Ghiffa membopongku segera dan membawaku terburu ke arah sebuah mobil bergaya offroad yang dikendarai oleh teman Ghiffa lainnya yang bernama Max. "Ghiffa turunin aku!" Tentu Ghiffa tidak mendengarku dan malah sekarang aku berada di kursi penumpang depan, di sebelah Max yang duduk di kursi kemudi.
"Kamu ikut mereka dulu ya. Aku bawa barang-barang kamu."
"Hah? Maksud kamu apa?" Sebelum kalimatku selesai, Ghiffa sudah kembali berjalan memasuki gerbang rumah. Max segera tancap gas setelah Theo masuk di kursi belakang.
"Ghiffa!!" teriakku dalam mobil yang terus menjauh dari kediaman Airlangga.
"Lo tenang aja, Mbak Perpus. Si Ghiffa nanti nyusul." Ujar Max sambil terus mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang lumayan ekstrim untuk dijalankan di sebuah perumahan seperti ini.
"Ini kalian mau bawa saya kemana?" Tanyaku panik. Hpku bergetar di saku celanaku, aku merogoh saku dan meraih Hpku. Terlihat nama Nyonya Natasha disana.
Saat aku akan mengusap layarku, Theo mengambil ponselku begitu saja. "Hey!" tegurku pada Theo.
"Sorry. Gue disuruh si Ghiffa." ucap Theo dengan lempengnya.
"Nyantei kenapa sih mbak, lo gak usah panik gitu." Sambung Max.
"Gimana saya gak panik. Saya tiba-tiba harus pergi sama kalian! Saya gak kenal sama kalian!"
"Kalau gitu kenalan dulu, Gue Max. Kita udah pernah ketemu 'kan waktu gue nganterin itu anak kobam berat. Terus di sekolah juga masa gak pernah liat gue? Cowok paling ganteng se-Centauri."
Sebuah tangan menggeplak kepala Max lumayan keras, "Nj*ng! Sakit odob!" umpat Max.
"Gue Theo. Sorry kalau temen gue yang satu ini rada-rada orangnya. Tapi kita baik kok, Mbak. Kita gak mungkin macem-macem sama pacarnya si Ghiffa."
"Bener. Gak mungkin kita berani sama permaisurinya Yang Mulia Alghiffari Airlangga." Ucap Max dengan nada hiperbola. "Lo lecet dikit aja kita berdua bisa abis sama si Ghiffa, Mbak. Makanya kalem aja mbak. Kita ini para kacung setianya si Ghiffa, gak mungkin macem-macem dan pasti jagain lo dengan baik sampai Ghiffa dateng nanti."
"Iya ya udah. Saya percaya sama kalian. Tapi kenapa saya harus ikut sama kalian?" Aku tidak mengerti mengapa mereka rela mnyebut diri mereka sendiri sebagai kacung.
"Kita 'kan lagi nyelametin lo, Mbak. Kita sih tadi diinstruksiin buat bawa Mbak ke markas." Jelas Theo.
"Markas?" tanyaku.
"Iya tempat anak-anak Centaur Squad."
Aku pernah mendengarnya dari Bu Listia, Guru BK SMA Centauri bahwa Centaur Squad adalah komunitas siswa-siswa SMA Centauri yang sudah ada sejak belasan tahun lalu. Siswa-siswa yang tergabung ke dalam Centaur Squad biasanya siswa-siswa yang 'menonjol' dalam artian anak-anak yang terkenal badung. Setiap tahun selalu ada kaderisasi hingga komunitas, atau yang lebih cocok disebut geng itu, terus berlanjut hingga sekarang.
Walaupun terkenal sering membuat masalah, pihak sekolah tidak bisa membubarkan komunitas tersebut. Para anggotanya sangat loyal dan solidaritas diantara setiap anggotanya terjalin sangat kuat. Jika terjadi satu masalah pada anggota mereka, mereka akan bahu membahu saling membantu. Begitu juga jika anggota mereka ada yang terlibat masalah di sekolah, mereka juga akan saling menutupinya. Sehingga pihak sekolah sulit untuk memberangus komunitas itu.
Sebetulnya komunikasi, solidaritas, dan kepedulian antar anggotanya bisa dikatakan patut diacungi jempol. Namun selayaknya sebuah komunitas anak badung lainnya, Centaur Squad juga tidak lepas dari hal-hal negatif yang seakan sudah menjadi hal yang begitu melekat dengan imej mereka sebagai anak-anak bad boy.
Merokok, minum minuman berarkohol, berkelahi, balapan liar, dekat dengan 'dunia malam', sudah menjadi keseharian dari para anggotanya.
Selain itu, anggota-anggota yang tergabung biasanya adalah anak-anak yang memiliki latar belakang yang kurang lebih sama yaitu, broken home. Kurang kasih sayang keluarga, mencari jati diri, merasa nyaman dan merasa senasib, akhirnya terjalinkan ikatan emosional yang kuat diantara satu dengan yang lainnya.
Itu pulalah yang dirasakan oleh Ghiffa, sehingga setelah tidak sengaja bergabung dengan mereka pada pertengahan tahun lalu, Ghiffa semakin tidak bisa lepas dari teman-temannya tersebut. Bahkan yang aku tahu, Ghiffa menjadi salah satu anggota yang sangat disegani diantara para anggota bahkan para alumni Centaur Squad.
SMA Centauri bukanlah sekolah sembarangan, melainkan sebuah sekolah yang dipenuhi oleh anak-anak dari orang-orang terpandang dan berkuasa di seluruh Jakarta. Otomatis, anggota Centaur Squadpun tidak bisa disamakan seperti geng-geng dari sekolah-sekolah biasa.
Aku sendiri merinding ketika mendengarnya.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Max berhenti di sebuah cafe. Parkirannya cukup luas mungkin muat untuk sekitar 50 mobil. Theo membukakan pintu dan menyerahkan tongkat padaku, ia membantuku turun karena mobil bergaya offroad itu cukup tinggi.
Kemudian mereka membawaku ke pintu belakang. Kami melewati area outdoor dari cafe tersebut. Suasana disini sangat nyaman. Banyak anak muda yang berkumpul, nongkrong, mengerjakan tugas, dan lain sebagainya di beberapa meja yang aku lewati. Hingga kemudian kami sampai di sebuah ruangan terpisah yang terletak agak di belakang, tidak jauh dari area outdoor cafe tersebut.
Max membuka pintu dan bau rokok dan minuman beralkohol begitu menyengat saat aku memasuki ruangan itu. Ruangan itu luas dan terdapat beberapa bagian. Di sisi sebelah kiri terdapat meja bilyard. Beberapa anak yang pernah aku lihat di sekolah, ada di sana asyik menyodok bola. Di sebelah kanan ada sebuah meja bar dengan beberapa kursi tinggi yang menghadap ke arah meja itu. Beberapa botol minuman beralkohol terlihat terpajang rapi di belakang meja itu.
Di seberang meja bilyard ada sofa dan seperangkat TV juga pengeras suara dan beberapa permainan yang aku tidak tahu apa itu, mungkin semacam playstation dan lain sebagainya. Beberapa anak sibuk bermain disana. Dan di sisi sebelah kanan terdapat sebuah tangga menuju ke lantai 2. Ke arah tangga itulah Theo dan Max membimbingku. Dengan hati-hati mereka memapahku menaiki anak-anak tangga itu.
"Mbak Perpus, Kita anterin sampe sini ya. Kalau butuh apa-apa teriak aja, kita di bawah." Terang Theo saat kami sudah ada di lantai 2.
Aku hanya mengangguk bingung, "Makasih." Kemudian mereka berdua turun lagi ke lantai bawah.
Sampai di lantai 2, suasananya jauh lebih bersahabat denganku. Lantai 2 itu lebih cocok disebut sebuah rumah kecil dengan dua kamar dan satu ruang tamu. Kemudian ada sebuah kamar mandi dan juga dapur kecil. Perabotannya terlihat tertata rapi dan benar-benar membuat betah. Aku seperti melihat interior rumah modern minimalis di sebuah aplikasi penyedia gambar yang terkenal. Sangat aestetik dan homey.
Semilir angin tiba-tiba saja aku rasakan dari arah pintu balkon yang terbuka di sudut sebelah kamar. Aku berniat melihat suasana di luar balkon itu. Namun ketika mulai melangkahkan kakiku sudut mataku menangkap beberapa foto berukuran 20 RP menggantung di sisi pintu balkon. Aku tertegun melihatnya. Itu adalah beberapa fotoku yang diambil di hutan pinus waktu itu.
Apa Ghiffa yang mencetaknya dan memajangnya disini? Lalu ini rumah siapa?